Bab 41 Ancaman Baru Muncul ke Permukaan
Halaman (1/3)
“Napas hakiki? Apa itu?”
Saat Zhang Mu melihat Xuan Ji, ia sudah tidak lagi merasa heran dengan kemunculannya yang tiba-tiba dan menghilang tanpa jejak.
Xuan Ji melompat turun dari tembok halaman, lalu naik ke meja batu di tengah halaman kecil. Tatapannya menyapu tongkat yang patah menjadi dua di tanah, lalu berkata, “Itu adalah kekuatan yang terbentuk dari perpaduan tenaga dalam yang telah dilepaskan dari tubuh dengan jurus-jurus bela diri.”
“Tentu saja, namanya bisa berbeda-beda.”
“Misalnya, napas hakiki dalam ilmu pedang disebut energi pedang, dalam ilmu golok disebut aura golok, dan dalam ilmu tombak disebut kilatan tombak.”
“Kekuatan jurus yang dilapisi napas hakiki akan meningkat berkali-kali lipat.”
“Hanya orang dengan tenaga dalam yang sangat kuat yang mampu menggunakannya. Biasanya, seseorang harus menembus Ranah Penembusan Meridian dan mencapai Ranah Pemeliharaan Cairan terlebih dahulu, meong.”
“Paling tidak, harus sudah mencapai Ranah Penembusan Meridian Tingkat Sembilan.”
“Kau bisa menggunakannya, berarti jurusmu tadi sangat, sangat hebat. Dari mana kau mempelajarinya?”
Mendengar penjelasan Xuan Ji, Zhang Mu akhirnya mengerti.
Jadi itu yang disebut kilatan tombak.
Kilatan tombak tadi benar-benar menguras tenaga dalamnya.
“Aku mendapatkannya dari seorang guru. Aku membantu melunasi utang putranya, lalu dia memberikan sebuah kitab kuno sebagai gantinya. Tanpa sengaja, aku menemukan jurus itu di dalamnya,” jawab Zhang Mu sekenanya.
Xuan Ji: “✪ω✪”
Begitu saja bisa?
Sungguh, dia memang orang yang diberkahi keberuntungan luar biasa!
Zhang Mu duduk di kursi, mengusap keringat di dahinya, lalu bertanya, “Xuan Ji, apa kau punya pil yang bisa memulihkan tenaga dalam?”
“Ada, meong.”
Xuan Ji membuka mulutnya. Seketika, sebutir pil bulat melayang keluar.
“Pil Penambah Energi Tumbuhan. Satu pil setara dengan seluruh tenaga dalam seorang praktisi Ranah Penembusan Meridian Tingkat Satu, meong.”
“Untukmu, harganya cuma lima belas tael.”
“Lima belas tael?” Zhang Mu mengernyit.
Dengan tingkat kehilangan tenaga dalamnya sekarang, ia hanya perlu mengonsumsi makanan bernutrisi seharga sepuluh tael perak selama tiga atau empat hari untuk memulihkannya. Pil ini berarti lima tael lebih mahal.
Melihat ekspresi Zhang Mu, Xuan Ji sedikit marah. Ia mengayunkan cakar kecilnya dan berkata, “Balai Seratus Jamu juga menjualnya. Harganya tiga puluh tael per pil, meong!”
“Aku sudah menjualnya sangat murah.”
“Bagaimanapun juga, aku juga punya biaya, meong!”
“Sudahlah, aku tidak jadi membelinya.” Zhang Mu melambaikan tangan.
Belakangan ini ia juga tidak memiliki urusan penting. Ia hanya perlu makan beberapa kali lebih banyak untuk memulihkan diri.
Namun, Xuan Ji tidak memasukkan pil itu kembali. Ia malah berkata, “Dengarkan dulu kabar yang kubawa, baru putuskan apakah kau mau membelinya atau tidak, meong.”
Barulah Zhang Mu teringat bahwa sebelumnya Xuan Ji berkata hendak menyelidiki pelayan siluman milik siluman harimau itu.
“Kau sudah menemukan petunjuk?” tanya Zhang Mu.
Xuan Ji mengangguk. “Qiu Yingdong, seorang penangkap dari kantor kabupaten, lima tahun lalu mengikuti para petugas masuk ke gunung untuk membasmi siluman harimau. Namun, siluman harimau itu menerobos tingkatannya di tengah pertempuran dan membantai seluruh rombongan. Hanya Qiu Yingdong yang berhasil melarikan diri hidup-hidup.”
