Bab Tiga Puluh Lima: Kembali ke Akademi Abadi
Halaman 1/3
“Yang Mulia, Qin Jun dari Akademi Abadi ingin menjamu Anda malam ini,” ujar Zhong Shan kepada Ji Yu.
Mendengar itu, Ji Yu mengangkat sebelah alis. “Menjamuku? Untuk apa dia mengundangku tanpa alasan?”
Zhong Shan menundukkan kepala. “Hamba tidak mengetahuinya.”
Ji Yu merenung sejenak, lalu terkekeh pelan. “Kurasa, dalam keadaan seperti ini, dia tidak mungkin memiliki tujuan lain. Kalau begitu, kita pergi melihatnya.” Rasa ingin tahunya terusik.
Setelah sekian lama, Ji Yu kembali menginjakkan kaki di Akademi Abadi. Hiasan dan tata ruangnya masih sama seperti dahulu, tetapi tempat itu memberinya perasaan seolah-olah telah terpisah dari kehidupan sebelumnya.
Begitu melewati ambang pintu, seorang pelayan yang rupanya telah menunggu cukup lama segera maju dan membungkuk hormat. “Yang Mulia, Tuan Qin telah menanti di lantai dua.”
Ji Yu mengangguk tipis sebagai tanda agar pelayan itu memimpin jalan. Dalam hati, ia semakin penasaran dengan tujuan sebenarnya Qin Jun mengundangnya.
Mereka melewati lorong-lorong berliku dan tiba di depan kamar pribadi yang sama dengan tempat Ji Yu duduk pada kunjungan sebelumnya. Pelayan itu mendorong pintu perlahan. Di dalam, Qin Jun sedang duduk tegak. Begitu melihat Ji Yu datang, ia segera bangkit menyambut.
“Yang Mulia Pewaris, kedatangan Anda benar-benar membuat kediaman sederhana ini terasa penuh kemuliaan,” ujar Qin Jun sambil tersenyum. Nada suaranya mengandung ketulusan dan rasa hormat.
Ji Yu pun menjawab dengan sopan, “Saudagar Qin… Qin, aku juga merasa sangat terhormat.”
Sesaat Ji Yu tidak tahu harus memanggilnya dengan sebutan apa. Ia sungguh tidak sanggup menggunakan panggilan kehormatan yang biasa dipakai penduduk Changlu untuk Qin Jun.
Qin Jun tampaknya menyadari kecanggungannya dan berkata dengan penuh pengertian, “Yang Mulia boleh memanggil saya sesuka hati. Silakan masuk.”
Sambil berkata demikian, ia bergeser ke samping dan mempersilakan Ji Yu masuk.
Ji Yu tidak sungkan. Ia melangkah masuk dengan tenang, diikuti Zhong Shan.
Setelah saling berbasa-basi, keduanya duduk sesuai kedudukan masing-masing. Qin Jun menuangkan segelas arak untuk Ji Yu dengan tangannya sendiri, lalu mengangkat cawan.
“Yang Mulia, izinkan saya bersulang untuk Anda. Terima kasih karena telah berkenan datang.”
Ji Yu mengangkat cawannya dan menyentuhkannya ringan pada cawan Qin Jun, kemudian menenggaknya hingga habis. Ia ingin melihat apa sebenarnya yang hendak dilakukan Qin Jun.
Namun, Qin Jun jelas tidak terburu-buru memasuki pokok pembicaraan. Ia membisikkan beberapa perintah kepada seorang pelayan, dan pelayan itu segera bergegas pergi.
Tak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Seorang perempuan melangkah masuk dengan anggun. Ia mengenakan gaun berwarna lembut dan elegan. Langkahnya ringan, alisnya panjang melengkung bak bulan sabit, matanya jernih seperti air musim gugur dan dipenuhi pesona, sementara sudut bibirnya sedikit terangkat dalam senyum yang sulit ditebak. Seluruh dirinya memancarkan daya tarik yang misterius sekaligus menggoda.
“Hamba memberi hormat kepada Yang Mulia Pewaris,” ujar perempuan itu dengan bibir merah yang terbuka perlahan.
“Kau Liu Li?” tanya Ji Yu dengan rasa ingin tahu.
“Benar, Yang Mulia. Hamba Liu Li.” Perempuan itu membungkuk anggun dan menjawab dengan lembut.
