Bab Empat Puluh Satu: Pesta Sang Kaisar (Bagian Lima)
Pertarungan antara Aer dan Iblis Darah telah bergeser menjauh. Sesosok lelaki tua berjanggut putih lebih dulu mendekati Arlong.
“Ah, sayang sekali... betapa luar biasanya seekor Dinosaurus Baja ini,” lelaki tua itu mengelus janggut putihnya, lalu berjongkok di depan kepala Arlong yang besar.
Saat itu, Phoenix Pelangi berdiri di atas kepala Arlong, diam-diam menunduk, air mata membasahi bulunya.
Merasa kehadiran lelaki tua berjanggut putih, Phoenix Pelangi mengangkat kepala dan menatapnya dengan waspada.
“Masih ada seekor Phoenix Pelangi,” lelaki tua itu tersenyum tipis.
Lalu, ia membalikkan telapak tangannya, mengeluarkan sebuah botol giok putih dari cincin penyimpanan. Botol itu dihiasi ukiran awan transparan, dan saat lelaki tua itu mengeluarkannya, kabut putih langsung mengepul, hawa dingin menyelimuti sekitarnya.
“Guru, kau akan memakai itu?!” Ada tampak terkejut, matanya membelalak tak percaya.
“Dinosaurus Baja sebagus ini, sayang kalau dibiarkan begitu saja,” lelaki tua itu mengangguk sambil tersenyum.
Kemudian, ia membuka botol itu, memiringkannya ke arah luka tembus di kepala Arlong. Setetes demi setetes cairan putih pekat, bening seperti sari susu, menetes dari botol, jatuh ke dalam luka Arlong.
Total tiga tetes.
Setelah cairan putih itu menetes, ia segera larut dan menghilang ke dalam luka. Lalu, cahaya putih memancar, tebal seperti salju yang menumpuk, meliputi luka tembus di kepala Arlong.
Setelah meneteskan tiga tetes, lelaki tua itu kembali mengangkat tangannya sedikit, lalu mengalirkan energi tak kasat mata ke dalam cahaya putih itu. Cahaya putih pun bergolak seperti air mendidih, berputar dan bergejolak.
Phoenix Pelangi terbelalak menyaksikan semua perilaku lelaki tua itu.
“Tak usah takut,” lelaki tua itu tersenyum pada Phoenix Pelangi, lalu mengangkatnya perlahan ke telapak tangannya.
“Indah, benar-benar indah,” lelaki tua itu terus-menerus memuji Phoenix Pelangi, sebelum menaruhnya di bahunya sendiri. Anehnya, Phoenix Pelangi sama sekali tidak ingin melawan, bahkan merasakan kehangatan aneh yang menyusup ke dalam hatinya.
Setelah itu, lelaki tua itu berbalik, mendekati Chris. Ia membalik tubuh Chris, mengamatinya dengan seksama dari atas ke bawah, lalu berjongkok dan menempelkan telapak tangannya ke dada Chris.
“Eh? Penunggang Naga Kegelapan?!”
Ketika lelaki tua itu mengalirkan kekuatan transparan lagi dan memasukkannya ke tubuh Chris, matanya yang semula terpejam langsung terbuka penuh kejutan.
Ia bisa melihat bahwa Chris tidak memiliki sumber kekuatan. Lelaki tua itu jadi penasaran, lalu meneliti lokasi sumber kekuatan Chris. Ternyata bukan tidak punya sejak lahir, melainkan sumber kekuatannya telah padam.
Kekuatan kegelapan di dalam bidang Penguasa Laba-laba Pemakan Jiwa, begitu memasuki tubuh Chris, memang membuat kesadarannya kacau, tetapi tidak sampai melukainya lebih jauh. Jika yang terkena adalah manusia biasa tanpa kemampuan, bidang kegelapan Penguasa Laba-laba Pemakan Jiwa pasti sudah membunuh jiwanya.
Perbedaan antara tingkat sepuluh dengan tingkat nol memang sangat jauh.
Ketika Chris pingsan, kekuatan kegelapan itu hanya berdiam di pikirannya, mengaburkan akal sehatnya. Namun, hanya mengaburkan saja, sebab Chris pernah menjadi tubuh kegelapan dan punya sumber kegelapan. Meski bukan kekuatan miliknya, tapi karena berasal dari jenis yang sama, kekuatan itu tidak melukainya terlalu parah.
Mencapai tingkat keempat Penunggang Naga Kegelapan di usia muda, sudah cukup membuktikan keistimewaan fisik dan bakatnya.
Kekuatan ‘Kebangkitan Kegelapan’ Penunggang Naga Kegelapan berbeda dari pembagian kekuatan sepuluh tingkat para pendekar biasa. Hanya dengan menempelkan telapak tangan ke dada Chris, lelaki tua itu sudah mendapatkan banyak informasi mendalam.
“Bagus, bagus, bagus!!” lelaki tua itu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, lalu memperkuat energi transparan di tangannya, mengalirkannya ke dalam tubuh Chris, menyapu bersih kekuatan kegelapan yang menyerang Chris.
Dengan empat muridnya berjaga di sekitar, hanya dalam beberapa detik, lelaki tua itu sudah menarik kembali telapak tangannya.
Begitu tangannya terangkat, mata Chris langsung terbuka.
