Bab Tujuh: Pikiran yang Terkoyak
“Melakukan ini di sini?”
Kesha kembali melirik ke arah gerombolan makhluk itu, memastikan mereka tidak menunjukkan gerak-gerik mencurigakan, lalu berbalik dan berjongkok di samping jasad makhluk gaib itu. Ia menahan rasa mual, dengan terpaksa menggunakan belati tanpa gagang untuk membedah tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
Sebelumnya, ia tak pernah melakukan hal seperti ini. Pengalaman serupa hanya pernah ia saksikan saat ibunya menyembelih ayam beberapa kali.
Setelah melihat contoh kegagalan dari Kain sebelumnya, Kesha menjadi sangat hati-hati saat membedah perut dan dada, berusaha keras agar cairan dan daging makhluk gaib itu tidak mengenai kulitnya. Zat-zat itu terlalu mengerikan, seolah merupakan sisi lain dari materi; sekali bersentuhan dengan kulit, akan meninggalkan luka yang saling meniadakan.
Butuh waktu lama, akhirnya ia berhasil mengorek jantung dari perlindungan tulang rawan dan meletakkannya di atas pelindung perut makhluk itu.
Bentuknya seperti kuning telur yang pecah di dalam cangkang, energi ungu yang kental perlahan-lahan mengalir keluar, tetes demi tetes jatuh ke tanah. Keberadaannya membuat udara di sekitarnya beriak, batu-batu menghitam dan mengeluarkan asap akibat larutan materi yang terkorosi.
Melihat itu, Kesha tak bisa menahan keraguan—benarkah benda ini bisa menyelamatkan nyawa? Mengapa dahulu benda ini tak langsung membunuh dirinya?
“Berikan padaku, cepat.”
Kesha mendengar suara tergesa Kain di belakangnya. Dengan cemas ia berbalik, tak menyangka bahwa jantung penuh energi itu ternyata terlalu licin dan ringan, hingga karena gerakan mendadak, benda itu terlempar keluar dari genggamannya dan tepat mengenai pelindung di lengannya.
Pelindung itu langsung menyerap energi secara rakus, cahaya ungu membentuk jaring di bekas luka, materi pucat yang berputar menutup bekas sayatan, layaknya penenun yang menambal kain lusuh.
Dalam sekejap, jantung itu sudah hampir habis terserap. Kesha panik dan berusaha menyingkirkan sisanya agar bisa disisakan untuk Kain, namun akhirnya pelindung di tubuhnya yang tak bisa ia kendalikan telah melahap semuanya.
“Maaf, aku... aku tidak sengaja…”
Wajah Kesha menampakkan penyesalan mendalam. Ia menengadah menatap Kain, mendapati wajah lelaki itu kini pucat pasi, membuat garis pembuluh darah hitam begitu kontras.
Segera setelahnya, Kain terjatuh lemas di tanah, cahaya matanya meredup, hampir tak terlihat di dalam gelap.
Itulah tatapan orang yang kehilangan harapan.
Hati Kesha mencelos, ia sadar ia telah membuat kesalahan besar yang akan berakibat sangat buruk.
“Aku akan cari jantung yang lain, kumohon padamu, jangan... jangan pergi…”
Kesha menopang tubuh Kain, rasa cemas yang besar menyelimuti dirinya. Ia berusaha sekuat tenaga, dengan suara penuh kepasrahan seolah tengah memohon kepada dewa kematian agar tidak merenggut segalanya.
“Jangan lakukan hal bodoh. Kau tak mungkin sanggup melawan semua makhluk gaib itu sendiri. Bawa aku pergi dari sini dulu.”
Dengan sisa tenaga, Kain melingkarkan lengannya di leher Kesha, tak membiarkannya pergi.
Nada suaranya seolah memberi perintah, menciptakan ilusi bahwa ia masih punya kekuatan. Bahu Kesha bergetar, ia menuntun Kain dengan lesu menuju bagian terdalam dari terowongan.
Setelah merasa aman, Kesha dengan hati-hati membaringkan Kain.
Namun, begitu tubuh itu dilepas, Kain langsung terkulai tak berdaya di tanah. Mata yang nyaris tertutup, menatap Kesha dengan pandangan lemah dan kabur.
Tubuh yang telah dirusak energi gaib, hidupnya sudah di ambang akhir; dunia sekali lagi menjauh darinya.
Melihat semua ini, dunia Kesha terasa gelap gulita.
“Maaf… Maaf... Aku salah... Kumohon... kumohon padamu, jangan... jangan tinggalkan aku!”
