Bab 067 Biaya Pembangunan Taman Sebesar 1 Juta

Aku Membuka Toko Bunga di Antara Bintang-Bintang Bayang Es yang Membeku 2435kata 2026-03-04 20:21:42

“Kita harus menandatangani kontrak.”

“Tentu saja! Semuanya harus tertulis, agar mudah dibicarakan di kemudian hari. Itu bukan masalah.”

Takut kalau ada celah di kontrak? Tak apa, bukankah ia punya Otak Cahaya Kecil untuk memeriksanya? Lagipula, dengan kecerdasannya, mana mungkin orang biasa bisa menipunya?

Si Pemakan Manusia memang sepercaya diri itu.

Setelah kontrak ditandatangani, ia pun memeriksa dompet elektroniknya. Uang muka sebesar lima ratus ribu sudah masuk, sisanya akan dibayarkan setelah kebun botani selesai.

Hua Ni sama sekali tak khawatir mereka tak membayar sisanya. Toh mereka itu orang-orang dari Pasukan Keluarga Yang; kalau larinya biksu, kuilnya tetap ada. Kalau sampai mereka tak bayar, paling-paling ia tinggal mendatangi markas Pasukan Keluarga Yang menagih uang. Masa mereka tak punya rasa malu sampai sebegitunya?

Kontrak sudah ada, uang muka sudah masuk, Hua Ni pun langsung mulai bekerja.

“Apa yang kau rencanakan?” tanya Wei Chenhuan, melihat Hua Ni tak berniat pergi.

Hua Ni meliriknya sebal, “Itu urusanku. Seminggu lagi datang saja untuk melihat hasilnya. Oh, jangan lupa matikan semua kamera pengawas sebelum pergi. Aku tak suka direkam saat bekerja.”

Setelah ragu sejenak, ia menambahkan, “Tapi kalau kalian tidak tenang, boleh saja menugaskan seseorang yang kalian percaya untuk membantuku. Sebenarnya, lahan seluas ini dikerjakan sendirian juga cukup melelahkan.”

Mengingat ini zaman teknologi tinggi, walau ia sudah bilang tak boleh ada pengawasan atau perekaman, siapa tahu mereka benar-benar patuh? Bagaimana kalau diam-diam mereka tetap merekam? Hua Ni berpikir sejenak, akhirnya memutuskan untuk tidak memakai ilmu silumannya, takut-takut malah menakuti mereka.

Ya sudahlah, lebih baik kerjakan dengan cara biasa saja.

“Aku bisa membantu,” ujar Wei Chenhuan cepat-cepat.

“Baiklah, kamu saja.” Hua Ni sempat ragu, tapi akhirnya setuju.

Ia membuka koper yang dibawanya, mengeluarkan sekop kecil, sebungkus benih, dan sebuah ceret. Ia memintanya untuk membuat lubang sebesar kepalan tangan. Hua Ni sendiri akan menanam benih dan menyiram air.

“Benar-benar bisa tumbuh hanya seperti ini?” tanya Wei Chenhuan, ragu sekaligus heran.

Sebelumnya mereka sudah mencoba menanam tanaman, berbagai cara sudah dicoba, termasuk cara seperti yang dilakukan Hua Ni. Masalahnya, tetap saja tidak berhasil.

Hua Ni mengangkat bahu, “Kelihatannya memang sederhana. Tapi menurutmu benih dan air yang kubawa ini benih dan air biasa?”

Wei Chenhuan tertegun.

Benar juga, kalau itu benih dan air biasa, mereka pasti sudah bisa menanamnya sejak dulu.

Jadi, kunci menanam tanaman hijau itu ada pada benih dan air di tangannya?

Sambil terus menggali lubang, Wei Chenhuan berpikir keras; apakah ia harus minta benih dan air untuk eksperimen, atau menunggu Hua Ni pergi lalu diam-diam mengambil beberapa butir benih untuk dicoba sendiri?

Bagaimanapun, itu adalah teknologi rahasia miliknya. Kalau bertanya langsung, pasti tidak akan diberi.

“Hoi, gali lubangnya yang lurus, itu tadi sudah miring. Kalau terus miring, nanti tanaman tumbuhnya jadi jelek,” tukas Hua Ni agak cerewet. Sebenarnya, kalau rumput sudah tumbuh, satu hamparan penuh itu, tak perlu juga terlalu rapi. Tapi ia tetap saja tidak tahan untuk mengingatkan.

Masak bisa semiring itu, sampai setengah lingkaran segala?

Dia ini menanam rumput, bukan bunga apalagi membuat pola.

Wei Chenhuan kaget, baru sadar beberapa lubang terakhir yang ia gali memang membentuk setengah lingkaran, hampir melingkari dirinya sendiri.

