Bab Empat Puluh Lima Persiapan Jamuan Malam
Inilah alasan mengapa Lin Ke selalu bermain bersama Su Lingling; ia ingin menunjukkan rasa superioritasnya. Orang yang dulu tak pernah bisa ia kejar, kini sudah jauh di bawah dirinya. Namun, Lin Ke tak pernah menyangka bahwa Su Lingling bisa bangkit kembali hanya dengan bekal nasi kotaknya. Ia memang merasa kasihan karena Su Lingling telah ditipu oleh Jin Zijun si brengsek, dan ia ingin membantunya. Tetapi ia juga tidak ingin Su Lingling hidup terlalu baik, sebab itu akan kembali mengingatkannya pada kenangan pahit di masa lalu. Karena itu, Lin Ke ingin Su Lingling benar-benar tidak bisa bangkit lagi, kembali seperti dulu.
Karena bujukan seorang pengguna kekuatan mental, Lin Ke akhirnya membeli bakteri penyakit. Diam-diam di dalam hatinya, Lin Ke membenci Su Lingling dan juga orang berkekuatan itu. Meski begitu, ia tak akan pernah menaruh bakteri itu ke dalam nasi kotak CEO—ia tak sebodoh itu. Lin Ke bersumpah dalam hati, ia pasti akan melampaui Su Lingling dan hidup lebih baik darinya.
Ucapan Jin Ziyu membuat Lin Ke semakin yakin. Ia hanya mau percaya pada versi cerita Jin Ziyu, bahwa Su Lingling bisa hidup enak karena merayu Zhang Shen. Su Lingling hanya bisa naik karena mengandalkan laki-laki. Sedangkan Lin Ke merasa, bukan berarti dirinya lebih buruk dari Su Lingling, ia hanya saja tidak pernah mengandalkan siapa pun selain dirinya sendiri, makanya ia kalah. Jika Su Lingling kehilangan Zhang Shen, pasti ia tidak akan berarti apa-apa. Lin Ke yakin, jika ia menemukan seseorang yang bisa ia manfaatkan, ia pasti bisa jauh lebih hebat dari Su Lingling, seribu bahkan sepuluh ribu kali lipat lebih baik.
·················
[Ding! Selamat, nilai pujian total Host telah mencapai sepuluh ribu. Mendapatkan satu wajan tingkat dewa, resep ikan kukus tingkat dewa, dan penguatan fisik tingkat dua.]
Pada saat ini, Su Lingling sama sekali tidak tahu rencana Lin Ke dan Jin Ziyu yang tengah membicarakan dirinya. Ia tak menyangka, dengan mengumpulkan sepuluh ribu pujian, ia bisa mendapatkan begitu banyak hadiah. Ada wajan besi, bahkan ada penguatan fisik.
Su Lingling beralasan pergi ke lantai dua untuk ke kamar kecil dan langsung mengaktifkan penguatan untuk dirinya sendiri. Kali ini, tubuhnya kembali mengeluarkan kotoran setelah proses penguatan. Setelah mandi, ia membawa wajan besi ke bawah dan mengganti wajan lama di dapur dengan yang baru.
Pada saat yang sama, Mu Jue dan Li Zheng pun tiba. Mu Jue telah menghabiskan semua lima juta itu. Ia tidak menyangka harga sayuran bisa semahal itu. Ia makin yakin, Su Lingling benar-benar tidak menghasilkan banyak keuntungan dari masakan racikannya. Sayuran yang sering ia makan di toko Su Lingling saja, harganya luar biasa mahal. Satu potong tulang naga untuk sup saja harganya sejuta, belum lagi sayuran segar lainnya.
Daging pun sangat mahal. Li Zheng harus memohon sana-sini, akhirnya lewat kenalannya bisa membeli tiga jin daging seharga sejuta. Bahkan ikan pun begitu, konon karena beruntung, mereka mendapat seekor ikan teratai perak kualitas terbaik, harganya sejuta, membuat orang hampir pingsan karena mahalnya. Lima juta saja tidak cukup, Mu Jue bahkan menambah dari uang pribadinya. Baru tahu mahalnya bahan makanan setelah belanja sendiri.
Mu Jue tidak tahu, Su Lingling selalu memilih bahan berkualitas tinggi dari bagian diskon. Selain itu, ia memilih bahan-bahan yang biasanya sulit diolah sehingga harganya lebih murah. Faktor lainnya, toko tempat mereka membeli berbeda, dan Zhang Shen memiliki kartu member yang memberikan diskon.
