Bab Seratus Tiga Puluh Tiga: Sebilah Pedang Sederhana
Setelah menyerahkan rancangan kepada Loka dan menjelaskan pekerjaan berikutnya, aku bersama Si Kuat kembali bergegas menuju Lembah Penjaga Suci. Baik bagi para Penjaga Suci maupun bagiku, waktu sungguh sangat berharga. Aku telah melewatkan masa terbaik untuk berlatih, jadi kini aku hanya bisa menebus waktu yang hilang dengan latihan yang paling keras.
Bagi para Penjaga Suci, hal itu bahkan lebih penting. Aku sudah melewatkan kesempatan itu—bagaimana mungkin aku membiarkan mereka mengulang kesalahan yang sama? Orang cerdas tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Aku merasa diriku bukan orang bodoh, jadi tentu saja aku tahu apa yang harus kulakukan.
Bukan berarti aku tidak memperhatikan pembangunan Desa Batu Ilusi. Hanya saja, aku memang tidak banyak membantu dalam hal itu. Kalau soal memberi saran, aku bisa menyamai dua orang sekaligus, tetapi jika benar-benar diminta ikut membangun, dengan tubuhku yang ringkih ini, mungkin belum sampai dua hari aku sudah kelelahan. Selain itu, segala sesuatu yang kupelajari di Bumi membuatku paham bahwa seorang pemimpin tidak perlu turun tangan secara langsung dalam segala hal. Cukup mengambil keputusan. Keputusan yang tepat jauh lebih berharga dan lebih penting daripada apa pun.
Ketika kembali tiba di Lembah Penjaga Suci, malam telah tiba. Namun, meskipun hari sudah gelap, tak seorang pun mau beristirahat dengan patuh. Semua gadis berkumpul dan berdiskusi dengan penuh semangat mengenai cara menghadapi Xuanwu.
Begitu melihatku datang, Yoyo segera membawakan makanan. Demi mengurus kebutuhan sehari-hari para Penjaga Suci, aku secara khusus memanggil empat perempuan desa yang pandai memasak untuk menyiapkan makanan mereka. Selain itu, ada belasan pemburu yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi kami.
Untuk melatih para Penjaga Suci, aku benar-benar mengeluarkan modal besar. Aku menyuruh Mario membeli banyak bahan pangan dan biji-bijian untuk disimpan di dalam lembah. Dengan begitu, selain berlatih setiap hari, mereka tidak perlu mengkhawatirkan hal-hal lain. Aku bahkan menyusun sendiri menu makanan mereka berdasarkan pola gizi paling ilmiah yang kupelajari di Bumi. Makanan yang mereka santap benar-benar yang paling mewah di seluruh desa—hal ini sama sekali tidak perlu diragukan.
Setelah makan, aku ikut dalam diskusi karena penasaran. Tadinya aku ingin mendengarkan pendapat mereka dan menambah pengalaman. Namun, setelah duduk di tengah-tengah lebih dari empat puluh gadis, memandangi wajah-wajah cantik mereka dan menghirup aroma harum yang menyerupai bunga, otakku seketika berhenti bekerja. Sejak awal hingga akhir, aku hanya duduk di sana dengan wajah bodoh tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Akhirnya, malam semakin larut. Meskipun enggan, karena esok masih ada latihan berat, semua gadis terpaksa bubar dan kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.
Baru setelah semua gadis pergi, aku tersadar kembali. Namun, pikiranku masih mengulang-ulang kenikmatan luar biasa yang baru saja kurasakan di tengah lautan keharuman itu. Dengan senyum bodoh di wajah, saat itulah aku menyadari bahwa memilih begitu banyak gadis untuk menjadi Penjaga Suci juga merupakan kenikmatan besar bagiku!
Tiba-tiba, kurasakan sesuatu bergerak-gerak di hadapanku. Aku tertegun dan tanpa sadar mengulurkan tangan untuk meraihnya. Sentuhan yang kurasakan halus dan lembut, sungguh nyaman.
