Bab 40: Satu Tindakan, Banyak Keuntungan
Apa yang dikatakan Xu Jiming memang benar, dia memang jauh lebih cemas daripada yang lain. Dalam arti tertentu, masalah ini, jika dikatakan demi membantu Zhou Jianping, sebenarnya justru lebih banyak untuk membantu dirinya sendiri. Kantor Wilayah Kota merupakan salah satu titik jaringan dasar terpenting di koperasi kredit, dan menjadi kepala di sana biasanya berarti langkah berikutnya adalah promosi jabatan. Dalam benak para pegawai koperasi kredit, posisi Kepala Kantor Wilayah Kota adalah pijakan menuju jajaran pimpinan koperasi. Dengan pengalaman dan kemampuannya, Xu Jiming mengira bahwa setelah satu periode di Kantor Wilayah Kota, ia bisa masuk ke kepemimpinan koperasi. Siapa sangka, kini ia sudah menjabat dua periode di sana, dan tampaknya, jika masalah kredit pabrik makanan Jiensheng ini tidak tuntas, ia akan sulit beranjak dari sini.
Saran yang diajukan Ma Xingwei sungguh menguntungkan dari banyak sisi. Dari sudut kepentingan publik, hal itu menciptakan peluang bagi koperasi untuk menarik kembali kredit macet selama bertahun-tahun, sekaligus membantu kantor kelurahan menyelesaikan masalah utang yang seharusnya tidak mereka tanggung. Secara pribadi, selama ada yang berjanji melunasi pinjaman, berarti Xu Jiming terbebas dari tanggung jawab kredit macet itu, dan ia pun bisa dengan resmi meninggalkan Kantor Wilayah Kota untuk mencari posisi yang lebih baik. Selain itu, jika pabrik makanan Jiensheng yang diserahkan Zhou Jianping menjadi milik koperasi kredit, maka urusan pinjaman atau hal lainnya akan jauh lebih mudah ditangani langsung dengan bank.
Agar rencana ini berjalan, harus mendapat persetujuan dari kantor kelurahan dan koperasi. Xu Jiming merasa sebaiknya ia berbicara dahulu dengan Kepala Liang dari kelurahan, lalu baru menyampaikan gagasan itu ke pimpinan koperasi.
Tanpa menunggu dorongan dari siapapun, keesokan harinya setelah masuk kerja, Xu Jiming berpamitan sebentar pada Kepala Tata Usaha, lalu pergi ke kantor kelurahan untuk menemui Kepala Liang.
Begitu bertemu di ruang kepala kelurahan, Kepala Liang langsung memuji Xu Jiming, “Jiming, kau benar-benar melakukan hal besar untuk kami, kami semua harus berterima kasih padamu!”
Mendapat pujian yang tak jelas asal-usulnya, Xu Jiming jadi heran, “Apa maksudmu? Maksudmu yang mana?”
“Bukankah dulu kau yang menyarankan kami untuk menyerahkan pabrik makanan Jiensheng ke pihak ketiga?”
“Benar, memang aku yang bilang. Lalu kenapa?”
“Setelah diserahkan, kini pabrik itu hidup kembali di tangan mereka. Tak peduli siapa yang mengelola, asalkan pabriknya bisa berjalan, kita wajib merasa puas. Saran untuk menyerahkan itu kan datang darimu, bukankah kami harus berterima kasih?” kata Kepala Liang.
“Ah, itu cuma hal kecil, tak perlu dibesar-besarkan. Ngomong-ngomong, Kepala, bagaimana kau tahu pabrik makanan Jiensheng sekarang berjalan baik? Kau sudah ke pabrik, atau temanku yang melapor padamu?” Xu Jiming bertanya penasaran.
“Kau kan tahu, itu kan usaha yang dikelola pihak ketiga, untuk apa aku ke pabrik? Setelah diserahkan, untung rugi jadi tanggung jawab mereka sendiri, sudah tak ada hubungan dengan kelurahan, mereka pun tak harus melapor pada kami.”
“Lalu, bagaimana kau bisa tahu sedetail itu tentang kondisi pabrik?”
“Kau belum tahu, ya? Ada keponakan jauhku yang kerja di sana. Awalnya dia di bagian produksi, sekarang dipindahkan ke bagian penjualan oleh temanmu itu, katanya mau dijadikan tenaga pemasaran.”
“Pantas saja kau tahu lebih banyak dari aku. Kepala, hari ini aku ke sini juga mau membicarakan hal lain denganmu.”
“Kuduga begitu. Tempat kami pas-pasan begini, kau tak mungkin datang kalau tak ada urusan. Ada apa lagi? Silakan bicara.” ujar Kepala Liang.