“Selama beberapa tahun terakhir, Qiu Yingdong memanfaatkan jabatannya untuk menutupi kabar tentang siluman harimau yang turun gunung dan memangsa manusia. Ia juga memberi tahu siluman itu setiap kali ada petugas yang hendak memburunya. Sebagai imbalan, Qiu Yingdong memperoleh banyak tanaman obat serta makanan penambah tenaga dan darah. Kecepatan latihannya pun meningkat pesat, meong.”
“Sekarang dia sudah mencapai tingkat ketiga.”
“Qiu Yingdong?” Zhang Mu merasa nama itu agak tidak asing. Setelah mengingat-ingat sejenak, ia segera sadar.
Bukankah dia orang yang menduduki peringkat keenam dalam daftar kali ini?
Celaka. Urusan ini tampaknya tidak mudah.
Reaksi pertama Zhang Mu adalah memberi tahu Zhuang Xiaomeng dan meminta bantuan biro pengawalnya untuk menyelesaikan masalah ini.
Namun, sesaat kemudian, ia sendiri membatalkan gagasan tersebut.
Pertama-tama, soal siluman harimau dan pelayannya itu hanyalah keterangan sepihak dari Xuan Ji. Bahkan jika yang mengatakannya adalah manusia, belum tentu ada yang percaya, apalagi…
Zhang Mu melirik Xuan Ji yang sedang menjilati cakar kecilnya.
Halaman (2/3)
Apalagi yang mengatakannya adalah seekor kucing.
Xuan Ji tiba-tiba berhenti menjilati cakarnya. Ia menatap Zhang Mu dan merasa lelaki itu sedang membicarakannya di belakang.
“Jangan menatapku begitu, meong…” Xuan Ji langsung berkata. “Aku tidak akan membantumu tampil ke depan…”
“Aku juga tidak berniat memintamu.” Zhang Mu menggeleng.
Apakah Zhuang Xiaomeng akan memercayai perkataannya adalah satu hal. Yang lebih penting adalah identitas Qiu Yingdong.
Dia adalah seorang pejabat penegak hukum!
Seorang petugas dengan tingkat ketiga Ranah Penembusan Meridian. Dari perkataan Xuan Ji, dia juga termasuk orang yang kemajuannya sangat pesat. Sudah pasti kantor kabupaten cukup memperhatikannya.
Agar bisnis biro pengawal dapat berjalan lancar, mereka harus mampu berhubungan baik dengan pihak resmi maupun dunia bawah. Jika diminta membantu menghadapi orang dari kantor pemerintahan, sebesar apa nyali biro pengawal itu hingga berani menyetujuinya?
Karena itu, masalah ini hanya bisa diselesaikan sendiri, dan ia juga harus merahasiakannya dari biro pengawal.
Namun, ada sisi baiknya.
Walaupun Biro Pengawal Yuanwei tentu tidak akan menargetkan pejabat pemerintahan demi dirinya, Qiu Yingdong juga tidak mungkin terang-terangan menyerangnya. Kalau melakukannya, berarti dia mempermalukan Biro Pengawal Yuanwei.
Selama ia lebih berhati-hati dan tidak memberinya kesempatan untuk menyerang secara diam-diam, semuanya seharusnya baik-baik saja.
Meski begitu, hati Zhang Mu kembali dipenuhi rasa terdesak.
Tingkat ketiga!
Setidaknya ia harus menembus tingkat kedua. Dengan bantuan Pembantaian Naga Dingin Menyambut Musim Semi, mungkin ia masih memiliki kekuatan untuk bertarung.
“Bagaimana? Kau masih mau pil penambah energi tumbuhan ini, meong?” tanya Xuan Ji.
“Mau!” Zhang Mu mengangguk, menerima pil itu, lalu langsung menelannya. “Uangku sekarang semuanya dalam bentuk surat perak. Datanglah besok, akan kubayar dengan uang tunai.”
“Baik, meong.” Xuan Ji menyetujuinya dengan senang hati.
“Selain itu, bawakan juga dua Pil Pelentur Meridian Kecil untukku,” pesan Zhang Mu.
