Bab 51: Maaf, Aku Tidak Akan Menahanmu
Tingkah laku seseorang sulit diubah, apalagi jika sudah membawa watak aslinya. Mengelola lebih dari lima puluh orang di bengkel, itu sudah termasuk memiliki sedikit kekuasaan. Song Chengquan merasa kekuasaan itu harus dimanfaatkan, kalau tidak nanti sia-sia. Hanya saja, setelah Zhou Jianping memanggilnya untuk berbicara, tindakannya menjadi lebih tersembunyi, tidak terang-terangan seperti sebelumnya, dan ia pun tak pernah lagi menyebut bahwa direktur pabrik adalah teman lamanya.
Sejak saat itu, memang sudah jarang ada laporan tentang Song Chengquan yang membentuk kelompok sendiri, tetapi nafsu pribadinya tidak berkurang. Jamuan makan di belakang layar tetap berlangsung, barang-barang yang diberikan oleh beberapa karyawan tetap ia terima tanpa ragu, dan transaksi kecil itu pasti terlihat dampaknya dalam penugasan kerja. Tak ada keuntungan, siapa yang mau repot-repot mencari muka pada kepala bengkel tanpa alasan?
Meski tidak lagi melaporkan perbuatannya, jumlah karyawan yang mengajukan pindah dari Bengkel Satu semakin banyak. Dulu hanya lima enam orang yang pernah mengajukan permohonan pindah pada Hu Guolin, kini lebih dari sepuluh orang sudah tidak mau lagi bekerja di bawah Song Chengquan. Bahkan beberapa karyawan desa asal yang masuk bersamaan dengannya pun ada yang tidak mau diatur olehnya. Ketika ditanya alasannya, mereka enggan berkata terus terang. Para pekerja Bengkel Satu merasa, bagaimanapun juga Song Chengquan adalah teman lama Zhou Jianping. Direktur pabrik sudah pernah memanggilnya, tapi hasilnya pun tidak ada apa-apa. Itu artinya Zhou Jianping masih mempertimbangkan hubungan pertemanan mereka.
Bukan hanya sebagian karyawan Bengkel Satu yang berpikiran demikian, bahkan Wakil Direktur Produksi, Hu Guolin, juga berpikiran sama. Kalau tidak, masakan direktur pabrik hanya sekadar memanggil Song Chengquan, bicara sebentar, lalu membiarkannya kembali ke posisi semula?
Permintaan pindah dari bengkel ini, bila terjadi di bengkel lain, Hu Guolin biasanya bisa langsung mengambil keputusan setelah tahu duduk perkaranya. Namun, untuk Bengkel Satu, kondisinya berbeda sebab kepala bengkel adalah teman lama direktur pabrik. Hu Guolin enggan mengambil keputusan sendiri dan memilih melapor pada Zhou Jianping.
“Guolin, apakah di bengkel lain ada kasus seperti ini?” tanya Zhou Jianping.
“Tidak ada, tak pernah ada yang mengajukan pindah bengkel. Toh, semuanya satu pabrik, sama-sama memproduksi makanan, apa bedanya antara satu bengkel dengan yang lain?” jawab Hu Guolin.
“Nah, menurutmu, apa penyebabnya?”
“Saya kira tetap masalah orang.”
“Maksudmu, ini tetap karena kepala bengkel, Song Chengquan? Bukankah sekarang sudah tidak ada lagi yang melaporkan dia melakukan hal-hal di belakang karyawan?”
“Sejauh yang saya tahu, memang di permukaan tidak ada, tapi di balik layar, nafsu pribadinya sama sekali tidak berkurang. Karyawan sangat merasakan adanya keberpihakan dalam penugasan kerja. Beberapa orang yang sudah tak tahan, akhirnya memilih pindah dari Bengkel Satu. Mereka bilang terus terang, bukan tidak mau kerja lebih banyak, tapi tidak tahan dengan cara manajemennya. Pindah dari Bengkel Satu, lebih baik tidak melihat, hati pun tenang,” jelas Hu Guolin.