Halaman 1/3
Halaman 2/3
Pada pertemuan sebelumnya, Ji Yu hanya sempat melihatnya dari kejauhan. Keindahan tarian Liu Li memang sulit dilupakan, tetapi melihatnya dari dekat hari ini jauh lebih memukau. Kecantikannya sungguh luar biasa, seolah-olah memancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Ia benar-benar seorang perempuan jelita yang langka.
“Nona Liu Li benar-benar seorang perempuan yang tiada banding,” puji Ji Yu dengan tulus. Kekaguman tampak jelas di matanya.
Melihat hal itu, Qin Jun segera memanfaatkan kesempatan. “Minum arak saja memang agak kurang menyenangkan. Bagaimana kalau Nona Liu Li mempersembahkan sebuah tarian untuk Yang Mulia agar suasana minum menjadi lebih semarak?”
Liu Li tersenyum tipis. “Hamba bersedia menarikan Tarian Burung Hong Menukik untuk Yang Mulia.”
Begitu suaranya berhenti, suasana di ruangan seketika dipenuhi gairah dan penantian. Alunan musik kecapi dan seruling terdengar merdu. Liu Li mulai bergerak mengikuti irama. Setiap gerakannya mengalir luwes seperti awan dan air, sementara kedua lengannya melayang ringan bagaikan sayap. Seolah-olah ia benar-benar akan terbang ke angkasa dan menjelma menjadi seekor burung hong yang membelah cakrawala.
Langkah tari Liu Li semakin cepat. Ujung gaunnya berkibar mengikuti gerak tubuhnya yang ringan dan lembut. Setiap putaran dan lompatan dipenuhi kelincahan serta semangat. Ia seakan-akan benar-benar berubah menjadi burung hong yang terbang bebas di hamparan langit luas.
Ji Yu menonton dengan penuh minat. Ketika musik mencapai puncaknya, Liu Li mengakhiri tarian dengan sebuah putaran berliku yang sangat sulit. Ujung gaunnya mengembang seperti bunga yang tengah mekar. Bersamaan dengan berakhirnya alunan musik, seluruh ruangan tenggelam dalam keheningan singkat.
“Bagus!” Ji Yu tak mampu menahan diri untuk berseru lantang. Wajahnya dipenuhi kegembiraan dan kekaguman. “Tarian Burung Hong Menukik Nona Liu Li memang pantas tersohor. Sungguh membuka wawasan.”
Qin Jun pun mengangguk puas. “Yang Mulia terlalu memuji. Dapat memperoleh pujian dari Yang Mulia merupakan kehormatan bagi Liu Li.”
Qin Jun memberi isyarat dengan matanya. Liu Li segera memahami maksudnya dan datang ke sisi Ji Yu untuk menuangkan arak.
“Yang Mulia, silakan.” Liu Li tersenyum sembari menyerahkan cawan yang telah terisi penuh.
Ji Yu tidak menolak dan langsung menenggaknya hingga habis. Qin Jun benar-benar pandai menahan diri. Mereka sudah minum beberapa putaran, tetapi ia masih belum juga membuka pembicaraan. Jangan-jangan dia berniat membuatku mabuk? pikir Ji Yu.
“Belakangan ini, Yang Mulia benar-benar sedang berada di puncak kejayaan,” ujar Qin Jun pada saat yang tepat.
Ji Yu tersenyum kecil. Ia tahu, akhirnya inti pembicaraan telah tiba.
Ia meletakkan cawan araknya dan menatap mata Qin Jun. “Saudagar Qin terlalu memuji. Yang disebut kejayaan itu hanyalah karena seseorang berada dalam kedudukannya dan harus menjalankan tanggung jawabnya. Mengapa? Apakah Saudagar Qin memiliki pandangan lain?”
“Jangan berkata demikian. Saya hanya ingin menanyakan sesuatu kepada Yang Mulia,” jawab Qin Jun dengan rendah hati.
“Oh? Apa yang ingin Saudagar Qin ketahui?” tanya Ji Yu, penasaran.
“Saya ingin menanyakan tentang Jia Wu, Ketua Jia. Apa yang hendak Yang Mulia lakukan terhadapnya?” Akhirnya Qin Jun mengungkapkan pokok pembicaraan.
