Bab Dua Puluh Tiga Mo Yue, apakah kau sedang menjadi simpanan pria tua kaya itu?
Pukul empat pagi, segalanya sunyi senyap. Di tengah malam yang gelap, semuanya tampak begitu hening. Pintu kamar yang tertutup rapat perlahan terbuka sedikit, lalu sebuah kepala kecil muncul dari celah itu.
Moyue menengok ke sekeliling, memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu dengan hati-hati merayap keluar dari celah pintu, menutupnya perlahan-lahan sambil berusaha agar tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Tiba-tiba, lampu di ruang tamu menyala.
“Bangun sebelum ayam berkokok,” kata Moyu, bersandar pada saklar lampu ruang tamu dengan tatapan menggoda kepada adiknya yang bertingkah seperti pencuri, “Hari ini kamu bangun lebih pagi dari ayam, mau belajar ya?”
“Ah! Kakak! Ketahuan!” Moyue tertawa canggung, lalu mundur dua langkah di bawah tatapan tajam Moyu, bersandar pada pintu kamar. “Begini, Kak, aku kan adik kandungmu! Masak kamu tega sama adikmu sendiri?!”
Entah kenapa, Moyu merasa ada sedikit kegembiraan dalam nada suara adiknya ini?
“Aku tidak pernah punya pikiran aneh begitu,” Moyu menggeleng pelan. “Jadi, kamu mau ngapain pagi-pagi begini?”
“Kak, kenapa harus ke Jerman untuk urusan tulang?” Moyue langsung menangkap inti dari kalimat itu.
Lupa kalau dunia ini tidak mengenal lelucon itu.
“Ehem—jadi, aku punya teman, dia dan adik perempuannya melakukan hal yang tidak pantas, lalu ayahnya marah besar dan mematahkan kakinya. Sekarang dia harus ke Jerman buat berobat,” Moyu merasa aneh sendiri membahas hal ini di depan adiknya.
“Kenapa aku tidak pernah dengar kakak punya teman seperti itu?” Moyue mencoba mengingat-ingat, memang tidak pernah ada. “Jangan-jangan teman kakak itu sebenarnya kakak sendiri…”
“Bukan, bukan, jangan asal ngomong,” Moyu langsung memotong sebelum Moyue selesai bicara, lalu dengan pasrah mengacak-acak rambut adiknya. “Pikiranmu ini kok aneh-aneh, sih? Kamu masih di sini, kan? Mana mungkin kakakmu tega melakukan hal seperti itu?”
“Siapa tahu, mungkin waktu aku kecil dan masih lupa-lupa ingat, siapa tahu kakak pernah melakukan sesuatu~” Moyue mengangkat bahu, seolah-olah menganggap kemungkinan itu besar.
“Minimal tiga tahun penjara, maksimal hukuman mati, terima kasih,” Moyu langsung mengacak rambut Moyue hingga berantakan seperti bola kapas. “Sudah, jangan mengalihkan pembicaraan. Cepat bilang, kenapa pagi-pagi begini mau keluar?”
“Yah,” Moyue tahu tidak bisa mengelak lagi, akhirnya mengaku, “Aku mau ke rumah Jiangling. Kakaknya kan hilang, dia pasti sedih sekali. Kak, dia juga punya kakak, aku juga punya kakak, jadi aku bisa merasakan perasaannya.”
Melihat wajah Moyu yang tetap serius, Moyue akhirnya mengangguk pasrah dan membuka pintu kamar, “Baiklah, aku akan kembali ke tempat tidur dan tidur lagi.”
“Siapa bilang kamu harus balik?” Moyu menahan kepala Moyue dan memutarnya setengah putaran hingga menghadap dirinya, seperti boneka yang ikut berputar. “Pagi-pagi begini, terminal bus belum buka, memang ada kendaraan? Dan dengar ya, kakakmu tidak bisa nyetir.”
“Kakak setuju?” Moyue langsung melompat kegirangan, “Gak apa, kendaraan sudah aku siapkan, kita tinggal turun ke bawah!”
“Dari mana kamu dapat kendaraan?” Moyu heran.
