Bab 37
Melihat wajah Chao Sheng yang menggembung seperti ikan buntal, lawan bicaranya jadi terhibur dan ingin menarik tangannya, namun ia menepis tangan itu. Karena Haidong Lin menggoda seperti itu, sebagian besar kegundahan Chao Sheng pun sirna, alisnya pun mengendur, tetapi ada beberapa persoalan yang tetap harus dihadapi.
Selain itu, Haidong Lin juga punya rencananya sendiri. “Jadi, apa rencanamu sekarang?”
Semuanya terjadi begitu mendadak, sebenarnya Chao Sheng belum sempat memikirkan soal itu. Ia merenung sejenak lalu berkata, “Sementara ini aku akan menginap di luar dulu. Paman kecilku sudah pulang kampung bersama anak-anak, beberapa hari lagi A Men pulang, aku akan ajak Tongtong ke tempatnya.”
Haidong Lin bertanya, “Sebelum mereka pulang, kau mau tinggal di sini terus?”
Chao Sheng menjawab, “Tentu saja tidak. Aku belum menemukan penginapan yang cocok, apalagi sekarang salju turun deras di luar, aku khawatir Tongtong kedinginan, jadi aku cari penginapan terdekat, siapa sangka harganya semahal itu. Tuan Song itu benar-benar pandai menguras uang. Nanti aku mau keluar sebentar, cari penginapan kecil yang masih buka.”
Haidong Lin sama sekali tak rela melihat mereka keliling mencari tempat tinggal di musim dingin yang menusuk. Ia segera menyahut, “Tinggallah di tempatku saja. Paman Liu pulang kampung untuk Tahun Baru, rumah di Lembah Linshan kosong. Kalau kau kurang suka, aku masih punya tempat tinggal lain.”
Lembah Linshan? Bukankah itu tempatmu biasa mengajak anak-anak lelaki?
Chao Sheng berkedip, tanpa pikir panjang langsung menolak, “Tidak usah, kau sudah banyak membantuku, urusan tempat tinggal akan kuurus sendiri.”
“Chao Sheng,” Haidong Lin merapikan kacamatanya dan mendekat, “Ini sungguh bukan apa-apa. Aku memang jarang ke sana, kosong pun tak ada bedanya. Kau sungguh terlalu menjaga jarak.”
Chao Sheng sedikit ragu. Memang bukan waktu yang tepat cari penginapan, apalagi menumpang di rumah teman saat Tahun Baru bukanlah solusi. Seandainya ia tahu, pasti tadi ia sudah minta kunci pada pamannya, sekarang malah tak punya tempat bernaung.
“Kalau begitu… baiklah, merepotkanmu lagi.” Utangnya pada Haidong Lin semakin banyak saja.
“Jangan sungkan. Oh iya, kenapa tidak kau pertimbangkan tawaranku tadi? Aku butuh terapis pijat pribadi, dan kau yang terbaik yang pernah kutemui. Kau juga butuh uang, jadi kuminta kau menerimanya.”
Setiap kata Haidong Lin mengena di hatinya. Meski ada suara dalam hati yang mewanti-wanti agar menjaga jarak, ia tetap tak mampu menolak godaan itu.
Ia memang sangat membutuhkan uang. Tabungan yang ada sepertinya hanya cukup untuk biaya sekolah Tongtong, sisanya ia semula berniat meminjam dari pamannya. Jika bisa mendapatkannya sendiri dalam setengah tahun ini, tentu lebih baik.
Lagipula, cara Haidong Lin tak sedikit pun terasa seperti belas kasihan, membuat Chao Sheng sangat berterima kasih, hatinya pun terselimuti hangat dan lembut.
“Kalau Tuan Hai tak keberatan, baiklah. Hanya saja, dua minggu lagi aku sudah masuk kuliah, nanti hanya bisa ke tempatmu saat akhir pekan.”
Haidong Lin mengangguk, hasil pembicaraan itu membuatnya puas. Ia melirik jam, sudah cukup larut, lalu berkata, “Ayo, bangunkan adikmu, aku tunggu di lobi.”
“Sekarang juga?”
“Ya, kita makan dulu, lalu langsung ke Lembah Linshan.”
Chao Sheng ragu, “Kenapa buru-buru?”
“Ada apa?”
