Bab Empat Puluh Delapan: Mutiara Roh Kehilangan Kekuatan
“Praaak!”
Sebuah cahaya merah melesat, sebilah pedang api sepanjang beberapa depa menebas dari atas. Katak aneh yang gagal kembali ke sungai itu langsung terbelah dua, aroma amis darah seketika memenuhi ruangan ini.
"Binatang keparat! Merusak senjataku, membuang-buang waktuku! Kalau bukan karena aku sedang buru-buru, pasti sudah kucabik-cabik kulit dan tulangmu, biar kau merasakan kematian paling kejam!"
Setelah menarik kembali pedang apinya, sang petapa dari Sekte Api Merah itu pun masih belum puas, ia menendang keras mayat katak itu sebelum berbalik pergi dengan penuh kebencian.
Semua kejadian itu disaksikan jelas oleh Xu Chen. Namun sepanjang pertarungan tadi, ia sama sekali tidak bergerak, hanya matanya saja yang berubah, bahkan detak jantungnya pun ia tahan sebisa mungkin.
Jarak antara sang petapa Sekte Api Merah dengan dirinya tidak sampai seratus meter. Sedikit saja ia bergerak, pasti akan ketahuan. Xu Chen tahu betul, pertarungan tadi sama sekali tidak membuat petapa itu kelelahan—bahkan jika ada dua Xu Chen sekaligus, tetap saja bukan tandingannya. Menampakkan diri sama saja dengan mati konyol.
Lama ia menunggu.
Baru setelah benar-benar yakin petapa Sekte Api Merah itu telah pergi, Xu Chen keluar dari persembunyiannya.
"Sial! Waktu seperempat jam hampir habis, kenapa Situ Ying belum juga datang?"
Dengan wajah cemas, ia melirik ke arah mayat itu, lalu memejamkan mata untuk kembali merasakan keberadaan rekannya.
"Apa ini…!"
Mata Xu Chen membelalak penuh keheranan.
Situ Ying memang bergerak.
Namun anehnya, ia tidak menuju arah Xu Chen. Ketika ia kembali memusatkan perasaan, Xu Chen dapat merasakan posisi Situ Ying sudah benar-benar menyimpang ke kiri, dan jaraknya sudah sangat jauh.
"Ada apa ini!"
Sebuah firasat buruk melintas di benaknya. Ia tidak percaya Situ Ying akan bertindak sendiri. Jika Batu Indra mereka tidak bermasalah, berarti Situ Ying pasti mengalami kendala berat—kalau tidak, ia tak akan menyimpang sejauh itu.
"Nampaknya, Situ Ying takkan sempat ke sini kali ini. Apa aku harus terus menunggu di sini?"
Terbayang kembali janji mereka sebelum masuk ke tanah terlarang ini, Xu Chen merasa makin resah. Jujur saja, tempat ini sangat tidak layak untuk bersembunyi. Tak ada apapun yang bisa dijadikan penutup. Jika ada orang lewat, ia pasti mudah ditemukan.
Lagipula, baru saja terjadi pertempuran sengit di sini, aroma darah begitu kental. Jika ada yang datang, mereka pasti akan memeriksa tempat ini dengan saksama. Terus berdiam di sini sama saja dengan cari mati.
"Tidak bisa, aku harus cari tempat aman untuk bersembunyi."
Setelah mengambil keputusan, Xu Chen membuang jauh-jauh perjanjiannya dengan Situ Ying. Bertahan di sini bisa berarti maut, ia tak bisa terus bersikap menunggu.
"Da Bao, apa yang kau lakukan? Itu kotor sekali, cepat kembali!"
Baru saja hendak pergi, Xu Chen melihat Da Bao sudah melompat keluar dan berada di atas mayat katak aneh itu.
"Ciit, ciit!"
Meski sudah diperintah, Da Bao tak peduli, malah berdiri di atas setengah mayat itu sambil berseru kegirangan pada Xu Chen.
Jangan-jangan ada harta karun?
Melihat tingkah Da Bao, hati Xu Chen bergetar. Ia pun melompat mendekat.
"Apa ini... inti dalam binatang buas?"
Xu Chen mengangkat sebuah mutiara seukuran telur merpati dari genangan darah, wajahnya tampak terkejut.
