Bab 34: Mengawasi Pedang Besar Yu
“Lan, apa masih belum ada kabar tentang Mei Xu?” tanya Liu Changchuan di meja makan keesokan paginya.
Sudah beberapa hari berturut-turut surat kabar memuat pengumuman orang hilang, tapi sampai sekarang belum juga ada berita. Sekalipun Mei Xu tidak membaca koran, bukankah tuan mudanya atau anggota kelompoknya pasti membacanya? Di zaman ini, keluarga yang berkecukupan dan pernah bersekolah hampir semuanya berlangganan koran.
“Belum ada kabar, ah, entah adik ipar kita itu sudah menikah atau belum. Mei Xu cantik sekali. Kalau dia belum menikah, nanti kalau ada kesempatan, aku ingin menjodohkan dia denganmu. Kamu jangan pernah meremehkan dia hanya karena pernah jadi pembantu,” kata Liu Lan, memandang Liu Changchuan dengan penuh harap.
“Lan, jangan khawatir. Aku ini bukan orang yang kesulitan mencari istri. Tenang saja, sebentar lagi juga akan kubawa pulang satu untukmu,” sahut Liu Changchuan sambil meletakkan mangkuk dan sumpit, mulai membual.
...
“Beli sebungkus rokok,” kata Liu Changchuan sambil menguap ketika masuk ke toko kelontong milik Zhang tua.
“Ada tugas baru dari atasan. Kau harus mengawasi Xu Haifeng, cari kesempatan untuk menghabisinya,” ujar Zhang tua dengan wajah pahit, jelas sekali ia sangat enggan.
Ia dan Liu Changchuan sudah terikat nasib; jika Liu Changchuan celaka, ia pun takkan selamat.
“Apa? Aku tidak salah dengar?” Liu Changchuan terkejut.
Ia hampir tak percaya dengan pendengarannya. Kalian saja yang banyak orang tidak berhasil menghabisi Xu Haifeng, sekarang menyuruh aku seorang diri untuk berbuat nekat—kalian gila apa?
“Betul. Ketua kelompok tidak berani datang ke lingkungan Tionghoa, jadi pesan dari stasiun disampaikan lewat radio. Konon bos besar di pusat sangat marah, memerintahkan stasiun Shanghai untuk mengatur aksi kedua. Kepala stasiun Wang tak punya pilihan lain. Kudengar kau berhasil menghabisi Jiang Shan dengan bersih dan cepat, makanya harapan kini ada di pundakmu,” jawab Zhang tua dengan canggung.
Dalam hati ia mengumpat Liu Changchuan yang sok jagoan, “Kau itu kenapa harus membunuh Jiang Shan segala?”
Liu Changchuan benar-benar ingin menampar dirinya sendiri. Waktu itu Yang Lianqin memintanya menemukan keberadaan Jiang Shan, eh, setelah ketemu malah ia sendiri yang turun tangan. Ini membuat atasan salah paham, merasa “Kawat Baja” memang jagoan, bertindak cepat dan rapi.
“Kenapa atasan begitu ngotot harus membunuh Xu Haifeng?” tanya Liu Changchuan, ingin tahu alasannya.
“Itu orang benar-benar kejam. Saat perang Songhu, Xu Haifeng memandu pasukan Jepang ke pinggiran kota, lalu membantai penduduk desa, lebih dari dua ratus orang tewas,” maki Zhang tua dengan geram.
Liu Changchuan menggelengkan kepala, menatap Zhang tua lekat-lekat. “Jujur saja, pengkhianat seperti Xu Haifeng itu banyak di seluruh negeri, kenapa harus dia yang dihukum, apalagi setelah aksi pembunuhan gagal?”
“Baiklah, kudengar ada pejabat tinggi yang meminta tolong pada bos besar di pusat. Katanya, seluruh keluarga adiknya tewas di tangan Xu Haifeng, bahkan ibunya pun dibunuh.”
“Pantes saja,” maki Liu Changchuan dalam hati. Tapi ia sudah memutuskan akan berusaha sekuat tenaga menghabisi Xu Haifeng, bukan demi pejabat itu, melainkan untuk membalaskan dendam ratusan rakyat tak bersalah.
Liu Changchuan berganti pakaian di ruang belakang toko kelontong, merias diri, lalu keluar lewat pintu belakang menuju markas Pasukan Khusus. Xu Haifeng memang harus dibunuh, tapi yang utama sekarang adalah mencari tahu siapa yang sedang diincar oleh Dadao Yu. Kalau cuma omong kosong, gampang. Kalau tidak, perlu strategi baru.
Di tepi jalan, ia menelepon Xiaosan dari Pasukan Khusus, menanyakan apakah Dadao Yu sudah sadar dari mabuk dan apakah hari ini keluar rumah. Kalau tidak keluar untuk tugas, sore nanti ia ingin menjenguk sang komandan.
Setelah menutup telepon, Liu Changchuan menghela napas. Hari ini, riasannya sia-sia. Dadao Yu pagi-pagi sudah berangkat ke Konsesi Prancis tanpa sarapan. Jelas ada urusan penting di sana, kalau tidak, orang seperti dia yang habis minum banyak pasti tidur sampai siang.
