Bab 28: Hidup Ini Memang Sulit Diprediksi
Minggu baru telah tiba, waktunya mengejar peringkat novel baru, mohon dukungan rekomendasi dan koleksi!
Sebuah potongan menara derek yang tergantung miring di dinding luar gedung rawat jalan, seperti bangkai ular mati, tanpa peringatan runtuh untuk kedua kalinya! Puing-puing itu berputar jatuh, menabrak jendela besar lobi rawat jalan, dan dengan suara gemuruh, menghantam tepat di tempat pemuda berwajah suram berdiri.
Pemuda itu benar-benar lengah, bencana menimpa begitu cepat hingga tak sempat bereaksi, hanya secara naluriah melangkah satu kali, menghindari takdir tergilas. Namun, tetap saja satu kakinya tertimpa berat, hingga terjungkal ke tanah dan menjerit kesakitan, “Aaaah!”
Xiao Ling merasa jengkel: Cih, hanya mengenai kaki? Andai saja seluruh tubuhnya tertimpa, aku bisa memanfaatkan kesempatan untuk menghajarnya sampai mati. Tapi kalau hanya kaki, tidak cukup, satu-satunya cara... “Lari!” teriaknya lantang.
Sebenarnya tanpa ia perintah pun, Fatty sudah bertumpu pada tongkat polisi teleskopik, meski satu kakinya agak pincang, di bawah tatapan heran pemuda berwajah suram itu, ia terpincang-pincang seperti remaja berlari kencang, menjadi yang pertama menerobos keluar dari pintu.
Padahal jelas-jelas kakinya tertusuk lubang, tapi seolah hanya lecet biasa.
Sebenarnya, luka fisik memang membuat gerak jadi sulit, namun seringkali yang membuat tak bisa bergerak adalah rasa sakitnya.
Namun Xiao Ling justru sangat berpengalaman soal rasa sakit, ia punya pisau bedah yang efeknya seperti anestesi. Bayangkan, saat itu Mi Zishan ginjalnya dipotong dua, tetap saja bisa bekerja seperti biasa sampai esok hari baru meninggal... Dibanding itu, luka Fatty tidak ada apa-apanya.
Saat berbalik, Xiao Ling dengan tidak terlalu rapi menusukkan pisau bedah ke luka Fatty untuk mematikan rasa sakit, lalu Wei Feifei dengan tidak terlalu profesional membalut lukanya untuk menghentikan pendarahan.
Kini kaki Fatty, selain agak lemas, sudah hampir seperti tidak terjadi apa-apa...
Di bawah tatapan terkejut pemuda suram itu, mereka bertiga melesat keluar pintu dengan langkah lebar.
Menyusul di belakangnya adalah perawat kecil Wei Feifei, kemudian Xiao Ling, dan yang paling belakang adalah Lin Qiuran, yang reaksinya jelas lebih lambat dari yang lain.
“Aaaah!” Akhirnya pemuda berwajah suram sadar akan situasi, dan menjerit marah, histeris.
Namun sudah terlambat, entok yang sudah matang satu per satu terbang lepas begitu saja. Yang tertinggal hanya tirai plastik yang masih bergoyang, seolah menertawakannya...
Pemuda berwajah suram benar-benar merasa terhina! Betapa sialnya! Betapa malangnya! Menara derek sialan itu, kenapa harus runtuh kedua kali di saat seperti ini? Dan kenapa bukan di tempat lain, tapi justru di tempat ia berdiri?! Sungguh nasib buruk tingkat dewa!
Padahal, apa benar ini cuma soal keberuntungan?
Kenapa puing menara derek itu bisa runtuh? Tentu saja karena ulah Xiao Ling, kalau tidak mana mungkin sedemikian kebetulan?
Bagaimana ia melakukannya? Sederhana saja, pakai Tiga Petuah Sakti!
Jangan lupa, saat di lantai atas demi menyelamatkan orang, ia sudah mengaktifkan Tiga Petuah Sakti pada menara derek itu, dan sudah mengeluarkan koin takdir...
Walau sempat didahului oleh pengatur waktu, tapi target Tiga Petuah Sakti tetap menara derek, menara yang tumbang tetaplah menara, meski sudah menjadi bangkai ular tetap saja menara, tidak berubah meski sudah rubuh.
Saat itu, kekuatan Tiga Petuah Sakti pun tersisa pada menara derek.
Tiga Petuah Sakti memang lambat aktif, dan syaratnya banyak, sehingga sulit digunakan dalam pertarungan langsung, apalagi dalam pertempuran dadakan seperti ini. Namun di bidang lain, ada keunggulan yang sulit disaingi keterampilan lain.
Skill sudah dilempar, efeknya belum keluar... Kalau skill lain, pasti disebut terputus, tapi Tiga Petuah Sakti hanya menunggu waktu tepat.
