Bab 29
“Ada apa? Wajahmu tampak tidak baik.”
Chao Sheng mencoba tersenyum, walau terlihat dipaksakan. “Ada minuman keras tidak?”
Hai Donglin mengernyitkan dahi. Ia tidak setuju Chao Sheng melarikan diri dalam alkohol. Ia punya banyak cara untuk membuat Chao Sheng bahagia, dan ia merasa Chao Sheng memang layak mendapatkannya.
“Kalau tidak ada, ya sudahlah...” Chao Sheng mendongak, bersandar di sandaran sofa, menatap lampu gantung di ruang tamu dengan tatapan kosong, dan berkata dengan nada menyesal.
Tanpa sepatah kata, Hai Donglin masuk ke kamar untuk berganti pakaian santai, lalu naik ke atas. Tak lama kemudian, ia kembali dengan dua gelas dan sebotol minuman keras di tangan.
Ia meletakkan botol itu di atas meja dan menuang setengah gelas untuk masing-masing, kemudian teringat betapa buruknya daya tahan Chao Sheng terhadap alkohol. Ia lalu mengambil es batu dari kulkas—sebelum Chao Sheng datang, itu satu-satunya hal yang bisa dimakan di rumahnya.
Ia duduk di lantai, bersender dekat Chao Sheng yang masih di sofa. Di bawahnya ada karpet wol tebal, dan lantai hangat, sehingga tidak terasa dingin.
Chao Sheng menerima gelas itu, menempelkan gelasnya pada milik Hai Donglin, lalu meneguknya habis. Saat Hai Donglin hendak merebut gelas dari tangannya, sudah terlambat.
“Uhuk... uhuk...”
Alkohol yang masuk ke tenggorokan membuat Chao Sheng tersedak. Hai Donglin terpaksa menepuk-nepuk punggungnya. “Minuman keras tidak diminum seperti itu.”
Tulisan di botol semuanya bahasa asing yang tak dikenali Chao Sheng. Ia memang tidak paham dan tidak suka minuman keras, tapi ia tahu apa pun yang dikeluarkan Hai Donglin pasti mahal. Sayangnya, ia tak mampu menikmati barang sebagus itu.
“Minuman ini terasa kuat, tapi sebenarnya rasanya lembut di akhir, tidak membuat mabuk, lebih cocok untukmu.”
“Benarkah... uhuk... terima kasih...”
Hai Donglin menuangkan setengah gelas lagi, tapi tidak langsung memberikannya. Ia mengangkat gelas berisi cairan jingga ke depan Chao Sheng sambil berkata, “Kalau kau berani minum seperti tadi lagi, aku akan menuangkan isi botol ini ke mulutmu langsung.”
Chao Sheng terkekeh. “Tuan Hai, apa sulit sekali tidak jadi genit?”
“Itu karena aku tidak pernah berhasil.”
Chao Sheng menyesap sedikit demi sedikit, membiarkan cairan itu meresap ke setiap sudut mulutnya. Benar seperti kata Hai Donglin, ketika diminum terasa segar, namun setelahnya terasa lembut dan harum. Bahkan seseorang yang tidak menyukai minuman keras seperti dirinya pun terpesona oleh rasa akhirnya.
Keduanya duduk diam, tanpa berbicara. Chao Sheng bertanya-tanya kenapa ia bisa pulang ke tempat ini. Padahal ia punya banyak tempat lain yang bisa ia tuju, seperti rumah pamannya atau bahkan asrama kampus. Namun entah kenapa, ia justru datang ke sini. Ketika ia sadar, ia sudah duduk di lantai rumah ini.
Menurutnya, Hai Donglin adalah orang yang aneh. Kadang ia kejam membongkar luka Chao Sheng, membuat Chao Sheng merasa perih luar biasa. Tapi kadang ia hanya diam, mendengarkan tanpa bertanya, menemani Chao Sheng melewati waktu—seperti sekarang. Namun, entah yang mana pun, pada akhirnya selalu membuat perasaan Chao Sheng cepat kembali tenang, seperti sediakala.
Mungkin karena itu, tanpa sadar ia datang ke sini. Di sini, ia tidak perlu menghadapi siapa pun, tapi juga tidak merasa kesepian.
Tiba-tiba Hai Donglin berkata, “Kenapa tidak memilih hidup yang lebih mudah?”
Satu-satunya kekurangan orang ini adalah pikirannya yang terlalu cabul dan tidak berusaha menutupinya. Chao Sheng memutuskan menarik kembali pujian yang sempat ia berikan, lalu menjawab ketus, “Apa maksudmu aku harus jadi simpananmu? Terima kasih saja.”
