Bab Lima Puluh: Anak Durhaka Keluarga Gao
Di mata para pejabat tua yang pernah mengikuti mendiang Kaisar Taizong menaklukkan negeri, generasi putra-putra mereka masih dapat dianggap lumayan, meski tidak banyak yang menonjol, juga tidak banyak yang menjadi masalah besar. Berkat jasa mendukung sang kaisar, keluarga mereka pun makin makmur, harta bertambah, kehidupan pun makin mewah—keluar rumah dengan pakaian indah dan kuda gagah, pulang ke rumah disambut pesta tari dan nyanyian.
Semakin mewah hidup mereka, semakin kentara pula sisi buruk dalam watak mereka. Sampai pada generasi ketiga, mereka lahir dari keluarga berkuasa dan kaya, sejak kecil tak pernah merasakan penderitaan atau bahaya, orang-orang di sekeliling pun hanya tahu menjilat dan memuji. Dalam lingkungan seperti itu, bahkan orang yang berhati baik pun perlahan berubah menjadi angkuh dan kejam, merasa dunia miliknya.
Karena itu, di lingkaran bangsawan Chang'an, generasi ketiga seperti Li Qinzai dan Gao Qi dianggap sebagai generasi yang gagal. Dibandingkan keduanya, Gao Qi malah lebih parah.
Namun hari ini, Li Qinzai datang berkunjung tanpa diundang, membawa setumpuk hadiah unik, tingkah lakunya sopan dan penuh hormat, tutur katanya rendah hati dan santun. Gao Zhenxing tak bisa tidak mengakui, anak laki-laki keluarga Li itu dalam segala hal telah sepenuhnya menyingkirkan anaknya sendiri yang tak berguna itu.
Memikirkannya saja sudah membuat dada sesak, ingin sekali menghajarnya.
Ucapan Li Qinzai tadi, “Jika anak tak dididik, itu salah ayah,” makin direnungkan Gao Zhenxing makin merasa betapa benarnya kalimat itu.
“Dibanding dulu, keponakanku makin cemerlang, benar-benar seperti terlahir kembali. Aku melihatnya dengan iri dan kagum. Keluarga Li tak perlu takut tak punya pewaris, sebaliknya keluarga Gao ini... sungguh membuat hati miris.” Gao Zhenxing pun tampak murung.
“Jangan khawatir, Paman. Permata yang tak diasah, takkan jadi alat berguna. Adik Gao memang nakal, sering-sering saja diasah, pasti bisa jadi baik.” Li Qinzai terus mengipasi api, setiap pembicaraan diarahkan agar Gao Qi dipukuli.
Hari ini, kalau Gao Qi pulang tanpa menderita luka, Li Qinzai rela mengganti marganya.
“Anakku Gao Qi seusia denganmu. Katanya, pilihlah yang baik untuk diikuti. Demi aku, sering-seringlah kau bergaul dengannya, beri nasihat dan bimbingan. Semoga ia bisa tertular sedikit kecemerlanganmu,” pinta Gao Zhenxing dengan tulus.
Li Qinzai tampak ragu, lama tidak menjawab.
Hati Gao Zhenxing mendadak tenggelam, berkata muram, “Kenapa kau diam saja? Apa anakku sudah sedemikian rusak, sampai kau enggan bergaul dengannya?”
Li Qinzai terdiam sejenak, lalu menghela napas berat. “Tak ingin berbohong, Paman. Sebenarnya aku dan Adik Gao memang punya sedikit dendam yang belum selesai. Baru beberapa hari lalu, Gao Qi masih mengumpulkan orang untuk memukuliku...”
“Aku datang hari ini juga ingin berdamai, Paman. Aku pun sudah berbeda dari dulu, sungguh tak ingin berseteru lagi dengan Adik Gao. Jika nanti ia pulang, mohon Paman sudi membujuknya untukku.”
Sambil menghela napas panjang, Li Qinzai tersenyum pahit, “Kita ini sudah dewasa, bukan anak-anak lagi. Aku benar-benar tak ingin menambah masalah hanya karena hal sepele.”
