Bab Sembilan Puluh: Aku Hanya Ingin Hidup Lebih Lama
Ucapan Liu Wen Cheng tidak mampu menggugah semua orang. Beberapa yang enggan mempertaruhkan nyawa diam-diam menggeser tubuh mereka ke arah Li Tai saat Gu Yuan menoleh ke arah mereka.
Da Xiong, yang setia mengikuti Li Tai, tentu saja tidak ikut Gu Yuan menuju pondok kayu itu. Pada akhirnya, hanya lima orang yang bersedia menemani Gu Yuan untuk menyelamatkan orang. Ini bukan hal buruk, semakin sedikit orang, peluang keberhasilan misi ini justru semakin besar. Alasan Gu Yuan membiarkan semuanya memilih adalah karena ia khawatir jika memaksa dan ada yang menyesal di tengah jalan, akibatnya bisa fatal.
Li Tai menatap keenam orang yang perlahan menjauh, menggigit bibirnya erat-erat. Ia memang ingin berjasa, tapi ia tidak berniat mempertaruhkan nyawanya. Jika berhasil, semua akan bersuka cita. Tapi jika gagal?
Setelah menimbang untung rugi, ia mengurungkan niat untuk menolong. Bagaimanapun, nyawanya jauh lebih berharga dari siapa pun.
...
Para dukun sekali lagi menyeret tiga orang keluar dari pondok. Setelah memastikan wajah mereka tidak ada di batu perekam, keenam orang yang merayap itu dengan cepat bersembunyi di balik sebatang pohon, mengamati dua dukun yang berjaga di depan pondok.
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Liu Wen Cheng.
Gu Yuan menjawab tanpa ragu, "Aku ke kiri, kau ke kanan."
Dukun di sisi kiri posisinya agak lebih jauh. Gu Yuan memperhitungkan kekuatan Liu Wen Cheng mungkin agak kurang, jadi demi keselamatan, ia memilih sendiri yang paling sulit untuk dibunuh.
Begitu selesai bicara, Gu Yuan tidak membuang waktu. Tubuhnya melesat dari belakang dukun kanan, secepat kilat menutup mulut dukun kiri dan menghunuskan pisau tulang ke lehernya.
Semua terjadi dalam hitungan detik. Saat dukun satunya sadar, rekannya sudah terkapar tak bernyawa.
Secara refleks, dukun itu membenturkan bahunya ke arah Gu Yuan. Tanpa menguasai ilmu sihir, tubuhnya penuh dengan celah.
Gu Yuan tak langsung membalas, ia menunggu Liu Wen Cheng. Namun, di luar dugaan, Liu Wen Cheng tetap bersembunyi di balik pohon dan tak muncul.
Akibatnya, Gu Yuan terpental tanpa sempat bersiap. Namun refleksnya sangat baik; di udara, ia segera mengatur posisi tubuh, menjejak pohon dengan kedua kakinya lalu melesat kembali. Dukun yang hendak membangunkan ulat iblis itu langsung dijerat pisau tulang di lehernya.
Selesai melakukan semuanya, Gu Yuan belum sempat bernapas lega. Pintu pondok tiba-tiba dibanting terbuka, seorang dukun keluar, mencium bau darah dan langsung waspada. Melihat mayat di tanah, wajahnya seketika berubah dan berteriak, "Apa—"
Dua kata selanjutnya tersangkut di tenggorokannya. Pisau tulang sudah menancap di lehernya, merenggut nyawanya secepat kilat.
Gu Yuan diam-diam mengumpat, lalu melompat ke atap pondok, merunduk di atas bubungan, mengintip ke arah api unggun.
Suara gigi tajam mengoyak daging sangat menusuk telinga, suara di sekitar pondok pun seakan terhalang. Para dukun yang berjaga di kejauhan tidak menyadari kegaduhan ini.
Gu Yuan menghela napas panjang. Liu Wen Cheng yang bersembunyi di balik pohon akhirnya muncul dan berlari kecil menghampirinya.
Turun dari atap, Gu Yuan menatap Liu Wen Cheng dengan dingin tanpa berkata apa pun.
"Kau tak bisa menyalahkanku," ujar Liu Wen Cheng dengan wajah muram. "Aku sama sekali tak pernah belajar ilmu sihir, apalagi membunuh orang. Kau langsung bergerak tanpa aba-aba, aku... aku..."
Gu Yuan bertanya curiga, "Kau benar-benar tak pernah berlatih ilmu sihir?"
"Tidak," jawab Liu Wen Cheng tegas.
"Lalu bagaimana kau bisa mencapai tingkat kekuatan seperti sekarang?"
Liu Wen Cheng menghela napas. "Semakin tinggi tingkat seseorang, makin panjang pula umurnya, benar, kan?"
Itu adalah pengetahuan umum, tentu saja benar.