Binatang buas yang mampu membentuk inti dalam berarti minimal adalah binatang tingkat tiga. Jika dibandingkan dengan tingkat manusia, itu sudah setingkat tahap pembentukan dasar. Meski sebelum bisa berubah wujud kekuatan binatang tingkat tiga belum dapat dibandingkan dengan manusia pada tingkat yang sama, sebab manusia bisa menggunakan senjata, sementara binatang hanya mengandalkan kekuatan dan naluri, bahkan tak mampu memakai ilmu sihir.
Selain inti dalam itu, Xu Chen menemukan sesuatu lagi yang membuatnya tertarik.
Kantung racun!
Sebuah kantung sebesar dua kepalan tangan, warnanya ungu seperti empedu pahit. Ini barang bagus. Ia masih ingat, kabut racun yang disemburkan binatang buas inilah yang membuat petapa Sekte Api Merah tadi murka karena senjatanya hancur.
Setelah menyimpan kedua benda itu dengan baik, Xu Chen memperingatkan Da Bao agar tidak berkeliaran sembarangan, lalu segera membawanya pergi dari sana.
Seperempat jam telah berlalu. Kini ia sama sekali tidak dapat merasakan keberadaan Situ Ying. Apakah mereka nanti bisa bertemu kembali, itu sudah tak penting, yang terpenting sekarang adalah bersembunyi.
Dari dialog petapa Sekte Api Merah tadi, Xu Chen samar-samar mendengar bahwa ketiga sekte besar sepertinya memiliki tempat berkumpul setelah masuk ke tanah terlarang. Ia berencana menunggu dua hari, sampai semua petapa dari tiga sekte yang baru masuk berkumpul, baru ia akan bergerak.
Saat itu, kemungkinan bertemu petapa dari tiga sekte secara acak seperti sekarang akan jauh lebih kecil, meski jika bertemu pasti dalam jumlah besar, yang berarti kematian.
Dalam beberapa lompatan, sosok Xu Chen dengan cepat menghilang menjadi titik hitam di balik hutan lebat tepi sungai, menyisakan hanya dua mayat dan bau darah yang pekat.
...
Dua hari berlalu begitu saja.
Akhirnya!
Di dalam tanah terlarang, dengan membelah lebatnya rerumputan, Xu Chen keluar dari sebuah gua di balik semak.
"Seharusnya sekarang sudah aman, kan?"
Sambil mengamati sekeliling dengan hati-hati, Xu Chen menghela napas panjang. Dua hari ini, ia tidak berani berbuat apa-apa selain bersembunyi. Rasanya, siksaan ini bahkan lebih berat daripada hukuman cambuk.
"Ciit!"
Sama seperti Xu Chen, Da Bao juga sudah dua hari dikekang geraknya. Begitu keluar, ia sangat ingin segera beraksi. Berdiam di tempat seperti ini benar-benar siksaan baginya.
"Hehe, lihat betapa tak sabarnya kau. Baru dua hari, waktu masih banyak. Ayo, tunjukkan ke mana kau mau pergi."
Xu Chen menenangkan Da Bao dengan senyuman, namun Da Bao begitu mendengar kata-katanya langsung melesat pergi.
"Hei, pelan-pelan, hati-hati!"
Melihat tingkah Da Bao, Xu Chen segera mengejar.
...
"Ciit, ciit!"
"Ssst... aku sudah lihat, jangan berisik."
Di sebuah bukit tandus, Xu Chen merunduk sambil memeluk Da Bao. Tak jauh di depan mereka, ada setangkai bunga mungil berwarna lima yang melambai tertiup angin.
Tak ada siapa pun di sekitar, tapi itu tak berarti tempat ini aman. Bunga lima warna itu disebut Bunga Lima Unsur. Nilai sebenarnya tidak terlalu tinggi, namun jika dijual, bisa ditukar ratusan batu roh. Xu Chen kini ragu apakah harus mengambilnya atau tidak.
Sebab, di sebelah bunga itu, ada sebuah lubang hitam. Xu Chen tidak percaya itu hanya lubang kosong, karena di sekitar tercium bau amis samar, dan ada jejak kaki segar di dekatnya. Jika ia mengambil bunga itu, pasti sesuatu dari dalam lubang akan keluar menghalangi.
"Sudahlah, tak ada makan siang gratis di dunia ini. Di tanah terlarang ini juga tak mudah menemukan harta karun. Kalau tak berani bertindak, mungkin aku benar-benar pulang dengan tangan hampa."
Setelah ragu sejenak, akhirnya Xu Chen menggenggam pedang terbangnya yang berkilauan tajam.