Bab 30
Tiba-tiba, seperti disambar petir, Chaosheng langsung terjaga. Ia melompat dari dipan, memeriksa tubuhnya dengan cemas dari ujung kepala hingga kaki. Setelah memastikan tak ada satu pun jejak orang lain di tubuhnya, barulah ia merasa lega. Sebenarnya, itu pun belum sepenuhnya tepat—setidaknya aroma samar asap rokok yang mengambang di sekitarnya jelas bukan miliknya sendiri.
“Mungkin menempel waktu minum tadi malam,” pikir Chaosheng sambil turun dari dipan dan menuju kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, ia keluar dengan rapi. Meski masih tampak lelah, wajahnya sudah jauh lebih segar daripada sebelumnya.
Begitu keluar dari kamar tidur Haidong Lin, Chaosheng langsung mencium aroma makanan. Ia mengikuti bau itu ke ruang makan yang terhubung dengan dapur. Di atas meja, ada bubur dan bakpao dalam kotak penghangat, juga dua piring kecil acar asin, di sampingnya terselip sebuah catatan.
“Kalau sudah bangun, panaskan sarapan dan makanlah. Malam ini aku tidak pulang, jadi sesuka hatimu saja.”
Chaosheng sulit membayangkan seseorang seperti Haidong Lin ternyata bisa begitu perhatian dan teliti. Sampai-sampai ia merasa sedikit tersanjung. Ia tak ingat kejadian malam tadi, tapi perasaan sesak yang seperti batu besar menekan dadanya sudah jauh berkurang. Setidaknya, saat mengingat kembali kejadian di rumah Ren Jiawen, rasa sakit itu tak lagi begitu menyesakkan.
Terkadang Haidong Lin tampak dingin, kadang menggoda, namun lebih sering bersikap misterius hingga Chaosheng tak pernah benar-benar memahami wataknya. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa justru sikap inilah yang membuat seseorang merasa nyaman di dekatnya—seperti teman lama yang memahami diri tanpa perlu kata-kata.
Bagi Chaosheng, perasaan semacam ini asing. Lebih dari sekadar teman, tapi juga bukan seperti saudara laki-laki. Selama dua puluh tujuh tahun hidupnya, tak pernah ada orang yang menjalin hubungan dengannya dengan cara seperti ini. Namun, ia tidak keberatan. Bahkan, setelah merasakan penghormatan dari Haidong Lin, ia sudah menempatkannya dalam kategori “tidak berbahaya”.
Itulah pertemuan terakhir Chaosheng dengan Haidong Lin di tahun 2010. Alkohol menghapus seluruh ingatannya tentang malam itu, namun benih-benih yang tersembunyi telah tumbuh di hatinya tanpa ia sadari.
Hari itu, Chaosheng kembali ke rumah. Beberapa hari lagi malam tahun baru, dan ia harus menyiapkan makan malam untuk seluruh keluarga. Sementara Haidong Lin pun sibuk dengan urusannya sendiri, ia mengizinkan Chaosheng cuti dan memintanya kembali bekerja setelah tahun baru.
Jiang Wantong juga mendapat libur hampir bersamaan, tapi ia belum pulang ke rumah. Suasana rumah yang ramai oleh tamu-tamu membuatnya sulit berkonsentrasi belajar, jadi ia memilih tetap di asrama hingga beberapa hari menjelang tahun baru baru pulang.
Baru saja Jiang Wantong masuk rumah, Chaosheng sudah mendengar suara lantang dari luar—
“Chaosheng! Chaosheng!”
Suaranya begitu keras, seolah kaca jendela akan pecah. Di jalan ini, hanya ada satu orang yang punya suara “mematikan” seperti itu.
“Jia Yanko! Yanko!”
Chaosheng bergegas keluar dan langsung melihat Jia Yanko yang tingginya hampir sama, berdiri di pintu sambil tersenyum jahil.
“Kapan pulang?” tanya Chaosheng riang.
“Bukankah kau suruh kakekku bilang, kalau sudah sampai langsung cari kau? Nih, aku baru taruh tas langsung ke sini. Gimana, aku cukup setia kan?” katanya sambil mengedipkan mata.
Chaosheng tak tergoda, “Lihat saja, kau sudah pergi bertahun-tahun, jarang nelpon. Kalau tak pulang-pulang juga, aku pasti sangka kau diculik jadi suami kepala perampok perempuan.”
Mata Jia Yanko berputar, membayangkan sosok perempuan perampok bertubuh montok, lalu meninju dada Chaosheng pelan, “Mana ada perampok perempuan, paling juga ketemu siluman perempuan. Sudahlah, ada waktu nggak? Keluar minum yuk.”
Chaosheng menangkis dengan bahunya, “Warung makan di ujung jalan masih buka, cuma itu yang masih jualan. Kau paling suka daging sapi rebus di sana, kan?”
“Kau ini pelit banget. Aku susah-susah pulang, cuma ditraktir makan itu?”
Chaosheng merangkul bahunya sambil menariknya pergi, sama sekali tak merasa aneh. Mereka pun berjalan ke ujung jalan sambil tertawa. Tapi kepala Jia Yanko terus menoleh ke belakang, seolah mencari seseorang.