Tanpa sadar, aku meremasnya beberapa kali. Namun, tiba-tiba aku merasa ada yang tidak beres. Setelah tersadar sepenuhnya dan mendongak, barulah kulihat bahwa tangan yang kugenggam ternyata tangan kecil Yoyo yang putih dan lembut. Jadi… tangan yang tadi melambai-lambai di depan mataku ternyata tangannya.
Ketika menoleh ke arah Yoyo, kulihat gadis itu sudah menundukkan kepala dengan malu karena telapak tanganku tanpa sadar mengusap tangannya. Ia menggigit bibir dengan gugup, tetapi sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda keberatan.
Aku berdeham, lalu segera melepaskan tangannya dan berkata dengan panik, “Aduh… kenapa kau melambaikan tangan di depanku? Ada apa?”
Mendengar pertanyaanku, Yoyo mengangkat wajahnya sedikit dan menatapku. “Aku sudah memanggilmu beberapa kali, tetapi kau tidak menjawab. Jadi aku mencoba memastikan apakah kau sudah menjadi bodoh.”
Setelah berkata begitu, Yoyo terkikik manis. Sambil tertawa dan terengah-engah, ia melanjutkan, “Ternyata kau memang sudah menjadi bodoh, dan kondisimu benar-benar parah!”
Aku tersenyum kecut memandang Yoyo. Diam-diam aku merasa gelisah, tidak tahu apakah ia marah karena sikapku yang memalukan tadi. Saat aku sedang mengkhawatirkan hal itu, Yoyo menghentikan tawanya dan berkata dengan lembut, “Tadi selama diskusi, kulihat kau terus tersenyum sambil berpikir. Kau benar-benar berkelas. Sama sekali tidak seperti anak laki-laki lain yang selalu mencari kesempatan untuk berbicara atau menggoda gadis-gadis. Kaulah pria paling berkelas yang pernah kutemui! Bagaimana menurutmu pembahasan kita hari ini?”
Ah! Gawat…
Mendengar ucapan Yoyo, aku terpaku. Bagaimana bisa? Aku jelas-jelas melamun karena pikiranku kosong, tetapi di mata Yoyo, hal itu justru berubah menjadi senyum penuh wibawa. Padahal aku benar-benar hanya sedang tersenyum bodoh!
Dengan perasaan bersalah, aku memandang Yoyo. Tak lama kemudian aku memahami semuanya. Begitulah manusia. Terhadap orang yang disukai, segala kekurangan dapat dibayangkan sebagai kelebihan. Hal-hal yang dapat dilihat orang lain dalam sekejap akan tampak berbeda di mata orang yang sedang jatuh cinta. Perempuan yang sedang jatuh cinta benar-benar bisa menjadi bodoh.
Namun… mungkin tidak sepenuhnya begitu. Bukankah ada pepatah yang mengatakan bahwa di mata orang yang mencintai, kekasihnya selalu tampak secantik bidadari? Karena Yoyo dengan sungguh-sungguh berusaha memandangku dari sisi terbaik, aku tentu tidak boleh mengecewakannya!
Tetapi… tetapi…
Aku mengerutkan kening dengan pasrah. Sejujurnya, aku sama sekali tidak memperhatikan apa yang mereka bicarakan malam ini. Sekarang ia bertanya apa pendapatku mengenai hasil diskusi mereka. Dari mana aku bisa tahu?
Namun, pertanyaan sesulit itu tentu tidak mampu membuatku gentar. Aku tersenyum misterius dan berkata pelan, “Aku tidak akan menilai hasil diskusi kalian. Besok pagi, setelah kita mempraktikkannya sekali, semuanya akan menjadi jelas.”
Setelah berkata demikian, aku tidak menghiraukan wajah Yoyo yang merajuk dan langsung berjalan menuju kamarku.
