Bab Dua Puluh Dua: Hilang
“Kak, malam ini kita makan...” Mo Yue dan Mo Yu hampir bersamaan tiba di rumah, namun Mo Yue belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika melihat bungkusan mie goreng dan bihun goreng di tangan Mo Yu. Ia langsung girang, mengambilnya dan membukanya, “Wah! Kakak beli bihun goreng?”
“Iya!” Mo Yu tersenyum sambil mengelus kepala Mo Yue, “Kaget nggak?”
“Kaget banget, super duper senang!!!” Mo Yue hampir melompat kegirangan, buru-buru membongkar bungkusnya, bahkan membawa kotak nasi itu ke hidung dan menghirup dalam-dalam, “Ini dia baunya! Kakak beli dari paman di depan sekolahmu itu?”
“Iya,” Mo Yu tersenyum sambil mengambil satu kotak lagi untuk dirinya, “Sekarang paman itu pindah lapak ke depan toko kita.”
“Serius? Berarti kita bisa makan bihun goreng tiap hari dong?”
“Serius, tapi kita nggak boleh makan tiap hari.” Mo Yu memandangi adiknya yang sudah wajahnya merah saking semangat, lalu mengambil sumpit bambu dan mengetuk pelan kepalanya, “Kalau makanannya terlalu monoton, bisa kekurangan gizi, dan kalau terus-terusan makan yang berminyak dan asin, nanti bisa gemuk.”
“Iya, iya, kakak bener deh!” Mo Yue manyun, lalu membuka kotak nasinya dengan semangat.
Melihat adiknya sudah lahap menyantap makanannya, Mo Yu tersenyum lembut. Saat masih kecil, selalu ada orang tua yang mengingatkan untuk menjaga kesehatan, tapi saat sendirian, hanya dirimu sendiri yang bisa menjaga dirimu.
Sejak orang tua mereka meninggal, Mo Yu secara otomatis mengambil peran sebagai orang tua.
“Makan pelan-pelan, jangan sampai tersedak.”
“Hehe.” Mo Yue mengangkat kepala, mulutnya masih belepotan minyak, lalu tertawa bodoh sebelum kembali makan.
Mo Yu menggelengkan kepala sambil tersenyum, lalu membuka kotaknya sendiri dan mulai makan.
Setelah semua makanan habis ludes, keduanya tergeletak di sofa, sama-sama menahan perut kenyang sambil bersendawa.
“Oh iya, temanmu itu sudah pulang?” Mo Yu baru sadar hari ini tidak melihat Jiang Ling, lalu bertanya.
“Sudah, hiks~ tadi pagi dia pulang, aku yang antar ke terminal bus.” Mo Yue berbaring santai di sofa.
“Tambah teman dong di sekolah. Dari kelas satu SMA, kamu nggak pernah bawa teman main ke rumah, anak seusiamu kan pasti ada beberapa teman dekat, ya? Akhir pekan juga nggak pernah ada teman yang datang, tiap hari sendirian saja, nggak tahu keluyuran di mana...”
“Waduh,” Mo Yue langsung menutup telinganya dan menggeleng-geleng kepala, “Nggak mau dengar, nggak mau dengar, ceramah melulu.”
“Kamu...” Mo Yu tertawa, baru akan bicara lagi, tiba-tiba suara dering telepon terdengar.
Mo Yue merogoh ponsel dari bawah bantal sofa, melirik sebentar, ternyata dari Jiang Ling. Langsung saja ia angkat di depan Mo Yu, “Halo, Jiang Ling? Ada apa?”
“Mo Yue, tolong aku, kakakku hilang.”
Terdengar suara tangis dari seberang.
Mo Yue langsung duduk tegak, “Tenang, ceritakan pelan-pelan. Apa yang terjadi? Bagaimana dia bisa hilang?”
“Kakakku...” Jiang Ling terisak sebentar, baru bisa menjelaskan dengan jelas, “Hari Kamis lalu, ada beberapa orang kota yang mau bertualang ke gunung. Di belakang rumah kami ada hutan yang belum dikembangkan, dan di desa cuma kakakku yang sering masuk ke sana berburu, jadi mereka minta kakakku jadi pemandu.”
