Bab 130: Tiga Hal yang Paling Diinginkan
“Tuanku, Nona Lan hendak menjenguk Qiao Qing. Apa yang harus kulakukan?”
“Masalah sekecil ini saja harus bertanya kepadaku? Kau tinggal mencari alasan untuk menolaknya.”
“Dia sangat keras kepala. Dia langsung memerintahkanku untuk mengaturnya, lalu kembali ke kamar. Aku sama sekali tak punya kesempatan untuk menolak.”
“Oh? Ternyata dia juga bisa bersikap keras?” kata Ye Yan dengan penuh minat. “Sungguh tak terlihat sebelumnya.”
“Aduh, sekarang bukan waktunya membicarakan itu. Cepat pikirkan cara untuk mengatasinya.”
“Aku sudah dalam perjalanan dan sebentar lagi sampai di rumah. Suruh dia bicara langsung kepadaku.”
“Baik, baik. Aku mengerti!”
……
Setelah menutup telepon, Zhao Jun mengembuskan napas lega. Ia lalu pergi bersama para pengawal untuk mengurus ruang musik.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Lan Qianyu keluar setelah berganti pakaian. Karena tidak melihat Zhao Jun, ia bertanya kepada salah seorang pengawal, “Di mana Zhao Jun?”
“Nyonya Muda, Zhao Jun berada di ruang musik,” jawab pengawal itu. “Apakah Anda ingin ke sana? Saya akan mengantar Anda.”
Lan Qianyu mengikuti pengawal itu menuju ruang musik. Begitu pintunya dibuka dan melihat segala sesuatu di dalamnya, ia tercengang. Ini bukan sekadar ruang musik sederhana yang diubah untuk sementara, melainkan sebuah aula musik yang sangat profesional dan elegan. Di dalamnya terdapat beragam alat musik klasik, sementara dekorasi latarnya pun dibuat dengan sangat mewah. Bahkan banyak maestro musik mungkin belum pernah memperoleh kehormatan seperti ini.
“Nyonya Muda, Anda sudah datang. Silakan lihat apakah ada bagian yang tidak Anda sukai. Kami bisa segera memperbaikinya,” kata Zhao Jun dengan penuh hormat.
“Sejak kapan semua ini mulai dikerjakan?”
Lan Qianyu memandangi sekeliling. Ia merasa seolah-olah telah tiba di surga impiannya. Berkali-kali ia membayangkan memiliki sebuah tempat musik seperti ini, tetapi selama ini semua itu hanya bisa hidup dalam mimpinya. Ia tak pernah menyangka impian tersebut benar-benar akan terwujud.
“Sejak hari ketika Nona Lan menyetujui untuk menikah dengan tuanku, beliau sudah memerintahkan orang untuk mulai mengerjakannya,” kata Zhao Jun sambil tersenyum. “Semua alat musik ini adalah edisi kolektor, nilainya tak ternilai dan sama sekali tidak dijual di pasaran. Piano ini, misalnya, sekarang bernilai tujuh juta dolar Amerika. Tuanku membelinya dengan harga sangat tinggi dari seorang pedagang.”
Lan Qianyu menatap alat-alat musik itu, pikirannya dipenuhi berbagai kenangan. Sebenarnya, tiga tahun lalu, Xiao Han juga pernah berjanji akan membantu mewujudkan impiannya dan membangun aula musik yang ia dambakan. Sayangnya, sebelum sempat mewujudkannya, Xiao Han sudah terlibat dengan gadis lain. Setelah itu, mereka pun berpisah.
Sebenarnya, Xiao Han juga pernah melakukan banyak hal romantis untuknya. Pada hari ulang tahunnya, misalnya, ia pernah mengemudikan mobil membawanya ke puncak gunung, lalu menyalakan kembang api di seluruh langit untuknya. Ia juga pernah menaburkan kelopak mawar merah di atas laut, memutar musik yang disukainya, lalu meneriakkan namanya dengan lantang sambil mengatakan bahwa ia mencintainya…
Dahulu, Xiao Han adalah satu-satunya orang yang mampu menggerakkan hati Lan Qianyu. Namun kini, hati Lan Qianyu justru disentuh oleh pria lain. Tak seorang pun tahu betapa ia mencintai musik dan betapa ia mendambakan terwujudnya impian ini. Bahkan jika semua alat musik di ruangan ini hanyalah barang murah yang bisa dibeli di pasaran, tetap saja hal itu merupakan bentuk pengakuan terhadap impiannya.
Namun Xiao Han mengabaikan hal tersebut, sedangkan Ye Yan—pria yang paling dibencinya—justru berhasil mewujudkannya.
Mungkinkah ini yang disebut takdir? Ye Yan memiliki begitu banyak sisi buruk, tetapi ia selalu mampu menyentuh hatinya dengan mudah—seperti ketika ia dua kali mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya, dan seperti kejutan yang diberikannya sekarang…
Ia seolah-olah adalah orang yang paling memahami Lan Qianyu di dunia ini. Ia tahu bahwa hal yang paling dihargainya adalah kasih sayang keluarga, rasa aman, dan impian.
Ye Yan memang tak mampu memberinya segala sesuatu, tetapi ia sanggup memberikan tiga hal yang paling diinginkannya. Karena itulah Lan Qianyu tersesat dalam pesonanya. Ini adalah jebakan yang indah. Salah satu kakinya sudah terperosok ke dalam. Haruskah ia ikut memasukkan kaki yang satunya, atau menarik kembali kaki yang telah terperangkap itu?
(Kelompok pembaca VIP: 343580610. Para pembaca VIP dipersilakan bergabung. Saat mendaftar, harap cantumkan nama tokoh yang paling Anda sukai!)