Bab 56 Perjanjian Pekerja Serabutan
Akhirnya, Bintang Roh Lobak Besar tetap saja tidak sanggup melawan mantan bendahara tim kecil mereka, Bai Qianchun, yang jago menolong orang sekaligus mencari uang. Dengan lesu, ia menandatangani kontrak menjadi pekerja serabutan Bai Qianchun selama setahun sebagai ganti rugi. Wajah Bintang Roh itu sampai-sampai hampir sehijau lobak di atas kepalanya.
Aneh bin ajaib, Ye Yang dan Leng Xiao malah merasa Bintang Roh itu sudah untung. Kalau dulu ada yang berani mengganggu apotek sang ratu iblis, pasti sudah disembelih untuk pupuk atau dijadikan budak seumur hidup. Setahun saja menjadi pekerja serabutan, itu hitungannya sekejap mata.
Bai Qianchun memandang puas pada Bintang Roh yang lunglai di atas meja, tangan dan kakinya membentuk huruf "X", wajahnya seolah kehilangan semangat hidup. Melihat tingkahnya yang menggemaskan, Bai Qianchun tak tahan untuk mencolek lagi dengan jarinya.
"Mau apa? Jangan ganggu waktu tidur Bintang Roh ini," gumam Bintang Roh malas, sambil berguling mengikuti dorongan jarinya. Bentuk lobak di atas kepalanya makin layu saja.
Bai Qianchun tertawa kecil. "Aku tidak bermaksud mengganggu waktu tidur Bintang Roh, hanya ingin mengingatkan, kita akan segera pergi. Kontrak yang melarang orang luar tahu tentang keberadaanmu belum kau tandatangani. Aku bisa menjaga mulutku, tapi tidak dengan mulut orang lain."
Ye Yang diam-diam merasa, meski Qianchun tidak menyebut nama, jelas maksudnya adalah dirinya.
Hehe, apakah dia kelihatan seperti orang yang suka bocor rahasia?
Tubuh Bintang Roh menegang seketika, lalu buru-buru berguling dua kali, duduk tegak sambil mengangkat tangan kiri. Tiga bola cahaya hijau langsung menembak ke arah dahi mereka bertiga.
Melihat mereka bertiga diam tak bergerak dan membiarkan bola cahaya itu masuk ke dalam kening, wajah kecil Bintang Roh akhirnya membaik.
Ia menatap Bai Qianchun serius, dengan muka kecilnya yang sok tegas, "Itu adalah kontrak pembatas. Begitu kalian ingin menyebut tentang Bintang Roh, akan muncul alarm di otak kalian, mencegah kalian membocorkan cerita. Kalau alarm itu berbunyi tiga kali, maka semua ingatan terkait akan dihapus, tapi tidak akan melukai tubuh kalian."
"Baguslah," Ye Yang tersenyum lebar. "Aku juga tidak mau melukai Bintang Roh yang imut seperti ini. Apakah nanti kau akan sering keluar main dengan kami?"
Bintang Roh tampak kaget dengan keakraban dadakan itu. Mulut kecilnya terbuka, lalu dengan nada malu-malu ia bergumam, "Aku sudah tanda tangan kontrak jadi pekerja serabutan, jelas akan sering keluar."
Lalu ia segera berdiri dengan tangan di pinggang, galak mengusir, "Cepat pergi, kalau sampai pagi kota ini akan ditutup. Kalau mau keluar, harus tunggu malam lagi."
"Oh, jadi keluar masuk Kota Penjinak Naga hanya bisa malam hari ya," Ye Yang terdengar kecewa. "Apa orang lain bisa masuk juga?"
Bintang Roh membalikkan mata. "Aku sudah atur syaratnya, orang biasa tidak bisa melihat kota ini. Tapi, sekarang kalian bertiga membawa jiwa dari dimensi asli, jadi bisa jadi penunjuk jalan. Namun, waktu kalian di dalam kota akan berhenti, sedangkan orang lain yang masuk waktu tubuhnya akan berjalan lebih cepat. Kalau ingin cepat keriput, silakan coba. Soal penjelasan lebih lanjut, kalian juga tidak akan paham. Tidak ada gunanya aku menjelaskan."
"Oh, kalau begitu tak perlu dijelaskan. Aku memang payah soal beginian. Tapi aku masih punya satu pertanyaan penting," Ye Yang mengernyit serius.
Mata bulat Bintang Roh menatap penuh rasa ingin tahu. "Apa?"