“Baiklah, saya akan bicara lagi dengannya. Kalau tidak berubah, kepala bengkel itu harus dicopot.”
Zhou Jianping lalu meminta seseorang memanggil Song Chengquan ke kantornya sekali lagi.
“Kau memanggilku?” tanya Song Chengquan begitu masuk ke ruangan.
“Duduklah, aku mau tanya sesuatu. Kau tahu tidak, banyak karyawan mengajukan pindah dari Bengkel Satu?” tanya Zhou Jianping.
“Itu... memang ada beberapa orang yang ingin pindah ke bengkel lain,” jawab Song Chengquan.
“Beberapa orang? Bukan cuma beberapa, kabarnya lebih dari sepuluh orang tidak mau lagi bekerja di bawahmu. Chengquan, pernahkah kau pikirkan apa penyebabnya?”
“Penyebab? Aku sungguh tidak tahu, mungkin karena tidak cocok saja bekerja denganku?” Song Chengquan jelas menghindar, pura-pura tidak tahu.
“Kemarin sudah kubicarakan, tapi sampai sekarang kau masih tidak menyadari masalahmu. Bagaimana kalau begini saja, kau lepaskan saja jabatan kepala bengkel dan kembali ke posisi awal sebagai operator.”
“Maksudmu, aku dicopot dari jabatan kepala bengkel?” Song Chengquan menatap Zhou Jianping dengan kaget.
“Benar, karena orang-orang tidak mau lagi bekerja di bawahmu, jadi silakan kau mundur,” jawab Zhou Jianping dengan tenang.
Song Chengquan terdiam, suasana menjadi hening dan berat. Setelah sepuluh menit berlalu, ia bangkit dan berkata, “Jianping, tak usah kau atur aku lagi, aku akan pulang ke desa saja.”
“Kau ingin mengundurkan diri?” Zhou Jianping juga terkejut.
“Ya, aku mengundurkan diri dan pulang,” jawabnya tegas.
Sebenarnya Zhou Jianping dan Song Chengquan memang teman sekelas semasa SMP. Mereka berasal dari desa yang sama. Selepas SMP, Zhou Jianping melanjutkan ke SMA, sedangkan Song Chengquan kembali ke desa. Sejak itu, hubungan mereka renggang, bahkan kalau pun berpapasan, paling hanya saling mengangguk, jarang berbicara lebih dari tiga kata.
Sebelum Zhou Jianping menikah dengan Chang Yuling, rumah tua keluarganya perlu direnovasi. Karena Song Chengquan punya keahlian tukang batu, kala itu sepupunya, Zhou Jianliang, memintanya membantu. Sejak saat itu, baru ada sedikit interaksi antara Zhou Jianping dan Song Chengquan. Dari para pekerja angkatan pertama yang direkrut dari desa, sebenarnya Zhou Jianping paling tidak khawatir pada adiknya sendiri, Zhou Jianwen, karena ia sangat jujur dan hanya fokus bekerja. Yang paling ia khawatirkan justru Song Chengquan, karena ia cerdik dan takutnya ia memanfaatkan hubungan pertemanan untuk berbuat semaunya di pabrik.
Pengangkatan Song Chengquan sebagai kepala bengkel sepenuhnya keputusan Hu Guolin yang menilai ia punya kemampuan, sama sekali tidak ada sangkut paut dengan Zhou Jianping, meski ia juga mengesahkan keputusan itu.
Sebagai karyawan biasa, Song Chengquan cukup menonjol, tidak banyak masalah, dan kinerjanya pun baik. Namun setelah menjadi kepala bengkel, ia berubah. Ia merasa berbeda, membawahi lebih dari lima puluh orang, merasa seperti seorang pemimpin, dan ia melihat itu sebagai sumber daya.
Memang di dunia nyata ada orang seperti itu, ketika masih biasa-biasa saja, ia berpura-pura jujur dan sederhana. Begitu mendapat kesempatan, watak aslinya keluar. Song Chengquan termasuk tipe seperti itu.
