Bab 65 Diserang Durian
“Tolooong, tolong, Tuan Besar, apakah itu kau yang kembali—”
Dalam semalam, kediaman Penguasa Bintang yang tadinya suram dan kelabu kini tertutup rimbun dedaunan hijau, berubah menjadi asri dan penuh kehidupan. Sekilas tampak seperti bangunan kuno di tengah hutan, perpaduan antara budaya manusia dan alam, seketika menaikkan tingkat keanggunannya. Melompati gerbang besi yang dililit sulur, di dalam halaman luas itu, reruntuhan tembok didaki oleh tanaman merambat dan bunga terompet. Pohon tua yang terbelah kini seolah mendapatkan musim semi kedua, sementara bunga-bunga kosmos dan mawar di taman membesar hingga seukuran baskom, ranting dan daunnya kokoh, bermekaran lebat. Dari semula menawan menjadi aneh dan mencolok, sedikit menyeramkan, seperti kurcaci yang masuk ke istana raksasa.
Bai Qianchun tak mempedulikan semua itu, hanya mengerutkan alis sambil berpikir keras bagaimana bisa cepat mendapatkan uang, dan terus melangkah ke dalam. Namun belum jauh dari taman, ia sudah mendengar teriakan histeris Du Le dari dalam.
Kelopak matanya berkedut, ia menahan pikirannya, lalu mempercepat langkah menuju sumber suara.
Menyibak semak rimbun yang tumbuh subur, akhirnya ia sampai di dekat dua kamar barang yang semalam ia bersusah payah rapikan. Namun sekali melihat, sudut bibirnya langsung berkedut.
Halaman kecil di luar kamar barang kini telah dikuasai barisan batang jagung yang menjulang tinggi. Tiap batang tumbuh sangat besar, sepuluh kali tinggi Bai Qianchun, dan tiap batang merunduk berat menampung banyak tongkol jagung—beberapa bahkan tumbuh lebih dari sepuluh tongkol akibat mutasi.
Tongkol-tongkol itu pun luar biasa besar, seukuran tubuh Bai Qianchun sendiri, namun jauh lebih kokoh dan kekar.
Bai Qianchun langsung paham penyebabnya. Semalam saat membersihkan, memang ia melihat beberapa biji jagung kering tergeletak di tanah, tak disangka mereka memanfaatkan kesempatan hidup kembali dan tumbuh subur.
Namun itu bukan masalah utama. Masalah utamanya, saat ia keluar dari hutan jagung, ia mendapati dua kamar yang semalam ia dan Du Le rapikan dengan susah payah telah hancur total.
Di tanah, dua pohon durian raksasa mencuat, tumbuh pesat menembus bangunan kamar barang. Kedua pohon raksasa itu saling berdempetan, nyaris menyatu seperti cabang yang berkelindan.
Dan Du Le yang malang terjebak di antara duri dua buah durian raksasa di pohon itu, tak bisa turun, tak bisa keluar, terpaksa harus menegakkan badan menahan serangan aroma durian dari jarak dekat.
Jika bukan karena ia penyuka durian, mungkin sudah pingsan karena baunya.
Bai Qianchun mendongak, sudut bibirnya berkedut, ia sungguh kehabisan kata, “Bagaimana kau bisa terjepit di situ?”
Begitu mendengar suara Bai Qianchun, Du Le sempat girang, lalu wajahnya langsung muram, menjawab dengan nada melankolis, “Kalau diceritakan, ini panjang sekali.”
“Singkatkan saja.”
“Oh.” Wajah Du Le yang muram sejenak berubah, ia menjelaskan dengan kesal, “Begini, Tuan Besar, semalam aku tidur pulas banget seperti babi, lalu di tengah malam merasa tubuhku melayang, samar-samar kulihat dua pohon raksasa tumbuh dari tanah, dan itu pohon durian yang selama ini aku impikan. Dalam hati kugumam, wah, mimpi ini mantap sekali! Lalu aku memeluk salah satu durian dan ikut tumbuh bersama mereka.”
