Bab 117: Cikal Bakal Kekuatan
Seberapa besar pengaruh sebuah kalimat, seringkali hal itu sulit dibayangkan. Melihat efek dari kalimat terakhir yang kuucapkan, aku sendiri terkejut. Setelah kata-kata itu, tak ada lagi penolakan dari seluruh penduduk desa. Bahkan, saat aku menerima kabar, semua warga telah secara sukarela mulai pindah keluar desa. Tenda-tenda darurat pun bertebaran di dataran di luar desa. Rencana pembangunan Desa Batu Ilusi akhirnya berhasil dimulai.
Dengan bantuan warga yang bisa menghitung dan dukungan dari Roka, kami mengukur seluruh area desa. Desa itu berbentuk hampir kotak sempurna, sangat teratur, seolah-olah sengaja dipahat oleh tangan manusia.
Kami mulai dengan menggambar jalan utama dari timur ke barat, serta dari utara ke selatan, sehingga Desa Batu Ilusi terbagi menjadi empat bagian besar yang teratur seperti huruf "Tian" (田). Setelah itu, di sepanjang jalan utama, kami membagi menjadi beberapa jalan cabang, dan menggambar lokasi rumah masing-masing keluarga.
Pekerjaan berikutnya adalah pembongkaran bangunan. Namun untuk ini, aku tidak ikut campur dan menyerahkannya sepenuhnya kepada Roka. Aku memberi tenggat waktu satu minggu agar semua bangunan di dalam desa dibongkar habis. Satu minggu setelah itu, aku tidak ingin melihat ada bangunan apa pun di desa.
Mendapat tugas berat ini, meskipun tahu betapa sulitnya, Roka hanya mengernyitkan alis lalu mengangguk mantap, berjanji akan mengerahkan segala kemampuan untuk menyelesaikan tugas.
Kemudian Roka memimpin semua orang dewasa berusia antara 20 hingga 50 tahun memulai pekerjaan pembongkaran yang berat. Sementara itu, Mario bertanggung jawab mengurusi kebutuhan sandang, pangan, dan papan bagi warga yang pindah dan para pekerja. Semua biaya itu kubiayai sendiri. Meskipun satu juta koin bukan jumlah yang besar, beruntung persediaan makanan desa cukup untuk bertahan setahun, jadi uang itu sudah cukup untuk membangun kembali desa.
Tentu saja, aku tidak duduk diam. Bahkan, bisa dibilang aku lebih sibuk daripada siapa pun. Aku mengumpulkan semua warga berusia antara 7 sampai 20 tahun, karena masa depan Desa Batu Ilusi akan ditentukan oleh mereka.
Melihat lebih dari 600 anak-anak yang berbaris rapat di depanku, kebanyakan dari mereka adalah pendatang yang dipanggil kembali dari luar, ada juga yang baru menyelesaikan aktivitas berburu setelah menerima pemberitahuan, serta beberapa yang baru saja lulus dari akademi sihir gratis.
Karena di dunia ini hutan dan padang rumput dipenuhi makhluk magis yang kuat, tiap kota kecil biasanya memiliki akademi sihir atau akademi prajurit gratis yang mengajarkan sihir dasar. Untuk belajar sihir tingkat lanjut, harus pergi ke kota besar. Namun, mengingat kondisi Desa Batu Ilusi, tidak ada yang bisa mengirim anaknya belajar di kota, sehingga biasanya anak-anak belajar sampai usia 12 tahun dan kembali ke rumah, menguasai sihir dan teknik bela diri tingkat dasar saja.
Meski aku ingin mengubah kondisi ini, kenyataannya jelas. Jika hanya satu atau dua anak yang kubiayai, aku bisa, tapi ini melibatkan lima ratus hingga enam ratus anak, aku benar-benar tak berdaya.
“Berdiri tegak!” perintah ku lantang.
Lebih dari 600 anak dan remaja berdiri tegap sesuai urutan tinggi badan. Melihat anak-anak dengan berbagai tinggi dan bentuk tubuh ini, sulit membayangkan mereka bisa menjadi pasukan yang terorganisir, mereka lebih mirip kelompok yang tak beraturan.
Dengan berat hati aku menggeleng dan berkata, “Baiklah, sekarang... semua yang belajar sihir, keluar dari barisan dan berdiri di sebelah kiri saya. Yang belajar bela diri, berdiri di sebelah kanan. Mulai sekarang!”
Mendengar perintah, ratusan anak-anak itu berlari kesana kemari, suasana menjadi riuh dan kacau. Akhirnya, di kiri dan kanan ku berdiri dua kelompok besar, dengan jumlah yang jauh lebih banyak yang belajar sihir dibanding yang belajar bela diri, perbandingan hampir tiga banding satu.
