Bab 43
Setelah akhirnya ia selesai dengan kesibukan awal semester, pada suatu pagi Kamis, ia menerima telepon dari Hai Donglin.
Saat itu ia sedang duduk di kantor, pagi itu ia tidak ada jadwal mengajar, tetapi memanggil seorang mahasiswa ke ruangannya. Mahasiswa bernama Wei Zhang itu berasal dari jurusan lain, dan sudah dua kali membolos mata kuliah pilihannya. Padahal, selama semester ini, kelas itu baru berjalan dua kali. Karena itu, ia merasa perlu untuk berbicara dengannya secara serius.
Wei Zhang duduk dengan santai di seberangnya, sikapnya tidak terlalu sopan, mungkin karena guru di depannya ini lebih mirip mahasiswa daripada dosen.
“Wei Zhang, kenapa kamu…”
Nada dering telepon tiba-tiba berbunyi saat itu. Awalnya Chao Sheng ingin langsung menolaknya, tapi ketika melihat nama penelepon di layar, ia malah menekan tombol jawab.
“Halo?”
Wei Zhang melihat ekspresi Guru Jiang berubah ketika mendengar suara di seberang. Ia tak bisa menggambarkan perasaan itu, sangat lembut tapi ada sedikit rasa canggung, sangat berbeda dari kesan membosankan biasanya.
Entah apa yang dikatakan penelepon itu, yang jelas wajah Guru Jiang sedikit memerah. Pasti ini hanya perasaannya saja, tapi kenapa ia merasa gurunya sedang malu?
Saat itu, ia mendengar Guru Jiang berkata, “Baiklah, aku masih ada urusan, nanti kita bicara lagi.” Setelah itu, ia buru-buru menutup telepon.
“Ehem.” Chao Sheng meneguk air lalu berdeham, berusaha keras mengembalikan citra dosen galaknya, namun ia tak tahu kalau dua rona merah di pipinya begitu bandel, berputar-putar di depan mata Wei Zhang seperti dua gumpal permen kapas berwarna merah muda.
“Pak, Anda kepanasan?” Wei Zhang tiba-tiba ingin menggoda dosen muda ini. Kalau ia tidak salah tebak, tadi pasti telepon dari pacarnya. Tak disangka, sudah hampir tiga puluh tahun, masih juga polos begitu.
Chao Sheng sempat tak mengerti, hanya melongo dan mengucapkan, “Hah?”
Wei Zhang melanjutkan, “Memang, ruangan kantor Anda panas sekali, boros energi.”
Apa-apaan ini? Chao Sheng semula mengira mahasiswa itu hanya mengalihkan topik, maka ia berkata dengan tegas, “Wei, tentang masalah kamu membolos…”
“Tak perlu dijelaskan lagi,” Wei Zhang berdiri, mengenakan tas, dan berjalan ke pintu sambil berkata, “Dua minggu ini ada urusan keluarga, kalau perlu saya akan minta surat izin ke dosen pembimbing. Mulai sekarang saya tidak akan bolos lagi.”
Guru ini ternyata cukup menarik juga, mungkin kuliahnya tak sebosan yang dibayangkan, coba saja dengarkan nanti.
“Hoi, kau…” Chao Sheng memanggil dari belakang, tapi yang ia lihat hanya punggung jangkung mahasiswa itu.
Ia duduk lesu di kursi, dalam hati menggerutu pada Hai Donglin—kenapa harus menelpon di saat seperti ini, bahkan bilang kangen segala, akibatnya ia jadi malu di depan mahasiswa.
Tapi besok dia akan pulang, sudah berapa lama ia pergi? Sepuluh hari? Dua minggu? Kenapa rasanya pria itu seperti tak pernah pergi?
Namun, begitu teringat bahwa ia akan segera pulang, di hati Chao Sheng timbul secercah kebahagiaan yang bahkan tak ia sadari sendiri. Perasaan samar itu tersembunyi di alam bawah sadarnya, tapi memengaruhi perilakunya seharian penuh, membuat suasana hatinya ceria, bahkan saat berjalan ia bersenandung lagu sumbang.
Pagi Sabtu, Jiang Chaosheng berdiri di dalam bus kota 53 yang menuju timur kota, mengenakan jaket bulu hitam dan celana jeans biru, tas selempang berisi perlengkapan kerjanya.
Pemandangan ini amat mirip dengan hari saat ia pertama kali bertemu Hai Donglin beberapa bulan lalu, bahkan pakaian yang ia kenakan tidak berubah. Tapi jika waktu itu ia datang murni untuk urusan pekerjaan, kali ini suasana hatinya begitu santai dan penuh harapan, seperti hendak bertemu sahabat lama.
