Bab 59: Pencuri Sayur di Dalam Kepompong Raksasa
“Hmm hmm hmm—”
Di bawah puncak awan yang menjulang tinggi, beberapa kepompong raksasa yang dililit sulur hijau tergantung di atas pohon hijau raksasa, ada yang terbalik, berdiri, atau menyamping, masing-masing dengan posisi yang berbeda. Dari sudut pandang bawah ke atas, kepala manusia yang menonjol dari kepompong hijau itu terlihat jelas.
Orang-orang ini benar-benar malang; seluruh tubuh mereka dibelenggu sulur hijau, hanya kepala yang dibiarkan di luar untuk bernapas. Namun, mulut mereka dililit erat oleh satu sulur, yang menekan masuk ke pipi hingga daging di sekitar sulur itu membiru dan membengkak, membuat mata mereka terbelalak seperti ikan mati.
Meski begitu, keinginan hidup mereka masih kuat. Walau rahang mereka terjepit tak bisa bicara, mereka tetap berusaha mengeluarkan suara rintihan, air liur menetes dari mulut mereka.
Bai Qianchun berjalan mendekat, menatap Leng Xiao yang sudah berdiri di bawah pohon raksasa itu. Sorot matanya yang berkilauan menunjukkan rasa penasaran saat ia mendongak menatap Leng Xiao dan bertanya, “Siapa yang melakukan ini?”
Jelas sekali, Leng Xiao yang merupakan pengguna kekuatan api, tidak mungkin bisa mengendalikan sulur raksasa untuk membelit orang sedemikian rupa.
Mendengar suara itu, Leng Xiao menoleh. Alisnya yang dingin sedikit berkerut, lalu menggeleng, “Aku tidak tahu. Saat aku datang, mereka sudah ada di atas sana.”
“Oh—” Ye Yang mendongak menatap pohon raksasa, tangannya menggosok-gosok dengan penuh semangat. “Siapa pun pelakunya, ini hal bagus. Beberapa dari mereka pasti pencuri sayuran yang diam-diam menyusup ke Bintang Sumber Kayu kita, hahaha, akhirnya mereka masuk perangkapku juga. Lihat saja bagaimana aku membantu Kakak Ye Qiang membalas dengan pisau.”
Mata Ye Yang berputar-putar, menoleh ke kiri dan ke kanan, memilih di antara kepompong hijau di atas, mempertimbangkan mana yang akan jadi sasaran pertama—yang berkepala besar itu, atau yang kepalanya seperti kepala ayah kecilnya?
Mungkin karena tatapannya yang begitu menusuk, orang-orang di dalam kepompong pun sampai tak berani bersuara lagi.
Ye Yang mendecakkan lidah, merasa bosan. Saat ia hendak sembarangan menunjuk satu untuk dijadikan contoh, tiba-tiba dari kejauhan hutan terdengar beberapa suara lantang.
Dari suara keributan itu, jelas orang yang datang cukup banyak. Mereka berbicara sambil berjalan, terdengar sangat riuh.
Tiga orang yang berada di tempat itu refleks diam, menajamkan telinga mendengarkan percakapan mereka.
“Di mana para pencuri sayuran itu?”
“Lao Qin, cepat tunjukkan jalannya! Sulur hijau ini besar-besar sekali, semuanya sama saja, aku sampai tak bisa menemukan jalan.”
“Kau masih mending, tadi aku keluar mau petik tomat hampir saja tak bisa kembali ke rumah batu, tersesat di depan pintu rumah sendiri, hahaha...”
“Wah, kamu malah petik tomat di gelap-gelapan, bagaimana rasanya?”
“Luar biasa, benar-benar enak, lebih enak dari tomat kecil yang biasa kita tanam, ukurannya besar, airnya juga banyak, sekali gigit airnya muncrat sampai mukaku basah semua, makan mentah saja aku sudah tak bisa berhenti, kalau perutku muat lebih banyak, pasti satu buah langsung habis sekali makan.”
“Oh, tomat sebesar itu, makan tiga kali sehari pun tak habis-habis. Sekarang cuaca sudah hampir masuk musim panas, simpan dua hari saja pasti busuk.”
“Aduh, dilema manis nih, dulu takut tak cukup makan, sekarang malah takut makanan rusak karena terlalu banyak.”