“Kalian di kantor kelurahan kan masih punya utang lama dari pinjaman koperasi kami, kau ingin lepas dari beban itu tidak?” Xu Jiming mulai menarik perhatian Kepala Liang.
“Tentu saja ingin lepas dari utang lama itu. Kau ada ide bagus lagi?”
“Akhir-akhir ini aku terus memikirkan bagaimana menuntaskan masalah ini. Setelah kupikir-pikir, menurutku sebaiknya lewat jalur hukum saja.”
“Maksudmu koperasi mau menuntut kami? Mau menuntut pun tak ada gunanya! Aku sudah bilang sejak awal, kami ini institusi pemerintah tingkat dasar, tak ada kewajiban membayar utang orang lain, dan kami memang tak punya uang itu.” Begitu mendengar soal jalur hukum, Kepala Liang mulai tak senang dan langsung menolak.
“Kepala, jangan buru-buru, aku belum selesai bicara. Ini urusan antar dua institusi, tak ada kaitan dengan hubungan pribadi kita. Begini, koperasi menggugat kelurahan, kalian sebagai debitur pasti kalah di pengadilan. Seperti katamu, kalian hanya institusi pemerintah tingkat bawah, tak ada dana untuk bayar utang, juga tak ada kewajiban. Tapi kalian punya hak mengelola aset. Bukankah pabrik makanan Jiensheng juga aset di bawah nama kelurahan?”
Kepala Liang terdiam lama, tampak sedang mempertimbangkan untung ruginya. “Maksudmu, kalau kami kalah di pengadilan, pabrik makanan Jiensheng harus kami serahkan ke bank?”
“Pinjaman itu awalnya memang untuk pabrik makanan Jiensheng, tak ada kaitannya dengan kelurahan. Hanya saja karena kelurahan pemilik pabrik, akhirnya jadi debitur. Jika kalah, bank pasti ajukan eksekusi aset kalian ke pengadilan.”
“Lewat jalur hukum, hasil akhirnya pasti begitu?” Entah karena memang ada rasa emosional pada pabrik itu, atau ada alasan lain, dari raut wajahnya, Kepala Liang tampak berat hati melepaskan perusahaan di bawah kelurahan itu.
“Menurutku begitu. Uang koperasi lebih dari satu juta itu tak bisa dibiarkan hilang begitu saja. Kalau tidak bisa ditarik, setidaknya harus ada yang setara sebagai gantinya, itu wajar, kan?” ujar Xu Jiming.
Namun Kepala Liang tidak menjawab, hanya memandang ke luar jendela dengan ekspresi kehilangan. “Dulu pabrik itu begitu berantakan, setelah temanmu ambil alih, lihat saja sekarang jadi hidup. Berarti pabrik makanan Jiensheng sebenarnya punya masa depan.” Rupanya, Kepala Liang masih menyimpan harapan, dan itu membuatnya berpikir panjang.
“Kepala, itu kan usaha pihak ketiga, kalian sudah teken kontrak resmi, baik buruknya usaha itu sudah tak ada urusan dengan kelurahan. Kau masih saja memikirkan uang sewa pertahun untuk mantan pegawai, kami di koperasi juga harus memikirkan kepentingan lembaga. Saat ini, kelurahan sebagai debitur punya utang lebih dari satu juta ke koperasi dan tak bisa bayar, tapi masih punya aset tetap yang menghasilkan. Menurutmu, siapa yang bisa menerima kondisi seperti ini?” ucap Xu Jiming.
Kalau saja bukan karena usaha kontrak Zhou Jianping yang membuat pabrik makanan Jiensheng hidup kembali, dengan kondisi setengah mati seperti sebelumnya, bukan hanya kelurahan yang cuek, bahkan jika kelurahan mau menyerahkan pabrik ke bank, koperasi pun tak akan tertarik. Malam sebelumnya saat makan malam, niat Ma Xingwei sebenarnya hanya ingin mencari cara agar Zhou Jianping bisa mendapat tambahan modal, tapi Xu Jiming justru melihatnya sebagai peluang emas untuk menyelesaikan kredit macet. Begitu ia sampaikan ke Kepala Liang, Kepala Liang pun langsung waspada.
“Jiming, jadi maksudmu, koperasi sudah menargetkan pabrik makanan Jiensheng?” tanya Kepala Liang.
“Bukan menargetkan, tapi memang keadaannya sudah jelas. Sebenarnya, Kepala, kelurahan kalian ini kan lembaga pemerintah yang didanai APBD, kalau terus terjerat utang malah bikin repot, dan membebani kerjamu. Kalau lewat jalur hukum, urusan ini bisa selesai, kamu pun bebas dari beban utang. Bukankah itu baik?” Xu Jiming menjelaskan.