Ia menolak tawaran Hai Donglin untuk dijemput. Ia tidak ingin melihat mobil mewah itu parkir di depan asrama. Lagipula, karena ia datang untuk melayani Hai Donglin, maka hubungan mereka hari ini harus tetap seperti pegawai dan majikan.
Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya ia berdiri di depan Lingshanwu, tempat yang sudah lama tak ia kunjungi. Ia memandang rumah tempat ia pernah tinggal seminggu, teringat masa sulit setelah keluarganya tertimpa musibah. Kalau bukan karena bantuan Hai Donglin, ia dan adiknya tak tahu bagaimana bisa bertahan.
Sayang dirinya bukan orang hebat, hanya bisa membalas sebisanya dengan membuat tubuh pria itu rileks sebagai balas jasa.
Ia melangkah masuk, baru hendak menekan bel, tapi mendapati pintu sudah terbuka.
“Chao Sheng? Masuk saja.”
Suara Hai Donglin terdengar. Chao Sheng mengganti sepatunya dan masuk, melihat pria itu sedang duduk di sofa membaca koran, di sampingnya berdiri Chen Bo, kepala pelayan yang pernah ia temui.
“Chen Bo, Tuan Hai,” ia menyapa keduanya.
Chen Bo membalas, “Tuan Jiang,” lalu meminta pelayan menghidangkan teh.
Setengah bulan tak bertemu, pria itu masih saja memesona, parasnya seputih giok dihiasi senyum tipis. Chao Sheng bahkan bisa merasakan kebahagiaan yang terpancar dari balik kacamata pria itu—seperti kekasih yang telah lama berpisah dan kini bertemu kembali.
Sejak mengetahui perasaan Hai Donglin, ia makin dapat menebak isi hati pria itu. Namun, kemampuan ini justru membuatnya merasa bersalah.
Hai Donglin menatapnya dari ujung kepala hingga kaki, lalu menggoda, “Minum teh dulu, lalu ganti baju ke atas, ya.”
Mendengar itu, Chao Sheng langsung teringat kejadian pertama kali datang ke sini. Kalau saja Chen Bo tidak cepat datang, pasti dirinya sudah…
Chao Sheng menenggak teh earl grey di depannya hingga habis, lalu naik ke atas dengan kesal.
Hai Donglin mengingatkannya dari belakang, “Jangan lupa tutup pintu kali ini.”
Langkah Chao Sheng sempat terhenti, lalu ia menaiki tangga dengan suara keras.
Setelah berganti pakaian dan turun ke bawah, seorang pelayan memberitahu bahwa Hai Donglin berada di ruang pijat seperti dulu. Ia menelusuri rumah itu dengan ingatan, menemukan pria itu sudah mengenakan jubah tidur, duduk menghadap pintu di sofa, di dalam ruangan yang dipenuhi aroma harum, membuat suasana seperti negeri dongeng.
Hai Donglin kembali menatap Chao Sheng, penampilan segar itu sudah ia simpan lama dalam ingatan, hari ini akhirnya bisa ia nikmati lagi.
“Kamu sangat cocok dengan pakaian itu.”
Kulit yang tadinya kecoklatan karena main basket selama musim panas, kini seputih susu setelah musim dingin. Leher dan lengan Chao Sheng yang putih terekspos udara, dipadukan dengan pakaian kerja berwarna hijau, tampak begitu segar.
Chao Sheng menerima pujian itu, “Terima kasih, ayahku lebih tampan saat mengenakan ini.”
“…” Hai Donglin sempat terdiam karena jawaban tajam itu, lalu berdiri dan melepas jubah tidurnya, memperlihatkan tubuh kekar yang berotot.
Gerakan itu sama sekali tanpa peringatan, tubuh penuh pesona maskulin itu terbuka di depan mata Chao Sheng, dada bidang dengan delapan otot perut berjajar rapi, garis tubuh yang dalam menghilang di balik celana dalam, membangkitkan imajinasi tak terhingga.
—Ini jelas-jelas pamer! Pamer secara terang-terangan!
Chao Sheng merasa tubuhnya tidak buruk, tapi tetap terlihat lebih kurus dibanding pria di depannya, apalagi jika dibandingkan dengan bagian tertentu itu. Gambar-gambar di kamar mandi waktu itu masih sering membayangi pikirannya, memang ada ketidakadilan di dunia ini. Coba lihat orang ini: keluarga kaya, pendidikan tinggi, tampan, berwibawa, tubuh bagus, dan yang paling membuat kesal, di atas semua kelebihan itu, ternyata… bagian bawahnya juga luar biasa besar!
Bagaimana orang lain bisa hidup dengan tenang!
Chao Sheng meletakkan minyak pijat di rak, menunjuk ranjang pijat dan berkata pada Hai Donglin, “Telungkup.”
