Bab Tujuh: Perubahan
“Nyonyah Muda Kedua, Nyonyah Muda Kedua...” Suara pelayan kecil, Musim Gugur, sudah terdengar nyaring di depan pintu kamar tamu tempat Han Miaomiao menginap, padahal langit masih belum sepenuhnya terang.
“Musim Gugur, ada apa?” Han Miaomiao bertanya lesu sambil mengucek matanya yang masih mengantuk.
“Nyonyah Muda Kedua, Tuan Muda Kedua mengajak Anda pergi ke rumah sakit bersamanya.” Saat Musim Gugur berbicara, matanya memancarkan ketidakpercayaan yang bercampur sukacita.
Dulu, tak peduli seberapa keras tuan dan nyonya membujuk, ia selalu menolak pengobatan. Namun, hanya dengan beberapa kata dari Nyonyah Muda Kedua, ia langsung menurut. Sepertinya, kelak Tuan Muda Kedua akan sepenuhnya berada di bawah kendali Nyonyah Muda Kedua...
Perubahan sikapnya membuat Han Miaomiao langsung terjaga, kegembiraan mulai menyusupi hatinya.
------------------------------
“Masuklah bersama dokter, aku akan menunggumu di luar.” Suara lembut dan ringan itu terasa menenangkan tanpa sebab yang jelas.
Lei Yanyang tetap tak bergerak, mata hitam legamnya menatap tajam ke arahnya, seolah ia sudah terbiasa menghadapi wanita itu dengan amarah.
“Aku bukan mengubah keputusan karena kamu.” Nada bicaranya tak lagi meledak-ledak, namun sama sekali tak menyiratkan perasaan apa pun.
Ketika kursi roda meluncur hingga ke depan ruang perawatan, ia kembali berhenti. “Dan lagi, jangan lupa, setelah kakiku pulih, sebaiknya kau tepati janjimu—jangan pernah muncul lagi di hadapanku.” Ekspresi wajahnya tegas, suara dinginnya menusuk, semuanya tampak penuh kebencian. Namun hanya ia sendiri yang tahu, saat ini pandangannya pada Han Miaomiao perlahan mulai berubah, setidaknya tak segetir permusuhan di awal...
Sudut bibir Han Miaomiao melengkung, tercipta senyuman yang memikat dan membuat kehilangan jiwa, namun ia tetap diam.
Mungkin saat itu tiba, keluarga Lei sudah berubah tak lagi seperti dulu, entah apakah ia masih akan berbicara sekeras itu kepadanya?
Setelah Lei Yanyang masuk, Han Miaomiao menggenggam erat liontin berbentuk hati di dadanya, rasa rindu menyerbu seperti gelombang laut yang tak tertahan, melanda seluruh batinnya.
Begitu membuka tutup liontin, foto Yin Zheyi langsung tampak di depan mata, rasa sakit yang menyesakkan mencengkeram jantungnya, seolah ingin merenggut napasnya.
“Merindukanmu, sangat rindu, amat sangat rindu...”
Namun kerinduan yang begitu dalam ini hanya bisa ia sembunyikan di dalam hati, membiarkannya membusuk dan hancur, tak mungkin ia keluarkan untuk dipamerkan pada dunia.
“Kamu pasti bisa menemukan seseorang yang lebih baik, yang lebih cocok untukmu.” Suaranya yang pilu penuh dengan kerinduan dan cinta yang tak pernah bisa ia buang.
“Drrrt... Drrrt...” Denting telepon yang nyaring terdengar di lorong rumah sakit, mengusik lamunan Han Miaomiao.
Ia menatap layar ponsel, membereskan semua emosinya, menghapus seluruh luka dan kesedihan yang baru saja menyelimuti...
“Kakek.”
“Bagaimana perkembangan rencananya?”
“Sekarang Lei Yanyang sudah mau menerima pengobatan. Aku yakin tak lama lagi ia akan mampu berjalan kembali.”
“Bagus. Lakukan segala cara agar ia jatuh cinta padamu, sebaiknya sampai ia tak bisa lepas darimu, lalu kita berikan pukulan mematikan pada keluarga Lei.” Suara berat dan tegas Han Weisong terdengar di seberang.
“…” Han Miaomiao terdiam sejenak, tak tahu harus menjawab apa.
Ia tak mengerti betul rencana kakeknya, awalnya hanya diminta untuk mendapatkan kepercayaan mereka, kini malah harus membuat Lei Yanyang jatuh hati padanya? Ia sudah tak bisa menebak isi hati kakeknya…
“Kau tak sanggup melakukannya?” Mata tajam Han Weisong berkilat penuh ancaman, tangannya mencengkeram gagang telepon hingga nyaris remuk.
“Ingat selalu tugasmu, ia boleh saja mencintaimu, tapi kau sama sekali tak boleh jatuh hati padanya.”
Setelah menutup telepon, Han Miaomiao merasa hatinya makin berat, air mata sebesar mutiara jatuh satu per satu ke lantai dingin, entah berapa lama ia menangis. Saat mendongak, ia terkejut menemukan Lei Yanyang sudah keluar, sedang menatapnya lekat-lekat dengan mata yang dalam…