Jilid Ketiga Bab Dua Puluh Lima Keberangkatan
Selama beberapa bulan terakhir, orang-orang dari Keluarga Qin sudah tak terhitung berapa kali datang ke Keluarga Gu, selalu dengan alasan mengantarkan hadiah. Hal ini tentu saja membuat mereka mulai curiga, sehingga rencana pun harus dipercepat.
Kali ini, mereka membagi diri menjadi dua kelompok: Keluarga Gu dan Keluarga Luo berangkat lebih dahulu. Jika mereka gagal, Keluarga Jiang dan Keluarga Jing akan menjadi bala bantuan. Keluarga Chang akan berangkat keesokan harinya untuk membuat kejutan bagi Keluarga Qin.
“Kalian akan berangkat besok? Cepat sekali. Lalu, siapa yang akan mengurus Keluarga Gu?”
Begitu mendengar bahwa rencana dipercepat, Luo Moqu segera menemui Gu Zixi.
“Tak perlu khawatir. Paman keduaku akan tinggal di sini. Keluarga Gu pasti baik-baik saja. Setiap keluarga besar juga memiliki tetua yang berjaga.”
Luo Moqu mengangguk, meski tetap ada kekhawatiran di hatinya.
“Memang ada Paman Gu dan ayahku yang bersamamu, tapi kau juga harus berhati-hati. Keluarga Qin penuh tipu daya, kau sudah pernah merasakannya sendiri. Tapi, ngomong-ngomong, aku titip ayahku padamu, ya.”
Gu Zixi menyanggupi permintaannya.
Setelah selesai berbicara dengan Gu Zixi, Luo Moqu pergi mencari Luo Sicheng. Terakhir kali, Luo Sicheng menguras banyak kekuatan abadi untuk menyelamatkan Luo Moqu, hingga kini masih harus berlatih untuk memulihkan diri.
“Ayah, Ayah?”
Luo Moqu mengetuk pintu, tapi tak ada jawaban. Ia membuka sedikit celah pintu dan mengintip dari luar.
Luo Sicheng tak terlihat. Saat ia hendak mencari ke tempat lain, tiba-tiba terdengar suara pecahan cangkir dari dalam kamar.
Ia mengira telah terjadi sesuatu pada Luo Sicheng, sehingga langsung berlari masuk ke kamar tidur ayahnya. Namun, di dalam pun tak ada siapa-siapa. Ia melangkah lebih jauh, lalu melihat ada ruang kecil di balik tirai pemisah.
Ia langsung masuk dan menemukan Luo Sicheng tengah duduk bermeditasi, sudut bibirnya masih berlumuran darah dan lantai penuh pecahan cangkir.
“Ayah! Ayah, ada apa? Ayah!”
Luo Moqu mengguncang tubuh ayahnya tanpa henti.
Luo Sicheng menahan dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap dalam posisi meditasi.
Melihat keadaannya, Luo Moqu pun diam, lalu pelan-pelan memunguti pecahan cangkir dan membuangnya ke luar.
Beberapa saat kemudian, Luo Sicheng mulai pulih. Ia hendak mengambil air minum, namun cangkirnya sudah tak ada.
Melihat ayahnya sudah sadar, Luo Moqu segera bertanya, “Ayah, apa yang terjadi? Bibirmu berdarah…”
Luo Sicheng mengusap sudut bibirnya dengan lembut, menghapus darah yang menempel.
“Tak apa, hanya terlalu terburu-buru saat berlatih tadi. Ngomong-ngomong, ada apa kau mencariku?”
Saat ditanya begitu, Luo Moqu sampai lupa apa yang ingin ia tanyakan.
“Ah, Ayah, besok kalian akan berangkat ke Keluarga Qin? Hati-hati, mereka bukan lawan yang mudah.”
Kata-kata Luo Moqu menimbulkan banyak tanya di benak Luo Sicheng.
“Benar, besok kami berangkat. Kenapa, kau pernah berhadapan dengan Keluarga Qin?”
Luo Moqu ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk membual, agar tampak hebat karena pernah selamat dari tangan Keluarga Qin.
“Tentu saja! Aku bukan hanya pernah melawan mereka, aku bahkan melukai banyak murid mereka!”
Rupanya, Luo Moqu benar-benar menuruni sifat ayahnya: polos. Anehnya, Luo Sicheng percaya saja.
“Haha, sungguh? Murid-murid Qin itu pasti tolol sekali sampai bisa kalah darimu!”
Luo Moqu memonyongkan mulut, “Ih, masa bicara begitu tentang anak sendiri? Ya sudah, sejujurnya, semua itu diceritakan Chang Yiyuan padaku, putra sulung Keluarga Chang itu!”