Ji Yu tertawa kecil dalam hati. Ternyata memang berkaitan dengan urusan para saudagar garam. Ia sudah menduga Qin Jun mencarinya karena masalah ini, hanya saja ia belum mengetahui tujuan pastinya.
Ji Yu tidak langsung menjawab. Ia malah mengangkat cawan dan menyentuhkannya ringan pada cawan Liu Li. Liu Li pun dengan cerdik menemaninya minum.
Halaman 2/3
Halaman 3/3
Melihat itu, Qin Jun tidak terburu-buru. Ia hanya minum seorang diri.
Sesaat kemudian, Ji Yu meletakkan cawannya dan bertanya, “Seharusnya usaha Saudagar Qin tidak berkaitan dengan mereka. Untuk apa menanyakan hal ini?”
“Hehe, pergolakan dalam industri garam Changlu tetap sedikit banyak memengaruhi saya,” jelas Qin Jun.
“Entah apakah Yang Mulia mengetahui bahwa Nanyang, Yiyang, dan daerah-daerah lainnya merupakan usaha turun-temurun keluarga Jia selama beberapa generasi? Jika Jia Wu benar-benar dibunuh sekarang, saya khawatir industri garam akan mengalami gangguan.” Qin Jun menjelaskan kekhawatirannya lebih lanjut.
Mendengar hal itu, Ji Yu merasa geli. Jing Ruxun sudah lama memberitahunya mengenai persoalan tersebut. Ia pun tahu bahwa saat ini belum waktunya menundukkan para saudagar garam itu. Namun, ia juga tidak mungkin begitu saja membebaskan Jia Wu. Tak disangka, Qin Jun justru datang membicarakan masalah ini. Ini benar-benar seperti orang mengantuk yang mendapatkan bantal.
Namun, di permukaan Ji Yu tetap tenang dan bertanya, “Menurut pendapat Saudagar Qin, apa yang sebaiknya dilakukan?”
“Yang Mulia dapat membiarkan Jia Wu tetap hidup sebagai seorang terdakwa yang menunggu hukuman. Dengan begitu, ia bisa menjamin kelancaran industri garam tahun ini, sementara urusannya ditangani perlahan-lahan di kemudian hari.” Qin Jun menyampaikan sarannya.
“Mengapa Saudagar Qin begitu membela Jia Wu? Memang usaha Saudagar Qin akan terpengaruh, tetapi Akademi Abadi menghasilkan kekayaan setiap hari. Apakah Saudagar Qin masih kekurangan uang?” Ji Yu sengaja menggoda.
“Hehe, siapa yang akan menolak uang lebih banyak?” jawab Qin Jun sambil tertawa. “Namun, sebenarnya Wen Huaiyuan pernah datang menemui saya. Ia berharap saya bersedia menjadi perantara dan membantu memohonkan keringanan.”
Mendengar nama Wen Huaiyuan disebut, Ji Yu mengerti maksud tersiratnya. Qin Jun sedang menyinggung pesta pemilihan bunga yang dahulu menjerumuskannya dan putranya. Yang lebih penting lagi, ia sedang mengingatkan kebaikan yang pernah diberikannya kepada Ji Yu. Qin Jun memang pandai berbicara.
“Rupanya begitu. Tampaknya para saudagar garam itu benar-benar mulai cemas,” ujar Ji Yu sambil menghela napas.
“Urusan Jia Wu sudah kupikirkan sendiri. Saudagar Qin tidak perlu mencemaskannya,” jawab Ji Yu dengan tegas.
“Hehe, jika Yang Mulia sudah memiliki keputusan, saya tidak akan mengganggu lebih lama.” Qin Jun tahu bahwa Ji Yu telah menyetujui permintaannya. Ia kemudian melirik Liu Li, lalu bangkit dan berpamitan.
Setelah Qin Jun pergi, Zhong Shan membuka mulut. “Yang Mulia…”
Namun, ia segera menelan kembali kata-kata berikutnya dan meninggalkan ruangan.
Ji Yu hanya bisa menggelengkan kepala. Dalam hati ia berpikir bahwa kejadian ketika Qin Jun mengirimkan bunga pada kunjungan sebelumnya memang sudah agak keterlaluan.
Kini, di dalam ruangan itu hanya tersisa dirinya dan Liu Li. Suasananya perlahan berubah menjadi semakin samar dan ganjil.
“Yang Mulia…”