Bab Tiga Puluh Delapan: Pria yang Terluka
Terus-menerus bertarung seperti ini bukanlah solusi. Pertarungan kacau itu akhirnya menunjukkan titik terang. Secara kebetulan, kedua telapak tangan mereka saling bertemu, membuat Li Rong melayang miring ke belakang. Setelah mendarat, ia menggunakan energi sejatinya untuk memaksa keluar tanah dari matanya. Kedua matanya yang bengkak dan merah tampak seperti dua butir telur ayam.
Gu Yuan juga bangkit berdiri, menarik kain hitam yang tergantung di tanduk rusa, lalu meludah berat bercampur darah.
Li Rong menatap Gu Yuan dengan mata berlinang air mata, sebersit keterkejutan terpancar di wajahnya. “Ternyata kau seorang kultivator siluman?”
Gu Yuan hanya tersenyum samar, tidak membantah maupun mengiyakan.
Li Rong mengerutkan kening. Para kultivator siluman memang selalu memiliki kemampuan aneh dan tak terduga. Dengan begitu, ia pun mulai meragukan apakah padi-padi yang hidup itu benar-benar dipercepat pertumbuhannya oleh cairan spiritual. Ia pun tak lagi yakin.
“Kau sendiri yang membudidayakan padi-padi itu?” Nada bicara Li Rong sedikit berubah suram.
Gu Yuan tersenyum, lalu berkata, “Jika iya, lalu kenapa? Jika tidak, apa bedanya?”
Li Rong bersuara tinggi, seolah merasa dirinya berada di atas angin. “Kalau benar, ikutlah denganku. Mulai sekarang kau tinggal di sisiku sebagai pelayan siluman, dan aku akan mengampunimu. Tapi jika tidak, beritahukan padaku cara membudidayakan padi itu, lalu lumpuhkan kemampuanmu sendiri, dan aku akan membiarkanmu pergi.”
Jika Chen Shuangshuang hadir di sana, ia pasti akan terkejut. Li Rong tak pernah sekalipun berbicara sebaik ini sebelumnya.
“Sayangnya, aku tidak menyukai kedua pilihanmu itu,” Gu Yuan mencemooh niat baik Li Rong, lalu melanjutkan, “Kau orang yang besar hati, sedangkan aku sangat perhitungan. Aku hanya punya satu pilihan untukmu...”
Belum sempat melanjutkan, Gu Yuan menghentikan ucapannya. Li Rong yang penasaran bertanya, “Pilihan apa?”
Gu Yuan berkedip, menampilkan senyuman yang sulit ditebak. “Coba tebak.”
Wajah Li Rong seketika diselimuti hawa dingin, suaranya pun menusuk tulang, “Kau benar-benar cari mati!”
Api seperti nyata mengalir di kepalan tangan Li Rong. Ia mengangkat kedua tangan ke atas, seekor burung phoenix api yang hidup dan nyata perlahan terbentuk di atas kepalanya.
Dengan iringan suara phoenix yang nyaring dan jernih, burung api sebesar satu hasta melesat menuju Gu Yuan. Panas yang membakar membuat udara beriak dan bergetar, gelombang panas menyebar cepat.
Gu Yuan bergerak cepat, mundur beberapa kali, lalu bersembunyi di balik rerimbunan pepohonan. Phoenix api itu menerobos masuk ke hutan, seolah-olah pohon-pohon hanyalah kertas, dalam sekejap mereka dilalap api hingga menjadi abu.
Gu Yuan terdiam dalam hati, bergerak mundur makin cepat di antara pepohonan. Ia berusaha mencari area dengan pepohonan rapat, namun phoenix api itu terlalu cepat dan tak terbendung; kecepatannya melampaui kemampuan Gu Yuan untuk mundur.
Melihat phoenix api hampir mendekat, Gu Yuan menjadi semakin serius. Ia berlindung di balik sebuah pohon tua berukuran dua pelukan orang dewasa, kedua tangannya menancap kuat ke batang pohon, lalu memaksa mencabutnya dari tanah.
Gu Yuan kemudian mengangkat pohon tua itu yang kini berselimutkan cahaya biru, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga. Phoenix api yang terus melaju menghantam pohon tua yang dipenuhi energi sejati, ledakan cahaya yang menyilaukan segera membumbung di udara. Api berhamburan ke segala arah, membakar rerimbunan yang ditinggalkan, membuat suara mendesis. Banyak batang pohon berlubang hangus akibat terbakar.
“Uhuk... uhuk, uhuk...” Li Rong tiba-tiba terbatuk hebat, aroma darah yang amis memenuhi mulutnya. Bukan karena serangan balik dari pecahnya jurus, melainkan luka lama di tubuhnya kambuh di waktu yang tidak tepat, mengacaukan aliran darah dan energi di dalam tubuhnya.
Gu Yuan segera merasakan aura Li Rong menjadi kacau, kekuatannya seolah jatuh bebas ke tahap awal Gerbang Raksasa. Energi di tubuhnya berantakan seakan-akan istana dalam tubuhnya dihantam keras, energi sejatinya pun berputar tak keruan seperti bubur.
