Bab Empat Puluh Sembilan: Kerbau Besar dan Bangau Putih (Bagian Satu)
Jalan ketulusan sejati, memungkinkan seseorang mengetahui sebelumnya!
Tang Zichen adalah kakak, guru, sekaligus istri yang sangat dicintai oleh Wang Chao. Di hati Wang Chao, posisinya paling tinggi dan tak tergoyahkan oleh siapa pun. Tingkat keahliannya dalam ilmu bela diri telah mencapai tahapan “tak terlihat dan tak terdengar, merasakan bahaya lalu menghindar”—jalan ketulusan sejati. Jika dia tidak menampakkan diri, Jiang Liu sama sekali tidak akan bisa menemukannya.
Jiang Liu pun tidak pernah bertarung dengannya. Mereka hanya berbincang semalam suntuk di tepi pantai, dan menjelang fajar, Jiang Liu sudah melangkah menyeberangi lautan.
Yujingzi, Ba Liming, Yan Yuanyi, Bai Xianyong... Jiang Liu telah mengatur segalanya jauh-jauh hari. Kepergiannya kali ini pun tanpa beban, begitu ringan dan bebas.
“Jika takdir mempertemukan, kita jumpa lagi di antara bintang-bintang!”
Sebelum matahari terbit, lautan dan langit masih diselimuti kegelapan. Di atas permukaan laut muncul sebuah gerbang perunggu raksasa yang bahkan lebih gelap dari sekitarnya. Begitu bersentuhan, seluruh tubuhnya langsung ditelan oleh kegelapan. Sebuah kehendak agung yang lembut namun tegas menyelimuti Jiang Liu, memutuskan satu per satu jalinan tipis yang menghubungkannya dengan dunia lain.
Pada saat yang sama, di tempat yang sangat jauh, ada keberadaan besar yang terasa sangat akrab mulai beresonansi dengan Jiang Liu.
Dalam sekejap mata, Jiang Liu lenyap dari antara laut dan langit.
Kemudian, Jiang Liu merasakan tarikan yang sangat kuat, seolah dirinya tersedot ke dalam pusaran. Karena pernah mengalami hal serupa, Jiang Liu kali ini langsung menyerah untuk melawan dan akhirnya benar-benar jatuh pingsan!
Saat ia membuka mata, di sampingnya berdiri sesosok makhluk bertubuh besar seperti menara baja—itulah Mayat Berzirah Tembaga. Melihat sekeliling, bukankah ini di dalam sumber energi spiritual Gunung Naga Terpendam?
[Jiang Liu (Petapa Qi)]
[Tingkat Kultivasi: Pengolahan Esensi Menjadi Qi Tingkat Dua]
[Ilmu Dao: Hukum Petir Sembilan Langit (Tingkat Menengah):
Petir di Telapak Tangan: Menggunakan Simbol Dewa Petir untuk meningkatkan kekuatan teknik petir;
Seribu Burung: Mengubah energi menjadi listrik, terkumpul di tangan membentuk arus listrik berkekuatan tinggi, lalu menerjang dan menusuk musuh, memiliki daya tembus dan efek lumpuh yang kuat;
Mantra Pemurnian Tubuh (Tingkat Dasar): Mandi dengan cahaya matahari, membentuk tubuh dengan cahaya bulan, raga mencapai tahap manusia unggul;
Teknik Pengawetan Mayat Maoshan (Tingkat Dasar): Mayat Berzirah Tembaga, kulit sekeras baja, kekuatan setara seribu kati;
Simbol Maoshan (Menguasai Sepenuhnya): Jenderal Penakluk Mayat, Simbol Penakluk Segala Kejahatan, Simbol Qilin, Simbol Dewa Petir]
[Ilmu Bela Diri: Pengolahan Tubuh (Tahap Manusia Unggul): “Ular dan Kura-kura membelit, jiwa dan raga kokoh, bahkan bisa menumbuhkan teratai emas dalam api”; memiliki kekuatan sejati Wu]
[Ilmu Tinju: Bela Diri Negeri (Tingkat Guru Besar): ‘Kejutan Petir dan Wibawa Langit’;
