Bab Sembilan Puluh Tujuh: Perangkap Hitam dan Putih
Setelah menunggu beberapa menit, suara batu bergulir tak juga terdengar. Xu Xin dan keempat patung batu itu pun merangkak keluar dari lubang kecil. Zhang Yin kembali menepuk dinding, dan lubang yang sebelumnya cekung itu perlahan-lahan menipis hingga akhirnya permukaan dinding kembali rata.
“Perfeksionis, aku benar-benar tidak tahan kalau dindingnya sampai berlubang,” jelas Zhang Yin sambil mengangkat tangan.
Xu Xin menunjuk ke belakang, di mana beberapa batu besar menghalangi jalan. “Sepertinya kita hanya bisa maju ke depan.”
“Kenapa, kau ingin kembali?” Zhang Yin melirik ke arah batu-batu besar di belakang mereka dengan santai. “Kalau kau memang ingin, aku bisa membawamu kembali. Sebongkah batu saja mustahil bisa menghalangi jalanku.”
Xu Xin pun paham. Kemampuan Zhang Yin tampaknya memang mengendalikan batu. Meski mungkin tak bisa menghentikan batu yang sedang bergulir, memecah batu yang diam rasanya bukan masalah baginya.
“Di depan masih ada jebakan?” tanya Xu Xin.
“Sudah tidak ada,” jawab Xue Lan sambil menggandeng tangan patung bocah lelaki. “Waktu itu, sampai ke pintu pertama, cuma ada satu jenis jebakan ini. Batu bergulir itu juga hanya muncul tiga kali.”
Mereka melanjutkan perjalanan. Tak lama, mereka menyusul macan tutul mutan yang sedang menunggu mereka sambil berbaring di tanah.
Xu Xin melewati macan itu dan secara refleks ingin mengelus kepala kucing besar itu, tapi si macan dengan mudah menghindar. Ia lalu berjalan mengikuti Xu Xin dengan jarak dua meter di belakang.
Akhirnya, Xu Xin mengalihkan tangannya yang gatal dan mengelus kepala kecil Coco yang sedang tidur di bahunya. Coco menggeliat pelan, mendecit pelan seperti sedang bermimpi, lalu kembali tidur nyenyak.
Lorong semakin melebar.
Xu Xin sudah bisa melihat sebuah pintu besar tak jauh di depan. Pintu itu mirip dengan pintu masuk kota bawah tanah, tapi ukurannya jauh lebih besar, seperti gerbang sebuah kastil.
Mereka segera tiba di depan pintu. Zhang Yin mencoba membukanya dengan berbagai cara dan kekuatan, namun pintu besar dari logam itu sama sekali tidak bergeming.
Xu Xin menengadah dan melihat sebuah lubang menganga di atas, kira-kira sebesar batu bergulir. Mungkin memang itu tempat keluarnya batu-batu tadi.
Saat itu, kontrak dengan kelelawar yang pernah ia buat menjadi berguna. Dengan memutar cincin di jarinya, seekor kelelawar mutan muncul di hadapan Xu Xin.
“Eh? Kau ternyata mengikat kontrak juga dengan kelelawar,” Zhang Yin agak terkejut melihat kelelawar besar itu.
“Coba masuk ke lubang di atas dan lihat ada apa di sana yang bisa dibawa turun,” Xu Xin mengarahkan kelelawar itu terbang ke lubang sebelum menjawab Zhang Yin, “Punya kelelawar yang bisa terbang memang sangat membantu.”
“Benar juga, meski kelelawar seperti ini kekuatannya biasa saja, harus banyak baru bisa punya kekuatan tempur.”
Dari penjelasan Zhang Yin, Xu Xin tahu bahwa kelelawar-kelelawar itu hasil percobaan yang gagal. Versi yang sekarang adalah hasil penyempurnaan Zhang Yin dan Xue Lan, sedangkan kelelawar di lorong bertangga itu adalah hasil uji coba pertama yang lemah. Setelah meminum ramuan percobaan, kelelawar-kelelawar itu memang bermutasi dan punya kemampuan khusus, tapi tiap ekor terlalu lemah, baru terasa manfaatnya kalau bergerombol.