“Bukan, maksudku, kau bisa hidup mandiri, lalu memilih seseorang yang punya kualitas sama denganmu, berjuang dan membangun hidup bersama. Dengan begitu kau akan lebih bahagia dan lebih mudah.”
Chao Sheng merasa ada yang tidak beres. Ia akhirnya menoleh dan memandang Hai Donglin. “Sepertinya kau tahu banyak, ya?”
“Hanya menebak.”
“Oh.” Chao Sheng percaya, ekspresi lawan bicaranya begitu tenang, tak ada cela.
Karena minum terlalu cepat di gelas pertama, alkohol mulai bekerja pelan-pelan, berusaha menaklukkan kesadaran Chao Sheng yang semakin kabur. Namun ia tidak berhenti, justru terus menyesap sedikit demi sedikit, semakin kecanduan, enggan melepaskan gelas dari tangannya.
“Hai Dong... Tuan Hai, mungkin kau benar, tapi melakukannya tidak semudah itu. Hanya orang-orang seperti kalian yang bisa hidup sesuka hati. Aku? Hanya bisa berusaha hidup sedikit lebih baik, tapi seringnya, aku bahkan tak punya hak untuk memilih.”
Masih sempat memanggil dengan sopan, berarti belum mabuk. Hai Donglin tiba-tiba merindukan tingkah Chao Sheng saat benar-benar mabuk—saat itu ia berani berkata apa saja, tidak seperti sekarang yang penuh keraguan.
“Aku tidak berbeda denganmu. Tak ada seorang pun di dunia ini yang bisa hidup sesuka hatinya.”
Chao Sheng mulai mabuk, matanya setengah terpejam menatap Hai Donglin. Ia baru sadar betapa dekatnya jarak mereka. Jika biasanya, ia pasti sudah waspada, tapi hari ini ia merasa tak masalah. Mereka seperti sahabat biasa, duduk bersama minum dan bicara. Entah tulus atau tidak, ucapan Hai Donglin sedikit menenangkannya.
“Kau pernah jatuh cinta?”
Tak menyangka pertanyaan itu muncul, kini giliran Hai Donglin yang heran. Ia berpikir sejenak, lalu berkata ragu, “Mungkin... pernah?”
Chao Sheng tertawa. “Apa maksudmu mungkin pernah?”
“Karena aku tak yakin apakah itu cinta.” Namun sekarang, ia sangat yakin, hanya saja orang yang dimaksud masih tak menyadarinya.
“Hai Donglin, jadi kau tertarik padaku hanya ingin tidur denganku saja?”
Jantung Hai Donglin berdegup kencang. Ia menatap wajah Chao Sheng yang memerah, matanya berkabut, seperti menatap dirinya, atau mungkin kosong.
—Kali ini benar-benar mabuk.
Belum sempat ia menjawab, Chao Sheng melanjutkan sendiri, “Kalian orang kaya selalu menganggap hal seperti itu sepele, tapi aku tidak, dan Ren Jiawen juga tidak. Dia bilang, hal itu sebaiknya dilakukan pada malam pengantin. Kau tahu tidak, waktu mendengar ia berkata seperti itu aku merasa sangat beruntung, bisa menemukan perempuan sebaik itu...”
Kepalanya makin berat, tubuhnya terayun-ayun di pundaknya. Hai Donglin menariknya ke pelukannya, membiarkan kepala Chao Sheng bersandar di bahunya. Jika biasanya, orang ini pasti sudah memberontak, tapi sekarang ia begitu penurut, terus-menerus mengeluh di bahu Hai Donglin.
“Aku menghormatinya, jadi selama bertahun-tahun kami pacaran, aku tidak pernah berani menyentuhnya...”
Bagi Hai Donglin, itu kabar baik. Ia memeluk Chao Sheng dengan satu tangan, tangan lain memegang gelas, tersenyum penuh tipu muslihat.
“Aku kira kami akan menikah, lalu punya anak. Aku suka anak perempuan, dia suka anak laki-laki, jadi punya dua anak saja. Kami berempat akan hidup bahagia. Tapi... tapi, aku pakai apa untuk menikahinya? Pakai apa? Hai Donglin, sialan, kalian orang kaya, tahu tidak betapa susahnya lelaki miskin menikah?”
Chao Sheng masih saja mengeluhkan nasib, seolah ingin mencurahkan semua perasaannya yang selama ini tertahan, tak peduli lawan bicara ingin mendengarkan atau tidak.
“Aku mencintainya, dia cinta pertamaku. Kalau dia mau, nyawaku pun akan kuberikan. Tapi nyawaku ini gunanya apa? Tak ada harganya! Tak punya rumah, tak punya mobil, tak punya uang, orang tuanya mana mungkin suka padaku! Hidupku benar-benar payah!”
