Bab Tiga Puluh Dua: Pertemuan Pertama dengan Häagen-Dazs
Wei Zheng tidak ingin membuang waktu berdebat dengan Su Yu untuk urusan sepele semacam ini. Pada akhirnya, ia memerintahkan dua pengawal untuk menggotong Su Yu bersama pakaian dinas resminya ke dalam kereta kuda.
Keluarga Su, setelah mendengar bahwa Su Yu dipanggil untuk menjadi pejabat tinggi, tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam itu. Mereka bahkan begadang untuk membakar dupa dan memanjatkan doa kepada leluhur.
Su Yu dibawa terlebih dahulu ke kediaman Wei Zheng. Keduanya, tua dan muda, berdiskusi hingga larut malam mengenai strategi untuk memukul mundur musuh.
"Taktik saya ini disebut menggertak. Nanti, Tuan Wei harus mengingatkan Baginda Kaisar agar jangan sampai ada celah yang terbongkar."
Keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, Su Yu sudah mengenakan pakaian dinas berwarna hijau daun bawang miliknya. Ia berangkat dari kediaman Wei Zheng menuju Kantor Urusan Luar Negeri.
Ia menyelinap masuk ke dalam kereta dengan tenang dan berpesan kepada Liu Laoshi, "Cepat, segera jalan! Jangan sampai orang yang mengenalku melihat penampilanku yang sekarang."
Xiao Cui juga ikut bersamanya ke kantor tersebut. Gadis ini memang sangat piawai dalam mengurus orang lain. Ia memiliki kepekaan yang luar biasa hingga hafal di luar kepala segala kebiasaan Su Yu.
Bersamanya, Su Yu merasa semua urusannya menjadi jauh lebih mudah. Pagi itu, karena terburu-buru, Su Yu belum sempat sarapan dan perutnya mulai terasa tidak nyaman.
Begitu melihat Su Yu memegangi perutnya, Xiao Cui segera mengeluarkan kotak makanan yang sudah ia siapkan sebelumnya dari bawah kursi kereta.
"Tuan Muda, ini adalah camilan yang saya buat di dapur besar kediaman Wei tadi malam. Saya khawatir Tuan tidak terbiasa dengan makanan di sana, jadi saya menyiapkannya lebih awal. Silakan dicicipi, seharusnya masih hangat."
Mata Su Yu berbinar. Sambil tersenyum, ia mengambil sepotong kue labu dan mengunyahnya dengan lahap.
"Terima kasih, Xiao Cui, kamu sudah bekerja keras. Jangan begadang lagi ya, Tuan Mudamu ini akan merasa kasihan. Tapi, masakanmu ini sungguh enak. Bagaimana kalau besok-besok kamu ikut adik perempuanku saja? Kalian bisa membuka toko camilan bersama."
Mendengar itu, Xiao Cui mendadak panik. Matanya berkaca-kaca menatap Su Yu dengan tatapan memelas, persis seperti seorang istri yang menatap suami yang tidak setia, membuat Su Yu kebingungan.
"Hei, jangan menatapku seperti itu. Apa ada remah makanan di wajahku?"
"Tuan Muda, saya menghargai niat baik Tuan. Namun, seumur hidup saya hanya punya satu keinginan, yaitu tetap berada di sisi Tuan untuk melayani Tuan. Mohon jangan usir saya, saya tidak ingin membuka toko, apalagi menikah. Saya hanya ingin melayani Tuan."
Hati Su Yu sedikit bergetar. Pandangannya tertuju pada wajah polos Xiao Cui yang tampak begitu lembut, dan ia pun terhanyut dalam lam