Bab Tujuh Puluh Delapan: Yang Hilang Tak Akan Kembali?
“Aduh.” Begitu Han Miao-miao masuk rumah sakit, ia langsung tertabrak seseorang. Lei Yun-yang yang mengikuti di belakangnya dengan cemas merangkul bahunya, jantungnya seketika terkunci karena kaget.
Perempuan sialan ini, bahkan untuk berjalan pun membuat orang khawatir.
Wajahnya seketika berubah gelap, aura menekan langsung terasa.
“Maaf, maaf…” Gadis yang menabrak itu meminta maaf berkali-kali.
“Kamu ini berjalan tidak pakai mata, minta maaf saja tidak cukup!” Lei Yun-yang memeluk Han Miao-miao lebih erat, menegur lawannya dengan tajam.
Pandangan Han Miao-miao kemudian beralih pada gadis itu. Ia terkejut dan berseru, “Shuang-shuang, ternyata kamu! Kenapa kamu ada di sini?”
Han Shuang-shuang tampak sangat letih, sorot matanya kering, pipinya pucat. Jika Han Miao-miao tidak sangat mengenalnya, orang lain pasti sulit mengenali siapa dia.
“Kakak…”
Begitu melihat Han Miao-miao, semua kekuatan yang selama ini menopang Han Shuang-shuang seketika runtuh.
“Kakak, Zhe-yi… dia hampir mati. Kakek juga difitnah sebagai pengedar narkoba, sekarang ditahan di kantor polisi.” Han Shuang-shuang menangis tersedu-sedu, matanya bengkak dan merah karena air mata.
Apa yang dia katakan? Zhen Zhe-yi hampir mati?
Han Miao-miao sulit menerima kabar ini, rasa pusing datang begitu cepat dan tiba-tiba.
Bagaimana mungkin dia akan mati? Bagaimana bisa? Seluruh tubuhnya terasa lemas, seperti semua kekuatan disedot habis. Tubuh Han Miao-miao limbung, beruntung Lei Yun-yang berada di belakang dan menopangnya. Di saat yang sama, wajah Lei Yun-yang pun dipenuhi mendung, giginya bergemelutuk karena marah.
Setiap urusan yang berkaitan dengan Yin Zhe-yi, sarafnya pasti bereaksi, pikirannya jadi kacau tak menentu.
“Shuang-shuang, bawa aku menemuinya. Aku ingin bertemu dengannya.”
Mengabaikan keberadaan Lei Yun-yang, Han Miao-miao memohon pada Han Shuang-shuang.
“Dia tidak akan mati, tidak akan mati…” Han Miao-miao berjalan dengan lutut gemetar, mulutnya terus menggumam.
Perasaannya saat ini benar-benar tidak bisa ditenangkan.
“Han Miao-miao!” Akhirnya Lei Yun-yang tak tahan lagi melihatnya begitu cemas dan sedih demi pria lain, ia membentak dengan suara keras.
Namun Han Miao-miao sama sekali tak mempedulikan teriakan Lei Yun-yang, tubuhnya yang gemetar menarik Han Shuang-shuang ke depan, tapi karena tak sanggup menahan guncangan mendadak ini, ia tiba-tiba ambruk dan pingsan…
---------------------------------------
“Dia sudah tidak apa-apa, tapi jangan sampai dia terkena guncangan batin lagi, kalau tidak bisa mudah keguguran. Observasi saja satu hari, besok sudah bisa pulang.” Setelah dokter selesai memberi penjelasan, di ruang rawat hanya tersisa Lei Yun-yang dan Han Miao-miao.
Kuku Lei Yun-yang yang tajam sampai menancap di telapak tangannya sendiri, ia berharap bisa meremukkan Han Miao-miao yang tampak sangat pucat itu.
Baru saja ia hendak mendekat, tiba-tiba suara dering telepon keras memecah keheningan kamar.
“Halo?”
“Yun-yang, kau di mana? Akhir-akhir ini aku jarang sekali melihatmu, aku kangen sekali padamu.” Suara manja dan lembut Lu Xue-qing mengalun lembut di telinga Lei Yun-yang.
“Oh, aku di kantor. Nanti siang kita bertemu, ya.”
Nada bicaranya seolah hanya rutinitas, datar, bahkan menyiratkan jarak yang tak terlihat.
“Begitukah?” Di ujung telepon, Lu Xue-qing seorang diri di kantor Lei Yun-yang, menatap kursi kerja yang kosong dengan nada sangat kecewa.
Sesaat kemudian, suaranya kembali manis seperti semula. “Kalau begitu, nanti siang kita bertemu, ya. Kerjalah yang baik.”
“Ya, sampai jumpa.”
Nada dinginnya menusuk, melukai hati Lu Xue-qing dengan dalam.
Jarak yang kian menjauh, apakah memang menandakan perpisahan mereka yang tak terelakkan?
Air mata meleleh di sudut mata Lu Xue-qing, ia menatap kosong ke meja kerja Lei Yun-yang.
Dulu, pria itu begitu mencintainya. Kini, hatinya telah tertambat pada orang lain.
Apakah memang yang telah hilang takkan pernah kembali, ataukah cinta pria itu padanya selama ini memang dangkal, tak pernah benar-benar terpatri di dalam hati?