Bab Tujuh Puluh Satu: Penguasa Kota Labirin
Pria paruh baya itu tampak sedikit tertegun, matanya tak pernah lepas dariku, lalu dengan penuh semangat berkata, “Aku ingin... aku ingin melihat lagi kalung kecil yang tadi, bolehkah?”
Mendengar ucapan pria itu, wajah Charles langsung berubah dingin, suaranya berat, “Saudara, kalung itu milik temanku. Bagaimanapun juga, sepertinya itu tak ada hubungannya denganmu, kan?”
Sambil berkata demikian, Charles berdiri dengan dingin, lalu berbalik kepadaku, “Sudahlah, kita pergi saja. Tempat ini sudah membuatku jengkel!”
Mengikuti ucapannya, aku pun bangkit perlahan, menatap pria paruh baya yang bertubuh besar itu sejenak, lalu melangkah mengikuti Charles ke luar ruangan. Untung hari ini ada Charles, kalau tidak, aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa menghadapi pria besar itu.
Kupikir urusan telah selesai, namun tak kusangka baru saja kami berjalan keluar hotel, tiba-tiba kami menemukan pria paruh baya yang kekar itu, dengan karung kosong di pundaknya, mengikuti langkah kami dari belakang, seolah tak berniat pergi.
Jika saja tak ada Si Kuat dan kereta kuda, kami bisa saja menyingkir darinya dengan cepat, namun karena ada kereta, kami benar-benar tak bisa lepas darinya. Melihat pria paruh baya itu terus membuntuti di belakang kereta, Charles mendengus dingin, lalu mengarahkan kereta ke sebuah gang kecil yang sepi.
Setelah berkeliling di lorong-lorong sempit, Charles akhirnya menghentikan kereta di sudut yang sunyi, melompat turun begitu saja, menyilangkan tangan di dada, lalu menunggu dengan tenang kedatangan pria paruh baya itu.
Entah karena perbedaan kekuatan terlalu besar, atau memang tak diduga, pria paruh baya itu ternyata begitu gesit berbelok di tikungan. Begitu melihat kami sudah menunggunya, ia pun terkejut lalu berhenti.
“Kawan!” seru Charles dingin menatap pria kekar itu, suaranya penuh ancaman. “Kenapa kau mengikuti kami? Apa kau mengincar kalung itu?”
“Tidak, tidak!” Pria kekar itu panik melambaikan tangan, tergesa-gesa berkata, “Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin melihat lagi kalung itu, aku tak punya niat jahat. Kalung itu sangat berarti bagiku, aku hanya ingin memastikan saja. Tenang saja, aku tidak punya maksud buruk sedikit pun!”
Charles mengernyit, tampak tak sabar dan hendak marah, namun aku segera menahannya dan berbisik, “Charles, kau juga sudah lihat kalung itu. Apa kau tahu sebenarnya untuk apa benda itu?”
Charles sempat tertegun, lalu menggeleng cepat, “Fungsi pastinya aku tak tahu, tapi aku yakin benda itu adalah pusaka, sebuah benda sihir warisan dari zaman kuno!”
Aku mengangguk pelan, menatap pria kekar itu lalu berbisik, “Kalau begitu, kenapa tidak kita biarkan saja dia melihatnya? Siapa tahu dia tahu kegunaan kalung itu.”
Belum sempat Charles bicara, aku sudah melanjutkan, “Tak perlu khawatir. Jika dia lebih kuat dari kita, kita tak bisa berbuat apa-apa walau tak memberikannya. Tapi jika dia kalah kuat dari kita, walaupun kita perlihatkan, apa yang bisa dia lakukan?”
Mendengar ucapanku, Charles menatapku kaget, lalu menggeleng sambil tersenyum pahit, “Dasar licik juga kau! Baiklah, lakukan saja menurut caramu.”
Aku tersenyum pada Charles, lalu merogoh dada dan mengeluarkan kalung perak itu, memperlihatkannya dari jauh pada pria kekar itu, sembari berkata datar, “Baiklah, lihatlah dengan saksama.”
Melihat aku akhirnya bersedia memperlihatkan kalung itu lagi, pria paruh baya itu tampak begitu bersemangat, matanya membelalak, perlahan mendekat, pandangannya terpaku pada liontin perak itu, dan napasnya mulai memburu.
“Ya Tuhan... ya Tuhan... ya ampun!” serunya terguncang, menatap liontin di leherku dengan suara gemetar, “Benar-benar dia! Ini dia! Ya ampun, akhirnya muncul juga! Akhirnya muncul!”
