Bab Seratus Tiga Puluh Empat: Kau Kakak Iparku!
“Eh, siapa itu?”
“Iya, ya. Wajahnya tampak agak tidak asing.”
“Wah, tampan sekali. Lihat saja wibawanya.”
“Benar, benar! Sungguh rupawan.”
“...”
Tersadar oleh suara orang-orang di sekelilingnya yang ramai membicarakan dirinya, Xu Chen baru menyadari bahwa tanpa sadar ia telah tenggelam dalam dunianya sendiri.
Harus diketahui, saat ini ia adalah seorang kultivator pada tahap akhir Pembangunan Fondasi. Jika tidak sengaja menahan aura yang terpancar dari tubuhnya, tekanan alami yang keluar darinya saja sudah cukup membuatnya tampak berbeda dari orang kebanyakan.
Melihat jalan yang semula padat, tetapi dalam radius dua meter di sekelilingnya tidak ada seorang pun, Xu Chen tersenyum getir. Ia segera meredam auranya, lalu menyusup ke tengah kerumunan.
Lima tahun bukanlah waktu yang singkat, tetapi juga tidak terlalu panjang. Dalam lima tahun ini, Xu Chen telah mengalami banyak perubahan. Namun, Kota Qingfeng hanyalah sebuah kota kecil. Para penduduknya saling mengenal karena setiap hari bertemu. Jika terus membiarkan mereka membicarakannya, tidak sulit bagi mereka untuk menebak identitasnya.
Akan tetapi, Xu Chen tidak ingin dikenali. Identitasnya saat ini sangat khusus, dan ia tidak ingin membawa masalah bagi penduduk kota.
Setelah melewati pasar yang ramai, Xu Chen berhenti di ujung jalan utama.
Selama lima tahun, kota kecil itu nyaris tidak mengalami perubahan besar. Jalan-jalan dan bangunannya masih hampir sama seperti lima tahun lalu. Jika ia berbelok ke kiri di ujung jalan ini, ia akan tiba di Kediaman Keluarga Xu.
Namun, belokan kecil itulah yang membuat Xu Chen tidak berani melangkah lebih jauh.
Pada malam itu, Kediaman Keluarga Xu dilalap api besar. Lima tahun telah berlalu. Mungkinkah kediaman itu sudah lama lenyap? Mungkin di atas bekas lokasinya telah dibangun kediaman baru.
Jika di kota kecil ini bahkan tidak ada lagi kenangan terakhir yang layak ia kenang, untuk apa ia datang kemari?
Berdiri ragu di sudut jalan, Xu Chen akhirnya tetap melangkahkan kaki.
Ia sudah datang sejauh ini. Mengapa ia tidak sanggup menghadapi satu belokan terakhir? Jika benar-benar tidak dapat melepaskan masa lalu, cepat atau lambat hal itu akan berubah menjadi iblis batin di dalam hatinya.
Ketika ia mengambil langkah itu dan memutar tubuhnya, Xu Chen terpaku oleh pemandangan di hadapannya.
Tidak ada yang berubah!
Semuanya masih sama persis seperti lima tahun lalu.
Menatap kosong Kediaman Keluarga Xu di hadapannya, Xu Chen berjalan masuk dengan tatapan hampa, seolah-olah jiwanya telah meninggalkan tubuh.
Pintu besar dari kayu murbei yang dilapisi emas itu masih berdiri di sana. Sebagian besar lapisan emasnya telah terkelupas, sementara dua aksara besar yang bertuliskan “Kediaman Xu” di papan nama di atasnya juga telah kehilangan kilau masa lalu.
Kriiit!
Xu Chen mengulurkan tangan dan mendorong pintu besar itu. Pintu tersebut langsung terbuka sedikit.
Sama seperti dahulu, pintu itu masih mengeluarkan suara berderit. Segalanya seakan tidak pernah berubah.
Halaman depan tampak bersih tanpa cela. Tanahnya rata dan tidak ditumbuhi sedikit pun rumput liar. Di kedua sisi jalan yang dilapisi marmer, bunga-bunga bermekaran dengan semarak.
Selama bertahun-tahun ini, siapa yang merawat tempat tersebut?
Raut keraguan muncul di wajah Xu Chen. Ia melangkah perlahan ke dalam halaman. Taman paviliun yang sudah dikenalnya, kamar-kamar yang akrab, juga tempat latihan yang tak pernah ia lupakan.
Menatap semua yang begitu familier itu dengan pandangan kosong, Xu Chen bahkan tidak menyadari ketika matahari telah terbenam. Ia hanya berdiri diam di sana.
Kriiit...
Suara pintu yang terbuka membangunkan Xu Chen dari lamunannya. Baru saat itulah ia menyadari bahwa langit telah gelap.
“Siapa yang datang selarut ini?”
Kening Xu Chen sedikit berkerut. Dalam satu lompatan, tubuhnya menghilang di antara rumpun bunga.
Sosok yang menyelinap masuk itu mengamati sekeliling dengan hati-hati, seperti pencuri kecil.
Setelah memastikan tidak ada siapa pun di sekitar, sosok itu mulai bergerak. Dengan peralatan yang dibawanya, ia membersihkan rumput liar di antara bunga, mencuci paviliun, dan merapikan dahan-dahan bunga.
