Bab 35: Jangan Menyakiti Wanita
Dalam sekejap, halaman depan rumah itu pun menjadi sepi. Di tanah hanya tersisa beberapa sepatu yang terinjak dan bahkan pakaian yang robek.
Defu melepaskan cengkeramannya dari Gu Yuan, ekspresi terkejut terpatri di wajahnya, seakan belum pernah mengenal siapa itu Erxi. Ia benar-benar tak percaya, Erxi bisa berubah menjadi begitu kejam dan tega.
“Erxi, kau... mengapa jadi seperti ini?”
“Song Defu!” Erxi menyelipkan pisau taring babi di pinggang, lalu dengan sikunya menahan Defu ke pintu. Ia menengadah menatap lurus ke mata Defu yang membelalak tak percaya. “Ini yang terakhir kali.”
“Apa maksudmu terakhir kali?”
Siku Erxi perlahan menyingkir dari perut Song Defu, hatinya tetap sedingin es tanpa gelombang sedikit pun. “Kau sendiri tahu maksudnya.”
Setelah berkata demikian, Erxi berbalik keluar rumah, kedua tangannya mengangkat tubuh Song Jinsheng di bawah ketiak, lalu mundur menyeretnya ke dalam hutan.
Gu Yuan menepuk bahu Song Defu, lalu dengan satu tangan mengangkat jasad lain dan berjalan ke arah hutan juga.
...
Para penduduk desa keluar dari hutan. Melihat tak ada yang mengejar, mereka akhirnya menghela napas lega. Menyaksikan penampilan mereka yang kacau balau, semua hanya bisa tersenyum pahit.
“Lalu, bagaimana sekarang?”
“Apa lagi yang bisa kita lakukan?” Song Wang, si mulut lebar, mengangkat tangan pasrah, “Lumbung di rumah kita masih cukup untuk makan, tak peduli ada atau tidak ada milik keluarga Defu.”
“Jadi kita cuma diam saja menahan ini?” seseorang berkata tak puas, “Sejak kapan keluarga Song Defu begitu berkuasa? Baru sedikit salah bicara sudah tega membunuh. Kalau begini, lama-lama mereka akan menginjak kepala kita!”
“Betul, betul sekali.”
“Bagaimana kalau kita laporkan ke pejabat?”
“Lapor?” Song Wang mencibir, “Pintu kantor pejabat lebih rapat daripada paha gadis. Siapa yang mau peduli?”
“Lalu, apa yang harus kita lakukan?”
“Cari Wang Xuelian!” Song Wang menggeram ganas, “Kalau bukan karena perempuan itu, kita takkan sampai seperti ini!”
“Benar, benar!” Semua orang menggertakkan gigi, “Semuanya salah perempuan jalang itu!”
...
Ketika gerombolan itu, dengan amarah membara, menerobos pintu gerbang rumah besar, Wang Xuelian tengah duduk santai di sebuah kursi tinggi, tenang menyesap teh dari cangkirnya.
Disebut teh, padahal hanya beberapa helai daun yang ia pungut di tanah.
Tak seorang pun menduga Wang Xuelian justru menanti kedatangan mereka. Mereka terpaku sejenak. Wang Xuelian melirik sekilas pada para penduduk desa yang tampak dungu, lalu tetap tenang meneguk teh, berkata, “Kalian sudah bertemu Dewa sepupuku?”
Secara refleks, mereka menjawab, “Sudah... sudah bertemu.”
Wang Xuelian terkekeh ringan, matanya berkilat licik, “Ada yang mati, kan?”
Wajah Song Wang seketika berubah marah, membentak, “Kau masih bisa bicara?!”
“Pukul dia!”
Di bawah komando Song Wang, kerumunan itu menyerbu maju. Wang Xuelian tetap tenang, menaruh cangkir di sandaran kursi, lalu berkata, “Kalian harus tahu, Song Defu itu sepupuku. Dewa di rumahnya, bagaimanapun, masih ada hubungan keluarga denganku.”
Song Wang menggertakkan gigi begitu keras, suaranya dingin, “Kau mengancam kami?”
Wang Xuelian tersenyum samar, “Kalau kau menganggapnya begitu, silakan saja.”
“Kau...!”
Mengingat kematian Song Jinsheng dan putranya, semua orang geram, tapi terpaksa menahan diri. Bahkan wanita kecil seperti Wang Xuelian pun kini tak berani mereka sentuh.
“Atau...”
“Kita pergi?”
“Ya, pergi saja?”
“Ayo, pergi.”
Mereka pun dengan lesu berjalan keluar. Namun ketika mereka hampir sampai di ambang pintu, suara Wang Xuelian menahan mereka, “Tunggu, kalian pikir bisa pergi begitu saja?”
Song Wang berbalik, membentak, “Apa kau mau membunuh kami semua juga?!”