Mantra Enam Kata Penghancur (Tingkat Tinggi): Mantra Guncang, Mantra Ubah, Mantra Ledak, Mantra Tusuk, Mantra Putus, Mantra Hampa]
[Ilmu Pedang: Pedang Kura-kura dan Ular dari Wudang (Tingkat Tinggi)]
[Ilmu Gerak: Langkah Dewa Bintang (Tingkat Tinggi), Langkah Qilin (Tingkat Tinggi), Kijang di Dahan (Tingkat Tinggi), Gajah Menyebrang Sungai (Tingkat Tinggi)]
[Latihan Luar: Baju Baja Naga Menderu (Tingkat Tinggi), Perisai Emas Harimau Mengaum (Tingkat Tinggi)]
[Perlengkapan: Pedang Kayu Persik Penangkal Petir, Paku Penyedot Jiwa, tiga Pil Xuan Yuan, satu Pil Kebangkitan, satu Pil Penguat Jiwa, beberapa batu giok, dan bahan pembuat pil]
Melihat sumber energi spiritual yang kini kosong melompong, Jiang Liu menghela napas panjang. Tanpa energi dalam jumlah besar, mustahil baginya untuk menyeberang dunia lagi.
Satu sumber energi spiritual kecil ternyata hanya cukup untuk dua kali perjalanan lintas dunia, dan itu pun ke dunia dengan tingkat bela diri dan sihir yang rendah. Jika ke dunia seperti “Shushan”, “Menutupi Langit”, atau “Galaksi Bintang”—dunia tinggi bela diri dan sihir—berapa banyak batu spiritual yang dibutuhkan?
Setelah menutup sumber energi, Jiang Liu menuju ke aula utama. Tiga batang dupa masih menyala. Ia menghela napas lega dan bergumam, “Tampaknya, berapa pun lama waktu berlalu selama perjalanan menyeberang dunia, di dunia Xiyou waktu tetap diam.”
Mungkin kematian Jalan Sesat Qingming telah membuat para penjahat di sekitarnya ketakutan, sehingga malam pun berlalu dengan tenang tanpa gangguan.
Sebelum fajar, Jiang Liu sudah duduk bersila di atas sebuah batu besar di lereng belakang, menghadap matahari yang baru terbit sambil berlatih pernapasan. Tanpa terasa, matahari pun kian tinggi.
Setelah selesai berlatih, Jiang Liu menoleh ke atas, mendapati seekor burung besar berwarna putih bertengger di pucuk pohon. Seluruh tubuhnya putih bersih, hanya paruhnya yang kuning pekat seperti madu kental, sangat mengilap. Matanya cerdas, menatap Jiang Liu tanpa berkedip.
Begitu Jiang Liu mendongak, burung besar itu menampakkan rasa takut di matanya, lalu segera mengepakkan sayap hendak terbang, begitu cepat bagaikan anak panah lepas dari busur.
“Hmph!”
Jiang Liu mendengus dingin, mengulurkan telapak tangan ke arah burung itu. Di telapak tangannya muncul simbol Dewa Petir, meski digambar tergesa-gesa dan kurang rapi, namun kekuatannya tak berkurang.
Sekejap kemudian, di udara terdengar gelegar petir.
“Guruh menggelegar!”
Petir menyambar dari langit, tepat mengenai kedua sayap burung putih itu.
Jiang Liu telah berlatih dalam lingkungan listrik tegangan tinggi selama belasan hari, sehingga penguasaannya terhadap teknik petir meningkat pesat. Petir di telapak tangannya kini sudah sangat halus pengendaliannya.
Burung besar itu mengeluarkan jeritan nyaring seperti seorang gadis, kedua sayapnya yang putih kini gosong tersambar petir. Untung saja itu hanya petir telapak tangan yang dikeluarkan secara tergesa-gesa. Jika ia mengerahkan delapan belas simbol Dewa Petir membentuk formasi pengumpul petir, burung itu pasti sudah jadi ayam panggang.