Agar ayahnya tak bingung, Luo Moqu bahkan menjelaskan siapa itu Chang Yiyuan.
“Maksudmu, putra sulung Keluarga Chang yang melukai para murid Keluarga Qin, dia selamat tanpa cedera dan menceritakan semuanya padamu?”
Luo Moqu mengangguk, “Iya, kenapa? Ayah kenal dia?”
“Bagaimana mungkin aku tidak kenal… eh, tidak, aku tidak kenal…” jawab Luo Sicheng pelan, nyaris tak terdengar.
“Ah, sudahlah, Ayah. Aku pergi dulu!”
Setelah Luo Moqu pergi, Luo Sicheng melamun sendirian di kamar.
“Jika aku sudah cukup kuat, pasti akan kubunuh kau! Kubunuh!”
Kata-kata itu terus terngiang di kepalanya…
“Kenapa ayah pergi diam-diam lagi? Memangnya ada urusan penting apa di rumah?” Jing Yanyu terus berpikir tapi tak kunjung mengerti. Ia menggaruk-garuk kepala, lalu tiba-tiba mendapat ide, meski ia sendiri pun sulit percaya.
“Jangan-jangan… kakakku sudah menemukan istrinya? Ah, kenapa aku malah berharap kakakku menikah? Ada yang aneh, sudahlah.”
Jing Yanyu menatap ke luar jendela, pikirannya kembali pada pertanyaan yang dulu ia tanyakan di Jalan Xian Du: kau menyukai Gu Zixi, tapi kenapa tidak sedih, tidak marah?
Namun, Jing Yanyu memang tak bisa merasa sedih atau marah.
“Kenapa, ya?”
Gu Zixi sendiri entah sedang melakukan apa di ruang rahasia.
“Taruh di mana, ya?” Gu Zixi membongkar-bongkar seisi ruangan, tapi tak juga menemukan apa yang ia cari.
Ia benar-benar memperlakukan ruang rahasia seperti gudang, segala macam barang ditumpuk di sana.
“Akhirnya ketemu juga!”
Ia menemukan sebuah keranjang di bawah tumpukan buku, lalu mengangkatnya dan menepuk-nepuk debu di tubuhnya.
“Benar-benar susah payah mencarimu!”
Ia melihat sekeliling, tak ada tempat yang luput dari debu.
Lalu, ia membersihkan ruang rahasia sekali lagi, baru mengangkat keranjang itu keluar.
Keranjang itu hendak ia berikan pada Luo Moqu, tapi tak disangka semua orang menatapnya.
Saat hendak mencari Luo Moqu, kebetulan gadis itu juga sedang mencari dirinya.
“Guru kedua, apa yang kau bawa itu?”
Gu Zixi meletakkan keranjang di lantai, dan Luo Moqu melihat isinya: buah kesemek.
“Guru kedua, sekarang kan musim dingin, dari mana kau dapat kesemek sebanyak ini?”
Gu Zixi mengelus kepala Luo Moqu, “Tentu saja aku petik waktu musim gugur. Saat aku pergi nanti, kau harus makan secukupnya, jangan habiskan semua sebelum aku kembali.”
Luo Moqu menatap Gu Zixi dengan polos, “Justru aku berharap saat kau pulang nanti, satu pun belum sempat kumakan…”
Luo Moqu kemudian memeluk keranjang kesemek itu dan berlari ke dapur.
Ia menyembunyikan kesemek di dalam tungku, toh tungku itu sudah tak terpakai, jadi aman saja.
Setelah membersihkan tangannya dari debu, ia merasa puas dengan persembunyiannya dan pergi.
Keesokan paginya, mereka semua berangkat.
Ketika Luo Moqu bangun, semua orang sudah pergi. Mungkin karena ia bangun terlalu siang, sampai-sampai lupa soal keberangkatan.
“Penatua Chang, mereka di mana? Belum bangun juga?”
Chang Wanlin tersenyum, “Mereka sudah berangkat hampir satu jam lalu, mana mungkin belum bangun?”
Barulah Luo Moqu sadar ia terlambat bangun dan menyesal berat karena tak sempat mengantar kepergian mereka.
“Hyat! Hyat! Hyat!”
Mereka melintasi sebuah hutan kecil yang tampak menyeramkan, penuh suara gagak, dan kelelawar yang beterbangan menukik ke arah mereka.
“Ada hawa dendam sangat berat di sini, semua harus waspada,” kata Luo Sicheng.
Perkataan itu membuat semua orang makin tegang.
Luo Sicheng mengangkat pedang, hendak menebas ke arah sumber hawa dendam, tapi Gu Yuechang menahannya.
“Ketua Luo, jangan terburu-buru. Di lokasi berkumpulnya hawa dendam pasti ada sesuatu yang tak beres.”
