"Apakah Yang Mulia benar-benar ingin melawan aku?" Mata Ratu Wu memancarkan kilatan tajam. Li Zhi mundur setapak dengan rasa takut, menelan ludah sebelum berkata, "Hamba tidak berani... Tidak, tunggu!
“Makhluk durhaka! Kau telah menimbulkan bencana besar, seluruh Keluarga Li terseret karenamu! Seratus kali mati pun tak bisa menebus dosamu! Cepat turun dan terima hukumanmu!”
Teriakan marah itu menggema di telinga, membuat Li Qinzai terbangun dari pingsannya. Ia tak kuasa menahan erangan. Sakit, seluruh tubuhnya terasa nyeri, dan yang lebih membingungkan, ia samar-samar mencium aroma hangus, mirip daging yang terlalu lama dipanggang oleh penjual sate yang baru buka, lupa menabur jintan.
Ketika membuka mata, yang pertama terlihat adalah langit malam yang hitam gulita. Petir sesekali menyambar di cakrawala, suara gemuruhnya menggulung bak ribuan kuda dari kejauhan. Hujan deras turun tiada henti, laksana anak panah dingin dan basah menampar wajah dan tubuh, disertai angin dingin yang menderu, membuat Li Qinzai menggigil hebat.
Pandangan perlahan menurun ke tanah, dan Li Qinzai terkejut mendapati dirinya sedang menempel di sebuah pohon, empat anggota tubuh erat memeluk batang pohon, seperti anjing setia memeluk kaki sang dewi, hina dan memalukan.
Ia menurunkan pandangan lagi. Pohon itu tumbuh di halaman kecil yang amat anggun, dan di bawah pohon, sekelompok orang mengelilinginya.
Mereka berpakaian seperti dari zaman kuno, tua muda bercampur. Li Qinzai bingung, berkali-kali mengedipkan mata, lalu mencoba menganalisis pemandangan yang seperti ilusi akibat skizofrenia ini secara logis dan ilmiah.
Pasti ini sekumpulan orang yang bermain peran dengan kostum kuno... mungkin? Berdiri di bawah hujan lebat sambil bermain peran di tengah tekanan hi