Burung putih itu langsung jatuh ke tanah, air mata memenuhi matanya, dan dari paruhnya yang seperti giok terdengar rintihan kesakitan.
Jiang Liu memandang makhluk kecil itu dari atas, mendengus dingin, “Kau, seekor siluman kecil yang bahkan belum bisa berubah wujud, berani-beraninya mengintai aku! Benar-benar tidak tahu diri!”
Siluman yang ingin berubah bentuk harus terlebih dahulu mengolah tulang leher, baru bisa bicara seperti manusia. Jika tidak, hanya bisa bersuara seperti burung atau binatang, yang menghambat latihan, dan baru setelah berwujud manusia, barulah benar-benar menjadi siluman. Sebab manusia adalah makhluk paling mulia di antara ciptaan langit dan bumi, tubuh manusia paling cocok untuk memahami hukum alam semesta.
Burung putih ini sudah berhasil mengolah tulang leher, tapi belum bisa berubah wujud, kemampuannya pun baru setingkat satu atau dua dalam pengolahan esensi menjadi qi.
Burung itu mengepakkan sayap yang gosong, bulu putihnya kini hangus. Ia menampakkan wajah ketakutan, tergagap, “Jangan bunuh aku! Jangan bunuh aku!”
Jiang Liu meraih leher burung itu, siap menghabisi siluman kecil ini. Tiba-tiba, ia melihat debu mengepul di jalan setapak gunung. Seorang lelaki kekar berlari kencang, langkah kakinya menggetarkan tanah seperti genderang perang.
“Eh! Rupanya kau punya kawan?”
“Uhuhu! A Chou, tolong aku!”
Jiang Liu menatap burung putih di tangannya, mirip dengan burung bangau punggung sapi. Ia kemudian menoleh ke arah lelaki kekar yang berlari mendekat, di kepalanya tumbuh sepasang tanduk sapi, wajah lebar berhidung besar, membawa kapak besar berbunga. Tak salah lagi, itu siluman kerbau raksasa.
Dari kejauhan, siluman kerbau itu melihat leher bangau putih dicekik Jiang Liu. Dalam beberapa tarikan napas saja, ia sudah melesat ratusan meter dan berhenti di depan Jiang Liu, matanya membelalak sebesar lonceng, lubang hidung sebesar koin perak menghembuskan dua sembur uap tebal.
Di dada siluman kerbau itu, bulu hitam kebiruan masih tersisa—tanda perubahan wujud yang belum sempurna. Meski tidak sedap dipandang, bulu itu justru memberi perlindungan sangat kuat. Bulu lebat di dadanya sangat halus dan mulus, tanpa cacat sedikit pun, memantulkan cahaya hitam yang berkilau di bawah sinar matahari.
“Lepaskan Bangau Kecil!”
Suara siluman kerbau berat dan bergema, kapak besar di tangannya berkilauan tajam. Jika Jiang Liu berani berkata “tidak”, sepertinya ia akan langsung diayunkan.
“Sepertinya kalian yang ingin merebut Kuil Naga Terpendam-ku, tapi kenapa sekarang seolah-olah aku yang bersalah?” Jiang Liu tertawa tipis. Siluman kerbau di hadapannya telah berubah wujud menjadi manusia sepenuhnya, kekuatannya tak kalah dari Jalan Sesat Qingming.
“Harta dan tempat berharga—siapa yang pantas, dialah yang berhak. Siapa yang kuat, dialah yang menguasai! Tempat ini adalah berkah dari langit dan bumi. Jika kau tak sanggup menjaganya, meski aku tidak mengambilnya, yang lain pasti akan merebutnya. Tapi, jika kau mau lepaskan Bangau Kecil, kami hanya akan mengambil batu spiritual. Laki-laki sejati, kata-katanya bisa dipercaya! Jika tak bisa membujukmu, kami tak akan menyakitimu sedikut pun.”
Ucapan siluman kerbau itu teratur dan lugas, jelas ia bukan siluman kasar yang bodoh.