Tak hanya itu, Xiao Ling bahkan bisa merasakan letak kasar puing menara lewat sisa kekuatan Tiga Petuah Sakti, dan ia juga tahu, kekuatan yang tersisa itu terbatas—jaraknya dengan puing menara harus tetap dalam radius empat atau lima puluh meter.
Kalau melebihi, kekuatannya akan menghilang.
Namun... setelah insiden itu, saat Xiao Ling dan yang lainnya turun dari lorong bangsal menuju lobi, jaraknya ternyata masih dalam batas.
Selanjutnya, diam-diam ia menjebak pemuda suram ke sisi pintu, lalu mengaktifkan skill, membuat potongan menara yang sudah goyah itu makin rubuh—memberinya “tekanan Gunung Tai” di kepala pemuda suram, sungguh semudah membalik telapak tangan.
Tapi... “Bagaimana kalian tahu Xiao Ling sebenarnya berniat kabur, bukan benar-benar mau duel?” Begitu keluar, Lin Qiuran yang reaksinya paling lambat, hampir saja tertangkap pemuda suram, bertanya dengan napas tersengal.
Saat itu akting Xiao Ling memang cukup meyakinkan, sampai ia sendiri sempat berpikir—jika benar harus berhadapan dengan Xiao Ling, apa yang harus ia lakukan?
Apakah dirinya tipe penyihir? Akankah Xiao Ling mengajaknya main kejar-kejaran di antara tiang?
Lokasi duel yang disarankan Xiao Ling memang ada beberapa tiang yang cocok untuk berlindung...
Karena terlalu banyak berpikir, reaksinya jadi lambat. Begitu juga pemuda suram itu, seperti orang bodoh dipermainkan Xiao Ling.
Tapi Lin Qiuran heran: Ia saja tertipu, musuh juga tertipu, kenapa Fatty dan Wei Feifei begitu yakin bahwa Xiao Ling berniat kabur, bahkan sebelum kata “lari” keluar, mereka sudah lebih dulu melesat?
Fatty membuka suara dengan nada berat, “Kau tidak kenal Xiao Ling, baru sebentar bersamanya. Kalau dia benar-benar menyerah, tak akan main duel satu lawan satu, apalagi membagi kelompok. Ia pasti cuma tanya: bolehkah kami memilih cara mati yang lebih nyaman?”
Xiao Ling mengacungkan jempol pada Fatty, benar-benar mengerti dirinya!
Lin Qiuran tak bisa berkata-kata, lalu menoleh ke Wei Feifei, “Fatty dan Xiao Ling memang sahabat lama, yang lain tak sebanding, tapi kamu, Feifei, kenapa juga tahu?”
Wei Feifei hanya menjawab dua kata, “Perasaan.”
“...Benar-benar enak jadi tipe sensitif!”
==========
Empat remaja berlari kencang di pelataran rumah sakit, sementara pemuda berwajah suram memandang penuh dendam pada punggung mereka, sampai-sampai ingin muntah darah.
Benar-benar seperti kapal terbalik di selokan!
“Aduh, ada yang tertimpa menara derek. Cepat, bantu angkat!” Insiden itu segera mengundang kerumunan orang.
Meski hidup serba sulit, orang baik tak pernah hilang, kapan pun juga.
Beberapa orang datang membantu, bergotong royong, sambil berkomentar, “Nasib itu memang aneh. Barusan menara derek sebesar itu jatuh dari seberang, jalan selebar ini, rumah sakit seramai ini, tak satu pun tertimpar...”
“Eh, justru yang satu ini tiba-tiba jatuh, langsung menimpa orang. Sial betul!” Sambil mengangkat puing, mereka menggeleng keheranan.
Obrolan orang-orang itu membuat wajah pemuda suram memerah, entah malu atau marah, atau mungkin, ia mulai menyadari ada yang tidak beres.
Menara derek tak menimpa orang, tentu ada sebabnya. Itu hasil skill sang instruktur kelompok pendatang baru ini, ia sendiri melihat jelas dari jauh.
Sebenarnya, ia memang sengaja menjatuhkan menara itu agar sang instruktur keluar dan posisinya terdeteksi.
Namun, apa yang dikatakan orang-orang dan apa yang ia pikirkan jelas berbeda. Orang luar lebih jernih menilai.
Menara pertama jatuh tak mengenai siapa pun karena skill ahli; yang kedua jatuh dan menimpa dirinya, jelas ada ulah seseorang!
Dan, kalau bukan ulah mereka, kenapa mereka bisa lari secepat itu?
Semakin dipikir, semakin yakin, pemuda berwajah suram pun makin murka: Berani-beraninya mereka mempermainkan dirinya begini! Sial! Sial! Sial!
“Aaaah!” Ia menjerit pilu seperti tertusuk sesuatu.
