Bab Dua: Teror di Dunia Asing
Buku ini telah lebih dulu diterbitkan di Taiwan oleh Penerbit Inovasi Baru dengan judul "Kota Ilusi Pedang Ajaib". Semoga para sahabat yang mampu dapat memberikan dukungan dan penghargaan untuk karya ini! Hehe...
Terima kasih, Windsor! Terima kasih telah menyembuhkan penyakitku!
Pada saat Windsor membuka pintu, aku akhirnya sadar dan buru-buru mengucapkan terima kasih dengan suara lantang. Mendengar ucapanku, Windsor tampak sedikit terkejut, namun ia tak menoleh, hanya berkata dengan tenang, "Kau tidak perlu berterima kasih padaku. Merawat dan menyembuhkan orang memang sudah menjadi tugas kami."
Setelah berkata demikian, Windsor tak lagi menoleh ke belakang. Ia perlahan membuka pintu dan melangkah keluar dalam diam. Aku hanya bisa menatap Windsor dengan kosong, diam-diam menebak, mungkin ia seorang dokter atau perawat. Walau wajahnya tidak terlalu cantik, ia memiliki hati yang paling indah.
Aku menggelengkan kepala dengan kagum. Kini aku akhirnya mengerti mengapa Chax begitu menghormati gadis berbaju putih itu. Karena kini aku pun mulai menghormatinya. Tanpa sadar, aku menebak-nebak, dari rumah sakit mana dia berasal? Sepertinya aku belum pernah mendengar ada perawat sebaik itu di rumah sakit mana pun.
Saat aku sedang melamun, suara Chax terdengar di telingaku, "Baiklah, penyakitmu sudah sembuh, kau bisa keluar sekarang. Aku masih ada urusan, nanti sore aku akan menemuimu lagi!"
Usai berkata demikian, tanpa peduli apakah aku menjawab atau tidak, ia berbalik dan cepat-cepat melangkah menuju pintu. Tak lama kemudian... kini hanya aku seorang diri yang tersisa di ruangan itu.
Setelah beberapa saat termenung, aku bangkit dari ranjang, mengenakan sepatu di tepi ranjang, memungut ranselku, dan melangkah menuju pintu. Sekarang aku tidak ingin memikirkan apa pun, aku hanya ingin segera pulang ke rumah. Pengalaman selama lebih dari sehari ini sudah cukup membuatku takut. Lebih baik segera pulang.
Brak!
Menyusuri lorong panjang berlantai batu biru, akhirnya aku mendorong pintu kayu tebal itu dengan keras. Detik berikutnya... melihat keramaian orang di jalan, aku hanya bisa terpaku.
Apa semua ini?
Aku memandangi bangunan-bangunan yang seluruhnya terbuat dari batu biru, dan orang-orang di jalan yang mengenakan pakaian aneh. Aku benar-benar tertegun. Di zaman internet yang begitu maju seperti sekarang, hampir tidak ada tempat yang tidak kuketahui. Namun semua yang kulihat di depan mata benar-benar di luar pengalamanku!
Krak... krak... krak...
Suara benturan logam terdengar dari arah kiriku. Aku menoleh, dan kulihat seorang pria berbaju zirah baja mengilap berjalan ke arahku, setiap langkahnya menimbulkan suara berat.
Aku menatap kosong pria berzirah baja itu. Apa ini sedang syuting film? Atau... ini kota yang memang khusus dibangun untuk pembuatan film?
Dug... dug... dug...
Sambil berpikir, aku terus menatap tanpa berkedip ke arah pria berzirah baja itu, hingga ia berhenti tepat di depanku dengan wajah penuh amarah. Barulah aku tersadar.
"Hai! Kenapa melotot ke arahku? Kau belum pernah melihat prajurit segagah aku, ya?" Suara keras seperti guntur dari pria berzirah baja itu menggelegar di telingaku.
Aku tidak menjawab, hanya menatap hening pada zirah baja tebal yang menutupi tubuhnya, diam-diam menebak beratnya. Ini sungguh keterlaluan. Mengenakan zirah seberat itu dan tetap bisa berjalan, sungguh di luar nalar!
Aku yakin, zirah ini bukan main-main. Dari suara gemuruh saat ia bergerak dan getaran di lantai, jelas ini zirah baja murni, bukan replika.
Sret!
Saat aku masih berpikir, seberkas cahaya perak tiba-tiba melintas di depan mataku. Aku mundur setapak secara refleks. Kembali kulihat prajurit baja itu, kini ia sudah mencabut pedang lebar, menatapku dengan ganas, seolah hendak memangsa.
Aku mengabaikan ekspresi garangnya. Aku yakin ia takkan berani membunuh orang. Maka, aku memperhatikan pedang besar di tangannya.
Hmm!
Pedangnya sangat kokoh dan berat, sudah diasah tajam, namun di bilahnya terdapat banyak lekukan, pasti pernah membelah benda keras hingga ujungnya tumpul.
Mataku menyusuri pedang itu sampai ke gagang pelindungnya. Seketika, rasa mual menyeruak. Dengan cepat kututup mulutku agar tak muntah.