Serombongan kakek-nenek yang semalam entah bagaimana tampak lebih muda beberapa tahun itu langsung mengeluh, lalu bergantian berkomentar.
“Tak disangka kepala bintang kali ini begitu hebat, kekuatan yang bangkit ternyata punya efek membesarkan segalanya. Mi Zhen tadi memantau lewat alat observasi planet, katanya kebangkitan kehidupan kali ini memang benar-benar menyeluruh, bahkan benih yang tidur ribuan tahun di kutub pun ikut bangun, sekarang dua sisi planet yang paling terpencil pun sedang panen raya.”
“Kurasa bakat kali ini lebih baik dari Kepala Bintang Zhen Xiu dulu. Dulu saat Zhen Xiu membangkitkan Bintang Sumber Kayu tidak sampai menyentuh dua kutub yang paling terpencil, juga tidak membangkitkan benih yang tidur ribuan tahun.”
“Betul sekali, kalau kepala bintang ini orang baik, pasti untung bagi Bintang Sumber Kayu kita. Tapi kalau seperti Wang Ze si bajingan itu, kerusakannya pasti lebih parah.”
Di bawah pohon raksasa, Leng Xiao dan Ye Yang saling melirik Bai Qianchun.
Bai Qianchun dengan tajam melirik mereka berdua, tersenyum tipis. Ye Yang langsung menggaruk hidung, tertawa kaku, “Kakak Chun tidak marah kan?”
Bai Qianchun menatapnya, tertawa sambil menggeleng, “Apa aku terlihat mudah marah? Mereka hanya menganalisis secara objektif, soal bagaimana diriku, nanti juga mereka akan tahu.”
“Oh, oh.” Ye Yang tertawa kaku, mengangguk asal-asalan, dalam hati terus mengeluh.
Kakak Chun pandai bercanda, kalau dia tak mudah marah, siapa lagi? Dulu, hanya karena dia diam-diam memanggil “Raja Iblis” di belakang, ketahuan, langsung dihukum tak boleh makan daging tiga hari, harus makan sayur liar sampai mukanya hijau dan badannya kurusan.
Tapi Kakak Chun malah tersenyum dan bilang, “Efek dietnya bagus!”
Diet apaan, badannya sudah ideal, tidak perlu diet lagi!
Tapi dibandingkan dengan yang lain, Kakak Chun masih tergolong baik padanya, cuma melarang makan daging. Kepada Wei Liangchen si bungsu, itu baru kejam; bukan cuma dilarang makan daging, tapi juga dipaksa menonton mereka makan daging besar-besaran setiap waktu makan, tak pernah absen.
Hahaha... membayangkan wajah Wei Liangchen yang cemberut saja sudah membuat Ye Yang senang, apalagi mereka memang sering bertengkar.
Walaupun suara percakapan mereka tidak keras, orang yang peka tetap bisa mendengarnya, seperti Ye Qin yang menjadi penunjuk jalan.
Saat ini Ye Qin sedang menyesal kenapa tadi tidak membuat tanda setelah mengikat orang-orang itu, kini pohon-pohon besar dan sulur di sekelilingnya seolah tumbuh lebih lebat, dedaunan di atas menutupi langit, bahkan dia yang seorang pengguna kekuatan kayu tingkat SS pun sampai bingung arah.
Namun karena menjaga citra diri yang sudah dibangun bertahun-tahun, dia hanya mengetuk tanah dengan tongkat kayu, sambil terus meraba arah jalan.
Begitu mendengar suara, telinganya langsung tegak, matanya yang bersinar penuh semangat memancarkan kecerdikan, lalu ia segera mengarahkan rombongan di belakangnya ke arah suara itu.
Di belakangnya, sekelompok kakek-nenek yang membawa sabit dan cangkul, tapi lebih mirip rombongan wisata, masih santai melangkah tanpa sadar, mulut mereka pun tak berhenti bicara.
“Ngomong-ngomong, hasil panen besar di ladang memang hal bagus, tapi buah dan sayur liar di tempat lain juga berlimpah sekarang. Seluruh Bintang Sumber Kayu penuh tanaman, kalau kita tak sempat panen, semua sayur dan buah itu pasti membusuk di kebun. Kalau dipikir-pikir, hati ini rasanya nyesek, semua itu barang bagus, dijual bisa dapat banyak koin bintang.”