“Siapa sangka ternyata ini bukan mimpi, sungguhan. Duri duriannya menusukku sampai sadar, tapi waktu itu sudah tak bisa keluar. Awalnya tangan kiri peluk satu, tangan kanan peluk satu, pengen rangkul dua-duanya, ternyata pohonnya makin tinggi, buahnya makin besar, kalau bukan badanku kurus dan posisinya pas, semalam aku sudah tamat riwayat.”
Ternyata memang ulahnya sendiri yang cari celaka!
Mendengar kisah Du Le, Bai Qianchun sama sekali tak merasa iba, ia hanya menatap datar dan memutar bola mata, mencibir, “Wah, hidupmu memang mujur.”
Meski dalam hati sebal, tetap saja ia harus menolong, bagaimanapun ini salah satu tenaga kerja gratis andalannya.
Bai Qianchun berjalan ke bawah pohon durian raksasa, menempelkan telapak tangan yang bersinar hijau ke batang pohon.
Durian yang bahkan tak bergeming oleh kekuatan elemen kayu Du Le, kini langsung bergerak—batang dan cabangnya sedikit bergeser, salah satu durian raksasa pun ikut bergeser, sehingga Du Le yang terjepit di antara dua durian pun bebas.
Tapi ada yang kurang enak, sekarang ia tergantung di udara tanpa penyangga, seketika ia jatuh terjungkal dari ketinggian.
Sungguh nasib buruk tak kunjung usai!
Dalam waktu singkat, Du Le sudah berkali-kali terancam maut. Kini ia sudah pasrah.
Tentu saja bukan karena berani menghadapi kematian, melainkan yakin selama Tuan Besar ada, ia pasti tak akan mati.
Dan memang benar, seutas sulur melilit pergelangan kakinya, menggantungnya terbalik di udara, menyelamatkan nyawanya dari malaikat maut dalam hitungan detik.
Du Le yang tergantung terbalik, mengayun-ayunkan kedua tangan, darah mengalir ke kepala hingga wajahnya semerah tomat. Ia menengadah kegirangan, matanya menatap tanah sambil berteriak, “Tuan Besar, turunkan aku, aku mau pingsan!”
Bai Qianchun menahan senyum, menatapnya datar, lalu mengisyaratkan sulur menurunkannya pelan-pelan.
Begitu tubuhnya jatuh terentang di tanah membentuk huruf “X”, Bai Qianchun mendekat lalu menatapnya dari atas, “Kulihat wajahmu berseri, masalah jantungmu juga sudah beres, jangan pura-pura mati, cepat bangun.”
Du Le langsung melompat tiga kaki tinggi dengan lincah, tertawa lebar, “Tuan Besar, kau langsung tahu saja. Hehe, semalam pilar cahaya hijau di Bintang Sumber Kayu membuatku untung besar. Aku yang semula cuma D tingkat kayu, semalam langsung meloncat ke B. Hahaha... Ikut kau ke Bintang Sumber Kayu adalah keputusan terbaik seumur hidupku. Sekarang seluruh tubuhku penuh tenaga, aku yakin langsung bisa mengangkut sepuluh ember air tanpa ngos-ngosan.”
“Bahkan, orang yang menusuk jantungku pun kalau berdiri di depanku sekarang, aku pasti menganggap dia tampan.”
Bai Qianchun tak mengomentari ekspresi berlebihan itu, hanya menatap sekilas dan mengingatkan dengan datar, “Kau masih berutang lima puluh juta koin bintang padaku. Sekarang kekuatan kayumu sudah menyembuhkan jantungmu, akupunktur tak perlu lagi, tapi biaya akupunktur seribu koin per hari sebelumnya tetap harus dibayar. Jadi sekarang total utangmu lima puluh juta seribu seratus koin bintang. Kau masih merasa orang itu tampan?”
Senyum Du Le seketika berubah aneh, astaga, hampir saja ia lupa soal utang.
Naik dua tingkat ke B dan berutang lebih dari lima puluh juta koin bintang, ternyata beban yang terakhir jauh lebih berat.
Sekarang Bintang Sumber Kayu sudah aktif lagi, kekuatan meningkat cepat atau lambat pasti terjadi, tapi lima puluh juta koin lebih, bagi orang miskin sepertinya, itu angka astronomi—entah berapa tahun ia bisa melunasinya.
Jadi, penusuk jantung itu tetap saja wajahnya buruk dan tak layak dipandang.