Gao Zhenxing malah terkejut, “Jadi anakku, si durjana itu, benar-benar mengumpulkan orang untuk memukuli kau?”
Li Qinzai buru-buru berkata, “Jangan salahkan Adik Gao. Dulu aku juga memang pernah berlaku berlebihan, menyakiti hatinya. Aku pantas mendapatkannya. Hari ini aku datang ke sini, anggap saja menebus dosa masa lalu.”
Beberapa patah kata saja sudah membuat Gao Zhenxing naik pitam.
“Dasar anak durhaka! Berani-beraninya membelakangiku melakukan hal seperti itu!” Otot-otot pipi Gao Zhenxing bergetar karena marah.
“Paman, jangan marah. Aku sungguh tak bermaksud apa-apa. Aslinya Adik Gao tidaklah seburuk itu. Anak pejabat kadang memang suka bertindak seenaknya, itu pun wajar. Mohon jangan terlalu menyalahkannya, jika tidak aku merasa sangat bersalah,” ucap Li Qinzai dengan wajah takut.
Ekspresi Gao Zhenxing berubah dingin, namun ia menahan amarahnya di hadapan Li Qinzai.
“Kau tak perlu berkata lagi, aku sudah mengerti.”
Melihat betapa dewasa dan pengertian Li Qinzai, lalu membandingkannya dengan anaknya sendiri yang tak berguna, Gao Zhenxing sampai ingin membunuh anaknya.
Hadiah sudah diserahkan, kata-kata pun sudah cukup, kini saatnya menonton pertunjukan ayah dan anak keluarga Gao.
Li Qinzai pun pamit dengan wajah penuh kehati-hatian.
Gao Zhenxing mengantarnya sampai ke luar. Li Qinzai baru hendak naik ke kereta, tiba-tiba melihat dari kejauhan, Gao Qi melangkah dengan kepala tegak, diiringi para pengikutnya, masuk dengan gaya jumawa.
Biasanya, pemandangan itu tampak gagah, tapi hari ini di mata Gao Zhenxing justru sangat menjengkelkan. Begitu melihat anaknya yang tak berguna itu, seketika ia mengertakkan gigi, wajahnya menghitam menahan emosi.
“Anak durhaka, masuk ke dalam sekarang!” serunya dengan suara sedingin es.
Gao Qi terhenti, melihat wajah ayahnya yang muram, lalu melirik Li Qinzai yang tersenyum tanpa berkata apa-apa.
Gao Qi pun langsung paham, kaget dan marah, “Apa yang kau katakan pada ayahku?”
Belum sempat Li Qinzai menjawab, Gao Qi sudah ditarik kerahnya oleh Gao Zhenxing dan dihantam keras di bagian belakang, terbang masuk ke dalam rumah dengan gaya jatuh yang sempurna.
Sambil memaksakan senyum kepada Li Qinzai, Gao Zhenxing berkata, “Maaf, keponakan. Aku akan memberimu penjelasan.”
Setelah berkata begitu, ia masuk ke dalam rumah, pintu samping rumah Gao pun langsung ditutup rapat, dan suara jerit kesakitan Gao Qi pun langsung terdengar dari dalam.
Li Qinzai berdiri di luar, mendengar itu sampai pipinya berkedut.
“Sungguh kejam...” gumamnya.
Tampaknya kebahagiaan para pemuda nakal Chang'an pun tak tinggi-tinggi amat. Mereka lebih sering dipukuli ayahnya sendiri daripada anak-anak biasa, dan para ayah tak pernah setengah-setengah kalau menghajar.
Semakin liar di luar, semakin terhina di rumah.
Gao Qi masih terus dipukuli. Pemandangan yang begitu menyenangkan, tentu Li Qinzai tak berniat pergi begitu saja.
Ia berdiri tenang di depan pintu keluarga Gao, mendengarkan dengan senyum setiap jeritan Gao Qi yang menambah kepuasannya.