“Logikanya memang benar. Aku sendiri tak punya maksud apa-apa, cuma merasa pabrik itu dibangun di bawah kepemimpinan kami, sekarang harus diserahkan ke pihak lain, rasanya berat di hati.”
“Pabrik itu bukan aset pribadimu, dan sekarang sudah dikelola pihak ketiga, sudah tak banyak urusannya dengan kelurahan. Apa yang kau sesali? Maaf kalau aku lancang, sebagai kepala lembaga pemerintah, apa kau tak merasa bersalah kalau kelurahanmu berutang lebih dari satu juta pada orang lain?” Kata-kata Xu Jiming ini pun tak membuat Kepala Liang tersinggung.
“Tapi... Aku masih butuh uang kontrak tahunan itu untuk biaya hidup mantan pegawai yang di-PHK.” ungkap Kepala Liang alasan sebenarnya.
“Kau memang kepala yang bertanggung jawab, tapi coba pikir, kalau tak ada yang kontrak, pabrik makanan Jiensheng mungkin sudah bangkrut, tak ada pemasukan, dengan apa kau mau bayar mereka? Sekarang bank menagih pinjaman, pabrik itu sudah jadi aset bank. Pegawai yang dulunya di-PHK, sekarang nasibnya benar-benar jadi pengangguran, bukan sekadar PHK. Kalau sudah begitu, tak ada lagi kewajiban kelurahan membayar mereka. Kecuali, kalau pemerintah punya dana lebih, baru bisa memberi tunjangan pengangguran.” Ucapan Xu Jiming yang terakhir terasa agak menyindir.
“Jangan bercanda, gaji kami saja kadang belum tentu keluar tepat waktu, dari mana ada dana untuk tunjangan mereka?” jawab Kepala Liang.
“Ya, memang begitu. Bukan berarti kita membiarkan mereka, tapi pemerintah dan mereka sendiri harus berupaya menciptakan peluang kerja baru, bukan memaksa tetap membayar hidup mereka tanpa ada fasilitas sosial seperti itu.”
Berkat bujukan panjang dari Xu Jiming, akhirnya Kepala Liang pun mengakui ini adalah solusi yang cukup baik. “Kalau begitu, menurutmu nilai aset pabrik makanan Jiensheng setara dengan utang ke bank?”
Xu Jiming memang belum pernah memikirkan soal itu. “Waduh, pertanyaan itu mendadak sekali, aku belum bisa jawab sekarang.”
“Nah, itu saja belum kau pikirkan, bagaimana mau bicara soal jalur hukum? Kau pertimbangkan lagi saja sebelum bicara ke aku.” Kepala Liang gantian menyindir.
“Itu dua hal berbeda. Proses hukum tetap harus berjalan, soal nilai aset pabrik makanan Jiensheng, baik kau maupun aku tak bisa menentukan. Sebaiknya kita minta lembaga independen menilai secara adil, dan kedua belah pihak patuh pada hasil penilaian itu,” kata Xu Jiming.
“Siapa yang mau menilai gratis? Penilaian itu butuh biaya.” Sebagai pejabat pemerintah, Kepala Liang tentu paham soal itu.
“Tentu saja ada biayanya. Nanti aku usulkan ke pimpinan koperasi, biaya itu biar ditanggung bank. Tapi jangan sampai kau ragukan keadilan penilaian itu!” Meskipun tampak sepele, kalau tidak diantisipasi Xu Jiming dari awal, nanti bisa jadi bahan pergunjingan.
Dari pihak Kepala Liang di kelurahan, bisa dibilang secara prinsip sudah setuju dengan usulan Xu Jiming. Selanjutnya, Xu harus berbicara dengan pimpinan koperasi. Setelah ia sampaikan idenya pada pimpinan utama koperasi, jawabannya, ini bukan masalah sepele, harus didiskusikan oleh seluruh jajaran pimpinan.
Sekitar tiga hari kemudian, kantor koperasi memberitahu Xu Jiming untuk datang rapat ke kantor pusat. Ia pun sudah tahu apa yang akan dibahas.
Pukul sembilan pagi, Xu Jiming masuk ke ruang rapat lantai dua kantor koperasi. Ia melihat beberapa anggota pimpinan sudah menanti di meja rapat.
“Jiming, silakan duduk.” Kepala koperasi mempersilakan, “Rekan-rekan, rapat hari ini hanya membahas satu topik, yaitu usulan dari Jiming yang menyangkut penarikan kembali kredit macet besar milik koperasi kita. Jiming, silakan paparkan pendapatmu.”