“Awalnya masih bisa dihubungi, tapi sore harinya telepon sudah tak bisa tersambung. Sebenarnya kakak sering juga masuk hutan sampai nggak ada sinyal, tapi kalau sudah masuk kawasan tak ada sinyal, biasanya sore pasti pulang.”
“Tapi sampai malam dia nggak pulang, telepon juga nggak bisa dihubungi, setelah itu sama sekali nggak ada kabar, dua hari nggak pulang, keluarga sudah beberapa kali cari ke hutan tapi nggak ketemu.”
“Baru sore ini aku pulang, mereka baru cerita, Mo Yue, tolonglah aku. Kami sudah cari ke mana-mana, tapi kakakku tetap nggak ketemu.”
Tangisnya semakin keras.
“Kamu jangan panik, nggak apa-apa. Kalian sudah lapor polisi?”
“Sudah, polisi juga belum nemu. Katanya nanti akan kirim tim penyelamat buat cari. Orang-orang desa bilang, kalau sudah begini biasanya nggak bakal pulang lagi...hiks.” Suaranya tercekat, jadi tak jelas terdengar.
“Nggak apa-apa, santai saja, kirim lokasi ke aku, aku segera ke sana. Tenang saja, pasti akan ketemu.” Mo Yue menjepit ponsel di antara kepala dan bahunya sambil mengenakan sepatu.
“Iya...”
Setelah itu Mo Yue menutup telepon, belum sampai semenit, sebuah pesan lokasi masuk.
Mo Yue berdiri, mengambil jaket, hendak pergi, namun tangannya tiba-tiba ditarik. Ia menoleh, bertemu tatapan heran Mo Yu.
“Mau ke mana malam-malam begini?”
“Kak~ Kakaknya Jiang Ling hilang, aku harus ke sana temani dia~” Mo Yue menggoyang-goyangkan tangan Mo Yu.
“Aku dengar kok, kakaknya hilang, polisi saja belum bisa cari, kamu yang masih lima belas tahun mau apa? Kamu dukun di ujung jalan? Bisa ramal terus tahu orangnya di mana? Lagian rumahnya di gunung, dari kaki gunung terdekat saja butuh lebih dari dua jam naik mobil. Kalau kamu sampai sana sudah tengah malam, bisa apa kamu? Mau panggil semua orang tengah malam ke gunung cari orang?”
“Kak~ Onee-chan~” Mo Yue manja.
“Nggak bisa!” Mo Yu menggeleng tegas.
“Ya sudah deh,” Mo Yue duduk manis, mengeluarkan ponsel, menggoyang-goyangkannya di depan Mo Yu. “Aku bilang ke dia dulu.”
Sebenarnya, ia berpindah ke chat dengan Shen Na,
‘Shen Na, kakaknya Jiang Ling hilang, suruh orang cek dulu keadaannya, lalu malam ini juga suruh beberapa orang ke sekitar rumah Jiang Ling.’
‘[Info Lokasi]’
‘Tambah Jiang Ling sebagai teman, lalu buat grup dengan Jiang Ling dan orang-orang itu, nanti mereka langsung dengar perintah dari Jiang Ling.’
‘[Kontak Jiang Ling]’
Balasan Shen Na datang hampir seketika.
‘Siap, Kakak.’
Lalu Mo Yue kembali ke chat Jiang Ling,
‘Jiang Ling, malam ini aku nggak bisa datang, kakakku nggak mengizinkan.’
Tak lama, balasan masuk.
‘Ah! Mo Yue, nggak usah malam ini! Nggak usah! Aku cuma sudah benar-benar putus asa makanya minta tolong ke kamu.’
‘Nggak apa-apa, aku sudah suruh Shen Na atur orang ke sana, paling lama dua jam sampai, nanti mereka akan dengar perintahmu, perhatikan pesan masuknya, tak lama lagi dia akan menambahmu sebagai teman. Tenang saja, tetap tenang, pasti akan ketemu.’
Jiang Ling membalas dengan tanda seru, sepertinya bingung harus berkata apa, karena sebelumnya ia belum pernah menghadapi hal seperti ini.
‘Besok pagi aku ke sana, kita pasti bisa menemukannya.’
Kali ini tak langsung dibalas. Di samping foto profil Jiang Ling hanya tampak tulisan ‘Sedang mengetik’, lama baru datang balasan.