Namun, Hai Donglin tidak mengikuti perintah, malah berjalan mendekatinya, jarak mereka begitu dekat, dan pria itu hampir telanjang. Chao Sheng merasakan bahaya, ia mundur selangkah.
“Mau… mau apa?”
“Ada yang pernah bilang kamu mirip binatang?”
“Apa maksudmu?”
“Ikan buntal.”
Saat tenang tampak jinak, tapi ketika terganggu langsung menggembung, seperti bola berduri, bahkan bibirnya pun mengerucut.
Chao Sheng menarik napas panjang, menahan amarah, lalu balik bertanya, “Ada yang bilang kamu mirip binatang?”
“Hm?”
“Kuda pejantan!” Dan memang khusus untuk mengawini kuda betina.
Hai Donglin tertawa, Chao Sheng kini semakin berani di depannya, tak lagi kaku seperti dulu, ini pertanda baik.
Meski saling bercanda, begitu Chao Sheng masuk ke peran terapis, ia berubah sangat serius. Ia menuangkan minyak pijat ke telapak tangan, lalu mengoleskan rata di punggung Hai Donglin. Aromanya kali ini berbeda dari sebelumnya.
“Sepertinya bukan minyak yang sama seperti terakhir?”
Chao Sheng tetap bekerja tanpa henti, menjawab, “Benar, kamu baru pulang dari luar negeri, naik pesawat cukup lama, jadi aku tambahkan minyak khusus untuk meredakan otot. Selain itu, kamu terlalu banyak minum alkohol dan kopi, jadi aku tambah sedikit minyak Magnolia.”
Perhatian seperti ini terasa asing bagi Hai Donglin. Selama tiga puluh lima tahun hidupnya, belum pernah ada yang begitu memperhatikan detail kesehatannya, baik almarhum ibunya maupun ayahnya. Meski baru pertama kali, rasanya sangat menyenangkan. Chao Sheng yang sibuk di punggungnya seperti matahari kecil yang hangat, terus-menerus mencairkan hati beku Hai Donglin.
Jari-jarinya cekatan dan kuat, menekan titik-titik penting di punggung, kadang membentuk kepalan, kadang menegakkan telapak tangan, mengusap dan mengurut, melepas ketegangan otot, lalu memberi pijatan khusus di beberapa titik vital.
Baru setengah jalan, Hai Donglin sudah merasa tubuhnya jauh lebih ringan. Chao Sheng memintanya berbalik, bersiap ke tahap selanjutnya, tapi Hai Donglin justru berbaring miring menatapnya.
Chao Sheng jarang melihatnya tanpa kacamata. Jujur saja, tanpa kacamata, Hai Donglin tampak lebih muda, namun tatapannya kini jauh lebih gamblang.
“Balik badan.”
Ia menepuk punggungnya, menyuruh agar tidak mengganggu pekerjaannya, tapi tiba-tiba tangannya digenggam erat, tubuhnya turut ditarik hingga ia terjatuh.
Chao Sheng terpekik, lalu semuanya jungkir balik, posisinya kini di bawah, tertekan oleh Hai Donglin.
“Kamu…”
“Chao Sheng, janji satu hal padaku.”
Ekspresi Hai Donglin mendadak serius, seolah bukan bermaksud menggoda. Chao Sheng pun menenangkan diri, lalu berkata, “Katakan saja, asal aku sanggup.”
Hai Donglin menunduk, menyembunyikan wajah di lekuk bahunya, berkata pelan, “Janji, mulai sekarang hanya lakukan ini untukku seorang.”
“Mana bisa… ah—”
Entah kesal karena tak mendapat jawaban, Hai Donglin menggigit tulang selangkanya, membuat Chao Sheng mendorong kepalanya keras-keras, “Sakit! Kamu ini keturunan anjing, ya!”
Hai Donglin menindihnya, senyumnya membuat bulu kuduk berdiri, “Jangan buat aku marah. Kalau aku tahu kamu menggunakan tangan ini untuk orang lain lagi, akan kupreteli kulit mereka satu-satu.”
Penulis ingin mengatakan: Semua karakter sampingan yang pernah muncul nanti akan punya cerita sendiri, jadi jangan bosan ya~ Bab berikutnya akan ada satu tokoh lama muncul lagi~
Belakangan banyak pembaca yang mendesakku agar Chao Sheng segera putus dengan Ren Jiawen. Kalau kubilang dalam sepuluh bab ke depan bukan hanya putus, tapi Chao Sheng juga akan “dimakan” oleh Tuan Hai, kalian bisa tenang tidak~~~~ Oh ya, cara mereka putus agak aneh, jadi nanti kalau aku kasih bonus adegan panas, jangan marah ya, minimal jangan terlalu keras… jangan kena muka~~~~
PS: Mulai hari ini update setiap pagi jam delapan~