Senyum Hai Donglin perlahan menghilang. Mendengar kata-kata “nyawaku untuknya”, wajahnya mendadak muram. Ia memutuskan tidak lagi menuruti kemauan si pemabuk di pelukannya. Ia menunduk, mengangkat dagu Chao Sheng, lalu menciumnya, membungkam segala keluh kesahnya.
“Mm...”
Dalam benak Chao Sheng yang sudah kabur, ia tak bisa membedakan apa yang sedang terjadi. Ia hanya tahu mulutnya dibungkam, tak bisa bicara lagi. Ini tidak boleh, ia masih banyak yang ingin diungkapkan, dadanya terasa sesak, harus dikeluarkan.
Lidah lawannya sudah menerobos masuk, mengaduk-aduk dalam mulutnya, menandai wilayah kekuasaannya. Lidah Chao Sheng yang malang tak bisa lari, dipaksa bertaut dan terjerat dalam cengkeraman lawan.
Chao Sheng dikelilingi aroma Hai Donglin. Kepalanya dipegang erat, tubuhnya pun dipeluk begitu kuat, bibirnya memerah karena ciuman yang begitu buas. Ia belum pernah mengalami ciuman seintens itu, seolah-olah jiwanya ikut tersedot, otaknya makin kacau karena kekurangan oksigen, tak mampu berpikir lagi.
Begitu Hai Donglin merasa pria di pelukannya sudah tak memberi respon, ia baru sadar bahwa Chao Sheng ternyata tertidur begitu saja. Ia jadi bingung sendiri, suasana hatinya yang semula bagus kini rusak begitu saja. Namun, ia tetap harus mengurus penyebabnya.
“Benar-benar tidak ada harapan.” Ia mencubit pipi Chao Sheng yang mulus dan kemerahan, lalu pasrah menggendong “tamu kehormatan” itu ke ranjangnya.
Saat melewati ruang tamu, Chao Sheng sempat mengangkat tangan dan menepuk wajahnya, sambil bergumam, “Minum...” Kesadarannya sudah nyaris hilang, tapi urusan minuman keras masih terus ia ingat, benar-benar calon pemabuk sejati.
Tangan Chao Sheng tidak selembut tangan perempuan, ruas-ruasnya jelas, panjang dan kuat, namun karena bertahun-tahun terendam minyak obat, jadi sangat licin. Saat menepuk wajah, rasanya seperti menyentuh sutra terbaik.
Ia membukakan selimut, membiarkan Chao Sheng berbaring, lalu membantu melepas pakaian dan celananya. Sepanjang hidup, Hai Donglin belum pernah diperlakukan seperti ini—bukan hanya harus menahan hinaan dan keluhan seorang pemabuk, ia juga harus membopongnya ke ranjang, memastikan ia tidur dengan nyaman.
Namun, si pemabuk benar-benar tidak kooperatif. Setiap kali lepas satu pakaian, selalu ada gumaman tak jelas, tangan dan kaki bergerak sembarangan, beberapa kali mengenai tubuh Hai Donglin.
Setelah akhirnya hanya menyisakan celana dalam, keringat pun membasahi dahi Hai Donglin. Biasanya, melihat pemandangan seperti ini, ia pasti akan mengambil keuntungan, tapi sekarang ia hanya ingin menindih Chao Sheng dan memberinya hukuman.
“Dapat masalah dari perempuan, datang ke sini untuk berbuat seenaknya. Bukankah karena kau tahu aku memanjakanmu...”
Ia mengecup kening si pemabuk, lalu menyelimuti Chao Sheng dengan rapat. Setelah mematikan lampu, ia sendiri ikut berbaring di sampingnya.
――――――――――――――――――――――――――――――――――――――
Saat Chao Sheng terbangun, pemandangan asing menyapa matanya, membuat otaknya langsung blank beberapa detik.
“Sss—”
Sakit kepala akibat mabuk menyeretnya kembali ke dunia nyata. Sambil memegangi kepala yang terasa berat dan nyeri, ia memandang sekeliling, menyadari bahwa ini adalah kamar Hai Donglin.
—Kenapa aku bisa ada di sini?
Ia berusaha mengingat kejadian semalam. Setelah keluar dari rumah Ren Jiawen, entah bagaimana ia sampai di sini. Lalu Hai Donglin... dan minuman keras...
Ingatan terakhirnya berhenti pada sebotol minuman keras istimewa yang konon bernama gin, lalu kosong. Saat terbangun, ia hanya mengenakan celana dalam dan sudah berada di ranjang Hai Donglin...
Tunggu... di ranjang... Hai Donglin... di ranjangnya!!!
Penjelasan penulis: ranjang = tempat tidur
Kemarin sempat tidak update satu hari, maaf...