Keputusasaan kembali menyelimuti, sesak seperti kain kafan, rintihan putus asa bergema di terowongan, ditelan kegelapan abadi. Cahaya ungu yang kekal sama sekali tak tergoyahkan, lebih dingin dari kematian.
Kesha menundukkan kepala, merasakan hembusan napas tipis di wajahnya. Ia melihat bibir Kain bergetar, seperti hendak berkata sesuatu.
Ia menyeka air mata, lalu mencondongkan telinga mendekat untuk menangkap suara lirih itu.
“Hiduplah... Kesha...”
Hanya satu pesan, berisi penyesalan tak bertepi, karena ia tak bisa hidup bersama.
Saat suara itu benar-benar lenyap, tinggal napas yang nyaris tak terdengar. Kesha tak mampu lagi menahan tangis, air mata membasahi wajahnya.
“Maaf... Maaf...”
Ia seperti kehilangan akal, sambil terus meminta maaf, ia menusuk-nusukkan belati ke pelindung di lengannya.
Dalam pikirannya, inilah yang diinginkan Kain—benda yang melekat pada dirinya. Setelah semua yang terjadi, ia ingin sekali mencabutnya dan memberikannya pada Kain.
Mungkin itulah satu-satunya cara menyelamatkan Kain, meski ia sendiri harus membayar nyawanya...
Belati itu meninggalkan goresan pada pelindung lengan. Melihat itu, secercah harapan muncul di benak Kesha. Ia menggertakkan gigi, menusukkan belati dengan sekuat tenaga ke pelindungnya.
Tekadnya untuk menyelamatkan Kain membuatnya menembus batasan perlindungan tubuh. Belati itu berhasil membelah pelindung, darah ungu bercahaya muncrat mengenai wajah Kain, sementara Kesha merasakan sakit yang menusuk hingga ke tulang.
Di balik luka yang mengerikan itu, ia melihat kulitnya sendiri sudah kehilangan rona kehidupan, seperti kulit cacing buta yang menggali di bawah batu-batu gurun.
Sayatan pada pelindung lengannya tampak seperti jurang kebiruan ungu yang dalam, memancarkan cahaya hampa, seolah mengarah ke dunia lain.
Pemandangan menjijikkan itu membuat Kesha semakin membenci dirinya. Namun, bukan saatnya ia terhanyut perasaan.
Ia menurunkan lengan, membiarkan darah aneh mengalir dari pelindung yang terbelah, membasahi lengan kiri Kain yang telah menghitam dan mengerut.
Setelah semua itu, Kain tetap tak menunjukkan tanda-tanda membaik. Merasa energi yang diberikannya masih kurang, Kesha mengambil tombak dan berlari ke arah tempat gerombolan makhluk itu tadi.
“Kau harus menunggu! Tunggu aku membawa jantung yang masih utuh untukmu!”
Langkah Kesha perlahan menghilang, kegelapan menyisakan Kain seorang diri.
Darah ungu menetes di pipi, meresap ke sudut mata, mengalir ke pembuluh darah di retina.
Mata adalah bagian terdekat dengan otak; saat energi gaib itu menjalar melalui pembuluh darah ke otaknya, kekuatan aneh dan misterius itu langsung memenuhi kesadarannya.
Lapar.
Menelan.
Sebuah kehampaan menakutkan menguasai pikirannya, Kain dalam cahaya ungu yang aneh itu melihat sekilas bayangan keabadian yang semu.
Penghancuran.
Kelenyapan.
Ketika pikiran dan ingatannya mulai berubah menjadi kehampaan yang mengerikan, ia tak lagi bisa mengingat namanya sendiri.
Yang hilang bukan hanya itu; rasa sakit, kesadaran, suara, cahaya… semuanya lenyap.
Segala yang menghilang seperti terseret ke sisi lain dari batas keberadaan, ke kedalaman yang bahkan tanpa konsep waktu.
Inilah kehampaan sejati.
Ia mulai lupa akan keberadaannya sendiri, ia sedang dihapus dari kenyataan. Ia tahu apa yang tengah terjadi, tapi tak mengerti sebab dan prosesnya.
Ada sesuatu yang menakutkan bergerak dalam tubuhnya, melahap otaknya. Akal sehatnya mulai runtuh, semuanya dibongkar dan dikirim ke tempat yang hanya ada gelap dan dingin.
Makhluk itu berkeliaran dalam ingatan, melahap segalanya tanpa kendali, hingga akhirnya menembus batas paling dalam—
—kenangan tentang dunia lain.
Dalam sekejap, lengan yang menghitam dan nyaris mati itu tiba-tiba mengepal kuat…