Siapa sebenarnya yang jadi target Dadao Yu?
Liu Changchuan mulai cemas, tapi ia tahu, secemas apa pun tak ada gunanya. Sekalipun ia ke Konsesi Prancis, belum tentu bisa menemukan jejak Dadao Yu.
Tak bisa mengawasi Dadao Yu, ia pun memilih mengawasi Xu Haifeng. Seharian, Liu Changchuan tak melakukan apa-apa. Xu Haifeng sama sekali tak keluar rumah, sejak percobaan pembunuhan gagal, ia terus bersembunyi di rumah, tak memberi kesempatan untuk diserang.
Pukul empat sore, Liu Changchuan mengayuh sepeda ke kantor polisi, menanyakan pada satpam tua apakah Dadao Yu sudah pulang. Jawabannya membuatnya puas, Dadao Yu sudah pulang ke rumah setelah kembali dari Konsesi Prancis.
Setelah mendapat alamat rumah Dadao Yu dari Xiaosan, Liu Changchuan membeli beberapa hadiah dan berkunjung ke rumahnya.
Sejujurnya, rumah Dadao Yu sangat sederhana, hanya dua kamar kecil di gang barat, itu pun rumah sewa. Mungkin karena ia baru menjabat komandan, belum sempat mengumpulkan uang untuk beli rumah.
“Aduh, Penerjemah Liu terlalu baik,” kata Dadao Yu sambil tertawa, menerima teh dan minuman keras pemberian Liu Changchuan.
“Komandan, seharusnya kau beli rumah yang lebih layak. Tempat seperti ini tak pantas untukmu,” ujar Liu Changchuan sambil mengelilingi ruangan, menggelengkan kepala.
“Ah, aku sedang sibuk belakangan ini. Sebenarnya aku sudah mengincar satu rumah, sebentar lagi akan kuurus balik namanya. Hanya saja harganya mahal sekali, sialan, dua ribu yuan!” maki Dadao Yu.
Dadao Yu memang pelit, pikir Liu Changchuan. Jauh-jauh ia datang ke rumahnya, tak dijamu makan, bahkan segelas air pun tak dikasih, sudah diusir dengan berbagai alasan.
Dengan informasi itu, Liu Changchuan merasa lebih percaya diri. Keesokan harinya, sebelum jam enam pagi ia sudah menunggu di seberang jalan dari rumah Dadao Yu. Tak disangka, si bajingan itu baru keluar rumah menjelang siang.
Warung sarapan, kantor polisi, lalu sore hari Dadao Yu pergi ke pemandian Daseng, malamnya main ke rumah hiburan Xiaohua, berjam-jam di sana, baru pulang untuk tidur.
Hari berikutnya pun sama saja, sampai hari ketiga, akhirnya Liu Changchuan mendapat kesempatan. Pagi itu, Dadao Yu keluar rumah, tidak ke kantor polisi, melainkan bertemu beberapa anggota Pasukan Khusus di perbatasan lingkungan Tionghoa dan Konsesi Prancis, lalu masuk ke Konsesi Prancis.
Di Hotel Laut Kuning di Jalan Beitang Selatan, Liu Changchuan mengawasi sebuah kamar di lantai dua. Setelah masuk ke Konsesi Prancis, Dadao Yu masuk ke kamar 202 dan tak keluar lagi.
Jelas sekali, itu pasti markas Pasukan Khusus di Konsesi Prancis, atau mereka sedang mengawasi seseorang di sana.
Liu Changchuan mencoba berpikir dari sudut lain. Ia duduk di dekat kios semir sepatu di samping hotel, memandang ke arah berbagai toko di seberang jalan dari kamar 202. Ada warung bakpao, toko kelontong, salon cukur, dan sebuah bank kecil.
Setelah mengamati sebentar, Liu Changchuan memutuskan menggunakan “mata pemindai”. Karena jaraknya jauh dan terhalang tembok, ia nekat masuk untuk cek langsung. Ia yakin kemampuan menyamar dan merias wajahnya takkan dikenali oleh Pasukan Khusus yang tolol itu. Kalaupun ada detektif Jepang, tak masalah. Demi keamanan, ia menyumpal badannya dengan kapas, berdandan sebagai pria gemuk.
Pertama, ia masuk ke bank, tak menemukan kejanggalan.
Kemudian, ia mengganti wajah, membuang kapas di tubuhnya, lalu berdandan sebagai orang kurus dan masuk ke toko kelontong. Di dalam hanya ada seorang ibu tua penjaga toko. Liu Changchuan menggunakan “mata pemindai”, hasilnya: pengangguran. Ini membuat Liu Changchuan berpikir. Jika ibu tua itu pengangguran, berarti pemilik toko sebenarnya orang lain.
Ah sudahlah, coba ke tempat berikutnya. Kalau semuanya normal, baru cari cara lain menunggu si pemilik toko muncul.
Di warung bakpao pun tak ada yang aneh. Berarti tinggal salon cukur yang tersisa.