Bab 37: Kakek Terkuat
Bai Qianchun: ... Ternyata masih ada dia, oh bukan, ternyata masih ada beban dari Bai Qianchun yang lama juga!
Bibi Ye secara refleks juga menoleh dan melirik ke arahnya.
Mata Bai Qianchun yang hitam pekat menatap balik, bertemu pandang dengannya. Ia langsung memaksakan senyum canggung, lalu membuka mulut untuk menenangkan, "Begini, Pemimpin Bintang, kau juga jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, apa yang kau lakukan setahun lalu juga demi kekaisaran kita."
"Mm." Bai Qianchun mengalihkan pandangannya dan menjawab singkat, ekspresinya datar tanpa berkata apa-apa lagi.
Namun alis dan matanya yang bersih dan halus itu perlahan-lahan meredup seiring ia menyaksikan keadaan mengenaskan di kedua sisi jalan, sebuah kerutan halus muncul di wajahnya.
Dalam hati ia menghela napas pelan. Beban ini tampaknya memang harus ia pikul. Meskipun pemilik tubuh sebelumnya melakukan itu demi kekaisaran, mengambil kekuatan inti dari Bintang Kayu, tapi ada juga sebagian alasannya untuk kepentingan pribadinya. Selain itu, kerusuhan hebat di Bintang Kayu ini, ia menduga, juga karena pemilik tubuh sebelumnya tak mampu mengendalikan kekuatan itu dengan baik, menyebabkan Bintang Kayu terkuras berlebihan.
Singkatnya, pemilik tubuh sebelumnya memang telah mengorbankan kepentingan rakyat Bintang Kayu, dan ia merasa berutang pada mereka.
Jadi, konsekuensi sebab-akibatnya pun otomatis berpindah kepada dirinya yang kini menempati tubuh ini.
Rasanya sungguh tidak enak menjadi penanggung utang!
Tatapan Bai Qianchun melayang sendu pada pria tua yang duduk di depan. Tubuhnya kurus kering tapi punggungnya tetap tegak, seolah-olah tulang punggung itu takkan pernah membungkuk.
Bibi Ye menepuk dadanya, menghela napas lega. Sepasang mata hitam pekat gadis kecil itu memang cukup memberi tekanan, bahkan dirinya yang sudah makan asam garam kehidupan pun sempat terkejut.
Dia menggoyangkan pinggangnya yang subur, meraih pagar besi mobil dan berusaha mendekat ke Ye Qin, lalu tak tahan untuk bertanya, "Paman Ye Qin, bukankah rumah kalian di jalan tadi? Kenapa kita malah lewat jalan lain?"
Ye Qin menyipitkan mata menatap ke kejauhan, suara tuanya terdengar dingin, "Di dalam kota susah untuk diperbaiki, sudah tak layak huni. Maka, beberapa keluarga yang tersisa berdiskusi dan akhirnya pindah ke bukit kecil di belakang kota. Kebetulan di sana tanahnya luas dan bisa ditanami, tinggal di sana juga lebih mudah."
Bai Qianchun menyentuh masker di wajahnya, memalingkan pandangan dengan perasaan canggung.
"Semuanya duduk yang tenang, kita sebentar lagi sampai."
Baru saja kata-katanya selesai, kendaraan mereka sudah keluar dari kota, lalu menanjak ke punggung bukit. Seketika, semua yang di dalam mobil bisa memandang lebih jauh, panorama terbuka. Terhampar di depan mereka jalan kecil pedesaan yang rapi dan hamparan ladang-ladang yang tertata jelas.
Kawasan itu berupa lembah yang dikelilingi bukit, namun bukitnya tidak tinggi, hanya berupa gundukan kecil. Di tengah ada dataran luas, sementara di kaki bukit sebelah timur tersebar sekitar dua puluh rumah batu, sisanya seluruh tanah diatur menjadi ladang.
Tanah di sini tampak jauh lebih baik dari tanah berpasir di pinggiran kota yang mereka lewati tadi, berupa tanah hitam yang lembap dan subur. Di kedua sisi jalan kecil mengalir dua parit kecil. Bai Qianchun memperhatikan, meski aliran airnya jernih, namun sangat kecil.
Selain itu, pemanfaatan ladang yang tertata rapi itu masih rendah, hanya sepertiga yang ditanami. Bukit-bukit di sana juga gundul, bebatuan tampak di permukaan, hanya bukit tempat mereka lewat saja yang ditumbuhi pohon-pohon jarang, membentuk hutan kecil. Pohon-pohon itu, baik yang tinggi maupun yang masih kecil, ujung daunnya tampak menguning, seperti anak-anak kurang gizi yang menggigil di tiupan angin. Melihatnya saja membuat hati Bai Qianchun terasa pedih.