Saat Su Lingling melihat ikan itu, matanya langsung berbinar. Kebetulan ia baru saja mendapatkan resep ikan kukus, dan kini ada seekor ikan segar. Ikan ini pasti sangat mahal. Jelas, Mu Jue benar-benar mengeluarkan banyak uang demi mengambil hati atasan. Selama ini Su Lingling memilih membuat ikan bumbu merah karena daging ikan yang tidak terlalu segar bisa ditutupi dengan bumbu, sedangkan ikan kukus harus benar-benar menggunakan ikan segar.
Menu hari itu tidak banyak. Hanya ada sup tulang naga dan lobak, ikan kukus, daging bumbu merah, tumis sayuran hijau, dan mentimun geprek—lima hidangan. Untuk menjamu pemimpin penting hanya dengan lima hidangan, Su Lingling sendiri merasa takjub. Namun Mu Jue tetap perhatian, ia membeli minyak berkualitas satu jerigen, garam gunung salju, dan berbagai bumbu lain dalam jumlah banyak, sehingga masih banyak yang bisa dipakai Su Lingling sendiri. Ada juga buah merah menyala, yaitu cabai super, sangat cocok untuk memasak. Semua itu pasti sudah menghabiskan banyak uang.
Su Lingling berkata pada Mu Jue, "Lima hidangan, semua bahan sudah kau lihat, kau bisa meninggalkan seseorang untuk mengawasi aku, biar tahu aku tidak mengambil sedikit pun bagian dari bahan-bahan ini. Datanglah pukul enam tepat untuk makan."
"Bos Su bercanda saja, aku dan kaptenku benar-benar percaya padamu," jawab Li Zheng dengan senyum tulus. Ia memang tak khawatir, karena di tim mereka ada Ling Xiaoxiao yang sengaja ditinggal untuk mengawasi. Ia benar-benar yakin, makanya bicara seperti itu.
Ling Wei di sampingnya sangat serius memperhatikan Su Lingling mengolah bahan. Ia ingin belajar dari awal hingga akhir. Su Lingling menggulung lengannya, membersihkan ikan teratai perak, lalu mengambil pisau. Dengan mudah ia menghilangkan sisik ikan, lalu hanya perlu mengiris sedikit di permukaan, dan meletakkan ikan utuh di atas piring.
Ia membelah perut ikan untuk mengeluarkan isi dalam, hanya satu irisan di tubuh ikan, lalu mengolesi minyak untuk marinasi, kemudian, sesuai takaran, menambah anggur masak, garam halus, daun bawang, jahe, bawang putih, daun salam, dan rempah lainnya. Setelah semua siap, Su Lingling mulai merebus perlahan, menunggu hingga uap naik lalu menurunkan api menjadi sedang. Di dalam wajan, semua bumbu dimasukkan, lalu mulai mengukus. Proses kukus pun dimulai.
Sampai di tahap ini, ekspresi Ling Wei masih biasa saja, tidak ada perubahan berarti. Baginya, memasak adalah hal yang semua orang bisa lakukan. Selama tidak terlalu memikirkan rasa, asalkan punya tangan, bisa memasak. Apalagi ikan kukus, tidak ada teknik sulit yang harus dilakukan. Cukup marinasi ikan lalu kukus, tidak perlu keahlian khusus menggunakan pisau.
Tapi saat Su Lingling mulai mengolah cabai super dengan pisau dapur, situasi berubah. Ia mengarahkan pisau ke bagian bawah belakang cabai, lalu memutarnya sekali, kulit cabai terlepas sendiri seperti mengelupas, memanjang tanpa putus. Cabai yang sudah dikupas tampak halus dan bulat, sama sekali tidak memperlihatkan bekas irisan.
Melihat itu, Ling Wei menahan napas. Ia pernah mencoba mengolah cabai super, tahu betapa sulitnya mengupas cabai ini. Kulitnya adalah bagian paling tidak enak, bahkan sedikit beracun, merupakan perlindungan alami cabai tersebut. Namun bagian paling bergizi dan penuh energi justru terletak pada daging tipis di balik kulit itu.
Kebanyakan orang gagal mengolah bagian ini, tapi Su Lingling melakukannya dengan sangat sempurna. Setelah itu, ia meletakkan cabai di atas talenan, menekannya dengan tangan, dan pergelangan tangannya bergerak cepat. Dalam hitungan detik, cabai utuh itu berubah menjadi irisan tipis merata. Warnanya jernih berkilauan, seolah berpendar cahaya warna-warni.
Ling Wei menarik napas panjang, matanya bersinar penuh kekaguman. Apakah inilah yang disebut keahlian pisau tingkat tinggi? Seluruh proses hanya menggunakan satu pisau dapur, benar-benar luar biasa, membuat Ling Wei takjub tanpa kata.