Bab 30: Gunung Naga
Lin He mengemudikan jip tua berwarna hitam menyusuri jalan pegunungan yang berkelok dan berliku. Jiujiu duduk di bangku belakang, satu tangan memegang keripik kentang, tangan lain menggenggam botol besar cola, sementara ponsel diletakkan di atas pahanya, memutar bahasa Yǐngzhōu yang tak dimengerti oleh Lin He.
“Apa yang sedang kamu tonton?” tanya Lin He dengan rasa ingin tahu.
“Anime,” jawab Jiujiu sambil berkedip pelan, mengamati Lin He dengan hati-hati, ingin memastikan apakah atasannya itu juga seorang pecinta dunia dua dimensi.
“Oh,” Lin He hanya menanggapi singkat. Sebenarnya, ia tak begitu memahami hal-hal yang digemari anak muda zaman sekarang. Sejak lulus dari Akademi Luar Biasa, ia terus berpindah-pindah tempat, hampir tak punya waktu untuk dirinya sendiri.
Setelah upayanya membuka percakapan gagal, Lin He pun tak tahu harus bicara apa lagi. Ia membuka kedua jendela di bangku depan, lalu menyalakan sebatang rokok.
Angin dingin yang berhembus masuk menyebarkan asap rokok ke segala arah. Saat itu, Lin He memperhatikan bahwa pakaian Jiujiu tampak agak tipis, sehingga ia pun bertanya.
“Kamu kedinginan?”
“Hah?” Jiujiu sempat bingung, lalu segera menyadari maksudnya.
Hari ini ia masih mengenakan jaket merah, dipadukan dengan blus sifon putih, dan di baliknya ada sweter putih polos. Bagian atas tubuhnya cukup hangat.
Sedangkan bagian bawah, ia menunduk memeriksa penampilannya—celana pendek denim warna terang dipadu dengan legging putih polos.
Saat Lin He menatap kakinya, Jiujiu berkedip pelan.
“Ini sama sekali nggak dingin, sangat hangat!” katanya, seraya menarik legging untuk menunjukkan betapa tebalnya lapisan itu.
“Baiklah,” Lin He mengangguk, lalu mengalihkan pembicaraan, “Nanti kita mungkin akan masuk ke dalam hutan. Kamu nggak takut pakaianmu kotor?”
“Tidak apa-apa,” Jiujiu menyeringai nakal, mengambil celana jeans dari tas di sampingnya. “Tada! Aku bawa celana jeans. Nanti pas naik gunung, tinggal pakai saja di atas leggingku!”
“Kamu sudah sangat siap.” Lin He tersenyum, menghisap rokok terakhir lalu mematikan puntungnya di asbak mobil.
Mengemudi di jalan pegunungan yang berkelok sebenarnya cukup menguras tenaga dan butuh konsentrasi tinggi. Ketika Lin He hendak kembali fokus menyetir, suara dari ponsel Jiujiu tiba-tiba terhenti.
“Eh, kok nggak ada sinyal?” suara Jiujiu terdengar heran dari belakang.
Lin He memperhatikan titik-titik air hujan mulai jatuh di kaca depan jip. Dalam sekejap, gerimis berubah menjadi hujan lebat. Butiran air besar menghantam mobil dan jalanan, menimbulkan suara berdentum keras.
“Lin, hujan turun deras sekali, ya. Di pegunungan musim dingin juga bisa hujan sederas ini?” Jiujiu memandang keluar jendela dengan takjub.
“Biasanya tidak sedemikian deras,” Lin He menarik napas dalam, lalu bertanya, “Jiujiu, coba hubungi yayasan.”
Jiujiu mengeluarkan ponsel dan menekan nomor darurat yayasan, tapi begitu tersambung, langsung terputus. Ia menoleh pada Lin He, “Nggak bisa menelepon, benar-benar nggak ada sinyal.”
“Di bawah kursi belakang ada telepon satelit, coba hubungi yayasan pakai itu,” kata Lin He sambil memperlambat laju mobil dan memutar balik arah.
“Baik!” Jiujiu juga mulai sadar ada yang tak beres. Ia meraba-raba di bawah kursinya, mengeluarkan sebuah kotak berisi telepon satelit.
Hanya ada satu nomor di sana, dan Jiujiu langsung menekan tombol panggil.
“Halo, ini Yayasan Cabang Kota Putih. Lin He?” Suara Zhou Ya segera terdengar di ujung sana.
“Zhou Ya, kami mendapat masalah. Sampaikan ke Penjaga Kota, benda terlarang di Gunung Naga mungkin sudah sepenuhnya matang!” Lin He bicara cepat dan lantang.
