Bab Seratus Empat Puluh Tiga: Siluman
Bab 143: Siluman
“Siluman, siluman, siluman!” Long Xuankong terus mundur dengan wajah sangat ketakutan, seolah-olah akan berteriak kapan saja.
Namun kali ini Gu Rong bereaksi dengan sangat cepat. Ia buru-buru mengangkat tangan kecilnya dan seketika membekap mulut Long Xuankong.
“Xuankong, jangan berteriak!” serunya cemas.
Long Xuankong ingin menarik napas, tetapi mulutnya tertutup tangan orang. Ia nyaris saja kehabisan napas.
“Tolong, jangan berteriak, ya? Aku bukan siluman, aku manusia. Nanti akan kujelaskan mengapa bisa begini. Jangan berteriak, ya?” Gu Rong menatap Long Xuankong dengan tegang.
Dalam ketakutan yang luar biasa, Long Xuankong mengangguk.
Namun Gu Rong masih belum merasa tenang. Satu tangannya memeluk punggung Long Xuankong, sementara tangan yang lain tetap membekap mulutnya erat-erat.
“Xuankong, ini kitab rahasia warisan keluargaku. Namanya Burung Emas Menyambut Matahari.”
Long Xuankong tetap tidak bersuara. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena tidak mungkin bersuara. Ia hanya bisa mengangguk sekuat tenaga.
“Xuankong, aku tidak bermaksud menakutimu. Aku... aku... ini...” Gu Rong tergagap cukup lama. Wajahnya perlahan tampak murung karena melihat Long Xuankong masih menganggapnya sebagai makhluk yang berbeda. Ia seolah-olah tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya.
Ruangan itu hening selama hampir setengah menit. Barulah Long Xuankong perlahan menjadi tenang. Ia menepuk tangan kecil Gu Rong yang masih menutupi mulutnya.
Gu Rong mengerti, lalu menarik tangannya dan menundukkan kepala tanpa berkata-kata.
Long Xuankong mengamatinya sejenak. Melihat wajah Gu Rong yang muram, ia mengernyitkan dahi.
“Ada apa?”
“Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan kepadamu,” jawab Gu Rong sambil menggenggam kedua tangannya dengan gelisah.
“Kalau begitu, tidak perlu dijelaskan. Siapa yang tidak memiliki rahasia? Selama tingkat kultivasimu bisa meningkat dan kelak kau mampu menjaga dirimu sendiri agar tidak ditindas orang lain, aku sudah tenang.” Long Xuankong berbicara seolah-olah sedang menghibur adik perempuan.
Mendengar itu, ekspresi Gu Rong pun melunak, lalu berubah cerah.
“Benarkah?”
“Apa yang benar?” Long Xuankong tertegun.
“Kau tidak akan menyebutku siluman lagi?”
Bibir kecil Gu Rong terangkat, membentuk lengkungan indah.
“Tentu saja tidak. Memangnya ada begitu banyak siluman di dunia ini? Kalau kau benar-benar siluman, justru bagus. Ha ha ha! Namun kitab rahasiamu memang sangat aneh. Akan kuberi tahu, tadi aku sengaja berpura-pura ketakutan. He he!”
Long Xuankong tiba-tiba menyeringai nakal. Ia mundur selangkah dan duduk di atas ranjangnya.
Begitu mendengar perkataannya, Gu Rong seakan baru tersadar. Ia langsung tampak sangat kesal. Tubuhnya condong ke depan, kedua tangannya menyambar Long Xuankong. Namun saat itu Long Xuankong sudah berbaring. Gu Rong gagal menangkapnya dan tubuhnya yang telanjur condong seolah tak sempat ditarik kembali.
Maka, dalam sekejap, tubuh mereka berdua bertaut sangat erat. Kejadian itu tampak seperti ketidaksengajaan, tetapi juga seakan dilakukan dengan sengaja. Dikatakan sengaja, nyatanya bukan. Bahkan Gu Rong sendiri merasa linglung.
Sejak Long Xuankong menciumnya, sejak ia bangkit dengan begitu kuat, sejak ia menjadi pusat perhatian seluruh perguruan, setiap kali memikirkan Long Xuankong, Gu Rong selalu merasa pikirannya kabur.
Ketika tubuhnya menempel pada tubuh Long Xuankong, keduanya sama-sama terkejut. Bahkan napas mereka seolah terhenti bersamaan.
Namun hampir seketika, Gu Rong melompat mundur. Meski begitu, ia telah meninggalkan aroma harum bagi Long Xuankong. Wangi lembut dan tubuhnya yang lentur membuat Long Xuankong merasa enggan melepaskannya dari pikiran.
Mereka berdua berpisah, tetapi masih saling menatap. Long Xuankong merasa menyesal. Mengapa tadi ia tidak memanfaatkan kesempatan seperti sebelumnya? Namun penyesalan itu sudah terlambat.
Gu Ronglah yang lebih dahulu tertawa.
“He he he! Siapa sangka Tuan Muda Naga yang tersohor ternyata juga bisa tersipu. Adik Naga benar-benar sudah besar.”
Ucapan itu membuat Long Xuankong merasa seakan tersedak. Ia balas melotot kepada Gu Rong.
“Silakan saja kau bersenang-senang. Jangan menunggu sampai aku dewasa. Kalau sudah dewasa nanti, pasti akan kutelan kau.”