Lumat daging... Daging merah bercampur darah menempel di bagian depan bilah pedang, pada pertemuan antara bilah dan pelindung gagang. Jika diperhatikan, ada serpihan daging dan tulang kecil menempel di sana. Entah itu daging babi atau sapi, yang jelas sangat menjijikkan.
Aku berusaha menahan mual, lalu memperhatikan zirah bajanya. Zirah itu berkilau di bawah sinar matahari, tetapi... di permukaannya terdapat bekas yang sepertinya baru saja dibersihkan. Benar... itu noda darah! Darah yang sudah mengering!
Meski pria itu sudah membersihkannya, namun jelas tidak bersih benar. Bekas darah kering masih menempel samar di permukaan zirah.
Mataku terus menyusuri lekukan-lekukan zirahnya, hingga akhirnya... aku melihat di sela-sela zirah itu, terdapat noda darah ungu kehitaman, bahkan... aku melihat satu jari kelingking terselip di sela-selanya!
Benar, jangan ragukan! Itu benar-benar jari tangan manusia, kini terjepit di kerah zirah sang prajurit. Tulangnya yang patah dan menonjol tampak pucat dan mengerikan!
"Hoi! Dasar bocah bau kencur, kau lihat apa, hah? Mau ku tebas juga kau!" Di tengah keterkejutanku, prajurit baja itu langsung mengacungkan pedang lebarnya ke hidungku sambil membentak.
Aku!
Menghadapi tatapan ganasnya, aku jadi gugup. Jangan-jangan dia benar-benar preman. Meski aku yakin ia takkan membunuh, tapi kalau sampai dipukuli, aku juga tak tahan!
Maka, aku pun berkata, "Bukan, bukan... Aku hanya terpesona dengan perlengkapanmu, Bang! Zirahmu benar-benar keren! Keren abis, sungguh luar biasa!"
Dug!
Mendengar kata-kataku, prajurit baja itu tampak puas, menarik kembali pedangnya dan menyampirkannya di pundak, lalu mengangguk-angguk bangga. "Nah, kau memang punya mata tajam. Sampai bisa mengenali Zirah Gothikku ini. Hari ini aku biarkan kau lewat!" katanya dengan penuh kebanggaan, lalu ia berbalik dan pergi perlahan, suara berat langkahnya menggema.
Melihat prajurit baja itu perlahan menjauh, aku pun lega. Baru kusadari, sejak tadi aku bahkan tak berani menarik napas panjang. Tekanan yang diberikan pria itu sungguh luar biasa.
Aku menggelengkan kepala dan dengan penuh rasa ingin tahu, menatap pemandangan kota, lalu keluar bergabung dengan kerumunan, berjalan ke arah kiri jalan. Aku tidak mau bertemu lagi dengan prajurit baja itu, jadi tentu saja memilih arah yang berlawanan.
Sepanjang perjalanan, aku terus melihat orang-orang berpakaian aneh. Jika ditanya siapa yang berpakaian paling normal, mungkin hanya aku sendiri. Saat ini, aku makin yakin bahwa tempat ini hanyalah kota buatan untuk syuting film.
Belok di tikungan, tiba-tiba... di jalan di depan muncul sebidang tanah lapang. Meski masih agak jauh, tapi... darah berwarna ungu kehitaman sudah membanjiri seluruh jalan, mengular hingga ke arahku.
Perlahan aku melangkah ke tanah lapang itu, dan segera... bau amis darah yang menusuk hidung langsung menyergap. Akhirnya aku tiba di tanah lapang itu, dan detik berikutnya... pemandangan yang terlalu mengguncang membuatku terpaku.
Betapa mengerikannya pemandangan itu. Seseorang! Itu jelas mayat manusia, tubuhnya sudah tercabik-cabik, terpelintir dengan posisi aneh. Yang paling menarik perhatianku, jari kelingking tangan kanannya hilang!
Pandangan mataku mulai buram. Tanpa sadar aku teringat pada jari pucat yang tadi kulihat terselip di kerah prajurit baja itu. Melihat mayat dengan luka terbuka di sekujur tubuh ini, aku seperti melihat adegan seorang prajurit baja mengamuk, menebas hidup-hidup seseorang!
Darah segar, lumatan daging, serpihan tulang, potongan tubuh! Suara tulang patah yang menyakitkan telinga! Suara berat pedang menebas tubuh manusia!
Saat itu, banyak hal terlintas di benakku. Aku teringat pada benda-benda keunguan di sela-sela zirah, teringat pada lumatan daging dan serpihan tulang di pelindung pedang, teringat pada noda darah kering di permukaan zirah, teringat pada ekspresi ganas prajurit baja itu, teringat... dan detik berikutnya, semuanya menjadi gelap, aku kembali pingsan.
Ketika aku sadar kembali, aku sudah berada di kamar batu biru itu lagi. Dengan mata kosong, aku menoleh ke samping. Chax duduk di sana dengan wajah tak sabar, jelas sedang menungguku bangun.