“Inilah kesempatannya!”
Mata Gu Yuan bersinar. Ia mengerahkan energi sejati ke kedua kakinya, lalu melesat ke depan, meninggalkan dua bekas telapak kaki yang dalam di tempat ia berdiri tadi.
Li Rong tersentak. Dua jari Gu Yuan melesat seperti taring berbisa, langsung mengarah ke matanya. Li Rong memaksa menelan darah yang hampir keluar dari tenggorokannya. Ia mengepalkan tangan kanan, memunculkan cahaya api menyilaukan, lalu menerjang dua jari itu dengan api yang membara.
Tiba-tiba terjadi perubahan tak terduga. Gu Yuan menarik kembali dua jarinya, tubuhnya mendadak merendah, lalu menyelinap di bawah selangkangan Li Rong. Tangan kanannya meraih sesuatu yang lunak.
“Arrgh!!”
Jeritan memilukan menggema di atas hutan Babi Hutan. Di luar hutan, Wang Xuelian yang mendengar suara itu tersenyum tipis. Ia yakin jagoan dari Istana Matahari telah berhasil.
“Qi Kai...” Wang Xuelian berlinang air mata, berseru pilu, “Aku sudah membalaskan dendammu.”
...
Di dalam hutan, tubuh Li Rong bergetar hebat. Wajahnya pucat pasi hingga urat-urat biru di bawah kulitnya tampak jelas. “Kau benar-benar berani... kau berani melakukan ini padaku...”
Darah segar menyembur deras dari bawah perut Li Rong. Bibirnya bergetar dengan kecepatan luar biasa, dan ia pun tak percaya apa yang baru saja terjadi, bahkan tak yakin semua itu benar-benar menimpa dirinya.
“Kau telah menghancurkan hidupku! Kau telah menghancurkan segalanya!” Api panas menyembur dari setiap pori-pori tubuh Li Rong, pakaiannya hangus menjadi abu, tanah di bawah kakinya berubah menjadi tanah gosong. Dari pusat dirinya, retakan lebar ukuran satu hasta menjalar cepat ke segala arah. Pohon-pohon di sekitar terbakar menjadi abu hanya dalam hitungan detik.
Hati Gu Yuan pun menegang. Pilihan yang ada padanya terlalu sedikit, ia hanya bisa mengandalkan tubuhnya untuk menerima serangan Li Rong. Tulang-tulang putih menyembul keluar dari bawah kulitnya, membungkus seluruh tubuh. Gu Yuan menarik napas panjang. Di saat itu, ia merasakan dirinya terkunci oleh aura tak kasat mata. Sekalipun ia bisa terbang ke mana saja, ia tak mungkin lolos.
Gu Yuan mengerti sebabnya. Serangan yang menghimpun seluruh kekuatan tubuh biasanya membawa tekanan aura yang luar biasa. Semakin lemah kekuatan seseorang, semakin berat tekanan yang dirasakan; sebaliknya, semakin tinggi kekuatan, semakin mudah pula melepaskan diri dari tekanan itu.
Aura Li Rong bergejolak gila-gilaan. Ia menyatukan kedua telapak tangan, telapak kiri di atas punggung tangan kanan, seluruh api merah di tubuhnya mengalir ke kedua lengan, lalu berkumpul di telapak tangan kanan.
Api yang mengalir ke kedua lengan mulai memadat, dan ketika sampai di telapak tangan, sudah menjadi seukuran dasar mangkuk, panasnya meningkat berkali lipat.
“Pembakar Langit!”
Terdengar ledakan dahsyat. Satu pilar api padat melesat dari telapak tangannya, melaju dengan kecepatan luar biasa. Li Rong seolah tak mampu menahan kekuatan mengerikan itu; tubuhnya terdorong ke belakang sampai puluhan depa, hampir mendekati air terjun di tengah hutan.
Gu Yuan di sisi lain mengangkat tinjunya. Di belakangnya, bayangan kera raksasa menghantam-hantam dada, seluruh kekuatan terkumpul, mengalir ke lengan kanan. Dengan keyakinan penuh untuk menang, Gu Yuan melayangkan pukulan ke arah pilar api itu.
Cahaya cemerlang menyelimuti sebagian besar hutan. Gelombang kejut mengerikan menyapu ke segala penjuru, semua pohon yang dilewati hancur berantakan menjadi serpihan halus. Rumah kayu yang dibangun De Fu pun ikut rata dengan tanah dalam radius tiga puluh depa.
Kaki Li Rong sampai terbenam dalam lumpur. Ia butuh tenaga besar untuk melepaskan diri. Suara dari dadanya seperti suara gong retak. Serangan “Pembakar Langit” sangat melukai organ dalamnya; luka yang diderita kali ini jauh lebih berat ketimbang saat bertarung mati-matian melawan wabah belalang. Namun, yang paling memilukannya bukanlah luka di tubuh, melainkan luka yang tak pernah bisa dipulihkan seumur hidupnya.