Bab Delapan: Ada Tumor di Otaknya
“Lebih baik aku berangkat kerja dulu saja. Hal lain bisa dipikirkan nanti!” Xu Zhuo kembali berlari keluar dari asramanya. Selain karena terburu waktu, ia juga ingin merayakan penglihatannya yang telah pulih. Hari ini, ia tidak mau berdesakan di bus, melainkan langsung melambaikan tangan dan menghentikan taksi. Meski sudah berkali-kali meminta sopir untuk ngebut, tetap saja ia tiba terlambat—bahkan sampai setengah jam.
Di tempat kerja lain, terlambat setengah jam mungkin bukan masalah besar, asal bisa cari-cari alasan, biasanya atasan juga tidak akan benar-benar mempermasalahkan. Toh, siapa sih yang tidak pernah punya urusan mendesak atau kejadian tak terduga? Siapa yang bisa menjamin seumur hidup tak pernah terlambat? Tapi sekarang, Xu Zhuo benar-benar gelisah, bukan karena ia penakut, melainkan karena ia terlalu sensitif!
“Duh, pasti nanti di depan umum aku bakal dimaki-maki lagi sama nenek sihir tua itu!” Xu Zhuo jelas merasa kesal, ingin rasanya memukul wanita itu. Tapi begitu teringat betapa susahnya ia mendapat pekerjaan ini, mau tak mau ia harus menebalkan muka untuk melapor ke kantor Lu Yongju. Soalnya, wanita itu memang sudah menekankan, setiap pagi Xu Zhuo harus ke kantornya agar ia bisa melihat dengan mata kepala sendiri.
Bagian anak adalah salah satu departemen tersibuk di rumah sakit. Saat Xu Zhuo tiba di kantor merangkap ruang periksa Lu Yongju, di dalam sudah penuh sesak pasien. Xu Zhuo jelas tidak mau mengganggu konsultasi dokter, jadi ia berdiri menunggu di samping. Begitu melihat Lu Yongju beristirahat minum teh, barulah ia maju dan menjelaskan, “Kepala Lu, tadi pagi saya…”
Belum sempat selesai bicara, wanita tua itu sudah melambaikan tangan, menghentikan Xu Zhuo. Begitu tutup cangkir teh diletakkan, percikan ludahnya langsung berhamburan ke arah Xu Zhuo, seakan-akan hendak menenggelamkannya. “Jangan kasih alasan! Aku tak mau dengar penjelasan apa pun! Terlambat ya terlambat! Aku kasih tahu, kalau tiga kali terlambat, jangan harap bisa lulus! Tak pernah lihat dokter yang tak profesional seperti kamu, berani-beraninya telat! Kamu tahu tidak, hal terpenting bagi seorang dokter itu apa? Disiplin waktu! Saat operasi, setiap menit kamu terlambat sama saja menambah risiko kematian pasien! Kamu tahu tidak?! Kamu tahu tidak, ha?!@*#¥…”
Nada bicaranya sangat cepat, keras, tajam, dan galak. Tak hanya Xu Zhuo yang jadi sasaran utama, bahkan pasien dan keluarga pasien di sekitar pun secara spontan mundur menjauh!
Semua orang menatap Xu Zhuo dengan pandangan penuh rasa kasihan. Dari lorong luar, samar-samar terdengar bisik-bisik dan tawa ejekan dua perawat muda.
“Kepala Lu, saya…” Xu Zhuo mencoba memanfaatkan jeda saat wanita itu minum teh untuk bicara lagi, tapi kembali saja dipotong.
“Aku lagi tak punya waktu mengurusimu…”
Xu Zhuo merasa lega, buru-buru membalik badan, “Kalau begitu, saya ke bangsal saja membantu sebentar!”
“Berhenti! Siapa yang mengizinkan kamu pergi?!”
Xu Zhuo pun terpaksa berbalik lagi. Namun, baru saja ia berbalik, matanya tiba-tiba berkedip dua kali, seperti ada kilat menyambar di depan mata. Pemandangan yang ia lihat membuatnya tertegun!
Di depan matanya, Lu Yongju sudah bukan lagi manusia hidup, melainkan sebuah tengkorak! Ia bisa melihat langsung daging, tulang kepala, pembuluh darah yang sangat rapat, bahkan otak yang mengerikan—semuanya membuat Xu Zhuo sangat terkejut! Ia buru-buru mengusap matanya, dan saat menatap lagi, Lu Yongju kembali menjadi wanita tua keriput yang kering, masih saja memaki tanpa henti.
“Aneh, barusan sepertinya aku melihat di kepala Kepala Lu ada sesuatu seperti tumor, ukurannya besar, kira-kira sebesar telur puyuh!” Xu Zhuo membatin, berkedip-kedip, lalu menatap Lu Yongju dalam-dalam, ingin tahu apakah ia bisa “menembus” lagi!