Xu Xin pernah merasakan betapa berbahayanya kawanan kelelawar itu—mengingatnya saja sudah membuat kepalanya kembali berdenyut sakit.
“Kemampuan kawanan kelelawar adalah gelombang ultrasonik yang bisa mempengaruhi mental manusia,” jelas Xue Lan. “Tapi seekor saja tak berarti apa-apa, hanya lebih besar dari kelelawar biasa dan umurnya juga lebih panjang.”
Belum sempat Xu Xin bicara, kelelawar yang masuk ke lubang sudah turun lagi, mengepakkan sayapnya dan membawa sebuah batu merah sebesar kenari di cakar.
“Lihat, setidaknya tetap ada gunanya, kan?” Xu Xin menyambut batu bulat kecil itu. Matanya membelalak saat melihat batu itu memancarkan cahaya biru.
Ternyata ini batu dengan tingkatan biru.
Hampir saja Xu Xin membuang batu itu saat melihat kata “radiasi”, namun setelah membaca penjelasan di belakangnya, ia baru tenang.
Mengerti kegunaan batu ini, Xu Xin tidak bisa menahan senyum. Sebuah alat yang bisa memperkuat binatang mutan! Sungguh, apa yang diharapkan justru muncul di depan mata.
Macan tutul mutan itu kini berada di ambang antara tingkat rendah dan menengah. Asal bisa sedikit lebih kuat, ia bisa langsung naik tingkat. Kelelawar yang diperkuat juga akan jauh lebih berguna.
Tak disangka, ada kejutan menyenangkan di sini.
“Ada gunanya batu itu?” Zhang Yin menatap batu di tangan Xu Xin.
“Bukan apa-apa, cuma batu buat bikin senjata,” jawab Xu Xin sambil memasukkan batu itu ke dalam ransel.
“Senjata? Tak menarik. Tubuhku sendiri sudah senjata. Sudah, ayo buka pintunya,” Zhang Yin menunjuk ke depan.
Xu Xin melangkah ke depan dan menyentuh pintu besar itu.
“Hah?” Ada sensasi familiar muncul dari dalam hatinya—ini… rumah pohon?
Seperti sedang memegang akar rumah pohon, ada perasaan menyatu dengan sesuatu. Jangan-jangan, akar rumah pohon berpengaruh pada pintu ini?
Dengan dorongan ringan, pintu besar itu perlahan terbuka ke dalam. Xu Xin buru-buru menepi, takut ada sesuatu yang melesat keluar.
Di balik pintu, lorong luas seperti terowongan masih membentang. Namun, kini lantainya berupa susunan batu hitam dan putih berselang-seling, tiap kotaknya berbentuk persegi dengan sisi sekitar satu meter. Sepanjang jalan, kotak-kotak hitam putih itu membentuk pola papan catur.
“Jebakan?” tebak Xu Xin.
“Benar,” jawab Zhang Yin sambil menunjuk kotak-kotak di lantai. “Setiap kotak bisa jadi jebakan, tapi juga mungkin aman.”
Xue Lan menambahkan, “Jenis jebakannya banyak dan hampir tak bisa diprediksi. Dua puluh empat tahun lalu, seorang rekan kami ngotot ingin maju sendiri, yakin sudah mengetahui semua jebakan. Dia memang sempat melewati lorong ini cukup jauh, tapi akhirnya jatuh ke jebakan seperti mesin penggiling daging… akhirnya…”
Xue Lan tak melanjutkan, tapi Xu Xin dapat membayangkan betapa mengerikannya peristiwa itu.
“Jebakannya dipicu oleh apa? Berat badan?” tanya Xu Xin.
“Andai berat badan, pasti lebih mudah. Tapi sepertinya bukan. Aku sudah coba dengan batu yang beratnya mirip manusia, tetap saja tak terpicu. Mungkin harus makhluk hidup,” jawab Zhang Yin.
“Jadi… kau mau pakai binatang mutan untuk jadi umpan?” Xu Xin menebak maksud Zhang Yin.
“Tepat sekali.” Zhang Yin melambaikan tangan dan mengeluarkan seekor serigala darah mutan yang gemetar ketakutan.
“Tak mau mengeluarkan beberapa sekalian?”