Ye Yang: "Kalau kita bawa bebek panggang dari dalam kota ke luar, apakah akan basi?"
Bintang Roh: ...
Ia menatap jijik pada dua kaki manusia tukang makan itu, lalu menggertakkan gigi kecilnya, "Tidak akan langsung basi, tapi waktu yang berhenti di atasnya akan hilang, dan akan kembali berjalan mengikuti waktu dunia luar."
"Kalau begitu..." Ye Yang masih ingin bertanya, tapi Bintang Roh yang sudah hampir layu saking pusingnya langsung naik pitam. Ia mengirim bola cahaya besar membungkus mereka bertiga, lalu melempar mereka ke luar Kota Penjinak Naga.
Pintu kota yang besar tertutup dengan suara keras, tepat mengenai hidung Ye Yang yang hendak balik badan masuk lagi.
"Aduh—" Ye Yang mundur selangkah, menutup hidungnya dengan kedua tangan sambil merengek penuh keluhan, "Kupikir kita sudah jadi teman, ternyata kau malah mau merusak hidungku yang gagah ini..."
Leng Xiao menatapnya dengan jijik, lalu memalingkan wajah, menyipitkan mata ke arah cahaya fajar yang memantul di kabut putih yang mulai menghilang, tubuhnya menegang, siap bertarung kapan saja.
Ia masih ingat, sebelum masuk Kota Penjinak Naga, mereka ke sini untuk menangkap pencuri sayur!
Tapi suara jeritan hantu dan serigala di luar sudah lenyap. Lahan kosong yang tadinya ada di situ pun hilang, digantikan oleh hutan lebat dengan sulur hijau sebesar ular raksasa yang menjulang ke langit. Mereka bertiga kini seperti tiga makhluk kecil yang tersesat di belantara raksasa.
Wajah dingin Leng Xiao pun tak kuasa menutupi keterkejutannya. Apa yang sebenarnya terjadi malam tadi?
Invasi tanaman?
Bai Qianchun juga segera menyadari perubahan itu. Mengingat penjelasan tadi tentang atribut “raksasa” dari Bintang Roh, ia langsung bisa menebak apa yang terjadi.
Sepertinya, pilar cahaya hijau itu telah membangkitkan seluruh planet Sumber Kayu. Efeknya benar-benar nyata dalam semalam.
Pegunungan tandus yang semula gundul, kini dalam semalam berubah seperti negeri dongeng hijau!
Baru saja ia tersenyum ingin mendekat untuk mengamati, suara lonceng dari komputer cerdasnya berbunyi, membuat seluruh perhatiannya teralih ke sana.
Saat dibuka, tampak tiga nama berkedip di layar: [Teman Pertama Feng Tangwei], [Bos Dermawan], dan [Putra Mahkota Kekaisaran Lou Yuchen].
Ia tersenyum dan membuka pesan dari Feng Tangwei.
Pesan pertama dikirim lebih dari sejam lalu, kira-kira saat ia baru menandatangani kontrak dengan Bintang Roh Lobak Besar dan planet Sumber Kayu mulai bangkit.
[Teman Pertama Feng Tangwei: Waw waw waw, Kakak Ipar, kau lihat tidak, planet Sumber Kayu sudah bangkit, indah sekali, luar biasa menakjubkan.]
Pesan kedua lima menit kemudian.
[Teman Pertama Feng Tangwei: Hahaha... syukurlah, buah pot yang kau tinggalkan hampir habis dimakan Kakek dan Kakak Sepupu yang doyan itu, tadi karena radiasi elemen kayu dari planet Sumber Kayu, tanaman itu mulai tumbuh daun dan berbunga lagi. Beberapa hari lagi akan berbuah, kali ini pasti ku sembunyikan lebih rapi, tidak akan kubiarkan dua pencuri buah itu menemukannya.]
Lalu pesan-pesan berikutnya berdatangan.
[Teman Pertama Feng Tangwei: Kakak Ipar, kau kan punya kekuatan kayu, sekarang pasti bisa berlatih dengan baik. Ayo semangat, naikkan level kekuatanmu, biar bisa mengalahkan Kakak Sepupu yang bandel itu. Kalau dia nakal, hajar saja sampai menjerit.]
[Teman Pertama Feng Tangwei: Kakak Ipar, kenapa kau belum juga balas pesanku?]
[Teman Pertama Feng Tangwei: w(?Д?)w Jangan-jangan kau sedang dalam bahaya? Tunggu aku, aku akan cari bantuan untuk menyelamatkanmu...]