Bab 138 Karakter "Penyihir" pada Topi
Topi yang tadinya tampak begitu biasa hingga membuat orang enggan meliriknya dua kali, tiba-tiba seolah mengenakan gaun malam yang elegan. Ia mendadak tampil dengan kemewahan yang bersahaja, bahkan cukup pantas untuk dikenakan ke sebuah pesta dansa.
Bahkan permata yang paling berkilau pun akan tampak redup di hadapannya.
Apakah ini wujud aslinya?
Hua Ni menarik napas panjang. Seluruh perhatiannya tersedot ke sana, hingga ia tak kuasa menahan diri untuk mengulurkan tangan, ingin mengambilnya dan mengenakannya di atas kepala.
Meskipun saat ini ia tidak memiliki gaun apa pun yang pantas disandingkan dengan topi itu, lantas kenapa?
"Aduh!"
Hua Ni kembali digigit. Kali ini bukan gigitan pada energi spiritualnya, melainkan langsung pada jarinya.
Ia terperanjat dan tersentak sadar. Sialan! Dia benar-benar terpesona oleh sebuah topi?
Apakah ini ilmu sihir pemikat atau sekadar tipu daya kecantikan?
Ia segera melemparkan topi itu dan memeriksa tubuhnya sendiri, mencari tahu apakah ada keanehan yang terjadi. Hasilnya, ia menemukan sebuah tato di pergelangan tangan kirinya—sebuah aksara yang berarti "Penyihir", ditulis dengan gaya kaligrafi rumput, memancarkan cahaya keemasan yang samar.
Hua Ni terdiam.
Di dalam benaknya, seolah ada sesuatu yang bertambah.
Setelah ia merasakannya, itu tampak seperti perpustakaan raksasa. Di depan perpustakaan yang menyerupai menara runcing itu, terdapat sebuah alun-alun luas dengan sebuah patung berdiri di tengahnya.
Hua Ni berdiri di sana, mendongak menatap ke atas.
Itu adalah seorang wanita yang sangat cantik, mengenakan jubah kuno berwarna tinta. Ujung jubahnya disulam dengan pola bunga yang menjalin warna emas dan hijau, sangat mirip dengan pola yang tadi ia lihat di tepi topi tersebut.
Bahkan burung biru yang sempat muncul di atas topi itu pun tampak pada jubah sang wanita, dan di atas kepalanya, ia mengenakan topi yang sama.
Satu tangannya membelai topi, sementara tangan lainnya memegang ujung gaunnya. Wajahnya tampak gembira, seolah sedang menatap kejauhan.
Hua Ni menoleh, mengikuti arah pandangan wanita itu. Yang ia lihat hanyalah kehampaan—hamparan gelap yang sama dengan yang ia temukan saat menjelajahi topi itu dengan energi spiritualnya; hitam pekat, tidak ada apa pun yang terlihat.
Mungkin, satu-satunya cahaya di dunia ini terpusat pada perpustakaan bertara runcing dan alun-alun tersebut.
Tiba-tiba, terdengar sebuah suara yang bertanya:
"Datang?"
Ke mana?
Pandangan Hua Ni dengan tenang beralih dari wajah cantik sang wanita, lalu tertuju pada perpustakaan di belakangnya.
Apakah harus pergi ke sana?
Hua Ni melangkah menuju perpustakaan. Pintu kayu besar berwarna hitam itu tampak tebal. Awalnya ia mengira tidak ada hiasan apa pun, namun saat mendekat, ia baru menyadari bahwa pintu itu diukir dengan tanaman merambat yang senada, dengan dedaunan lebat yang menutupi seluruh ambang pintu.
Begitu ia mendekat, pintu besar itu terbuka dengan sendirinya.
"Kriet—"
Suaranya terdengar seperti barang yang sudah lama tidak terawat, terasa berat, dan lapisan debu berhamburan jatuh, seolah tempat ini sudah tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun.
Hua Ni mengerahkan energi iblisnya, menciptakan perisai pelindung untuk menahan debu yang berjatuhan.
Ia melangkah masuk ke dalam aula berbentuk silinder. Di sekelilingnya, ke mana pun ia memandang, hanyalah buku.
Mengenai seberapa tinggi silinder itu, Hua Ni tidak tahu. Ia hanya tahu saat ia mendongak, ia hampir terjungkal ke belakang tanpa bisa melihat ujungnya; rasanya seperti tak bertepi.
Koleksi buku yang begitu masif membuatnya cukup terkejut.
Mungkinkah rahasia topi ini adalah "koleksi buku"?
Baru saja Hua Ni merasa heran, sebuah buku edisi mewah melayang ke hadapannya. Sampul hitam dengan tepian emas bertuliskan dua karakter emas besar: *Penyihir Tumbuhan*.
Belum sempat ia bereaksi, dua karakter itu tiba-tiba melompat keluar dari buku, menyerbu ke arahnya, dan langsung meresap ke dalam otaknya.
Hua Ni terkejut, mengira dirinya akan tertimpa sial, namun tiba-tiba ia menyadari bahwa otaknya kini dipenuhi dengan banyak "pengetahuan".
Ya, itu adalah "pengetahuan".
*Penyihir Tumbuhan*, berasal dari garis keturunan *Penyihir*, adalah penyihir wanita yang mengolah tanaman sebagai jalan kultivasinya.
