Demi balas dendam, ia rela mengikat mereka berdua dengan ikatan pernikahan. Di malam pengantin, pada seprai putih, tidak ada setitik pun darah, sejak saat itu, ia terus terobsesi dengan masalah itu da
Pantai yang sunyi, hamparan lautan hitam yang memabukkan, angin laut yang dingin menggigit, bercampur dengan deburan ombak yang menderu-deru di telinga. Angin kencang menerbangkan rambut hitam berkilau milik Han Miaomiao, menari bebas di belakangnya membentuk lengkungan sempurna, menambah pesona yang khas pada wajah cantiknya yang menawan.
Tangan Yin Zheyi yang bertengger di pundaknya mengerat, “Dingin, ya?” dengan penuh perhatian ia mendekap Miaomiao ke dadanya.
Wanita di hadapannya ini, andai bisa, ia ingin melindunginya seumur hidup, hanya saja...
Han Miaomiao menggeleng pelan, “Apa kau akan selalu ada di sisiku?” Air mata di wajahnya telah kering oleh angin, selain duka yang membayang di antara alis, ada secercah harapan yang berkilau samar di matanya.
“Ya.” Jawab Yin Zheyi dengan mantap.
Apapun yang akan terjadi di antara mereka nanti, saat ini hatinya penuh oleh Miaomiao, dan hanya ada ruang untuknya...
“Terima kasih sudah ada di sampingku.” Kedua tangan Han Miaomiao melingkari pinggang kekar Yin Zheyi, kehangatan perlahan mulai menyebar di hatinya.
Pelukan erat dan bisikan penuh cinta di antara mereka justru menusuk hati Han Shuangshuang yang diam-diam mengikuti. Dada gadis itu seolah ditusuk belati tajam, darah mengucur deras, namun ia sengaja mengabaikan rasa sakit yang menyesakkan itu, cepat-cepat menghapus air mata di sudut matanya.
Bukankah kakaknya selalu lebih unggul darinya? Baik dari kecantikan maupun kemampuan, kakaknya selalu di atasnya. Maka wajar saja bila Yin Zheyi jatuh cinta pada kakaknya.
Namun