Bab Empat: Mengganti Gaya Rambut
Kelompok Zhang Shen tidak hanya menghabiskan isi piring mereka sampai bersih, bahkan nasi dalam ember pun tandas tanpa sisa. Ketika lauk sudah habis, mereka mencampur nasi dengan kuah dan melahapnya. Piring-piring itu sampai dijilat hingga mengilap, bahkan lebih bersih daripada dicuci dengan sabun cuci piring.
Sungguh bukan salah mereka, sebab masakan ini benar-benar luar biasa lezat. Keterampilan memasaknya tiada duanya, seumur hidup mereka belum pernah mencicipi hidangan seenak ini.
Kini, di masa antar bintang, orang-orang lebih suka mengonsumsi suplemen nutrisi. Namun, rasa dari suplemen itu sungguh hambar, jika enak, tentu tidak lagi disebut suplemen nutrisi. Sementara paket makanan olahan, meski teksturnya lumayan, tetap saja kurang sehat dan serasa tanpa jiwa.
Lain halnya dengan masakan di restoran milik Su Lingling ini. Semua bahan segar, diolah di depan mata mereka, dan yang terpenting, rasanya sungguh luar biasa.
Beberapa orang bahkan diam-diam menyembunyikan satu kotak nasi bungkus ke dalam tas, berniat membawanya pulang untuk istri dan anak di rumah. Tak hanya satu dua orang yang melakukan ini; ada juga yang masih lajang tapi tinggal bersama keluarga, jadi mereka juga ingin membawakan lauk untuk keluarga secara diam-diam.
Tentu saja, mereka hanya membungkus lauk, tidak dengan nasi.
Su Lingling menyadari, ulasan baik yang masuk siang itu hanya belasan, bahkan beberapa orang yang sebelumnya pernah memberi ulasan baik, entah sistem tidak menghitung atau mereka memang tidak memberi ulasan kali ini. Namun, total ulasan baik sudah mencapai lima puluh, dan sistem tidak memberi hadiah apapun pada Su Lingling.
Su Lingling menduga, hadiah berikutnya mungkin baru akan didapat jika sudah mengumpulkan seratus ulasan baik. Hal ini semakin menguatkan tekad Su Lingling untuk terus menjual nasi kotak. Jika tidak, dari mana ia bisa mendapatkan ulasan baik sebanyak itu? Hanya dengan menjual nasi kotak, konsumen banyak, biaya rendah, dan ulasan pun melimpah.
Sistem baru akan memberinya lebih banyak hadiah. Yang paling penting, Su Lingling ingin lebih banyak orang bisa mencicipi masakannya.
Ketika Su Lingling selesai dengan segala kesibukannya, waktu sudah menjelang sore. Umumnya, penjualan nasi kotak memang ramai di waktu makan siang. Setelah kesibukan siang, Su Lingling pun merasa lelah.
Ia lalu memesan daging babi segar secara daring. Menurut ingatan pemilik tubuh sebelumnya, daging ini setara dengan daging babi asli. Harganya murah, daging tanpa lemak delapan koin per kilogram, sedangkan daging berlemak lima koin per kilogram.
Su Lingling yang usahanya masih kecil-kecilan tetap harus memperhitungkan harga. Daging seperti ini merupakan salah satu bahan makanan sehari-hari bagi setiap keluarga. Namun, di masa antar bintang ini, jenis daging semakin beragam. Ada daging burung api yang harganya seratus ribu koin bintang per kilogram, juga ada daging binatang buas bintang, yang termurah seribu koin per kilogram—semuanya sangat mahal.
Itu semua di luar jangkauan Su Lingling. Kini, seluruh hartanya, termasuk uang hasil penjualan tadi, hanya tersisa dua ribu koin. Sisanya telah ditipu oleh lelaki brengsek itu, yang kini bahkan sudah meninggalkan planet ini tanpa jejak.
Masa lalu tak perlu diingat, hari baru harus dijalani.
Su Lingling menatap bayangannya di cermin, wajah yang sangat segar, kulit putih bercahaya. Anehnya, raut wajah ini hampir sama dengan wajah Su Lingling yang dulu, hanya saja kini lebih kurus, mungkin karena pemilik sebelumnya terlalu lelah bekerja. Karena tubuh lebih kurus, penampilan malah jadi lebih menonjol. Yang paling penting, kulit putih yang bersinar menutupi segala kekurangan. Kulit yang sekarang bahkan lebih baik dari Su Lingling sebelumnya.
Memandang rambut panjangnya, Su Lingling memutuskan untuk berganti gaya rambut dan memulai lembaran baru. Terlebih, ia merasa kini penampilannya jauh lebih menarik, meski terlilit utang besar. Su Lingling masih ingat, adik Zhang Shen bahkan pernah hendak menyeretnya ke “Cahaya Bulan Bintang” untuk menebus utang!
Su Lingling tak menyangka, peradaban antar bintang yang sudah begitu maju justru dalam beberapa hal terasa semakin mundur. “Cahaya Bulan Bintang” itu semacam perpaduan antara rumah hiburan zaman kuno yang sah dan bar modern, seandainya di masyarakat Su Lingling yang dulu, penagihan utang dengan kekerasan jelas tak akan dibenarkan.