Chaosheng menepuk kepalanya, “Sudah, jangan cari-cari lagi. Tongtong sudah masuk rumah, mungkin lagi beres-beres. Kalau mau ketemu, nanti malam saja.”
Ucapan itu membuat wajah Jia Yanko memerah, kulit hitamnya malah makin berkilau. Ia sudah menyukai Jiang Wantong selama bertahun-tahun, tentu tak lepas dari perhatian kakaknya. Namun, waktu ia pergi merantau, Wantong masih kecil. Kini sudah dewasa, hubungan mereka malah makin jauh, apalagi jalan hidup mereka berbeda, jadi sampai sekarang pun Jia Yanko tak pernah berani mengungkapkan perasaannya.
Chaosheng sendiri setuju jika Jia Yanko jadi adik iparnya, bahkan pernah membocorkan sedikit pada adiknya. Tapi Wantong terlalu fokus belajar, menolak pacaran, dan Chaosheng pun menyampaikan hal itu bulat-bulat pada Jia Yanko, yang akhirnya hanya bisa meratapi nasib.
Mereka duduk di pojok warung. Sebentar lagi tahun baru, tapi warung itu justru makin ramai, mungkin karena toko lain sudah tutup. Mereka memesan beberapa lauk dan bir, lalu bersulang.
“Pelan-pelan minumnya, kau kan nggak kuat alkohol, nanti kalau mabuk, aku juga yang harus gendong pulang.”
Chaosheng memasukkan kacang ke mulut, tak peduli, “Sudah lama berteman, masa gendong 20 meter saja nggak mau? Begini caramu mau dekati adikku?”
“Jangan terus-terusan bahas itu, pokoknya kau pasti jadi kakak iparku!”
Chaosheng tertawa keras. Jia Yanko memang tampan, hanya saja kulitnya gelap. Ia sering menyebut dirinya “tampan gelap”, dan anehnya, Jia Yanko suka sekali mengendarai mobil putih, sampai-sampai Chaosheng pernah bercanda dia adalah versi “pangeran berkuda putih dari Afrika”.
“Ngomong-ngomong, Tongtong semester depan ke luar negeri, kau gimana?”
Soal ini sudah ia beritahu Jia Yanko sejak enam bulan lalu, dan kini ia ingin tahu pendapatnya.
Tangan Jia Yanko yang hendak mengambil daging sapi terhenti sejenak, lalu ia mengambil sepotong dan memasukkannya ke mulut, “Gimana lagi, ya ditunggu lah. Cuma dua tahun, kan?”
“Kau nggak takut dia dapat pacar di Amerika?”
“Takut kenapa? Kalau dia dapat yang lain, berarti memang bukan jodohku, aku terima. Tapi kalau tidak, berarti memang untukku. Nanti kau siap-siap serahkan adikmu, ya!” katanya sambil berpose seperti menggendong pengantin.
Chaosheng tertawa dan mengangkat gelasnya, “Sudah, dengan ucapanmu itu, aku bakal jagain Tongtong, tak biarkan sembarang orang mendekatinya! Apalagi si rambut kuning itu!”
Sejak kecil, Jia Yanko memang suka menggoda Wantong, dan gara-gara itu, ia sering ribut dengan Chaosheng. Tapi setelah agak besar, Jia Yanko bukan lagi si penggoda nakal, melainkan pelindung Wantong. Siapa pun yang berani menyentuh Jiang Wantong pasti akan dipukuli habis-habisan. Awalnya Chaosheng tak pernah curiga, mengira mereka hanya seperti saudara. Apalagi waktu itu Wantong masih SMA, sementara Jia Yanko sudah mulai bekerja, jarang sekali pulang.
Sampai suatu hari sebelum pergi merantau, Jia Yanko baru berani jujur, membuat Chaosheng terkejut. Walaupun kadang Jia Yanko tampak tak bisa diandalkan, dan tak berpendidikan tinggi, ia sangat setia kawan, tahu batas, dan perasaannya pada Wantong sudah bertahun-tahun tak berubah. Di hati Chaosheng, ia sudah menganggap Jia Yanko sebagai calon adik ipar.
Obrolan pun beralih ke hal lain. Jia Yanko pulang kali ini memang berniat menetap. Bertahun-tahun ia merantau, sudah mengumpulkan sedikit tabungan, dan ingin buka usaha di kampung halaman. Kakeknya sudah tua, selalu merindukan cucunya, orang tuanya pun ingin ia cepat menikah dan hidup tenang di dekat mereka.
“Aku mau buka usaha makanan, kenal seorang bos yang ngajarin banyak hal, kelihatannya menguntungkan. Tapi harus cari yang beda, yang unik.”
Chaosheng agak terkejut, “Makanan? Bukannya kau nggak punya pengalaman?”
“Waktu dulu mulai bisnis pun aku nggak punya pengalaman, kan? Takut apa? Kau kan jago masak, kasih aku ide dong.”