Luo Sicheng perlahan menurunkan pedangnya. “Lalu menurutmu, apa yang harus kita lakukan? Lewat saja?”
Gu Yuechang menggeleng, “Tempat ini adalah Gerbang Dendam milik Keluarga Qin.”
Barulah Luo Sicheng sadar, ternyata yang ada di depan mereka adalah Gerbang Dendam yang terkenal dari Keluarga Qin. Fungsinya, jika ada yang menerobos secara paksa, maka akan keluar sinyal yang langsung dikirim ke Keluarga Qin.
Tapi bukankah seharusnya Gerbang Dendam itu berada di istana Keluarga Qin? Kenapa malah ada di hutan kecil sepi begini?
Luo Sicheng membelai janggutnya. “Jangan-jangan Gerbang Dendam ini bisa dipindah-pindah sesuka hati oleh Keluarga Qin?”
Gu Yuechang mengangguk berat.
“Kalau begitu, bagaimana? Bahkan sebelum mendekati Keluarga Qin pun kita sudah terjebak di sini?”
“Tenang dulu, mungkin masih ada cara lain,” kata Gu Zixi.
Seketika suasana gaduh berubah jadi sunyi.
Gu Yuechang melirik Gu Zixi. Begitu mendapat isyarat, Gu Zixi tiba-tiba menggunakan ilmu abadi untuk menghancurkan Gerbang Dendam, membuat semua orang terkejut.
“Kau… apa yang kau lakukan? Kau tahu, tindakanmu bisa memancing kemarahan Keluarga Qin!”
Luo Sicheng benar-benar ketakutan. Walau ia tak gentar pada Keluarga Qin, namun dengan kekuatannya sekarang, kalau harus berhadapan langsung dengan Qin Houfeng, ia pasti mati.
Gu Zixi malah tenang saja. “Tak apa, Ketua Luo. Aku sudah menggunakan Ilmu Laporan Tertunda. Paling cepat, mereka baru tahu dua hari lagi.”
Mendengar itu, para murid pun tenang. Gu Yuechang berkata, “Ayo kita lanjutkan perjalanan!” Para murid pun mengikutinya.
Luo Sicheng, sebal dengan sikap sombong Gu Yuechang, memilih keluar tanpa bicara padanya.
Benar saja, begitu mereka pergi, seluruh Kota Xian Du heboh membicarakan rencana penyerbuan ke Keluarga Qin, menjadi perbincangan di mana-mana.
“Meskipun para penatua sudah pergi, tapi Keluarga Gu tetaplah Keluarga Gu. Kalian tak perlu khawatir. Sampai mereka kembali, akulah guru kalian, paham?” kata Gu Yizhen.
“Paham!” jawab semua murid bersamaan.
“Moqu, sekarang kau satu guru denganku. Kalau ada yang tak bisa, tanya aku saja. Mau dengar gosip juga boleh!”
Chang Yiyuan memang tak pernah serius, tiap hari hanya memikirkan gosip. Tak tahu bagaimana ia bisa meningkatkan kekuatan abadi.
“Sekarang aku lagi tak mood dengar gosip. Aku cuma ingin tahu mereka sudah sampai mana, lancar tidak. Menurutmu, apa mereka akan mendapat bahaya?”
Chang Yiyuan menghela napas. “Tidak akan. Lihat saja siapa saja yang berangkat. Tak usah sebut yang lain, ayahmu saja, Ketua Luo dari salah satu sepuluh sekte abadi, pasti bisa bertahan. Apalagi ada Penatua Gu. Tenanglah.”
Tiba-tiba Chang Yiyuan berhenti, menatap Luo Moqu dengan licik. “Jangan-jangan kau tak mau jadi janda? Haha, tak apa, kalau benar-benar terjadi, kita berdua saja jadi pasangan! Hahaha!”
Luo Moqu sampai merinding, langsung memukul Chang Yiyuan. Pemuda itu pura-pura kesakitan, memegang lengan kiri sambil berteriak meminta tolong, sesekali melirik Luo Moqu.
Luo Moqu lalu menepuknya lagi sambil tertawa, “Kalau mau pura-pura, yang nyata sedikit! Tadi kupukul lengan kananmu!”
Baru sadar, Chang Yiyuan pun tertawa terbahak-bahak bersama Luo Moqu.
Suasana yang tadinya tegang langsung berubah jadi penuh canda dan tawa…
Dua hari kemudian
“Apa? Gerbang Dendam dihancurkan? Kenapa baru sekarang kau laporkan? Siapa pelakunya?!”
Qin Houfeng mendengar kabar tentang hancurnya Gerbang Dendam, sampai-sampai napasnya terputus-putus karena marah.