“Halo? Lin He? Gunung Naga... ben... da... ter... lar... ang... ba... ga... i... ma... na... ti... dak... je... las...”
Setelah itu, suara di telepon berubah menjadi deru statis, dan tak lama kemudian benar-benar terputus.
“Lin?!” Jiujiu memandang Lin He dengan cemas.
“Tidak apa-apa,” Lin He sudah memutar balik, menekan pedal gas. “Pakai sabuk pengaman, kita pulang sekarang!”
Jiujiu cepat-cepat memasang sabuk pengaman. Tak lama, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia benar-benar merasakan bagaimana rasanya berada di ambang hidup dan mati, melaju dengan kecepatan penuh.
Hujan lebat, jalan pegunungan, turunan, ditambah kecepatan tinggi hampir tanpa batas. Beberapa kali ketika berbelok, jip mereka menabrak pembatas, percikan api memancar dari bodi yang bergesekan dengan besi.
“Lin...!” Dalam guncangan hebat itu, Jiujiu merasa seolah makan malam kemarin akan keluar lagi.
“Dengar perintahku, jangan hilang fokus!” Lin He tiba-tiba berteriak.
Di depan, tempat yang semula jalanan, entah sejak kapan sudah ambles, meninggalkan lubang besar. Mendengar teriakan Lin He, Jiujiu juga menyadari bahaya di depan mereka.
“Nanti aku hitung mundur, kamu keluarkan angin. Mengerti?” teriak Lin He.
“Mengerti!” jawab Jiujiu keras.
“Bagus!”
Lin He menekan pedal gas sedalam-dalamnya.
“Tiga!”
“Dua!”
“Satu!”
“Angin!”
Jip itu melesat keluar dari jalan yang terputus, menuju ujung seberang. Namun, meski dengan kecepatan setinggi itu, tetap saja mereka hampir tak bisa mencapai sisi seberang.
Saat itulah, hembusan angin kencang mendadak menerpa, membawa serta hujan deras menghantam bagian belakang dan bawah jip, memberikan dorongan tambahan.
Beberapa detik kemudian, roda depan jip menyentuh permukaan jalan, disusul seluruh bodinya.
Begitu mobil mendarat, Jiujiu yang tegang langsung lemas, keringat membasahi sweter di balik pakaian luarnya. Ia terengah-engah di kursi, tak peduli lagi meski mobil masih melaju kencang.
“Kamu hebat sekali,” Lin He melemparkan tatapan memuji lewat spion.
Jiujiu tersenyum lebar, memperlihatkan gigi putihnya, wajahnya penuh kegembiraan setelah lolos dari maut. “Kejadian ini bakal kuceritakan seumur hidup.”
Namun, tak lama kemudian, Lin He menginjak rem mendadak, membuyarkan kegembiraannya.
Di depan, tanah longsor menutup seluruh jalan dengan lumpur dan batu-batu besar.
“Kamu mungkin harus pakai celana jeansmu sekarang,” kata Lin He sambil melepas sabuk pengaman, merangkak ke bangku belakang, dan mengeluarkan dua jas hujan dari balik kursi. Satu dilemparkannya pada Jiujiu, “Agak besar, pakai saja seadanya.”
Ia pun mengenakan jas hujan lainnya.
Jiujiu membuka jas hujan yang masih baru dan berbau plastik, lalu segera memakainya. Jas itu memang kebesaran, membuat tubuh mungilnya setinggi seratus lima puluh senti tampak lucu dan gembung, tapi masih bisa dipakai untuk berjalan.
Lin He membuka pintu dan turun dari mobil, Jiujiu segera mengikut.
“Berapa lama kamu bisa berjalan dengan bantuan angin?” tanya Lin He.
“Kalau cuma aku sendiri, sekitar dua jam. Setelah itu harus istirahat setengah jam baru bisa pakai kekuatan lagi,” jawab Jiujiu, kepalanya yang tertutup tudung besar hanya memperlihatkan mulutnya. Ia mengangkat tudung itu sedikit, menampakkan mata sambil menatap Lin He.
“Kecepatannya berapa?” Lin He lanjut bertanya.
“Paling cepat sekitar enam puluh kilometer per jam,” Jiujiu berpikir sejenak, “Kalau mau bertahan lama, rata-rata empat puluh kilometer per jam.”
“Cukup,” Lin He mengangguk, lalu menunjuk ke arah Kota Putih, “Tugasmu sekarang adalah kembali, sampaikan ke yayasan bahwa ada kemungkinan terjadi anomali di Gunung Naga. Diduga benda terlarang tingkat 4 sudah matang, memiliki kemampuan mengganggu sinyal dan mengendalikan hujan.”