Melihat Song Chengquan sudah memutuskan, Zhou Jianping pun tidak menahannya. “Kalau itu keputusanmu, buatlah surat pengunduran diri, biar aku tanda tangan, lalu kau ke bagian keuangan untuk mengambil gajimu.”
Dicopot dari jabatan kepala bengkel, Song Chengquan merasa sangat malu, pulang ke kampung adalah hal yang wajar. Keesokan paginya, Song Chengquan membawa surat pengunduran diri ke Zhou Jianping untuk ditandatangani, dan setelah mengambil gaji di bagian keuangan, ia pun pulang ke desanya.
......
Waktu berlalu, tibalah Musyawarah Pemesanan Nasional tahun berikutnya. Pabrik Makanan Sehat tidak hanya ikut serta, tetapi juga mengeluarkan dana untuk menyewa stan dan menata sebuah area pameran yang cukup luas. Melalui ajang ini, Zhou Jianping berhasil memperkenalkan produk Pabrik Makanan Sehat ke pasar nasional.
Setelah itu, keempat bengkel di Pabrik Makanan Sehat beroperasi penuh, produksi dan penjualan berkembang pesat. Dengan peningkatan penjualan, kontak dengan pembeli dari luar kota pun makin intens, hampir setiap tiga hari sekali ada tamu datang untuk bernegosiasi atau menandatangani kontrak. Zhou Jianping pun semakin kewalahan, kadang harus menerima dua atau tiga rombongan tamu dalam sehari, sampai-sampai kantor penuh sesak.
Zhou Jianping menyadari, dengan perkembangan perusahaan seperti ini, baik jumlah manajemen maupun ruang kerja sudah jelas tidak mencukupi. Meski sepadat apapun jadwalnya, ia tetap meluangkan waktu untuk memikirkan solusi masalah ini.
Sekitar jam tiga sore, Zhou Jianping menelepon sahabatnya, Ma Xingwei. “Xingwei, setelah jam kerja, ada rencana apa?”
“Direktur Zhou, sudah lama kita tidak kontak, kau sibuk sekali, kenapa hari ini sempat menelepon?” jawab Ma Xingwei.
“Xingwei, aku punya usulan. Antara kita berdua, kapan pun, jangan panggil jabatan, cukup nama saja, bagaimana menurutmu?” kata Zhou Jianping serius.
“Baik, saling panggil nama. Ada urusan apa meneleponku?”
“Kakak Kiming sekarang sudah jadi Wakil Ketua Koperasi Kredit. Sudah lebih dari sebulan menjabat, kita belum sempat memberi ucapan selamat langsung. Bukankah kita terlalu lamban?”
Xu Jiming, karena pengalaman dan kemampuannya, terutama keberhasilannya dalam menagih pinjaman lama, lebih dari sebulan lalu dipindah dari kantor kota dan diangkat sebagai Wakil Ketua Koperasi Kredit, membawahi kredit dan urusan harian, setara dengan wakil ketua eksekutif. Begitu mendengar kabar itu, Zhou Jianping langsung menelpon untuk mengucapkan selamat dan ingin mengadakan jamuan, tapi Xu Jiming dengan halus menolak karena sama-sama sibuk. Xu Jiming sibuk dengan serah terima pekerjaan, Zhou Jianping apalagi, urusan di pabrik sangat banyak. Akhirnya, mereka sepakat menunda pertemuan.
“Tidak ada yang lambat, kau sendiri tahu, belakangan ini kau tidak punya waktu, dia juga sibuk,” kata Ma Xingwei.
“Sekarang seharusnya dia sudah tidak terlalu sibuk, kan?”
“Siapa tahu? Aku sendiri lebih dari sepuluh hari tak menghubunginya. Terakhir kali menelepon, dia bilang belum selesai serah terima.”
“Coba kau hubungi dia lagi, tanya apakah dia ada waktu.”
Ma Xingwei pun menelepon kantor Xu Jiming.