Chao Sheng terdiam sejenak, lalu berkata pelan, “Bisakah besok saja…”
Haidong Lin menatapnya bingung. Chao Sheng menunduk, lama tak menjawab, akhirnya berbisik, “Aku sudah bayar uang sewa semalam… lebih dari dua ribu…”
Seumur-umur baru kali ini ia menginap di tempat semewah itu, dua ribu hanya untuk sebentar saja, bukankah rugi besar?
Haidong Lin sama sekali tak menyangka itu alasannya, ekspresinya sempat terkejut lalu tertawa lepas.
Tertawa apanya! Itu setengah bulan gajiku!
Haidong Lin tertawa sambil berdiri, dan menarik Chao Sheng, “Ayo, suruh saja Song Jue kembalikan uangmu.”
“Eh? Bukankah itu kurang sopan…”
“Tadi kau sendiri bilang mereka pandai menguras uang, sudah, ikut saja.”
Ia pun naik ke atas membangunkan adiknya yang masih lelap. Jiang Wantong mengucek mata, setengah sadar duduk, lalu Chao Sheng melihat bekas air mata yang baru mengering di wajahnya.
Hatinya terasa perih, tekadnya untuk melawan ibu mereka pun semakin kuat—ia takkan membiarkan adiknya diperlakukan begini lagi.
Jiang Wantong belum benar-benar paham apa yang sedang terjadi, sudah ditarik turun ke bawah oleh kakaknya, dan mendapati seorang pria tinggi berdiri di depan pintu.
“Tongtong, ini Tuan Hai, temanku. Beberapa hari ini kita tinggal di tempatnya.”
Meski tak tahu sejak kapan kakaknya punya teman sekaya itu, ia tetap menyapa sopan, “Salam, Tuan Hai. Maaf merepotkan Anda.”
Haidong Lin mengangguk. Ia tahu mereka hanya sepupu, tapi aura keduanya memang mirip.
Setelah makan siang di hotel itu, ia membawa kakak beradik itu ke Lembah Linshan. Begitu tiba di kompleks, Jiang Wantong langsung terperangah melihat kemegahan dan kemewahannya, diam-diam menarik lengan kakaknya dan bertanya ragu, “Kak, kita benar tinggal di sini?”
Chao Sheng mengangguk. Dulu waktu pertama kali datang, ia pun merasa sama.
Saat benar-benar masuk ke vila milik Haidong Lin, Jiang Wantong makin melongo. Ia tahu seharusnya tak memperlihatkan ekspresi seperti itu, tapi tetap saja ia terkejut.
Teman kakak, sebenarnya orang seperti apa…
Ia menatap Tuan Hai dengan rasa ingin tahu. Pria itu tampan luar biasa, berwibawa, ramah, meskipun tak banyak bicara dan terkesan dingin, namun aura akademis yang melekat pada kakaknya terasa serasi dengan pria itu. Mungkin karena itulah mereka bisa berteman.
“Kalian tinggal saja di sini, aku pergi dulu.” Setelah berkata demikian, ia keluar rumah.
“Tuan Hai!” Chao Sheng mengejar ke luar, menahan sebelum pria itu masuk mobil, “Terima kasih banyak, Anda sudah berkali-kali membantu saya, saya tak tahu bagaimana membalasnya.”
Haidong Lin tersenyum menerima rasa terima kasih itu. Ia mengangkat tangannya, menyentuh dagu Chao Sheng, mengusap bibir bawahnya yang dingin dengan ujung jari. Suaranya serak, namun menggoda, “Kau tahu apa yang kumau.”
“Tuan… Tuan Hai…” Chao Sheng tersentak mundur selangkah.
Melihat Chao Sheng seperti kelinci yang ketakutan, Haidong Lin kembali ke nada biasanya, “Tenang, aku tak pernah berniat memaksa.”
—Kalau tidak, kau sudah jadi milikku sejak lama.
Chao Sheng menghela napas lega, “Kalau begitu, hati-hati di jalan…”
“Tapi sesekali meminta imbalan, tak berlebihan, kan…”
Haidong Lin memotong ucapan perpisahan itu, tiba-tiba menunduk dan mengecup bibir Chao Sheng, lalu secepat kilat melepaskannya sebelum Chao Sheng sempat bereaksi.
Di dalam rumah, Jiang Wantong yang berbalik badan tanpa sengaja melihat adegan itu. Sebenarnya ia hanya melihat punggung kakaknya dan kepala Tuan Hai yang menunduk, tak jelas apa yang mereka lakukan, tapi posisinya begitu aneh, sangat… intim…
Untungnya Tuan Hai segera melepaskan Chao Sheng, semuanya kembali normal. Ia melihat Tuan Hai pergi dengan mobilnya, sementara sang kakak kembali ke rumah.