“Maaf, aku tadi sedang melamun.”

“Kamu jelas bukan pekerja kebun! Untung saja bukan pegawaiku di toko bunga, sudah pasti sudah kupecat,” Hua Ni menggerutu sambil mengganti bungkusan benih yang dipakai.

Benih yang disebar sebelumnya sebesar butiran beras, warna hitam. Tapi di bagian setengah lingkaran, ia mengganti dengan benih hijau sebesar kacang kedelai.

“Itu benih apa? Tidak sama seperti yang tadi, ya?”

“Tentu saja beda. Yang tadi benih rumput, gampang tumbuh di mana saja. Yang ini benih bunga, nanti akan tumbuh bunga-bunga tinggi, bergerombol, sangat indah. Nanti kau akan lihat sendiri.”

Hua Ni mengingatkan agar Wei Chenhuan tidak salah menggali lagi. Ia hanya ingin di satu bagian tumbuh hamparan rumput, tak ingin terlalu banyak tanaman lain.

Wei Chenhuan buru-buru berjanji, tidak akan salah lagi.

Kalau sampai diusir, bagaimana ia bisa ‘mencuri ilmu’?

Satu jam berlalu, punggungnya mulai pegal, rasanya nyaris tak bisa berdiri tegak.

“Aduh…”

“Pegel pinggang?” Hua Ni melihatnya berdiri setengah badan, lalu tertawa, “Hahaha… Sudah kuduga, kamu memang bukan pekerja kebun. Jangan kira menanam bunga lebih mudah dari latihan kalian. Latihan kalian bisa berganti gerakan, bisa bergantian, tapi menanam bunga itu cuma menunduk dan membungkuk, bisa setengah hari, wajar saja pinggangmu pegal.”

Wei Chenhuan memandangi jajaran lubang yang sudah ia gali. Sebenarnya ia merasa cukup bangga. Membayangkan nanti akan tumbuh hamparan rumput hijau di sana, rasanya sulit digambarkan.

“Harusnya pekerjaan menggali lubang ini bisa pakai robot, kan? Kalau cuma urusan menggali, kami punya robot khusus menanam bunga, tinggal atur saja, robot itu akan menggali lubangnya. Bukan cuma lurus, ukurannya pun bisa diatur, pasti lebih presisi daripada manusia.”

Hua Ni yang sama sekali belum pernah memakai robot semacam itu berkata, “Aku tidak tahu, belum pernah coba. Atau, mau kita coba saja?”

“Serius boleh dicoba? Nanti tidak membuang-buang benih? Kalau sampai benihnya tidak tumbuh…”

Wei Chenhuan tampak ragu.

Di planet yang tak punya tanaman hijau, benih tanaman hijau sangatlah berharga. Ia benar-benar tak ingin membuangnya sia-sia.

“Tak masalah! Rahasia menanam bunga bukan di lubangnya, lubang apapun boleh, yang penting itu benihku,” jawab Hua Ni. Maksudnya, seberapa banyak tenaga silumannya yang ia pakai, kan?

Jangan kira ia cuma melempar benih dan menyiram air. Diam-diam ia menyalurkan aura spiritual pada benih-benih itu, membantu mereka menumbuhkan akar. Benih yang sudah dirangsang begitu, besok sudah akan tumbuh.

Tak sampai seminggu, di sini akan jadi hamparan hijau.

Karena Hua Ni sendiri yang bilang tak masalah, Wei Chenhuan pun memanggil robot penanam bunga. Robot itu kecil, bentuknya mirip gurita, kepala di tengah sebesar kepala manusia, dengan delapan lengan seperti tentakel, dan di ujungnya ada tutup yang jika dibuka, akan keluar sendi seperti jari manusia.

Hua Ni merasa ngeri.

Gurita monster dengan tangan manusia?

Walau ia bukan tipe yang cerewet soal penampilan, tetap saja estetika dunia ini sungguh di luar nalar.

Robot penanam bunga itu memang jelek, tapi setelah Wei Chenhuan mengatur programnya, delapan lengannya langsung bergerak, mengukur jarak antar lubang, menentukan diameter lubang, lalu menggali dengan sekop kecil di ujung tentakel.

Kalau Wei Chenhuan butuh tiga detik untuk satu lubang, robot itu hanya setengah detik.

Melihat robot itu menggali dengan cepat, lubang-lubang lurus berjejer, lalu segera bergeser ke samping, Hua Ni merasa: sepertinya memang cukup bisa diandalkan. Setidaknya, lebih berguna daripada para siluman setengah jadi di rumahnya yang cuma bisa makan tanpa mau kerja.

Apa ia harus beli satu untuk dibawa pulang, supaya membantu menggali lubang?

Sebenarnya, menanam bunga itu memang melelahkan.