Setelah ini, ia harus terus menembus titik-titik akupunktur. Pil Pelentur Meridian Kecil mutlak diperlukan.
“Terserah kau, meong.” Xuan Ji mengangguk. “Tapi kau harus tahu, aku selalu memberimu harga khusus. Sangat murah.”
“Jangan lupa budi baikku, meong.”
“Tidak akan, tidak akan.” Zhang Mu mengusap kepala Xuan Ji sekilas.
Xuan Ji memalingkan kepalanya, lalu melompat turun dari meja. “Baiklah, semua sudah kusampaikan. Aku pergi mengurus urusan lain dulu, meong.”
Begitu selesai berbicara, Xuan Ji melangkah dengan gaya kucing kecil. Tubuhnya berubah menjadi asap hitam dan lenyap ke dalam kegelapan malam.
Setelah Xuan Ji pergi, Zhang Mu juga tidak berminat beristirahat. Ia kembali ke kamar dan memanggil kembali Papan Takdir Surgawi.
…
Keesokan harinya.
Zhang Mu membuka mata dari meditasinya.
Malam sebelumnya, ia menghabiskan waktu semalam suntuk untuk menantang sepuluh pertandingan di Papan Takdir Surgawi. Ia menghabiskan energi senilai lima puluh tael perak dan berhasil menempatkan namanya di peringkat ke-91.
Dalam sepuluh pertarungan itu, Zhang Mu tidak menggunakan Pembantaian Naga Dingin Menyambut Musim Semi. Ia membunuh lawan-lawannya dengan Seni Pedang Tiga Bakat.
Setelah menguasai Pembantaian Naga Dingin Menyambut Musim Semi, Zhang Mu menyadari bahwa penggunaan Pedang Unsur Manusia miliknya juga menjadi jauh lebih tajam. Ia merasa tidak lama lagi akan mampu menyimpulkan Pedang Unsur Bumi yang sesungguhnya.
Setelah memperkuat Keberuntungan Bela Diri Bawaan sebanyak sepuluh kali lagi, Zhang Mu mulai menerobos titik-titik akupunktur.
Ia tidak hanya berhasil menembus titik akupunktur pertama yang sebelumnya tinggal selangkah lagi, tetapi bahkan berhasil menembus titik akupunktur kedua menjelang pagi.
Sayangnya, tubuhnya sudah mulai memberi beberapa peringatan. Sebelum Xuan Ji mengantarkan Pil Pelentur Meridian Kecil, ia tidak dapat melanjutkan terobosan.
Namun, itu juga kebetulan.
Hari ini masih ada satu kesempatan besar yang menantinya.
Zhang Mu bangkit dan keluar dari kamar. Setelah membersihkan diri sekadarnya, ia pergi ke aula biro pengawal untuk melapor.
Namun, setelah menyelesaikan pelaporan, saat hendak pergi, Song Yuanqing memanggilnya.
“Kak Song, ada urusan apa mencariku?” tanya Zhang Mu dengan heran.
Halaman (3/3)
Song Yuanqing tersenyum. Ia mengeluarkan sebuah undangan dari balik bajunya dan menyerahkannya kepada Zhang Mu. “Bukan aku yang mencarimu. Ada orang lain yang mencarimu. Ini undangannya.”
Zhang Mu tertegun dan menerima undangan itu. Di dalamnya tertulis bahwa ia diundang untuk menghadiri jamuan makan di Restoran Jinzui pada pukul tujuh malam. Nama yang tercantum sebagai pengundang adalah Li Mingdao.
“Hm?” Zhang Mu semakin bingung.
Ia tahu Restoran Jinzui. Itu adalah restoran terbesar di Kabupaten Wan’an. Konon, pemilik di baliknya adalah Liu Yuan, sekretaris utama Kabupaten Wan’an, yang memiliki pengaruh kuat di daerah tersebut. Tentu saja, biaya makan di sana tidak murah.
Namun, Li Mingdao yang mengundangnya…
“Dia adalah Kepala Penangkap Li dari kantor kabupaten.” Song Yuanqing tersenyum. “Kasus Wang Bo yang membunuh putrinya sudah berhasil diungkap. Rincian kasus itu bahkan membuat kepala kabupaten sangat terkejut, sehingga dia secara khusus memuji Kepala Penangkap Li karena ketegasannya dalam menyelidiki perkara.”