Sekitar satu batang dupa kemudian, pintu samping keluarga Gao mendadak terbuka.
Gao Qi kembali terlempar keluar dengan gaya jatuh sempurna.
Tubuhnya terbanting ke tanah, luka di sekujur tubuh, nyaris tak berdaya.
Li Qinzai pun sempat terkejut, melihat Gao Qi tertelungkup di tanah, lama tak bergerak. Ia pun berjalan mendekat, mengambil ranting, dan menusuknya perlahan dari kejauhan.
Akhirnya Gao Qi bergerak, mengangkat kepala dari debu dengan wajah lebam dan bengkak, sungguh mengenaskan.
“Li Qinzai, bagus! Apa yang terjadi hari ini, akan selalu kuingat!” Mata Gao Qi menyala penuh kebencian.
Li Qinzai sama sekali tak gentar, malah tersenyum, “Kalau aku jadi kau, sekarang aku takkan berani mengucapkan ancaman, malah akan memperlakukanku seperti ayah sendiri.”
“Dendam kita sudah tak terampuni, suatu saat aku pasti membalas!” desis Gao Qi.
Li Qinzai hanya mengangkat bahu, lalu menepuk-nepuk debu di bajunya. “Sepertinya aku harus bicara lagi dengan Paman Gao, tadi rasanya masih kurang jelas...”
Baru saja ia melangkah menuju pintu samping keluarga Gao, ekspresi Gao Qi pun berubah, nyala kebencian di matanya langsung padam, digantikan ketakutan yang amat sangat.
“Brengsek! Mau apa kau? Li Qinzai, jangan keterlaluan!” seru Gao Qi dengan suara bergetar.
Li Qinzai menjawab tenang, “Aku dan Paman Gao cocok, banyak hal yang ingin kami bicarakan. Hari ini harus puas bicara.”
Baru saja melangkah, ia merasakan pergelangan kakinya dicekal kuat. Dilihatnya Gao Qi memeluk kakinya erat-erat, gaya memohon belas kasihan yang mahir dan menyedihkan.
“Mau apa? Lepas!” hardik Li Qinzai sambil mengerutkan kening.
Gao Qi tak berani melepaskan, menggertakkan gigi, “Li Qinzai, membunuh pun cukup sekali, lihatlah keadaanku sekarang! Sudahlah, jangan kejam begitu!”
“Aku cuma ingin bicara dengan Paman, kenapa jadi kejam? Kau terlalu berlebihan.”
“Sudah cukup! Li Qinzai, kau mau membunuhku?” Gao Qi menangis pilu.
Li Qinzai tersenyum sinis, “Barusan kau bilang, dendam kita sudah tak terampuni. Kalau begitu, apa salahnya aku menghabisimu sekalian?”
Gao Qi terdiam, menatap pintu samping rumahnya dengan penuh takut.
Barusan ayahnya menghajar habis-habisan, kesannya masih membekas. Gao Qi menilai sisa tenaganya, lalu sadar tubuhnya sudah hancur.
Kalau Li Qinzai kembali menghasut di depan ayah, jangankan dipukul habis-habisan, disentil saja sudah cukup membuatnya pingsan.
Setelah berjuang batin, akhirnya Gao Qi menahan amarah, “Baiklah, Li Qinzai. Dendam kita sampai di sini, mulai sekarang kita tak perlu saling berurusan lagi, setuju?”
“Oh, aku tak masalah. Tapi kudengar kau masih membuat masalah pada Xue Ne? Dia itu sahabat karibku...”
“Baik, aku berhenti! Aku tak sanggup melawanmu, aku mengalah, cukup?” bentak Gao Qi.
Li Qinzai pun tersenyum.
Menghadapi anak-anak nakal seperti mereka memang begini caranya: bertindak cepat, tepat, dan keras, cukup genggam titik lemah mereka.
Titik lemah mereka bukan kekuasaan, bukan pula harta, melainkan ayah mereka sendiri.