"Aku berlatih hanya agar umurku lebih panjang. Urusan bertarung dan membunuh itu tugas bawahan. Untuk apa aku bersusah payah belajar ilmu sihir?"
Penjelasan Liu Wen Cheng masuk akal. Gu Yuan pun cukup percaya, apalagi dari aura Liu Wen Cheng yang memang tampak goyah, berbeda dengan mereka yang sudah terbiasa bertarung.
"Kalau begitu, ilmu yang kau pelajari pasti istimewa, sampai bisa menahan beban gelang besi itu."
Saat ini, hanya Gu Yuan dan Liu Wen Cheng yang masih mengenakan gelang besi. Sejak awal, Gu Yuan tidak pernah melihat Liu Wen Cheng kesulitan sedikit pun.
"Yang ini maksudmu?" Liu Wen Cheng melepas gelang besi dari pergelangan tangannya dan melemparnya begitu saja ke arah Gu Yuan.
Ekspresi Gu Yuan berubah serius, Liu Wen Cheng tampak begitu santai seolah melempar batu kecil.
Gu Yuan menyalurkan energi sejatinya ke telapak tangan kanan. Ketika ia menggenggam gelang besi dengan sungguh-sungguh, gelang itu langsung meledak berantakan karena tak tahan terhadap guncangan energi.
Untung suaranya cukup tertahan, sehingga tidak menarik perhatian. Jika tidak, jantung siapa pun pasti sudah melompat ke tenggorokan.
"Aku sudah tahu bahwa berlatih 'Sepuluh Jurus Pisau' memang ada tahap membentuk tubuh. Saat memilih gelang, aku menukar barang tanpa sepengetahuanmu. Kalau kau tidak menyebut soal ini, aku pun sudah lupa masih mengenakan gelang itu."
...
Melihat wajah Gu Yuan yang melongo, Liu Wen Cheng perlahan melangkah mendekati pondok, merasa malapetaka akan menimpanya.
Namun tiba-tiba ia merasakan telapak kakinya menginjak sesuatu yang lunak. Seketika, lehernya terasa nyeri luar biasa. Seekor ular ungu menancapkan taringnya erat-erat di lehernya, racunnya mengalir deras ke dalam luka.
Liu Wen Cheng merenggut ular itu dan merobeknya hingga hancur, namun pandangannya langsung menggelap, kepalanya pusing, dan hanya dalam beberapa detik ia sudah tak mampu berdiri lagi.
Kepala ular di tanah masih terus menggigit. Gu Yuan langsung waspada. Ular jenis ini punya nama khusus: ular panjang umur. Walau kepalanya sudah dihancurkan, ia masih bisa hidup beberapa jam lamanya.
Namun, siapa pun yang digigitnya pasti takkan berumur panjang, dalam seperempat jam racunnya akan membunuh korban.
Apalagi ular ini sudah dibesarkan oleh para dukun, racunnya pasti lebih kuat, sehingga Liu Wen Cheng langsung terkena dampaknya.
Ular panjang umur itu terjatuh dari tubuh dukun yang ada di dalam pondok. Ular itu belum terbangun, tapi Liu Wen Cheng menginjaknya, sehingga sebagai upaya pertahanan diri, ular itu menyerang.
"Sialan!" Gu Yuan mengumpat, tapi tangannya tidak tinggal diam. Ia segera mengambil mutiara penawar racun dari gelang penyimpanan dan memasukkannya ke mulut Liu Wen Cheng. Racun ular yang sudah masuk ke darah pun melambat lajunya.
Bagaimana cara menyelamatkan Liu Wen Cheng, Gu Yuan pun tak punya solusi pasti. Namun, ia teringat pada 'Mantra Penggerak Gunung' yang bisa menggerakkan darah dalam tubuh sendiri, mungkinkah ia bisa menggunakannya pada orang lain?
Dalam waktu singkat itu, wajah Liu Wen Cheng sudah mulai membiru, dua luka kecil di lehernya tak lagi mengalirkan darah merah segar, melainkan cairan ungu tua.
Tanpa mutiara penawar racun, racun itu pasti sudah menjalar ke jantung Liu Wen Cheng...
Begitu energi sejati Gu Yuan mengalir tanpa halangan ke tubuh Liu Wen Cheng, ia seolah melihat tak terhitungnya sungai-sungai. Ada yang besar dan deras, ada pula yang kecil dan jernih, semuanya mengalirkan darah merah pekat.
Ia juga melihat satu sungai besar yang sudah tercemar, bersama beberapa anak sungainya yang ikut teracuni. Gu Yuan sempat ragu, sebab ia belum pernah mencoba menggerakkan 'Mantra Penggerak Gunung' pada tubuh orang lain.
Yang paling penting, waktunya sangat sempit. Para dukun bisa saja datang kapan saja.