Aku sedikit mengernyit, lalu dengan sabar mengatur mereka untuk berbaris sesuai urutan tinggi badan. Setelah susah payah mengatur, akhirnya semua sudah berada di posisi masing-masing.
Melihat anak-anak yang berdiri dengan wajah penuh semangat, aku tahu bagi mereka ini hanyalah permainan. Namun, segera aku akan membuat mereka sadar.
Aku menoleh ke kelompok yang belajar bela diri, sekitar 200 orang, dan berkata dingin, “Sebagai seorang prajurit, kekuatan adalah yang utama. Sekarang kalian segera pergi membantu orang tua membongkar rumah. Jika aku tahu ada yang bermalas-malasan, jangan salahkan aku tak berperasaan!”
“Siap!” jawab mereka dengan semangat, lalu mereka bergegas menuju lokasi pembongkaran. Bagi mereka, merobohkan rumah-rumah tampaknya sangat menarik.
Melihat teman-temannya dikirim bekerja, anggota kelompok sihir menunjukkan berbagai ekspresi, ada yang iri, ada yang senang. Namun jelas, perhatian mereka tidak tertuju padaku.
“Ayo, berdiri dengan rapi!” aku berteriak keras.
Semua langsung tersentak dan berdiri tegak di posisi masing-masing. Aku menatap mereka dingin dan berkata, “Selanjutnya, kita akan melakukan tes kecil yang sederhana.”
Aku menunjuk sebuah batu anti-sihr yang terletak di tengah lapangan dan berkata, “Sekarang mulai dari yang pertama, satu per satu maju ke depan dan keluarkan sihir terbaik kalian ke batu ini!”
Dengan petunjukku, segera seorang gadis paling kecil maju. Dia memegang tongkat sihir merah kecil, menutup mata dan membacakan mantra pelan-pelan. Saat tongkatnya diangkat, bola api sebesar kepalan tangan meluncur ke batu anti-sihr itu.
“Puff!”
Suara dentuman kecil terdengar saat batu itu menyerap serangan tanpa memercikkan api sedikit pun. Kekuatan sihir itu sangat lemah, mungkin bahkan tak bisa menyalakan api unggun.
Aku kecewa dan terus menyuruh anggota lain mencoba sihir mereka, masing-masing menembakkan tiga kali. Aku mencatat semua hasil dengan pena dan kertas.
Seharian penuh aku menyelesaikan tes itu. Yang membuatku kecewa, hanya kurang dari lima puluh orang yang memenuhi kriteria. Jumlah ini sangat sedikit. Bahkan yang terpilih pun baru sekadar punya potensi, belum bisa diandalkan sepenuhnya. Namun aku sadar, ini wajar. Jika diajarkan secara cuma-cuma, tentu tak akan diajarkan secara maksimal.
Yang menarik perhatian, sekitar sembilan puluh persen dari lima puluh orang terpilih itu adalah perempuan. Setelah kuingat-ingat, memang yang belajar sihir kebanyakan perempuan.
Aku sempat ragu, lalu muncul ide unik. Karena jumlah laki-laki sangat sedikit, lebih baik tidak melibatkan mereka. Selain membuat mereka sendiri merasa tidak nyaman, juga perempuan yang satu kelompok dengan mereka pasti tak nyaman.
Dengan keputusan itu, setelah seleksi ketat, akhirnya cuma tersisa 40 orang di hadapanku. Mereka terbagi masing-masing sepuluh orang untuk elemen tanah, air, api, dan angin. Mereka akan menjadi pasukan pengawal pribadiku, dinamai Pasukan Pengawal Naga Biru, Harimau Putih, Burung Merah, dan Kura-kura Hitam. Ini baru nama setiap elemen, tapi saat keempat elemen itu tampil bersama, mereka akan dikenal sebagai Penjaga Suci.
Para gadis terpilih ini berusia antara 10 sampai 12 tahun, baru saja lulus dari akademi sihir gratis. Masa depan mereka masih bisa dibentuk. Sedangkan yang lain, ada yang terlalu tua, ada yang terlalu muda. Terutama yang berusia 16, 17, bahkan hampir 20 tahun, prospek sihirnya sudah hampir hilang. Sama seperti aku, mereka melewatkan masa paling berharga.
Tentunya, aku tidak membuang sumber daya ini sia-sia. Aku membentuk mereka menjadi kelompok bernama Legiun Batu Ilusi. Di bawahnya terbagi menjadi Divisi Penyihir Batu Ilusi dengan 400 anggota dan Divisi Prajurit Batu Ilusi dengan 200 anggota. Mereka harus berkumpul dan berlatih setiap pagi dan sore. Inilah fondasi kekuatan masa depan Desa Batu Ilusi.