Bab Dua Puluh Empat: Diserang
“Jalur pegunungan? Baik, kita lewat jalur pegunungan.”
Bai Su memandang Xu Chen dengan heran, tapi tak banyak bertanya. Ia langsung melangkah lebih dulu masuk ke hutan pegunungan.
Di tengah hutan yang suram itu, tak ada sedikit pun angin bertiup, bahkan suara burung pun tidak terdengar. Hanya bayangan Xu Chen bertiga yang bergegas berjalan di antara pepohonan.
“Baiklah, kita istirahat di sini sebentar.”
Berbeda dengan biasanya, setelah menempuh perjalanan cukup jauh, di sebuah dataran yang rata, Bai Su yang biasanya tegas tiba-tiba mengusulkan untuk beristirahat.
Namun Xu Chen sama sekali tak keberatan dengan saran Bai Su. Ia memilih tempat yang bersih, langsung duduk dan mulai memulihkan tenaga, sebab ia tahu bahaya bisa datang kapan saja—menjaga kekuatan adalah hal yang sangat penting.
Desir…
Tak lama setelah itu, Xu Chen yang tengah memejamkan mata tiba-tiba menangkap suara aneh seperti gesekan dari dalam hutan. Meski suara itu sangat pelan, tetap saja tak luput dari pendengarannya.
“Hati-hati! Ada penyergapan!”
Xu Chen tiba-tiba membuka mata lebar-lebar, lalu melompat menjauh dari tempat ia duduk. Seketika itu juga, bola api sebesar bola sepak menghantam tempat duduknya tadi.
Pada saat yang sama, berkat peringatan Xu Chen, Bai Su juga dengan sigap menghindari jaring besar yang turun dari atas, tapi Li Yi tidak seberuntung mereka. Tombak es sepanjang satu kaki menembus dadanya, memakunya mati di tanah.
“Siapa kalian? Berani-beraninya menyerang orang dari Perguruan Abadi Terbang, apa kalian sudah bosan hidup?”
Dengan satu tangan menggenggam pedang terbang, dan tangan lain memegang ikat pinggang sutra, Bai Su kini waspada menatap lima orang bertopeng yang tiba-tiba muncul mengelilingi mereka. Saat itu, meskipun ia bodoh, ia pun paham bahwa mereka sudah menjadi target, dan musuh pun jelas-jelas datang dengan persiapan.
Jika saja Xu Chen tak memperingatkan barusan, kemungkinan ia sudah terjerat jaring sunyi itu, dan Li Yi juga sudah kehilangan nyawa.
“Hahaha, Perguruan Abadi Terbang? Siapa yang kau takut-takuti? Kalau kau menurut saja ikut dengan kami, mungkin aku masih bisa membiarkanmu hidup. Tapi kalau melawan, kau sendiri tahu akibatnya.”
Seseorang yang tampak seperti pemimpin melangkah maju dari kelompok lima itu. Hanya sepasang matanya yang terlihat, tak seorang pun bisa menebak siapa dia.
“Aku akan menahan mereka. Kalau ada kesempatan, larilah! Kelima orang ini kemampuannya tak kalah dariku. Kalau bisa selamat, cepatlah kembali ke gunung dan laporkan bahwa kita disergap. Musuh juga seorang kultivator.”
Sambil membelakangi Xu Chen, Bai Su diam-diam berbisik ketika si orang berbaju hitam bicara.
“Lalu bagaimana denganmu?”
Saat itu juga Xu Chen menyadari, Bai Su ternyata tak seburuk yang ia perlihatkan selama perjalanan ini.
“Jangan pikirkan aku, kalau tidak kita berdua tak akan bisa kabur. Kalau ada kesempatan, lari saja.”
Melihat kelima orang itu sudah mengepung mereka berdua, Bai Su berteriak pelan, lalu langsung menerjang orang terdekat dengannya.
“Tangkap perempuan itu hidup-hidup, bunuh yang laki-laki!”
Melihat Bai Su yang menyerang, sang pemimpin memberi perintah, dan seorang berbaju hitam pun langsung menerjang ke arah Xu Chen.
“Mampus kau!”
Melihat bayangan yang mendekat, Xu Chen langsung melempar dua lembar jimat dari tangannya.
Begitu dilempar, kedua jimat itu di udara berubah menjadi dua bola api. Perubahan mendadak ini membuat si penyerang tak siap.
Pada saat yang sama, tubuh Xu Chen pun tiba-tiba berputar lincah seperti ular. Memanfaatkan kekacauan lawan, ia menghindari pedang panjang musuh lalu melesat masuk ke dalam hutan.