Mereka biasanya ahli dalam berurusan dengan berbagai jenis tanaman: menanam, meracik ramuan, mengembangkan varietas baru, bahkan tanaman sihir atau tanaman abadi. Segala sesuatu yang berkaitan dengan tumbuhan adalah keahlian mereka.
Dahulu, *Penyihir Tumbuhan* menempati posisi tinggi di Menara Penyihir, sebagai salah satu dari sepuluh penyihir terhebat dalam keluarga *Penyihir*.
Sejak jatuhnya *Penyihir Tumbuhan* yang legendaris, Dai Li, jalur *Penyihir Tumbuhan* mulai meredup. Meski tidak hilang ditelan sejarah, namun selama ribuan tahun ia tidak pernah kembali ke masa kejayaannya.
Perpustakaan ini adalah gudang pengetahuan yang dikumpulkan oleh para *Penyihir Tumbuhan* dari generasi ke generasi, hanya terbuka bagi penyihir dari garis keturunan *Penyihir* yang telah menerima warisan. Berdasarkan tingkat kultivasi sang penyihir, perpustakaan akan membuka tingkat koleksi yang berbeda.
Saat ini, karena ia adalah penyihir tingkat pemula, hanya lantai pertama yang terbuka...
Saat pemahaman itu terlintas di benak Hua Ni, ia merasa bingung.
Tunggu, sejak kapan ia dikategorikan sebagai penyihir?
Lagi pula, apa hubungannya warisan keluarga *Penyihir* ini dengannya? Bukankah ia adalah seorang peri? Bagaimana bisa ia berubah menjadi penyihir?
Jangan-jangan, itu karena topi tersebut?!
Hua Ni tersadar. Sepertinya ia telah dicap oleh topi itu. Dan cap ini adalah gerbang warisan?
Tanpa bertanya apakah ia setuju, topi itu langsung mencapnya dan memasukkannya ke dalam barisan penyihir. Apakah keluarga *Penyihir* ini tidak terlalu sewenang-wenang?
Hua Ni merasa seperti seseorang yang dipaksa menelan makanan lezat padahal ia tidak sanggup lagi, hingga hampir tersedak.
Bahkan jika ada keberuntungan yang jatuh dari langit, tidak seharusnya seperti ini, bukan? Apakah mereka tidak takut ia akan mati tersedak di sini?
Ia terus membaca, isinya mengenai pembagian tingkat penyihir, pengenalan dasar keluarga *Penyihir*, serta ensiklopedia dasar *Penyihir Tumbuhan*.
Menurut penjelasan tersebut, keluarga *Penyihir* ini tampaknya sangat hebat. Siapa pun yang berhasil naik ke Menara Penyihir dan masuk dalam sepuluh besar, semuanya adalah tokoh besar yang mampu merobek kehampaan dan melintasi ruang serta waktu.
Selain para tokoh besar yang tercatat, ada juga banyak tokoh sakti tersembunyi yang tidak dikenal publik. Mereka biasanya tidak muncul, namun jika keluarga *Penyihir* berada dalam bahaya, mereka akan berkumpul dan membalikkan keadaan.
Bayangkan saja, masalah yang bahkan tidak bisa diselesaikan oleh tokoh yang mampu merobek kehampaan, bisa diatasi oleh para penyihir tersembunyi ini. Sungguh menunjukkan betapa kuatnya keluarga ini.
Yang terpenting, orang-orang dari keluarga ini tidak tinggal di satu ruang waktu saja. Mereka yang mampu akan pergi melakukan "perjalanan ruang waktu". Hanya penyihir yang tetap tinggal di ruang waktu asalnya yang akan naik ke "Menara Penyihir", dan sepuluh penyihir terhebat yang mampu naik ke sana adalah mereka yang telah menembus batas kehampaan.
Hua Ni tidak pernah berpikir untuk menjadi sehebat itu, tetapi ia cukup mendambakan kemampuan menembus kehampaan.
Misalnya sekarang, jika ia memiliki kemampuan ini, apakah ia masih harus tetap tinggal di planet masa depan yang membosankan itu?
Tentu saja tidak.
Jika ingin kembali ke sisi ibu di Bumi, ia tinggal pergi begitu saja.
Jika sudah bosan tinggal di satu ruang waktu, ia bisa pindah ke ruang waktu lain. Sungguh sangat menyenangkan!
Memikirkannya, hati Hua Ni mulai tergerak.
Ia tidak lagi merasa bahwa "paksaan" dari keluarga *Penyihir* itu menjengkelkan. Biarkan saja mereka memaksa, jika suatu hari nanti ia bisa mencapai tingkat menembus kehampaan, itu akan menjadi berkah besar baginya.
Namun, untuk mendapatkan warisan lengkap dari keluarga *Penyihir*, selain harus dicap, ia juga harus menandatangani sebuah "Kontrak Dewa"—di mana pun dan kapan pun, kewajiban membela keluarga tidak bisa ditawar, harus dilakukan dengan segenap jiwa; di mana pun dan kapan pun, harus mencintai kedamaian dan tidak melupakan niat awal; di mana pun dan kapan pun, harus menjunjung keadilan, kejujuran, dan kebenaran...