Meski tempat ini tampak seperti pedesaan asri, namun karena minimnya kehijauan, suasananya lebih seperti desa di daerah miskin pegunungan.
"Ada orang di sana." Bai Qianchun mengalihkan pandangan dari sebuah bibit pohon, menyipitkan mata tajam ke arah dalam hutan di kanan depan.
"Mana ada orang? Kok aku nggak lihat?" Bibi Ye buru-buru mendekat dan mengintip, tapi tak melihat satu pun bayangan manusia.
Ye Qin yang duduk di kursi kemudi matanya justru berkilat sesaat, lalu setelah berjalan beberapa meter lagi, ia menepikan mobil di samping sebuah batu besar berwarna kuning.
Bibi Ye dengan curiga menjulurkan kepala, "Paman Ye Qin, kenapa kita berhenti di sini?"
Ye Qin tetap tenang sambil menyilangkan tangan, kelopak matanya menyingkap, "Menunggu orang."
Pada saat yang sama, terdengar suara gemerisik dari dalam hutan, seketika Bibi Ye menelan semua kata-katanya. Dalam hati ia kagum, pantas saja kakek tua terkuat di Bintang Kayu ini, puluhan tahun tak berjumpa tapi kemampuannya tak berkurang sedikit pun. Tapi Pemimpin Bintang itu juga hebat.
Andai Pemimpin Bintang adalah gadis muda yang berhati tulus, dengan keahliannya dalam akupuntur, mungkin saja benar-benar bisa mengangkat kembali Bintang Kayu, mewujudkan harapan Paman Ye Qin untuk mengembalikan kejayaan Bintang Kayu.
"Ayo cepat, cepat, kita harus segera cari Kakek Mizu! Kak Ye Qiang lukanya parah..."
Dari dalam hutan, dua remaja berlari tergesa-gesa, mereka membawa seorang pria kurus di antara mereka; satu memegang kedua lengan, satu lagi memegangi kedua kaki, berusaha secepat mungkin membawa korban keluar.
Wajah Ye Qin langsung berubah, ia dengan sigap melompat turun dari mobil, suaranya lantang dan penuh kecemasan, "Yang, Qiang, ada apa ini?!"
"Kakek!" Remaja yang memegang kaki dan berlari dengan kepala menunduk itu mendongak, menampakkan wajahnya yang tirus tanpa banyak daging, tapi tetap menampilkan aura ceria yang rupawan. Sepasang matanya yang kecoklatan memancarkan kegembiraan, ia berseru senang.
Lalu mulutnya dengan cepat menceritakan apa yang ia tahu, "Paman Ye Kuan bilang kemarin giliran Kak Ye Qiang menyirami tanaman, tapi semalam ia tidak pulang. Pas hari ini giliran aku dan Er Bing, setelah selesai kerja kami sekalian menyiram tanaman dan mencari Kak Qiang. Siapa sangka kami mendapati buah di beberapa pohon sudah dipetik habis, beberapa pohon juga dirusak, Kak Qiang pun ditemukan terluka dan tergeletak tak jauh dari situ. Pasti ulah pencuri sayur itu lagi."
Wajah remaja itu memerah karena marah, raut mukanya penuh kemarahan, "Dulu mereka hanya mencuri sayuran, sekarang makin berani bahkan sampai melukai orang. Kakek, kita nggak bisa membiarkan mereka seperti ini, kalau dibiarkan para pencuri itu pasti makin menjadi-jadi!"
Wajah tua Ye Qin tampak sangat suram, mana mungkin ia tak paham itu, tapi sekarang ia sendiri tak bisa berbuat banyak.
Sekitar sebulan lalu, ia sudah menemukan jejak orang asing di pelabuhan antarbintang, namun kelompok yang diam-diam menyusup ke Bintang Kayu itu tak pernah menampakkan diri, juga tak membuat keributan, jadi ia hanya bisa diam sementara. Lagi pula, penduduk yang tinggal di sini sudah tua-tua dan sedikit anak muda, yang bisa bertarung hanya dirinya yang sudah tua ini, sisanya bukan tandingan.
Orang-orang itu berani menyusup ke Bintang Kayu, pasti punya kemampuan. Kalau mereka yang tua dan muda ini nekat melawan, bisa-bisa malah dibantai habis.
Demi keselamatan, kakek tua itu memilih diam, diam-diam mengirim pesan kepada beberapa penduduk Bintang Kayu yang sedang merantau di planet lain, meminta mereka meminjam beberapa pengawal dari Planet Sumber Tanah untuk membantu.