Chris tersadar. Begitu membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah wajah lelaki tua yang tersenyum.
“Kau sudah sadar,” lelaki tua itu mengelus janggut putihnya, mengangguk pada Chris.
Chris bangkit dari tanah, suara pertempuran dan teriakan di sekelilingnya membuatnya refleks menoleh ke kanan dan kiri. Mereka masih berada di dalam bidang kegelapan, dan pertarungan antara Penguasa Laba-laba Pemakan Jiwa dengan hampir seratus pendekar kuat masih berlangsung sengit. Semua pendekar mulai menggunakan kemampuan pamungkas mereka, namun Penguasa Laba-laba Pemakan Jiwa sangat sulit dihadapi.
Tak jauh dari sana, Dinosaurus Baja yang besar tergeletak di tanah.
“Arlong!” Chris terkejut, tanpa peduli lelaki tua di sampingnya, ia langsung bangkit dan berlari menuju Arlong.
Sampai di sisi Arlong, luka tembus di kepala Arlong sudah pulih, namun sisik di sekitar luka masih butuh waktu untuk tumbuh kembali.
Mata Arlong yang tertutup rapat meneteskan air mata. Darah emas yang mengalir dari luka di kepala, bercampur air mata, membasahi pipinya yang besar.
“Apa yang terjadi?!” Urat di leher Chris menegang, ia berteriak penuh emosi.
Chris menoleh tajam ke arah lelaki tua berjanggut putih yang berdiri dengan Phoenix Pelangi di bahunya, matanya menyala dengan kemarahan.
Phoenix Pelangi lantas terbang dari bahu lelaki tua itu, hinggap di bahu Chris.
Chris berkomunikasi secara spiritual dengan Phoenix Pelangi, dan semua yang terjadi sebelumnya tergambar jelas dalam benaknya.
Setelah Phoenix Pelangi selesai bercerita, setetes air mata jatuh dari sudut mata Chris.
Saat itu, Chris dilanda perasaan bersalah yang dalam.
Ia merasa sangat berhutang pada Arlong. Sejak pertama kali bertemu hingga kini, Arlong telah banyak berkorban untuknya.
Di sebelah kanan, Chris melihat sosok kecil bungkuk berwarna merah sedang bertarung sengit dengan Aer. Bayangan merah itu berkelebat cepat, seolah-olah berpindah tempat, setiap gerakannya menghindar dengan sempurna. Aer hanya bisa mengandalkan kekuatan untuk melancarkan serangan luas, tak ada cara lain untuk menyentuh tubuh Iblis Darah.
Iblis Darah terus menghindar dari serangan Aer, dan di sela-sela itu, ia menyerang dengan pukulan dan tendangan.
Melihat Iblis Darah, mata Chris menampakkan kerumitan perasaan. Kemudian ia berbalik perlahan, menatap lelaki tua di belakangnya.
“Apakah temanku masih bisa diselamatkan?” Mata Chris dipenuhi kesedihan, lirih ia bertanya pada lelaki tua itu.
Berkat komunikasi dengan Phoenix Pelangi, Chris tahu semua yang telah dilakukan lelaki tua itu.
“Masih bisa, tapi agak sulit. Aku barusan hanya menyelamatkan jiwa naganya, agar tidak tercerai berai. Untuk memulihkannya, butuh waktu. Lagipula, luka di otaknya cukup parah, otaknya tertembus,” lelaki tua itu tersenyum dan mengangguk pada Chris.
“Kalau begitu... kumohon, selamatkanlah temanku...” Untuk pertama kalinya, Chris menundukkan kepala pada lelaki tua itu, memohon dengan tulus.
Ini adalah kali pertama dalam sejarah seorang Penunggang Naga Kegelapan meminta tolong. Meskipun nada suaranya canggung dan kaku, namun ketulusan dan harapannya sangat nyata.
Lelaki tua itu kembali mengelus janggutnya, menatap Chris dengan puas lalu mengangguk.
Namun sebelum ia sempat berbicara lagi, tiba-tiba getaran hebat mengguncang seluruh medan pertarungan.
‘Boom! Boom! Boom!’
Di inti pertarungan, tubuh Penguasa Laba-laba Pemakan Jiwa tiba-tiba memancarkan gelombang hitam beriak, lalu gelombang kejut kuat meledak di sekelilingnya hingga radius seratus meter.
Hampir seratus pendekar kuat, termasuk dari Kuil Kekuatan, langsung terkejut dan menghentikan serangan mereka. Saat gelombang kejut massal Penguasa Laba-laba Pemakan Jiwa datang, seluruh energi mereka digunakan untuk bertahan.
Namun, meski demikian, semua pendekar tetap terpental jauh, bahkan puluhan di antaranya tak mampu menahan darah yang mendidih dan langsung memuntahkan darah segar.
“Pemanasan Penguasa Laba-laba Pemakan Jiwa sudah selesai... Ada, Adi, Ana, Ani, kalian maju!” lelaki tua berjanggut putih itu langsung memutar kepala ke arah Penguasa Laba-laba Pemakan Jiwa, wajahnya berubah tegas, dan ia memerintahkan keempat muridnya.
(Siapa sebenarnya lelaki tua ini... Adakah yang bisa menebak... Uhuk, uhuk, uhuk... Mohon rekomendasinya... Jawabannya akan segera terungkap...)