“He he he! Saat kau sudah dewasa, aku pasti sudah terbang jauh. Bagaimana kau akan menelanku? Sekarang cepat bantu aku membersihkan meridianku. Energi yang tadi kau alirkan ke dalam tubuhku sangat aneh. Rasanya sungguh nyaman!”
Gu Rong seolah telah memahami kelemahan Long Xuankong. Ia mengambil alih keadaan dan menjadi lebih berani.
Long Xuankong masih memasang wajah seolah-olah dirinya akan segera diculik. Ia bangkit dan berkata, “Duduklah di ranjangku. Pengoperasian energi sejati membutuhkan konsentrasi penuh saat bermeditasi. Aku akan duduk di belakangmu.”
Gu Rong mengangguk dengan lapang dada. Ia langsung melepaskan sepasang sepatu putih kecilnya. Kedua kakinya terbungkus kaus kaki putih, tetapi Long Xuankong tetap dapat membayangkan betapa mungil dan indahnya kaki itu.
Setelah mereka duduk bersila, kedua telapak tangan Long Xuankong kembali menempel di punggung Gu Rong. Kali ini, mungkin karena pikirannya sedikit melayang, Long Xuankong secara khusus merasakan kelembutan dan kehalusan punggung Gu Rong.
Meski terhalang sehelai pakaian tipis, suhu tubuh yang samar itu tetap menghadirkan perasaan berbeda bagi mereka berdua. Bahkan Long Xuankong sempat terdorong untuk memeluk Gu Rong ke dalam dekapannya. Namun pada akhirnya ia mengurungkan niat tersebut. Segumpal energi spiritual mengalir menembus pakaian, menembus kulit, lalu masuk ke tubuh Gu Rong.
Gu Rong pun mengikuti ritme Long Xuankong dan kembali tenang. Teknik energi sejatinya mulai berputar.
Keadaan Gu Rong berada di luar dugaan Long Xuankong. Ia sama sekali tidak perlu mempelajari isi teknik itu secara saksama. Saat huruf-huruf kecil berwarna keemasan itu masuk ke dalam darahnya, berubah menjadi burung hong, lalu menyusup ke tubuhnya, isi teknik tersebut langsung terukir di dalam benaknya.
Setelah energi spiritual dari tubuh Long Xuankong mengalir ke tubuh Gu Rong dan mengikuti perputaran energi sejatinya, Long Xuankong semakin terkejut. Ia mendapati bahwa meridian di dalam tubuh Gu Rong sangat lancar. Bahkan dua jalur energi utama dalam tubuhnya telah terhubung secara alami, tanpa sedikit pun penyumbatan.
Dalam hati, muncul keraguan baru mengenai identitas asli dan kekuatan Gu Rong.
Kali ini mereka bermeditasi hingga fajar menyingsing. Seolah-olah keduanya telah menyukai kehangatan saat itu, mereka sama-sama enggan memecahkan ketenangan. Bahkan setelah Long Xuankong lama menarik kembali kedua tangannya, mereka tetap tidak segera bergerak.
Barulah ketukan tergesa-gesa dari luar pintu membangunkan mereka. Sebelum Long Xuankong sempat meninggalkan kamar untuk membuka pintu, Fei Hong sudah membukanya dari luar.
“Di mana bocah Long Xuankong itu? Jangan-jangan masih tidur? Sekarang sudah jam berapa?” Suara gelegar terdengar dari ruang depan.
Kedua orang di dalam kamar langsung terkejut. Mereka buru-buru menurunkan kaki dari posisi bersila. Namun baru saja turun dari ranjang, pintu kamar sudah didorong terbuka. Suara Jue Ming pun terdengar.
“Bocah, masih belum bangun?”
“Ah!”
Long Xuankong dan Gu Rong sama-sama terkejut.
Namun ketika Jue Ming melihat keadaan di dalam kamar, ia juga langsung tercengang. Matanya membelalak lebar, tetapi ia segera menutup kembali pintu itu sambil bergumam, “Seberapa besar usia bocah ini? Ternyata sudah tahu hal semacam itu?”
Suaranya tidak keras, tetapi kedua orang di dalam kamar mendengarnya dengan jelas. Wajah Gu Rong seketika memerah hingga ke telinga. Ia segera melangkah keluar, membuka pintu, lalu meninggalkan kamar.
Long Xuankong terpaku cukup lama. Setelah itu barulah ia berjalan keluar perlahan. Ketika tiba di ruang depan, ia mendapati Gu Rong sedang menjelaskan,
“Senior, bukan seperti yang kalian pikirkan. Tadi malam Xuankong membantuku menutrisi meridian.”
Mendengar perkataan itu, kedua orang tua tersebut langsung mengernyitkan dahi. Mereka tidak berkata apa-apa, tetapi ekspresi mereka tampak canggung.
Dalam hati, mereka bergumam, “Mengapa gadis-gadis zaman sekarang begitu tidak tahu malu? Kalau memang melakukan hal semacam itu, ya sudah, lakukan saja. Tetapi bagaimana bisa dibicarakan terang-terangan? Berbicara dengan teman sebaya mungkin tidak masalah, tetapi mengapa harus mengatakannya kepada para senior? Aduh, jangan-jangan kami memang sudah tua! Bahkan istilahnya pun sudah berbeda. Melakukan hal semacam itu sekarang disebut menutrisi? Kami benar-benar sudah ketinggalan zaman.”