Jelas, kemampuan barusan itu adalah semacam “penglihatan tembus pandang”. Pagi tadi di balkon ia memang tidak berhasil mencobanya, tak disangka tanpa sengaja kini ia bisa melakukannya.
Sayang, meski sudah berkedip belasan kali dan mencoba mengalirkan energi ke bola mata, tetap saja tidak ada keanehan apa pun! Adegan barusan seperti bunga yang hanya mekar sekejap, lalu menghilang tanpa jejak!
“Jangan-jangan ini seperti jurus Pedang Enam Urat milik Duan Yu, kadang bisa, kadang tidak?” Xu Zhuo merasa frustrasi. Saat itu, jeritan tajam penuh kemarahan dari wanita tua itu membangunkannya kembali ke kenyataan.
“Ngelamunin apa! Apa di mukaku tumbuh bunga?!” Lu Yongju berkerut dahi, matanya berkilat marah, jelas sekali ia benar-benar terbakar emosi. Kalau tadi Xu Zhuo terlambat hanya dijadikan alasan untuk memarahinya, kini benar-benar membuatnya marah!
Umurnya baru sekitar lima puluh satu atau dua, tapi kerutan di wajahnya sudah banyak. Bagi Lu Yongju yang suka dandan dan sering mengecat kuku seperti anak muda, kerutan di dahi adalah hal yang paling ia benci, apalagi saat marah, kerutan itu makin jelas. Ia pernah beberapa kali operasi plastik ke Korea, tapi hasilnya malah makin buruk. Barusan Xu Zhuo menatapnya lama-lama, membuatnya mengira Xu Zhuo sedang mengejek keriputnya. Mana mungkin ia tidak meledak emosi? Kalau saja tak ada pasien di ruang itu, mungkin cangkir teh sudah dilemparkan ke kepala Xu Zhuo!
“Tidak, tidak ada apa-apa…” Xu Zhuo masih terkejut dengan apa yang barusan terjadi—perasaan luar biasa saat kemampuan tembus pandang itu muncul untuk pertama kali, ditambah lagi keheranan setelah melihat ada tumor di kepala wanita itu. Saat ditanya, tanpa sadar Xu Zhuo justru bicara jujur, “Kepala Lu, sepertinya di kepala Anda ada benjolan, tapi saya kurang jelas, tidak tahu apakah itu jinak atau ganas. Sebaiknya Anda periksa saja…”
“Apa?! Pergi kamu! Justru kamu yang otaknya bermasalah!” Lu Yongju langsung naik darah, mengangkat cangkir dan hampir saja melemparkannya.
Barulah Xu Zhuo sadar situasi makin gawat, ia buru-buru kabur, meninggalkan wanita tua itu yang melolong-lolong marah di belakangnya. Hampir semua orang di departemen pasti mendengar. Tapi tak seorang pun datang, sebab jika hari ini Lu Yongju tidak marah-marah, rasanya bukan Lu Yongju namanya. Di seluruh departemen, rasanya tak ada yang menyukai wanita tua itu, bahkan mereka yang ingin menjilat dan mencari muka pun enggan mendekat saat suasana seperti ini.
“Kurang ajar, berani-beraninya anak itu mengutuk aku punya tumor di otak! Kalau sampai aku luluskan dia, aku bukan Lu Yongju!” Wanita tua itu masih geram, duduk di kursi berlengan dengan wajah merah padam, dalam hati menggerutu, “Kalau aku sampai termakan omongan jahat anak itu lalu pergi periksa, di mana mukaku mau disimpan? Bukankah bakal jadi bahan tertawaan orang? Huh, aku tak mau periksa, badan ini masih sangat sehat, mana mungkin ada penyakit?!”
“Tapi, yang aku katakan itu benar…” Di luar ruangan, Xu Zhuo menggeleng dan menghela napas, merasa dirinya memang terlalu gegabah. Walau harus disampaikan, mestinya bukan di tempat dan situasi seperti tadi. Mana mungkin wanita itu percaya? Hampir tak ada yang akan percaya, semua pasti mengira Xu Zhuo hanya membalas makian dengan perkataan jahat, meski ia masuk ke Sungai Kuning pun tak akan membersihkan namanya.
Namun, setelah berpikir sejenak, Xu Zhuo tetap memutuskan, jika ada kesempatan, ia akan membantu “memeriksa” ulang Lu Yongju. Kalau memang benar ada tumor, ia harus membujuk wanita itu untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Bagaimanapun, hati seorang dokter harus tulus, ini soal hidup dan mati seseorang. Percaya atau tidak itu urusan Lu Yongju, menyampaikan atau tidak itu tanggung jawab dirinya.
Meski Lu Yongju benar-benar menyebalkan, selalu menarget dan mempermalukannya, sangat menyakitkan dan sulit dihadapi, Xu Zhuo merasa sebagai dokter sejati, matanya hanya boleh mengenal dua jenis manusia—pasien dan bukan pasien.