“Pokoknya bunuh dia!”
Melihat itu, sang pemimpin sempat terkejut, namun segera sadar dan suaranya berubah menjadi penuh amarah.
“Tenang saja! Dia tak akan bisa kabur!”
Dua bola api barusan memang menghantam tubuh si hitam, membuat pakaiannya compang-camping, tapi ia hanya mengusap luka dengan kesal, lalu mengeluarkan pedang terbang dan langsung mengejar Xu Chen ke dalam hutan.
“Benar-benar nyamuk menjengkelkan!”
Xu Chen melaju lincah di antara pepohonan bagaikan seekor macan tutul, melompati batu-batu besar, namun sang pengejar tetap menempel di belakangnya di atas pedang terbang, membuat Xu Chen cukup kewalahan.
Bagaimanapun juga, perbedaan kemampuan mereka jelas terasa. Jika bukan karena lebatnya hutan dan kelihaiannya berputar arah, sudah dari tadi Xu Chen tertangkap.
“Bocah, jangan percuma lari, lebih baik menyerah saja! Kalau tidak, aku bersumpah kau akan mati dengan cara yang sangat menyakitkan!”
Setelah beberapa kali dikecoh di saat genting, si pengejar mulai gelisah. Ia tak menyangka orang di depannya sangat berbeda dari informasi yang diterimanya.
Dikatakan kalau Xu Chen hanyalah sampah tingkat pertama dalam latihan pernapasan.
Ini sungguh omong kosong!
Sejak awal menemukan mereka, melemparkan dua bola api, lalu melarikan diri hingga kini, tak sedikit pun ia tampak seperti sampah tingkat pertama. Perbedaannya sangat jauh dengan deskripsi, membuat si pengejar hampir merasa dirinya sedang dipermainkan.
“Bacot!”
Xu Chen melempar satu jimat lagi ke belakang.
“Duar!”
Sebuah ledakan keras terdengar. Bola api yang dilepaskan Xu Chen langsung dihancurkan oleh telapak tangan kosong si pengejar. Setelah menerobos kobaran api, amarahnya semakin menjadi-jadi.
“Bocah, sekarang aku nyatakan kau pasti mati! Sekalipun kau bersujud memohon, aku tetap akan memotong-motong tubuhmu!”
Raungan rendah yang penuh nafsu membunuh kini benar-benar mengisyaratkan marahnya si pengejar.
“Bicara saja kalau kau memang mampu!”
Melihat sang pengejar kembali menyusulnya, Xu Chen menghentakkan kakinya ke tanah, lalu tiba-tiba berbelok ke arah lain. Gerakan mendadaknya membuat tombak es yang dilemparkan musuh meleset dari sasaran.
Tak tahu sudah berlari sejauh mana, hingga akhirnya Xu Chen tertahan di tepi jurang dan tak ada jalan lain selain menghadapi musuh secara langsung.
“Mengapa tak lari lagi? Kau tadi lari terus!”
Di tepi jurang, si pengejar berbaju hitam menutup jalan keluar Xu Chen sambil memutar-mutarkan pedang terbang di tangannya.
“Lari? Aku hanya merasa tempat ini cocok, membunuhmu di sini akan sangat pantas.”
Menanggapi ejekan musuh, Xu Chen kembali mengelurkan selembar jimat, sembunyi-sembunyi diselipkan di telapak tangannya.
“Haha, membunuhku? Baiklah, mari kulihat apakah kau cukup mampu.”
Ucapan Xu Chen membuat si pengejar tertawa. Ia lalu menunjuk ke udara, dan pedang terbangnya meluncur bagai cahaya, menyambarnya.
Menghadapi sambaran pedang, Xu Chen mendengus dingin, lalu dengan sigap mengelak dan langsung menyerbu ke arah si pengejar.
“Mencari mati!”
Melihat Xu Chen menyerang, si pengejar langsung mengangkat tinjunya yang sudah diselimuti cahaya biru, dan mengayunkannya ke arah Xu Chen.
“Ayo!”
Menghadapi tinju musuh, Xu Chen melayangkan tangannya, seketika bola api kembali melesat.
“Duar!”
Tinju dan bola api bertabrakan, ledakan api pun membumbung tinggi.
Sesaat itu pandangan si pengejar terhalang oleh kobaran api.
Mundur dua langkah, saat api menghilang, ia terkejut mendapati Xu Chen telah berada di depannya, kedua tangannya kini menggenggam dua bola petir yang berkilat-kilat.