Bab Lima: Menetap di Desa Kecil
Ketika Arsen secara refleks melemparkan barang yang diseretnya ke tempat biasa menumpuk bangkai binatang buas, ia baru tersadar, selama setengah hari ini, yang ia seret ternyata bukanlah bangkai binatang, melainkan seorang manusia hidup! Melihat anak laki-laki dengan mata terpejam dan bibir membiru itu, Arsen menjerit begitu keras hingga menggetarkan langit, lalu buru-buru menerjang mendekat. Setelah memeriksa dengan seksama, Arsen hanya bisa tersenyum pahit. Anak ini, kata “lemah” saja tidak cukup untuk menggambarkannya. Hanya dengan sekali seret, tulang bahu anak malang ini terkilir, lengan atasnya bahkan patah. Arsen sampai-sampai curiga, jangan-jangan anak ini terbuat dari adonan roti, kenapa begitu rapuh?
Untungnya, luka semacam ini sering dialami para pemburu, Arsen sudah sangat berpengalaman. Ia mengambil beberapa ramuan sederhana dan melakukan penanganan seperlunya, setelah itu semuanya beres.
Saat aku terbangun dengan penuh derita, barulah aku menyadari betapa parah keadaanku. Tidak hanya tulang bahu terkilir dan lengan patah, sekujur tubuhku juga penuh luka lecet. Permukaan tanah yang keras dan bergelombang tak mampu dihalangi oleh baju tipisku. Separuh badanku sudah penuh darah dan luka.
Penderitaanku belum berakhir. Sudah dalam keadaan luka, saat Arsen membantuku mengganti perban, ia malah keliru lagi, siku tanganku kembali terkilir dibuatnya. Di hadapannya, tubuhku seperti boneka kertas, disentuh sedikit saja sudah cedera.
Dalam hal ini, aku harus mengakui kehebatan kakak ipar. Arsen telah lama menikah. Istrinya sangat cantik, bertubuh amat seksi, dan setiap malam selalu membuat suasana gaduh dengan Arsen. Aku benar-benar heran, dengan kekuatan Arsen, bagaimana mungkin kakak ipar bisa bertahan? Satu malam saja, bukankah seluruh tulangnya bisa patah?
Namun keraguanku tak bertahan lama. Aku sendiri melihat kakak ipar Arsen menyeret bangkai beruang cokelat seberat empat atau lima ratus kilo keluar dari gudang, lalu dengan mudah mengangkatnya dan menggantungkan ke kait besi setinggi dua meter. Baru kutahu, ternyata kekuatan kakak ipar juga luar biasa!
Melihat kakak ipar dengan cekatan menguliti beruang, aku hanya bisa mengagumi, wanita seperti ini memang hanya cocok untuk Arsen. Kalau lelaki biasa, mungkin saat bersemangat, sekali diremas saja pinggangnya pasti “krak” patah jadi dua.
Hari-hariku berikutnya penuh dengan luka dan sakit. Awalnya hanya Arsen yang melukaiku, tapi lama-lama kakak ipar juga turun tangan. Walaupun tulangku tak patah lagi, tubuhku sering membiru dan lebam di sana-sini. Meskipun kakak ipar sudah sangat berhati-hati, kekuatannya tetap saja terlalu besar untukku.
Akhirnya, atas inisiatif Arsen dan kakak ipar, seluruh warga desa bergotong royong membangunkan sebuah rumah kayu untukku, pendatang baru yang malang ini. Dengan tubuh penuh luka, akhirnya aku bisa keluar dari “neraka” dan tak perlu lagi jadi korban pasangan Arsen!
Para pemburu di sini hanya makan dua kali sehari, pagi dan malam. Setiap kali makan, kakak ipar selalu mengantarkan daging panggang hangat dan harum. Sungguh lezat. Satu hal lagi, rumahku dibangun berdempetan dengan rumah Arsen, saling membelakangi, dan dihubungkan oleh sebuah pintu, sehingga hidangan selalu dikirim lewat pintu itu.
Hari-hari berlalu begitu saja. Setelah melihat betapa lemahnya aku, Arsen tak lagi berharap aku bisa membantunya. Setelah sembuh, tugasku setiap hari hanyalah mengumpulkan kayu bakar di sekitar desa. Itulah satu-satunya hal yang bisa kulakukan.
Akhirnya, sebulan pun berlalu, lukaku sembuh total. Entah ramuan apa yang diberikan Arsen, tulang patah yang biasanya butuh seratus hari untuk sembuh, kini hanya butuh tiga puluh hari sudah pulih seperti semula!
Menyadari betapa rapuhnya aku, Arsen dan istrinya tak lagi sembarangan menyentuhku. Kalaupun harus, mereka sangat berhati-hati. Di mata mereka, aku sama saja dengan anak-anak kecil di desa ini, yang baru berusia sepuluh tahun, tak boleh disentuh keras-keras, sekali disentuh pasti cedera.
Usai makan malam, aku, Arsen, dan kakak ipar duduk di halaman, berbincang di bawah sinar bulan. Aku bersandar malas di tubuh Si Kuning. Kini aku tidak takut lagi padanya, bagiku ia seperti kucing besar saja.
Setelah kutanya, barulah kutahu, harimau berbulu kuning itu ternyata adalah harimau pemburu milik Arsen, perannya seperti anjing pemburu.