Wang Xuelian menutup mulut terkekeh, “Aku mana mampu begitu. Aku hanya ingin tanya, kalian ingin melampiaskan dendam, kan?”
Orang-orang itu tertegun, saling berpandangan. Song Wang maju bertanya, “Maksudmu apa?”
Wang Xuelian pelan-pelan berkata, “Defu sepertinya punya cara aneh, pagi menanam, malam sudah panen padi. Menurutmu, cara seperti itu tak terlalu mencurigakan?”
Song Wang mengerutkan kening, suaranya jauh lebih tenang, “Maksudmu...?”
Wang Xuelian mengusap dahinya, berkata, “Kudengar pemilik toko beras keluarga Chen memohon Dewa dari Istana Surya untuk menjaga lumbungnya. Jika ada yang merugikan usahanya, dan semua orang tak mau beli beras di sana, menurutmu apa yang akan terjadi?”
“Mana mungkin?” Song Wang tertawa, “Dewa sehebat apa pun, tak mungkin bisa mengatur mulut orang sebanyak itu.”
Wang Xuelian menatap penuh arti, “Siapa bilang tak bisa?”
Song Wang tertegun, lalu segera paham, “Maksudmu...?”
“Kalau aku bilang bisa, ya bisa.” Wang Xuelian berkata santai, “Kalau pun tidak, asalkan pemilik toko tahu ada orang seperti itu di desanya, menurutmu apa dia akan membiarkannya?”
“Kalau pemilik toko itu berniat merekrutnya?” Song Wang bergidik, cemas, “Bukankah kita malah celaka?”
Wang Xuelian mencibir, “Merekrut orang dengan asal-usul mencurigakan, itu pemilik toko yang gila, atau kau yang gila?”
Song Wang tetap merasa ada yang janggal.
“Bagi kita, para Dewa itu memang luar biasa. Tapi bagi pemilik toko seperti keluarga Chen, mereka hanya manusia biasa. Kau akan berkata manis pada orang yang hendak merebut ladangmu?”
Wang Xuelian yang pernah ikut Song Qikai sudah cukup banyak makan asam garam. Soal wawasan, jelas jauh melampaui para penduduk desa yang polos ini.
Wajah Song Wang memerah, ragu-ragu bertanya, “Lalu, bagaimana caranya bicara dengan pemilik toko Chen?”
Wang Xuelian sudah lama menyusun rencana. Ia berkata, “Sebagian besar hasil panen di ladangku juga dikirim ke toko beras keluarga Chen. Karena kita semua tetangga, aku tak masalah jadi perantara untuk kalian.”
“Ah, itu bagus sekali,” semua orang tampak girang.
“Kalau kalian memang ingin melampiaskan dendam, aku ingin bertanya satu hal.”
Song Wang heran, “Apa itu?”
Tatapan Wang Xuelian menjadi dingin, “Kapan kalian akan mengembalikan barang-barang yang kalian ambil dari rumahku?”
“Ini...”
Wajah penduduk desa tampak ragu. Hanya demi dendam, harus mengembalikan barang berharga? Rasanya tak sepadan.
Atau...
Lupakan saja? Jalani hidup seperti biasa?
Memang, beberapa dari mereka mulai berpikir demikian, bahkan Song Wang pun tampak ragu.
Seolah sudah menebak isi hati mereka, Wang Xuelian bangkit, lalu merobek pakaiannya hingga sebagian dadanya terbuka.
Mata para lelaki itu mendadak membelalak, terpaku memandangi dadanya.
“Kalau aku bilang pada sepupuku, kalian sudah melakukan hal bejat kepadaku, menurut kalian, apa masih bisa hidup?”
Mendengar itu, semua langsung tersentak, buru-buru mengalihkan pandangan ke langit, tak berani lagi menatap Wang Xuelian.
Dengan nada memerintah, Wang Xuelian berkata, “Sekarang juga, bawakan kembali semua barang dari rumahku. Kalian boleh simpan sedikit beras, tapi aku juga mau beberapa karung. Pergi sekarang.”
Apa lagi yang bisa mereka lakukan?
Seperti ayam jantan kalah tarung, mereka berjalan lunglai keluar rumah. Song Wang yang paling belakang menoleh, bertemu tatapan Wang Xuelian, buru-buru menunduk dan mempercepat langkah keluar.
Ia diliputi tanya, bukankah Song Defu itu sepupu Wang Xuelian? Mengapa ia justru ingin mencelakakan Song Defu?
Yang tak ia tahu, Wang Xuelian sudah lama menyalahkan kematian Song Qikai pada Song Defu. Kalau saja Defu tidak datang, Song Qikai takkan menutup celah di jendela. Kalau saja asap bisa keluar, Song Qikai takkan tewas.