‘Terima kasih, Mo Yue.’
Mo Yue menghela napas di sofa, akhirnya urusan ini beres.
Sebenarnya Mo Yue juga tahu, Jiang Ling mencari dirinya hanya karena panik dan tak tahu harus minta tolong pada siapa, seperti yang kakaknya bilang, ia bukan dukun di ujung jalan, tidak mungkin datang dan langsung tahu kakak Jiang Ling ada di mana.
Jiang Ling pun sadar akan hal itu, ia menelepon Mo Yue karena selain Mo Yue, ia tak kenal seorang pun yang bisa disebut ‘berkuasa’ atau ‘berpengaruh’.
Andai kemarin tidak kebetulan bertemu Mo Yue, mungkin Jiang Ling hanya bisa menangis sendirian di bawah selimut, tidak tahu harus minta tolong ke siapa.
Namun, apapun hasil akhirnya, Mo Yue tetap harus menunjukkan sikap yang pantas.
Sebagai seorang yang baru saja membangkitkan kekuatan supranatural, Jiang Ling adalah sekutu penting dalam rencana besar Mo Yue ke depan.
Mengatur bawahan, tidak lepas dari perpaduan antara ketegasan dan kebaikan. Mo Yue menunjukkan perusahaannya kepada Jiang Ling sebagai tanda kekuatan, mengalahkan Luo Er secara terang-terangan juga menunjukkan kekuatan fisik, itu semua bagian dari ketegasan;
Membawa Jiang Ling pulang, berbagi perasaan, itu bagian dari kebaikan. Demikian pula, menggerakkan semua kekuatan untuk membantu Jiang Ling mencari kakaknya, itu juga bentuk kebaikan.
Seorang ksatria akan berjuang demi orang yang menghargainya, baik laki-laki maupun perempuan tak ada bedanya.
Tentu saja, kebaikan Mo Yue selalu tulus, tidak sekadar basa-basi. Kalau hanya bicara manis di mulut, meski orang lain percaya, saat kepentingan nyata muncul, topeng itu akan terlepas.
Melihat adiknya yang tampak melamun di sofa, Mo Yu merasa adiknya hari ini terlalu mudah dibujuk.
Padahal adiknya ini, walau terlihat lembut dan penurut, pintar, tipe anak baik-baik, sebenarnya sangat licik dan keras kepala seperti keledai. Kalau sudah memutuskan sesuatu, dulu bagaimanapun susahnya dibujuk tetap tak akan berubah pikiran.
Namun Mo Yu tak ingin adiknya ikut campur dalam urusan Jiang Ling.
Kini Mo Yu sudah hampir yakin, tanda kartu di atas kepala seseorang kemungkinan besar menunjukkan dia adalah orang berkekuatan supranatural, jadi Jiang Ling juga pasti termasuk. Meski tampaknya Mo Yue belum tahu kalau temannya itu punya kekuatan khusus, Mo Yu tetap harus waspada.
Dunia ini terlalu berbahaya, terutama bila berurusan dengan orang-orang supranatural, bahkan jika kasusnya sendiri tidak berbahaya, kehadiran mereka saja sudah membuat segalanya jadi berisiko.
Dari pengalaman Mo Yu yang dulu sering baca novel dan menonton anime, sekali urusan biasa melibatkan orang luar biasa, segalanya jadi tidak biasa.
Mungkin kelihatannya hanya kasus orang hilang biasa, tapi jika melibatkan orang supranatural, jangan-jangan ada sekte sesat yang sedang melakukan ritual persembahan mengerikan?
Bayangkan saja sudah menakutkan.
Mo Yu merasa lebih baik membujuk Mo Yue agar menjauh dari Jiang Ling.
Seperti kata Xin Ge yang terkenal: “Kembangkan dirimu diam-diam, jangan cari masalah.”
Itulah situasi Mo Yu saat ini, menghadapi dunia yang berbahaya, Mo Yu memilih untuk berhati-hati.
Pelan-pelan mengumpulkan kartu, perlahan menambah kekuatan, berkembang diam-diam, jangan sampai orang luar tahu. Selama tak ada yang tahu seberapa kuat diriku, tak akan ada orang kuat yang datang mencari gara-gara!