Keesokan paginya, begitu langit mulai terang, latihan kami pun dimulai. Kami mengawali dengan latihan dasar. Semua gadis mulai menembakkan sihir mereka ke arah Batu Penolak Iblis yang terpasang tetap, sementara aku meneruskan latihanku yang membosankan dan monoton. Aku menusukkan pedang demi pedang, menguraikan setiap gerakan tusukan itu dan mencermatinya dengan saksama.
Melihat gerakanku yang begitu lambat, Yoyo menjadi penasaran. Ia menatapku dengan bingung dan bertanya, “Apa yang sedang kau lakukan? Ini latihan atau sedang bermain?”
Aku terdiam.
Pertanyaan yang datang tiba-tiba itu langsung membuatku tertegun. Gerakanku bahkan berhenti di tengah jalan. Aku tidak menyangka, setelah berlatih dengan konsentrasi penuh, aku justru disangka sedang bermain!
Astaga, harus diketahui bahwa setiap gerakanku tidak hanya harus dilakukan dengan sikap yang benar, tetapi juga memperhatikan kealamian dan kelancaran setiap tahapnya. Aku harus berusaha agar perpindahan antar-sendi tidak saling berbenturan dan sebisa mungkin mengurangi pemborosan tenaga. Setiap tebasan pedangku saat ini mengandung energi tempur. Meskipun energi tempurku masih sangat lemah, hanya dengan melatih dasar-dasarnya secara tepat, kelak aku dapat menggunakannya dengan benar ketika kekuatanku telah meningkat.
Aku melirik Yoyo dengan kesal dan berkata, “Menurutmu aku terlihat seperti sedang bermain? Lagi pula… menurutmu gerakan seperti ini menyenangkan?”
Yoyo mengerutkan kening, masih kebingungan. “Kulihat kau terus melakukan gerakan aneh itu tanpa alasan, dan melakukannya dengan sangat lambat. Aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang kau lakukan. Bisakah kau memberitahuku?”
Aku menoleh sedikit dan memandang Yoyo. Jika yang bertanya orang lain, tentu aku tidak akan menjawab. Namun, karena Yoyo ingin tahu, tentu saja aku harus menjelaskannya.
Memikirkan hal itu, aku berbalik menghadap Yoyo dan tersenyum. “Daripada hanya mendengar penjelasan, sebaiknya kau merasakannya sendiri. Itu cara yang paling jelas.”
Sambil berkata demikian, aku menarik napas dalam-dalam. Cahaya tajam melintas di mataku, dan serangan pun segera dimulai.
“Perhatikan baik-baik!”
Bersamaan dengan teriakanku, pedangku melesat dengan kecepatan penuh. Pada detik berikutnya—hampir tanpa memerlukan waktu—ujung pedang perak di tanganku telah berhenti hanya satu sentimeter di depan hidung Yoyo!
“Hah…”
Yoyo menatapku dengan ekspresi ngeri. Setelah menarik napas dalam-dalam, ia menatapku dengan tidak percaya dan berkata, “Kau! Bagaimana kau melakukannya? Mengapa pedangmu tiba-tiba sudah berada di depanku?”
Aku tersenyum lembut kepadanya tanpa memberikan penjelasan. Kemudian aku berbalik dan mengulangi gerakan yang sama, satu tusukan demi satu tusukan. Dari lambat menjadi semakin cepat, hingga mencapai batas maksimal yang mampu kulakukan saat ini.
Ketika akhirnya kusarungkan pedang perak itu dan menoleh kepada Yoyo, ia menatapku dengan pandangan kosong. “Aku mengerti sekarang. Kau bukan sedang bermain. Sebaliknya, kau sedang menjalani latihan yang paling membosankan, paling monoton, sekaligus paling menyakitkan!”
Mendengar seruan yang keluar dari lubuk hatinya, aku tidak kuasa menahan senyum bahagia. Tekanan dan penderitaan di dalam hati bisa dicurahkan kepada seseorang, dan ada orang yang benar-benar memahaminya. Sungguh, itu adalah kebahagiaan yang luar biasa!