Tepat saat itu, kerjasama orang-orang yang mengelilinginya akhirnya membuahkan hasil, puing menara berhasil terangkat sedikit.
Pemuda suram pun segera menarik kakinya, kembali bebas.
“Ctar!” Detik berikutnya, kilatan pisau menyembur dari pinggangnya, menyapu beberapa meter di sekeliling.
Kilatan tajam itu hanya sekejap, lalu kembali ke pinggangnya.
Orang-orang yang mengelilinginya bahkan belum sadar apa yang terjadi, mulut masih bergerak, mengeluarkan suara.
Baru setelah itu, mereka merasa ada yang aneh—bukan sekadar diri, tapi seluruh dunia terasa lain.
“Plak, plak!” Suara lengan terputus jatuh ke tanah.
“Gubrak...” Ada yang kepalanya menggelinding, mati seketika.
“Dug!” Ada yang terbelah dua, tubuh bagian atas dan bawah perlahan tergelincir jatuh. Namun masih sempat berteriak histeris, “Ada apa ini... kenapa aku...”
Akibat sabetan cepat itu akhirnya terlihat, semburan darah, potongan tubuh berserakan, pemandangan mengerikan.
Sekali tebas! Hanya sekali! Pemuda berwajah suram membantai semua orang baik yang menolongnya, menjadikan sudut rumah sakit seperti neraka!
Di dalam lobi rawat jalan, orang berlalu-lalang, namun sekejap semuanya membeku.
Meski sudah beberapa kali terjadi insiden, bagaimanapun sekarang zaman damai, siapa pernah melihat pemandangan sekejam itu?
Beberapa detik kemudian, baru ada yang menjerit, “Bunuh... bunuh... ada pembunuhan!” Semua orang panik berlarian. Ada yang sekadar melarikan diri, ada yang teriak cari polisi...
Pemuda suram itu pun tak melanjutkan pembantaian, ia bangkit terpincang-pincang, menatap keluar jendela dengan mata merah berlumur darah, mengunci pandang pada Xiao Ling.
Pasti gara-gara orang itu! Dia yang mengusulkan bertarung di sini, membuatku berdiri di dekat pintu!
Lidahnya menjilat bilah pisau yang berlumuran darah: Berani-beraninya mempermainkanku, bocah, nanti setelah kau rasakan balas dendamku, kau akan tahu betapa bodohnya menyinggung Wang Yazhi! Aku akan mencincang kalian, menyiksa selama sepuluh ribu tahun!
==========
“Sial!” Empat orang yang sedang berlari itu juga melihat tragedi di belakang. Fatty tak bisa menahan sumpah serapah.
“Ingat, ini gelembung ruang-waktu, tak akan benar-benar mati!” Xiao Ling mengingatkan Fatty. Ia menatap pemuda suram itu, walau berjauhan, tatapan bengis itu terasa menusuk hingga membuat bulu kuduk berdiri.
“Pisah lari!” putusnya cepat, “Feifei, aktifkan kalungmu, menyusup ke kerumunan, dia pasti tak bisa menemukanmu. Lalu cari mesin ATM, pelajari skill-nya.”
“Fatty, kau bawa Lin Qiuran...”
Fatty protes, “Kenapa?” Musuh sudah terhalang, rasanya belum saatnya berpencar.
Xiao Ling menjelaskan, “Kau bawa dia ke kantor polisi. Sekarang situasi kacau, harusnya ada kesempatan dapat senjata. Orang kantor polisi semua kenal aku, aku pasti tak bisa masuk... Pokoknya, entah pakai pengaruh ayahmu, atau pinjam seragam polisi biar bisa menyamar, dapatkan senjata sebanyak mungkin.”
Di Tiongkok, senjata api memang bukan barang mudah didapat.
Bahkan di dunia nyata, maupun di ‘Toko Serba Ada’ daring, harganya sangat mahal, tak akan sanggup mereka beli.
Ini juga membuat Xiao Ling sadar, di kalangan manusia luar biasa, senjata api pasti jadi pemecah keseimbangan. Kalau bisa dapat, belum tentu pemuda suram itu sanggup menahan.
Justru karena itulah, harus dicari cara mendapatkannya. Identitas Fatty jelas jalan terbaik.
Fatty pun paham.
Wei Feifei malah mulai memprotes, kenapa bukan dia yang pergi? Tapi ketika Fatty menggandeng Lin Qiuran ke mobilnya yang mewah, si perawat kecil pun diam.
Motor listrik bertiga memang sempit...
Ia pun menurut, menghilang dalam kerumunan. Fatty membawa Lin Qiuran, masih sempat menoleh, “Kalau kau sendiri bagaimana?”
“Aku sudah mengunci posisinya, tentu tahu cara menghindar.” Xiao Ling terus berlari, mengaktifkan Tiga Petuah Sakti—