Menurut Arsen, seorang pemburu hebat harus memiliki hewan peliharaan pemburu. Hewan seperti itu punya kecepatan yang tak bisa disaingi manusia di hutan, bisa membantu majikannya bertarung, mengejar mangsa yang terluka, dan yang terpenting, mengangkut bangkai hewan buruan!
Seperti Si Kuning sekarang, usianya sudah lebih dari sepuluh tahun, sudah dewasa. Kuatnya melebihi sapi, cukup dengan rahangnya, ia bisa membawa seekor beruang cokelat seberat lima ratus kilo kembali ke desa. Benar-benar sangat membantu.
Namun, hewan pemburu sangat langka. Di seluruh desa, hanya Arsen yang punya harimau. Umumnya, orang menggunakan serigala atau binatang lain.
Sebenarnya, mendapatkan hewan pemburu bisa dibilang mudah, bisa dibilang sulit. Syaratnya, kau harus menemukan anak hewan yang belum bisa membuka mata, maka kau bisa memilikinya sebagai hewan pemburu.
Prinsipnya sederhana, semua makhluk pada masa bayi akan menganggap makhluk pertama yang dilihatnya sebagai induknya. Hewan pemburu didapat berdasarkan prinsip ini. Namun, sekadar itu saja tidak cukup untuk memiliki hewan pemburu yang kuat.
Seekor hewan pemburu yang baik harus sering dilatih, bertarung melawan lawan kuat secara terus-menerus, barulah ia bisa memiliki kemampuan luar biasa. Jika tidak, sekalipun hewan pemburumu seekor harimau, mungkin ia tetap tak bisa mengalahkan seekor banteng liar!
Melatih hewan pemburu merupakan tradisi kuno di desa ini. Setiap pemburu di Desa Auman Macan pasti memiliki seekor hewan pemburu yang gagah berani. Ia adalah mitra terbaik dan sahabat terpenting bagi mereka.
Melihat Si Kuning yang jinak, aku pun merasa tergoda. Andai aku juga bisa punya hewan pemburu yang kuat, meski aku sendiri lemah, tak masalah. Hewan peliharaanku pasti akan mengusir para penjahat!
Aku tahu keinginanku mungkin tak realistis, tapi jika aku bisa memiliki seekor harimau besar seperti Arsen, aku pasti bisa mencari jalan pulang!
Aku pernah memohon pada Arsen agar ia membantuku menangkap anak hewan pemburu yang belum membuka mata. Namun Arsen berkata, untuk mendapatkan hewan pemburu yang kuat, sebelum membuka mata, ia harus disusui dengan darah sendiri. Hanya dengan begitu, hewan itu akan terikat pada darahmu dan sejiwa denganmu. Jika tidak, ia hanya akan jadi hewan biasa.
Selain itu, biasanya, tak lama setelah lahir, anak hewan akan segera membuka mata. Kalaupun Arsen mau membantu, belum tentu sempat membawa anak hewan itu pulang ke desa sebelum matanya terbuka. Jadi, hewan pemburu di desa ini selalu ditangkap sendiri oleh pemiliknya.
Anak-anak desa akan menjalani upacara kedewasaan di usia delapan belas tahun. Untuk lulus, mereka harus bertahan hidup sendirian selama sebulan di alam liar, hanya membawa satu senjata, dan berhasil menangkap hewan pemburunya sendiri. Jika gagal, mereka harus menunggu hingga tahun berikutnya. Para tetua desa percaya, setiap pemburu punya hewan pemburu yang sudah ditakdirkan, itu adalah anugerah suci dari langit! Tidak boleh didapat dari bantuan orang lain. Kalau tidak, meskipun harimau langka, jika saling membantu, semua orang di desa ini pasti sudah punya harimau pemburu!
Setelah mendengar penjelasan Arsen, aku sadar Arsen tak bisa dan tak akan membantuku. Mengingat ayah, ibu, dan kakakku di dunia lain, aku pun bertekad, apapun yang terjadi, aku harus punya hewan pemburu sendiri. Itu satu-satunya harapanku untuk pulang!
Aku tidak lagi merepotkan Arsen. Aku mengurung diri di rumah, menutup pintu, merenungi jalan hidupku ke depan. Aku tak mungkin terus hidup seperti ini, makan-minum tanpa usaha, hidup tanpa tujuan. Hidupku tak seharusnya suram begini, aku harus menemukan jalan pulang. Dunia ini bukan untukku.
Hewan pemburu adalah satu-satunya harapanku. Tubuhku sangat lemah. Anak-anak desa yang berumur sepuluh tahun saja lebih kuat dan sehat dariku, padahal aku sudah enam belas tahun. Menurut Arsen, aku sudah melewati masa keemasan untuk berlatih, sehebat apapun, aku takkan berkembang pesat lagi.
Namun, meskipun begitu, mana mungkin aku menyerah? Aku sadar aku bisa saja tidak melakukan apa-apa, mendapat makan dan pakaian dengan mudah. Demi Chax, Arsen pasti takkan menelantarkanku. Tapi aku tidak bisa membiarkan diriku hidup sehina itu.
Perlahan, aku meraih pedang perak pemberian Chax di samping tempat tidur. Meski aku tahu kemungkinanku kecil untuk menjadi ahli, aku takkan menyerah. Ada pepatah lama mengatakan, selama mau berusaha, tak pernah ada kata terlambat!
Novel ini telah diterbitkan oleh Penerbit Xianchuang Taiwan, dengan judul "Pedang Ilusi di Kota Labirin". Semoga teman-teman yang mampu dapat mendukung dan membelinya! Hehe...