“Lin, kalau kakak sendiri?” tanya Jiujiu spontan. “Dua orang juga bisa aku bawa...”
“Tidak perlu,” Lin He mengibaskan tangan, mengenakan jas hujan dan melangkah pergi. “Kamu tidak mungkin membawa dua orang sekaligus dengan cepat. Yang kita butuhkan sekarang adalah mengabari yayasan secepat mungkin. Lagi pula,”
Ia menatap ke dalam hutan, “Di gunung ini masih ada puluhan keluarga. Aku harus pastikan keadaan mereka, serta mengumpulkan informasi lebih banyak tentang benda terlarang itu. Awalnya aku ingin mengantar kamu sampai ke kaki gunung, tapi sekarang kamu harus mengandalkan dirimu sendiri.”
“Lin...” Mata Jiujiu mulai basah, air mata menggenang.
“Jangan menangis, aku bukan mau mati,” Lin He memotong, “Aku pasti selamat, kamu juga. Bertahanlah, bawa pesan ini keluar.”
Ia terdiam sejenak, “Kalau aku benar-benar tidak kembali, informasi tentang benda terlarang akan kutuliskan di buku catatan yang selalu kubawa.”
Kemudian, ia menatap Jiujiu dengan dingin, “Pergilah sekarang! Ini perintah!”
“Siap!” Angin mengangkat tubuh Jiujiu, air matanya bercampur hujan saat ia perlahan melayang turun menuju kaki gunung.
Lin He tak menoleh, hanya melangkah diam di antara batu dan lumpur.
Benda terlarang tingkat 4 sebenarnya tak selalu mengerikan, tak selalu mematikan, bahkan ada yang membuat seseorang meninggal dengan bahagia.
Setiap benda terlarang baru punya kemampuan dan syarat penyegelan yang sama sekali tak bisa ditebak. Misalnya, “Lagu Perjalanan Akhir” nomor 6-36, syarat penyegelannya adalah kotak kayu persik bertatahkan relik rahib. Syarat sederhana itu saja sudah merenggut nyawa sembilan belas anggota yayasan.
Setiap eksplorasi sifat benda terlarang pasti memakan korban lebih banyak. Kini, benda terlarang Gunung Naga baru saja matang, banyak sifatnya mungkin baru saja muncul.
Semakin cepat Lin He menemukan sifatnya, semakin sedikit korban dari tim bantuan yayasan.
Ada beberapa hal yang harus dilakukan seseorang.
Sosok berjas hujan itu melesat memasuki hutan, berlari menuju arah desa Lembah Gunung Naga sesuai ingatannya.
Sementara itu, di kantor nomor 39 Jalan Ibu Kota, Zhou Ya meletakkan telepon satelit di meja, memandang pria berkacamata berseragam putih yang duduk di bawahnya.
“Apa bisa menghubungi Kapten Lin He?”
“Tidak bisa,” jawab pria itu. Ia melanjutkan, “Di sekitar Gunung Naga tiba-tiba turun hujan lebat. Ada saksi yang melihat jalan menuju beberapa desa di Gunung Naga terkena longsor, sekarang benar-benar tertutup. Selain itu, di area yang dilanda hujan sama sekali tak terdeteksi sinyal komunikasi, bahkan satelit lumpuh.”
“Kapten Lin tidak ada, sekarang aku ambil alih komando Kota Putih,” Zhou Ya memaksa diri tetap tenang. “Benda terlarang tingkat empat di Gunung Naga sudah matang. Hubungi pemerintah, tutup akses ke daerah Gunung Naga. Susun peneliti untuk bekerja sama dengan pemerintah, lakukan investigasi dari luar ke dalam, dan laporkan setiap dua jam sekali. Kirim tim eksplorasi, cek apakah masih ada yang selamat di desa-desa yang terisolasi hujan. Jika ada, usahakan evakuasi.”
“Siap!” jawab pria itu.
“Luo Zhuo, ada kabar dari markas besar Asia Timur?” Zhou Ya menoleh pada pria berseragam lain.
“Penjaga Kota Yang sedang dalam perjalanan, paling lambat malam ini sudah tiba di Bandara Kota Putih,” jawab pria bernama Luo Zhuo itu.
“Baik,” Zhou Ya mencengkeram pinggiran meja, memandang semua orang di ruangan. “Panggil kembali seluruh anggota luar biasa yang sedang bertugas di luar untuk tugas non-darurat. Ini sangat mungkin benda terlarang tingkat empat. Jika gagal, dampaknya bisa meluas ke Kota Putih, dan akibat itu tak bisa kita tanggung.”
“Siap!”
“Selain itu,” Zhou Ya memejamkan mata, “Usahakan temukan Kapten Lin dan Jiujiu, hidup atau mati.”