“Xingwei, ada apa?”
“Jianping bertanya, kau sudah tidak terlalu sibuk? Kami ingin memberi ucapan selamat langsung, beri kami kesempatan!” Kata Ma Xingwei yang memang ipar dengan Xu Jiming, jadi mereka bicara santai.
“Wah, kalian ini sopan sekali. Kalau aku masih bilang tidak punya waktu, takutnya kau tutup telepon. Baiklah, kita bertiga bertemu, malam ini atau besok juga boleh. Beberapa hari lagi aku mungkin harus dinas ke luar kota,” ujar Xu Jiming dengan nada bercanda.
“Jadi sepakat, nanti akan kukabari lagi.” Setelah menutup telepon dengan Xu Jiming, Ma Xingwei menyampaikan pada Zhou Jianping untuk menentukan waktu.
Zhou Jianping langsung memutuskan, “Malam ini saja, kita ke ‘Jamuan Istana’. Aku segera reservasi.”
“Jianping, kenapa harus begitu mewah? ‘Jamuan Istana’ itu hotel paling mewah di Kota Huaxing, memberi ucapan selamat pada Jiming tidak harus sampai ke tempat semewah itu.”
“Kau cukup sampaikan pada Jiming, yang lain tak perlu dipikirkan.”
Menjelang pukul enam sore, mereka bertiga pun berkumpul di ruang privat nomor 306 Hotel Jamuan Istana. Begitu bertemu, Xu Jiming langsung berkata, “Jianping, ini terlalu berlebihan. Di antara kita, tidak perlu begini.”
“Ah, setahun paling banyak hanya dua tiga kali ke sini, tak bisa dibilang berlebihan. Lagi pula, demi merayakan kenaikan jabatanmu, tempatnya harus layak, kan?” Zhou Jianping menyerahkan daftar menu pada Xu Jiming.
Setelah urusan minuman selesai, Zhou Jianping bertanya, “Kakak ipar, sekarang sudah tidak terlalu sibuk, kan?”
“Sebenarnya, serah terima pekerjaan paling lama dua minggu, tapi di posisi baru butuh waktu penyesuaian. Setengah bulan terakhir ini kuhabiskan untuk mengenal tugas baru. Lalu, bagaimana dengan pabrikmu?”
“Kalau menjalankan perusahaan, mana ada waktu santai. Asal bukan sekadar menjaga aset, pekerjaan tak akan pernah habis,” ujar Zhou Jianping.
“Itu benar, kalau ingin perusahaan berkembang, tak mungkin bisa santai,” tambah Ma Xingwei.
“Bagaimana dengan pembayaran hasil penjualan? Katanya sekarang utang segitiga antar perusahaan makin banyak, saling menunda pembayaran, sampai banyak perusahaan kolaps,” tanya Xu Jiming yang memang bekerja di bidang keuangan, jadi sangat peduli pada arus kas perusahaan.
“Prinsipku tidak pernah berubah, lebih baik untung sedikit, asal piutang tidak lebih dari sepuluh persen dari total nilai barang. Kalau lebih dari itu, lebih baik tidak jadi transaksi,” jawab Zhou Jianping.
“Itu sudah benar. Mau untung besar atau kecil, yang penting uang di tangan. Aku dengar ada tipe pelanggan, waktu kontrak harga terserah kita, tapi setelah barang sampai, pembayaran sulit sekali, bahkan kadang tidak dibayar sama sekali. Akhirnya orangnya pun lenyap begitu saja,” cerita Xu Jiming berdasarkan kabar yang didengarnya.
“Itu berarti modal dan keuntungan lenyap semua?” Ma Xingwei sangat terkejut mendengar kenyataan itu.
“Xingwei, bukankah kau berencana ganti profesi jadi pengacara? Nantinya kasus sengketa hukum seperti ini pasti banyak. Aku selalu berpegang pada prinsip pelanggan adalah raja, tapi tidak semua pelanggan layak diperlakukan seperti raja.”