“Kepala Penangkap Li tahu bahwa semua ini berkat gagasanmu. Karena itu, dia mengadakan jamuan makan khusus untuk berterima kasih kepadamu.”
Zhang Mu berpikir sejenak.
Qiu Yingdong hendak berurusan dengannya. Jika ia terlebih dahulu menjalin hubungan baik dengan atasan langsung Qiu Yingdong, tampaknya tidak ada ruginya.
Ia pun mengangguk. “Baik, aku mengerti. Aku akan datang tepat waktu.”
Song Yuanqing menepuk bahu Zhang Mu. “Selama beberapa hari ke depan, aku tidak akan memberimu tugas. Berlatihlah dengan baik.”
Zhang Mu mengangguk. “Terima kasih, Kak Song.”
…
Setelah meninggalkan aula biro pengawal, Zhang Mu langsung keluar dari gerbang biro pengawal.
Di siang bolong seperti ini, ia tidak perlu khawatir Qiu Yingdong akan berani melakukan sesuatu.
Mengandalkan ingatannya, Zhang Mu berjalan menuju Toko Barang Dagangan Lixing milik Zhou Yuanguang.
Di sana, masih tersisa satu kesempatan besar terakhir.
…
Pada saat yang sama, beberapa ratus li dari Kabupaten Wan’an, tersembunyi di antara pegunungan hijau dan danau jernih, berdiri sebuah markas besar yang cukup luas.
Di salah satu lapangan latihan dalam markas itu, ratusan lelaki kuat bertelanjang dada sedang berlatih ilmu golok. Teriakan mereka mengguncang langit dan bumi.
Di panggung tinggi yang menghadap lapangan, seorang lelaki bertubuh besar dengan wajah penuh janggut duduk dengan kaki bersilang. Ia memegang guci arak dan terus menenggaknya dengan suara tegukan yang terdengar jelas.
Saat itu, seorang pemuda berjalan naik ke panggung dan berkata sambil tersenyum, “Kak Han, tampaknya suasana hatimu sedang sangat baik.”
Lelaki berjanggut itu tentu saja adalah Lao Han, tahanan yang pernah mendekam di penjara bersama Zhang Mu.
Begitu melihat pemuda itu, Lao Han tertawa lebar. “Kalian sudah menjemput Saudara Chen Gui?”
“Dia sudah naik ke markas. Sekarang sedang diatur tempat tinggalnya.”
“Baguslah.” Lao Han mengangguk, lalu bertanya, “Surat perak yang kuberikan kepada pemuda bernama Zhang itu sudah diterimanya?”
“Sudah.” Pemuda itu duduk di samping Lao Han. “Tuan Wu berkata, pemuda Zhang itu sudah memasuki jajaran praktisi dan sedang kekurangan uang untuk berlatih.”
Mendengar itu, wajah Lao Han berubah. Ia menurunkan guci araknya. “Apa katamu?”
“Aku bilang pemuda Zhang itu sedang kekurangan uang untuk berlatih…”
“Bukan itu. Maksudmu, dia sudah memasuki jajaran praktisi?” tanya Lao Han.
Pemuda itu mengangguk. “Begitulah yang dikatakan Tuan Wu.”
“Mustahil!” Lao Han berkata dengan terkejut. “Saat dia dibius di penjara, aku pernah mengujinya. Waktu itu, dia baru membuka dua titik akupunktur.”
“Baru beberapa hari berlalu, dan dia sudah menjadi praktisi?”
Mendengar perkataan Lao Han, wajah pemuda itu juga berubah serius. “Dalam perjalanan, aku mendengar dari Saudara Chen Gui bahwa pemuda Zhang itu juga pernah mengalami percobaan pembunuhan. Dia menghilang hampir sepuluh hari, sampai-sampai biro pengawal meminta kantor kabupaten melakukan pencarian di berbagai tempat. Jika selama sepuluh hari itu dia hanya memulihkan luka, berarti dia bahkan tidak punya tenaga untuk berlatih…”
“Sialan!” Lao Han tiba-tiba berdiri. “Dengan bakat seperti ini, untuk apa dia tinggal di biro pengawal bobrok itu!”
Sambil berkata demikian, Lao Han berjalan turun dari panggung.
“Kak Han, hendak pergi ke mana?” teriak pemuda itu.
“Menemui kepala markas!” jawab Lao Han tanpa menoleh.