Namun, Su Lingling masih bersyukur, meski si brengsek itu berutang pada Grup Keuangan Longda. Jika sampai ke tangan rentenir ilegal, mungkin ia sudah kehilangan ginjalnya sebagai pelunasan.
Restoran milik Su Lingling adalah warisan keluarga. Meski letaknya agak terpencil, tetap berada di distrik dalam kota, cukup untuk menebus utang sebesar lima ratus ribu. Ibarat toko di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya; selama di area inti, meski terpencil tetap bernilai tinggi.
Su Lingling bergumam dalam hati, dengan kondisi sebaik ini, jelas sudah seperti nyonya kecil kaya raya, wajah cantik, masa harus memilih lelaki tidak berguna yang akhirnya menghabiskan seluruh harta keluarga?
Di dekat sana, Su Lingling mencari salon rambut lalu memotong rambutnya menjadi pendek. Ia teringat gaya rambut “keren” ala remaja tahun 90-an. Namun, secantik apapun wajah, tetap tak mampu menahan gaya rambut seperti itu. Ini juga demi keselamatannya sendiri; sebagai gadis sendirian, Zhang Shen yang tampaknya baik hati itu, siapa tahu punya niat lain?
Seperti wajah ganteng Ye Bo sekalipun, tetap saja gaya rambut merah menyala “Anak Iblis Merah” itu sulit diterima. Su Lingling tidak mewarnai rambutnya merah, melainkan memilih warna kuning.
“Lingling, kamu benar-benar mau potong rambut pendek? Rambutmu ini bergelombang alami, setelah dipotong bisa-bisa jadi seperti sarang ayam,” ujar Pak Quan, tukang cukur yang juga tetangga Su Lingling, tak tahan untuk tidak menasihati.
Menurut selera Pak Quan, ia tidak bisa menerima gaya rambut seperti itu; menurutnya sangat jelek, apalagi jika diwarnai kuning, mana enak dipandang?
“Pak Quan, potong saja. Aku memang ingin belajar dari pengalaman. Orang bijak berkata, tiga ribu helai rambut membawa seribu kegundahan, sekarang aku hanya ingin kegundahanku berkurang. Potong saja seperti laki-laki,” jawab Su Lingling.
Pak Quan menghela napas, berkata, “Lingling, kalau rumah warisan keluargamu sudah hilang, di tempat Pak Quan masih ada rumah murah yang bisa kau sewa, delapan ratus sebulan. Nanti kau bisa berjualan nasi kotak lagi di pinggir jalan, hidup pasti akan membaik.”
“Pak Quan, Zhang Shen sudah setuju menunda sebentar. Dia bilang aku boleh terus menjalankan restoran keluarga untuk sementara waktu.”
“Apa? Lingling, bagaimana mungkin kamu berani memanfaatkan Zhang Shen? Tak heran kau mau potong rambut pendek. Lingling, jangan-jangan kau kira dengan rambut pendek, Zhang Shen tidak akan bisa berbuat apa-apa padamu?” Pak Quan langsung terkejut.
“Pak Quan, bukannya Zhang Shen itu penagih utang dengan reputasi terbaik? Katanya tidak pernah mengambil organ orang, kan?” bisik Su Lingling pelan.
Alasan Su Lingling berani kembali, pertama karena ia mengira dunia ini serupa dengan masyarakat damai tempat asalnya, di mana semua orang setara dan ramah. Kedua, karena mantan kekasih brengseknya bilang Zhang Shen penagih utang paling baik dan ramah. Alasan terakhir, nama Zhang Shen itu terdengar sangat umum, seperti nama figuran, sama sekali tidak menimbulkan kesan mengerikan.
Su Lingling benar-benar tak pernah menduga nama Zhang Shen ternyata begitu terkenal.
“Lingling, sungguh aku tak menyangka kamu sampai tertipu lelaki tampan itu. Bertahun-tahun kau banting tulang hanya demi menghidupinya, hidupmu benar-benar kelam. Zhang Shen itu penagih utang paling kejam di Kota H kita. Dia tidak mengambil organ orang karena menganggap orang yang meminjam uang ke perusahaannya memang sudah bermasalah, jadi tidak akan mau mengambil organ mereka.
Kalau tidak bisa bayar utang, biasanya dia bertindak cepat dan tegas, langsung melempar orang ke Zona Binatang Buas, tak akan tersisa tulang belulang, tak mau buang waktu. Berlutut dan menangis di depannya pun tak ada gunanya.
Sebenarnya, toko milikmu sudah cukup untuk melunasi utang. Tapi kalau kamu masih menempati toko itu, berarti dia belum menerima pembayaran, dan bunga utangmu terus berjalan, semakin lama semakin menumpuk.
Nanti, kamu hanya bisa bekerja di ‘Cahaya Bulan Bintang’ milik Grup Longda. Di sana banyak pelanggan aneh, kalau sampai kau menyinggung mereka, nyawamu bisa melayang tanpa jejak…”