“Kalau dikeluarkan semua, jebakan bisa membantai banyak sekaligus. Aku cuma bawa belasan, tapi itu cukup. Kebanyakan petak aman, hanya sebagian kecil yang jebakan. Dulu cuma tujuh ekor yang tewas sampai lolos,” sahut Zhang Yin.
Jalur jebakan ini benar-benar harus ditempuh dengan taruhan nyawa.
Xu Xin menoleh. Macan tutul itu masih berbaring dua meter di belakangnya.
“Nanti jangan lari-lari, hanya boleh menginjak petak yang sudah kami lewati. Mengerti?” Karena tak bisa memasukkannya ke dalam cincin, Xu Xin hanya bisa memperingatkannya.
Macan itu menatapnya, menjilat bulunya, entah paham atau tidak.
“Sudah, ayo jalan. Dengan kecepatannya, meski menginjak jebakan, mungkin masih bisa menghindar,” kata Zhang Yin sambil mengarahkan serigala darah mutan melangkah di atas batu persegi. Serigala itu berjalan lurus ke depan, sekitar tujuh atau delapan meter, baru Zhang Yin melangkah ke atas petak hitam putih itu.
Xu Xin hendak mengikuti, namun patung pelayan perempuan menghalanginya.
“Kami di depan untuk melindungi kalian dari jebakan. Ada jebakan panah, ledakan, juga semburan api. Jangkauannya luas, jadi jangan di depan, bisa berbahaya,” ujar patung pelayan yang sejak tadi jarang bicara, lebih banyak menjaga patung bocah lelaki.
“Oh, baik. Terima kasih.” Xu Xin mempersilakan Xue Lan dan bocah lelaki itu melangkah duluan.
Serigala darah di depan tampak dikendalikan Zhang Yin, berjalan lurus tanpa berbelok. Bocah lelaki yang biasanya suka berlarian kini menurut, melangkah di jalur yang sudah diinjak serigala. Mendengar peringatan Xue Lan, dia mengangguk keras, “Iya, Paman, jangan lari-lari, menakutkan!”
Mungkin pengalaman sebelumnya masih menghantuinya.
“Terima kasih,” balas Xu Xin, mengikuti para patung itu menginjak batu persegi.
Begitu menginjak, Xu Xin merasa batu itu turun sekitar setengah sentimeter, menimbulkan suara gesekan batu yang halus. Tubuhnya langsung menegang. “Kenapa bisa turun begini?”
“Memang selalu begitu.” Patung pelayan melangkah ke petak di depan, yang juga ikut turun. “Jebakan di sini ada yang langsung aktif, ada yang tertunda. Jebakan tombak dan penggiling daging itu yang langsung aktif—kalau menginjak, langsung terperosok. Yang tertunda seperti ini, diinjak turun, saat diangkat, jebakannya baru aktif.”
Sambil bicara, ia melangkah lagi. Petak tadi langsung kembali ke posisi semula.
Ini pasti untuk mengecoh, membuat orang lengah karena semua petak terasa seperti jebakan. Xu Xin mengakui, jalur ini jauh lebih sulit dari jebakan apa pun yang pernah didengar dari Li Wenxi.
Di dalam lorong, suara tapak para patung dan naik-turunnya batu terus bergema. Xu Xin menoleh ke belakang, melihat macan tutul melangkah dengan sangat elegan mengikuti jejak kakinya.
Dalam situasi seperti ini, Xu Xin merasa lebih khawatir pada dirinya sendiri daripada pada si macan.
Tiba-tiba, suara mekanis dan lolongan serigala yang menyayat terdengar di depan.
Jebakan terpicu!
Xu Xin menoleh. Serigala darah itu sudah lenyap, petak tempatnya berdiri juga ikut hilang. Zhang Yin segera melangkah cepat ke depan, mengintip ke dalam jebakan.
“Bagaimana? Jebakan apa?” tanya Xu Xin dari belakang.
“Jebakan tombak. Serigalanya sudah mati,” jawab Zhang Yin.
Zhang Yin kembali mengayunkan tangan, seekor kucing darah mutan muncul. Ia mundur beberapa langkah, membiarkan si kucing menghindari jebakan yang sudah aktif dan melanjutkan ke depan.