Melihat pria itu tampak seperti orang gila, aku mengerutkan kening, jangan-jangan aku berhadapan dengan orang sinting? Akhirnya muncul? Apakah kalung ini memang punya sejarah besar?
Tiba-tiba, pria kekar itu berlutut jatuh ke tanah dengan suara berat, tangis sedih terdengar, “Hamba Situqa menyembah Tuan Wali Kota!”
“Apa?!” Aku dan Charles serempak berteriak kaget melihat pria paruh baya itu berlutut, tubuhnya bergetar penuh emosi. Ada apa ini? Wali kota apa?
Aku dan Charles saling berpandangan bingung. Dengan ragu aku berkata, “A... apa? Apa maksudmu wali kota? Siapa wali kota? Apa yang kau bicarakan?”
Pria paruh baya itu menatapku heran, kebingungan, lalu melihat lagi kalung di leherku, dan berkata ragu, “Tentu saja anda wali kota! Walau sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya, mataku masih belum salah. Itu adalah tanda pengenal Wali Kota Kota Labirin kami!”
“Apa?!” Mendengar ucapan pria bernama Situqa itu, aku kembali menjerit kaget. Saat hendak bertanya lebih jauh, Charles buru-buru menahanku, melirik padaku dengan penuh arti, lalu berbalik berkata pada Situqa, “Sudah lama tidak bertemu, sulit dipercaya kau masih ingat lambang itu. Kalian sudah banyak menderita.”
Isakan lirih terdengar. Pria kekar bernama Situqa tiba-tiba menangis, air matanya mengalir sembari berkata terisak, “Kami selalu menanti tuan kembali bersama penerus, tapi tak disangka penantian ini berlangsung dua puluh tahun lamanya!”
Mendengar ucapan Situqa, rasa penasaranku semakin dalam. Aku hendak bertanya lagi, namun Situqa sudah mulai bicara sendiri...
Dulu, karena Kota Labirin semakin merosot dan memburuk, sang wali kota tua memutuskan pergi seorang diri, katanya hendak mengelilingi dunia, mencari penerus yang bisa membangkitkan dan mengharumkan kembali bangsa Ilusi kita. Tapi tak disangka, kepergian itu... tak pernah ada kabar lagi!
Sampai di sini, sorot mata Situqa bersinar menatap liontin di leherku, dengan semangat berkata, “Wali kota lama mengatakan, wali kota baru akan datang membawa tanda ini, dan siapapun yang membawa tanda ini, dialah wali kota baru Kota Labirin!”
“Tunggu dulu!” Charles memotong ucapan Situqa, wajahnya serius, “Siapa nama wali kota lama yang kau maksud? Kita harus pastikan, jangan sampai salah orang!”
“Tak mungkin salah!” Situqa bersikeras menggeleng, “Tak mungkin keliru, wali kota lama kami adalah Penyihir Ilusi—Mikasius! Bukankah beliau yang menyerahkan kalung itu sendiri pada kalian?”
Begitu Situqa selesai bicara, Charles segera menimpali, “Kalau begitu, semua cocok. Benar... kalung ini memang diberikan Mikasius sendiri pada temanku ini. Kedatangan kami kali ini memang untuk menggantikan wali kota lama dan membangkitkan Kota Labirin!”
Mendengar ucapan Charles, mata Situqa bersinar penuh semangat, “Benarkah? Itu benar-benar kabar baik! Hanya saja... mengapa wali kota lama tidak ikut kembali?”
“Ini...,” Charles sempat ragu, lalu segera tersenyum, “Sebenarnya kami tak ingin mengatakannya, tapi karena di sini tak ada orang lain, biar kuperitahukan diam-diam. Wali kota lama masih melanjutkan petualangannya keliling dunia. Ia berpesan pada kami untuk menyampaikan pada warga Kota Labirin, bahwa semua urusan kota telah diserahkan kepada temanku ini. Ia yakin, di bawah kepemimpinannya, Kota Labirin pasti akan kembali berjaya!”
“Hey!” Aku menepuk bahu Charles, tak senang, “Charles, apa yang kau lakukan, kau ini...”
“Diam!” Charles membentakku pelan namun tegas, hanya cukup terdengar untukku, “Bodoh, masa kau tak tahu memanfaatkan kesempatan sebagus ini? Kalau kau jadi wali kota Kota Labirin, hidupmu ke depan pasti terjamin! Tak hanya itu, kau juga akan punya pasukan kuat, pengikut setia, bukankah semua itu yang kau mau?”