“Pinjam dari teman,” Moyue sudah melangkah keluar, sambil menoleh ke belakang dan menjulurkan lidah ke arah Moyu. “Kakak boleh punya teman aneh, masa aku gak boleh punya teman yang bisa minjemin mobil?”
“Bocah cerdik,” Moyu tertawa kecil dan mengikuti Moyue keluar rumah.
“Hah? Kakak juga mau ikut?” Moyue sedikit terkejut.
“Kenapa? Kamu pikir kakakmu tega membiarkanmu pergi sendirian ke daerah terpencil?”
“Hehe,” mata Moyue berkilat nakal, tertawa polos, “Baiklah, nanti kakak bisa lihat sendiri kendaraan temanku!”
Saat turun ke bawah, sebenarnya Moyu masih merasa heran. Walaupun Moyue bisa pinjam mobil, mereka berdua tidak punya SIM, berarti harus ada yang menyetir. Tapi kalau Moyue sudah berani turun, pasti semua sudah diatur. Masa iya temannya juga menyediakan sopir cantik…?
Ketika melihat seorang perempuan berambut pendek dengan lekuk tubuh menawan, mengenakan jaket ketat, berdiri di depan pintu masuk kompleks, Moyu menelan ludah. Ternyata benar-benar ada?
Dan benda besar di belakangnya itu apa? Mobil van? Mobil rumah?
Bocah ini benar-benar tahu cara memanjakan diri sendiri!
“Ka….”
Shen Na melihat Moyue datang, baru mau bicara, tapi Moyue sudah lebih dulu berjalan ke arahnya dan dengan cepat memperkenalkannya pada Moyu.
“Kak, kenalkan, ini sopir yang disewa temanku, Nona Shen Na.”
“Selamat pagi, Tuan Mo,” Shen Na langsung menyambut dengan sigap, menjabat tangan Moyu, “Saya ditugaskan khusus oleh atasan saya untuk mengantar Nona Moyue.”
Ia pun menutupi kata “ka” yang hampir ia ucapkan tadi.
Saat itu juga Moyu merasa ada yang tidak beres, ia memandang serius pada Moyue.
“Bocah, jangan-jangan temanmu itu orang tua kaya? Bukan apa-apa, keluarga kita memang tidak kaya, tapi juga tidak sampai harus melakukan hal seperti ini. Jujur saja, kamu butuh uang?”
Mendengar pertanyaan Moyu, Moyue sampai tidak bisa bereaksi, Shen Na pun terdiam, suasana hening selama sepuluh detik.
Lalu Moyue langsung memukul-mukul kepala belakang Moyu, semakin lama semakin keras.
“Kamu yang dipelihara! Kamu yang dipelihara!”
“Pfftt…” Shen Na yang biasanya selalu tenang pun tak bisa menahan tawa. Ia belum pernah melihat Moyue seceria ini. Berbeda dengan sikapnya yang biasanya serius dan kalem, sekarang Moyue benar-benar tampak seperti siswi SMA berusia lima belas tahun yang ceria.
“Jadi, dari mana mobil dan sopir ini?” tanya Moyu sambil memegangi kepalanya, masih bingung.
“Shen Na, bilang, atasamu laki-laki atau perempuan?” Moyue mukanya sudah merah padam, pipinya menggembung, marah-marah.
“Perempuan!” jawab Shen Na tegas.
“Sekarang, bilang, aku dan dia itu apa?”
“Nona Moyue dan atasan kami sangat dekat, mereka bahkan memakai kosmetik yang sama, dan Nona Moyue tahu semua rahasia atasan kami,” Shen Na menjawab terus terang.
“Shen Na, kasih tahu kakak, apa atasanmu itu pria tua kaya?” Moyue melotot ke arah Moyu, terus bertanya.
“Bukan, beliau masih muda dan sangat cantik, bahkan perempuan tercantik yang pernah saya lihat,” jawab Shen Na sambil tersenyum, menatap Moyue.
Mendengar itu, Moyue pun tersenyum lebar, matanya menyipit seperti bulan sabit.