Chaosheng berpikir sejenak. Ia memang kurang paham soal bisnis makanan, jarang makan di luar, dan yang paling berkesan hanya restoran rumahan yang pernah didatangi bersama Haidong Lin.
Ia menggeleng, “Aku benar-benar nggak paham soal ini, takut malah menyesatkan. Lebih baik tanya orang yang berpengalaman, atau sering-sering survey ke restoran lain. Buka restoran itu hal besar, apalagi sebagai proyek pertamamu sepulang merantau. Pikirkan baik-baik.”
Jia Yanko mengangguk, lalu teringat sesuatu, “Dulu sup yang sering kau buat enak sekali. Aku sudah keliling ke mana-mana, belum pernah ketemu rasa seperti itu. Itu sup apa sih?”
“Itu pakai bahan obat tradisional, resepku sendiri, jadi rasanya agak unik. Biasanya disebut makanan sehat berbahan herbal.”
“Makanan sehat berbahan herbal….” Jia Yanko mengulang kata itu sambil mengerutkan dahi, lalu tiba-tiba menepuk meja dan berteriak, “Bagus, ini saja!”
Suaranya yang memang sudah keras makin menjadi-jadi ketika bersemangat, membuat semua orang di warung menoleh. Chaosheng buru-buru menenangkan, “Pelankan suara…”
“Tapi serius, ini ide bagus! Sekarang orang suka makanan sehat, masakanmu enak dan menyehatkan, pasti laku!”
Memang benar, sekarang dunia kuliner berkembang pesat, restoran dengan berbagai cita rasa ada di mana-mana, tanpa keunikan pasti susah bertahan. Namun, karena Chaosheng sendiri tak paham seluk-beluk bisnis makanan, ia tak ingin sembarangan menjerumuskan sahabatnya.
“Pikirkan lagi baik-baik. Walau aku bisa masak, aku nggak tahu pasarnya. Tapi kalau benar-benar mau buka ini, aku bantu buat resep. Masak mungkin aku kalah sama koki profesional, tapi soal pengobatan, aku bisa bantu.”
“Setuju!” Jia Yanko menepuk bahu Chaosheng dengan semangat, hampir saja Chaosheng terjungkal ke meja.
“Atau sekalian saja, kita kerjakan bareng. Kau setor keahlian, aku setor uang, langsung buka besar-besaran! Hahaha!”
“Kau pikir ini rampok bank apa…”
Chaosheng mengangkat gelas dan bersulang lagi dengannya. Bersama sahabat, waktu seakan berjalan lebih ringan dan cepat.
――――――――――――――――――――――――――――――――――
Keluar dari warung, mereka berpisah di depan rumah Jia Yanko. Chaosheng berjalan sendiri menuju rumah. Tak jauh dari situ, ada papan nama “Klinik Pijat Tradisional Keluarga Jiang”, lampunya sudah padam menandakan hari sudah malam.
Sepanjang jalan, ia terus memikirkan rencana Jia Yanko, makin lama makin merasa itu ide yang bagus. Tapi kalau benar-benar menjalankan, ia tak mungkin cuma setor keahlian tanpa modal seperti kata Jia Yanko—kalau harus keluar uang…
Uang itu seharusnya ia simpan sebagai tabungan menikah. Meski masih jauh dari cukup untuk beli rumah, setidaknya bisa memperpendek waktu perjuangannya. Tapi kalau uang itu dipakai investasi, dan ternyata rugi, bagaimana dengan hubungannya dengan Ren Jiawen…
Mengingat kembali sorot meremehkan dari orang tua Ren Jiawen, hati Chaosheng kembali terasa nyeri.
Saat ia tiba di rumah, lampu kamar orang tuanya masih menyala, tapi kamar Jiang Wantong sudah gelap. Ia merasa aneh, adiknya biasanya tidak tidur sepagi ini. Ia berniat mengajak adiknya berbincang, sekalian membicarakan soal Jia Yanko.
“Mungkin lelah baru pulang,” pikir Chaosheng, lalu masuk ke kamarnya.
Ia berganti baju tidur, pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka, lalu duduk di tempat tidur, mengambil buku “Kumpulan Resep Kuno Tradisional”, berniat membaca sebentar sebelum tidur. Tiba-tiba, ponselnya berdering.
Siapa yang meneleponnya malam-malam begini? Chaosheng turun dari ranjang, mengambil ponsel dari saku baju, dan melihat layar—tertulis tiga huruf besar: Bos Hai.
Penulis ingin berkata: Kalian ternyata semua tertawa soal kata ‘dipan’ itu, dasar nakal! Ini situasi darurat, semua forum sudah tutup, harus serius dong! Jangan ketawa lagi! Eh, kamu juga!
Sebenarnya waktu menulis bagian itu, aku juga ngakak sendiri. Kalian sudah mampir ke teater kecil di blogku belum? Ada cerita dewasa, aslinya romantis, tapi begitu sampai kata ‘dipan’ langsung hilang suasananya~ Yang belum baca, coba deh, sekali kocak sekali romantis. Kode sandinya 234.
Mulai bab berikut, cerita akan masuk tahap hubungan yang makin dekat. Aku sudah mempercepat alurnya!