Jiang Wantong merasa ia terlalu berpikir macam-macam. Lagi pula, punggung kakaknya menghalangi, ia tak bisa melihat jelas. Tapi dua lelaki… apakah mungkin seperti itu?
Saat itu Chao Sheng sudah masuk rumah, dan Jiang Wantong melihat wajah kakaknya yang memerah samar, digigit angin dingin di luar.
Meskipun Haidong Lin bilang mereka harus mandiri, keesokan paginya ia tetap mengirim beberapa kotak besar kebutuhan pokok—dari sayur, buah, daging, camilan, sampai perlengkapan mandi dan pakaian. Hampir semuanya lengkap. Melihat kotak-kotak itu berjejer rapi, Chao Sheng kembali mengagumi perhatian pria itu.
Ia pun mulai merasa bersalah. Ia merasa dirinya hina, tahu jelas apa yang diinginkan Haidong Lin namun tetap menikmati semua bantuan itu.
Haidong Lin, janganlah terlalu baik padaku…
Keesokan harinya, saldo rekeningnya bertambah empat ribu yuan. Lebih dari dua ribu adalah pengembalian uang sewa hotel, lengkap dengan pesan singkat yang ramah. Sisanya dari ayahnya, yang khawatir mereka hidup susah di luar.
“Ibumu sudah jauh lebih baik hari ini, nanti akan kubujuk agar tak pilih kasih lagi. Beberapa hari lagi, pulanglah bersama Tongtong.” Suara ayahnya terdengar di telepon, berusaha membujuk Chao Sheng. Ia tak ingin keluarganya tercerai berai saat Tahun Baru, suasana Lebaran pun hilang, tapi juga tak berani membantah istrinya yang galak. Sejak kejadian itu, setiap kali bicara soal anak-anak, He Fengyan hanya memaki mereka sebagai anak durhaka, lalu melampiaskan amarah pada dirinya.
Chao Sheng sangat mengenal kedua orang tuanya. Ia tahu ibunya takkan semudah itu luluh, dan ia pun sudah punya rencana sendiri. “Lihat situasi nanti saja. Aku dan Tongtong baik-baik saja di rumah teman, Ayah tak perlu khawatir.”
Mereka pun mulai menetap di Lembah Linshan. Selama beberapa hari, Haidong Lin tak pernah muncul lagi. Ia tahu pria itu memang lihai bergaul, bisa bercakap-cakap dengan siapa pun di mana saja, tapi pada dasarnya tetap dingin dan angkuh, malas berurusan dengan orang luar. Mungkin dirinya memang pengecualian, meski ia tak ingin “keistimewaan” itu.
Tapi itu membuatnya lebih lega. Beberapa hari terakhir, ia memang sibuk. Selain mengurus makan minum adiknya, hampir seluruh waktu ia habiskan di depan komputer. Ia membaca berbagai forum tentang studi ke Amerika, prosedur, perkiraan biaya, hal-hal penting yang harus diperhatikan. Setelah membaca semuanya, ia baru sadar betapa naif pikirannya selama ini.
Ternyata pergi ke luar negeri begitu rumit dan mahal.
Beberapa hari lagi bank akan buka, ia berencana mengambil uang lalu menukarnya dengan dolar. Kalau ingin berangkat pertengahan tahun, sekarang sudah harus mulai mengurus dokumen.
Ia menatap layar dengan rincian “Biaya Studi ke Amerika”, menghitung dengan kalkulator di ponselnya, mencatat di kertas, membuat rencana terperinci: kapan harus mengurus apa, berapa biaya, semua dicatat agar tak kelabakan nanti.
“Tok tok—”
Terdengar ketukan di pintu, disusul suara adiknya.
“Kak, sudah tidur?”
“Belum, masuk saja.”
Jiang Wantong membuka pintu, melihat kakaknya sedang asyik berkutat di depan komputer.
“Tepat sekali kau datang, Tongtong, aku mau tanya soal berkas studi ke luar negeri. Surat keterangan jam pelajaran itu harus dari bagian akademik atau…”
“Kak.” Jiang Wantong memotong.
Chao Sheng menoleh, baru sadar wajah adiknya tampak serius. “Ada apa?”
“Aku tidak jadi ke luar negeri.”
Sibuk menghitung, Chao Sheng tak begitu mendengar, hanya menanggapi asal, “Apa?”
“Kak, aku tidak jadi ke luar negeri.”