Seolah-olah ia adalah pemilik tempat itu, sosok tersebut bekerja tanpa mengenal lelah. Baru setelah waktu yang lama berlalu, ia mengusap keringat di dahinya, lalu duduk beristirahat di dalam paviliun kecil.
“Jadi, selama bertahun-tahun ini, dialah yang merawat Kediaman Keluarga Xu?”
Hati Xu Chen diliputi keharuan. Setelah berpikir sejenak, ia segera keluar dari antara rumpun bunga.
Bagaimanapun juga, ia harus mengucapkan terima kasih kepada orang ini.
“Sudah selarut ini, mengapa kau belum tidur?”
“Siapa?”
Kemunculan Xu Chen yang tiba-tiba, seperti hantu, membuat sosok itu terkejut.
“Jangan takut. Aku bukan hantu, dan aku tidak berniat jahat.”
Melihat orang itu tampak tegang, Xu Chen melambaikan tangan kepadanya, lalu duduk di dalam paviliun kecil.
“Kau... kau Tuan Muda Xu?”
Melihat Xu Chen duduk tenang di hadapannya, sosok itu bergumam pelan. Ia ternyata langsung mengenali identitas Xu Chen.
“Kau mengenalku?”
Xu Chen mengamati sosok di hadapannya dengan saksama, lalu sedikit mengernyitkan dahi.
Pemuda itu bertubuh kekar. Raut wajahnya masih agak kekanak-kanakan, tetapi sorot matanya sangat tegas.
Dari keempat anggota tubuhnya yang kuat dan kokoh, orang dapat segera melihat bahwa ia berasal dari keluarga miskin. Hanya anak-anak dari keluarga miskin yang mengenakan pakaian penuh tambalan, dan hanya anak-anak dari keluarga miskin yang memiliki sepasang tangan kasar, kuat, serta penuh guratan kehidupan seperti itu.
“Aku... tentu saja mengenalmu. Kau... kau kakak iparku!”
Melihat Xu Chen secara tidak langsung telah mengakui identitasnya, pemuda itu segera tampak gembira. Namun, perkataannya membuat Xu Chen kebingungan.
Bagaimana mungkin ia menjadi kakak ipar pemuda itu?
“Selama bertahun-tahun ini, kaulah yang merawat Kediaman Keluarga Xu?”
Xu Chen mengira pemuda itu hanya salah bicara untuk sesaat, sehingga ia tidak terlalu memikirkannya. Ia mengeluarkan dua botol arak dari kantong penyimpanannya, lalu melemparkan salah satunya kepada pemuda itu.
“Benar.”
Menangkap botol arak yang dilemparkan Xu Chen, pemuda itu tidak bersikap sungkan. Ia langsung mendongakkan kepala dan meneguknya.
“Kakak ipar, selama bertahun-tahun ini kau pergi ke mana? Aku dan kakakku mengira kau sudah meninggal!”
Setelah meneguk arak, pemuda itu mulai banyak bicara.
“Sebentar. Siapa namamu? Bagaimana aku bisa menjadi kakak iparmu?”
Xu Chen yakin kali ini ia tidak salah dengar. Ia segera menyela perkataan pemuda itu.
“Kenapa? Kakak ipar, kau lupa? Aku Er Zhuzi. Dahulu aku pernah memegangkan kudamu.”
Melihat wajah Xu Chen yang penuh kebingungan, Er Zhuzi merasa tidak senang.
“Ah, aku memang tidak ingat.”
Xu Chen menggeleng pelan. Ia benar-benar tidak dapat mengingat siapa yang pernah memegangkan kudanya. Dahulu, keluarga Xu memiliki terlalu banyak pelayan, sehingga ia tidak mampu mengingat siapa saja mereka.
“Oh, tidak apa-apa. Tetapi kau pasti mengenal kakakku, bukan? Kau pernah berkata akan menikahinya.”
Mendengar jawaban Xu Chen, Er Zhuzi bukan hanya tidak marah, malah tersenyum tenang.
“...Siapa kakakmu?”
Xu Chen merasa pertanyaan itu agak tidak sopan, tetapi ia benar-benar tidak ingat pernah berkata akan menikahi siapa pun.
“Cuihua! Kakak ipar, jangan bilang kau benar-benar lupa? Itu sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Coba kau ingat-ingat lagi. Saat itu kakakku diganggu seseorang di kota. Kaulah yang menolongnya keluar dari masalah, bahkan kau berkata akan menikahinya.”
Melihat Xu Chen sungguh-sungguh tidak berpura-pura bingung, Er Zhuzi mulai menjelaskan dengan gerakan tangan dan kakinya.
“Oh, Cuihua. Sekarang aku ingat.”
Ketika mendengar bahwa ia pernah menolong Cuihua, Xu Chen samar-samar mendapatkan sedikit ingatan. Itu terjadi sangat lama dahulu. Namun, ia hanya ingat telah membantu Cuihua keluar dari masalah. Ia sama sekali tidak pernah berkata akan menikahinya. Mungkin Cuihua sendirilah yang terlalu banyak berkhayal.