Bab Empat Puluh: Membunuh
Sejak Gu Yan mengadakan konferensi pers, jumlah pendaftar untuk audisi mencapai angka yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tinggal satu hari lagi sebelum pendaftaran yang berlangsung selama seminggu itu ditutup, dan tiga hari kemudian akan diadakan babak audisi pertama. Lokasi audisi ditetapkan di Hangzhou. Tak peduli dari kota mana pun asal peserta, atau di mana pun mereka mendaftar, semua orang diwajibkan tiba di Hangzhou sebelum audisi dimulai, jika tidak maka dianggap gugur. Keterbatasan waktu membuat Gu Yan semakin sibuk, namun ia menikmati kehidupan yang penuh aktivitas seperti ini.
“Alisa, untuk pelaksana audisi, perusahaan mana yang akan Anda pilih?” tanya asisten, Lan Ruo. Dulu, saat di Amerika, semua keputusan seperti ini berada di tangannya. Namun sepulang ke tanah air, Gu Yan menetapkan bahwa semua keputusan harus melalui persetujuannya.
“Menurutmu, perusahaan mana saja yang paling layak saat ini?”
“Tak bisa dipungkiri pengaruh Anda di Tiongkok begitu besar, berbagai perusahaan hiburan besar maupun kecil ikut serta dalam seleksi pelaksana audisi kali ini,” jawab Lan Ruo sambil melirik Gu Yan yang tanpa ekspresi. “Di antara perusahaan yang baru menonjol tiga tahun belakangan, Tianhong merupakan pilihan yang sangat baik.”
“Kenapa begitu?” Gu Yan meletakkan berkas di tangannya dan mengangkat alis. Tianhong, sungguh tak disangka ada hal kebetulan seperti ini di dunia. Ia ingin tahu alasan apa yang akan digunakan oleh sekretaris yang cerdas, tenang, dan bijaksana, yang telah mengikutinya tiga tahun terakhir, untuk meyakinkannya.
“Drama baru Anda, ‘Orang Penting’, bercerita tentang dunia kerja di hotel, dan kebetulan Tianhong memiliki hotel bintang lima yang bisa dijadikan lokasi syuting. Dengan begitu, kita bisa menghemat banyak biaya. Walau perusahaan ini terbilang baru, potensinya sangat besar. Bahkan Tuan Han pun memandang khusus pada pemilik perusahaan ini, kalau tidak, ia takkan memberikan kontrak film pertama Wei Hao di Tiongkok kepada mereka.”
“Hanya itu?” Itu belum cukup untuk meyakinkannya.
“Sebetulnya, dari perusahaan pesaing lainnya, kemunculan Zheng Group cukup mengejutkan,” ujar Lan Ruo hati-hati. Sebagai asisten, tentu ia tahu hubungan khusus antara Direktur Muda Zheng dan atasannya.
Gu Yan terdiam, tak bereaksi. Ia tahu, keikutsertaan Yingqi dalam seleksi ini jelas bukan hanya untuk mencari kesempatan lebih dekat dengannya.
“Dari hasil penyelidikan saya, selama tiga tahun ini Zheng Group dan Tianhong selalu bersaing ketat. Di mana ada Tianhong, Zheng Group pasti turun penuh. Seperti kali ini, padahal Zheng Group adalah perusahaan makanan, namun tetap bersaing di industri perfilman yang sama sekali berbeda dengan bidang usahanya.” Mendengar ini, hati Gu Yan yang dingin kembali hangat. Jika sampai sekarang ia masih belum mengerti tujuan Yingqi, maka ia benar-benar bodoh.
“Beri saja pada Zheng Group.”
Lan Ruo hendak berkata sesuatu, namun mengurungkan niatnya setelah melihat sikap Gu Yan. Pimpinan seperti Gu Yan selalu tegas, lagipula keputusan diberikan kepada perusahaan mana pun tidak terlalu berdampak pada mereka. Ia percaya pada legenda tak terkalahkan Alisa; bahkan perusahaan yang nyaris bangkrut pun bisa hidup kembali berkat satu dramanya.
Setelah semua urusan selesai, Gu Yan baru teringat ingin menelpon sahabat lamanya.
“Aniyeong haseyo!”
“Bahasa Koreamu sudah semakin baik,” ujar Gu Yan dengan suara berat.
“Ah—Xiao Yan, dasar perempuan ini, akhirnya kamu ingat juga untuk menghubungiku. Sudah tiga tahun, ke mana saja kamu selama ini? Dan soal perceraian itu bagaimana? Orang lain mungkin tidak tahu, tapi aku, Cai Mei, sangat mengenalmu. Kamu sangat mencintai Shen Hong, bagaimana bisa tiba-tiba bercerai? Bukankah kamu yang selalu mengajarkanku untuk sabar dan tenang...” Suara di seberang telepon terdengar sangat bersemangat.
“Bagaimana, kamu betah di Korea?”
“Menurutmu?” Dia begitu mempesona, penuh cahaya. Lima tahun bersama, tak pernah terpisah, akhirnya ia mendapatkan cintanya. Tapi jarak di antara mereka bukan hanya sekadar satu atau dua langkah...
“Mei... pulanglah. Aku bisa membuatmu jadi bintang dalam semalam, bersinar terang, berdiri di sisinya tanpa harus menerima cibiran orang.”
“Haha! Xiao Yan, tiga tahun tak bertemu, ternyata kamu jadi humoris sekarang,” tawa Cai Mei keras di seberang sana.
“Alisa itu nama Inggrisku.” Mendengar itu, tawa di seberang hilang, berganti keheningan. Alisa, kekasih aktor papan atas Korea. Mana mungkin Cai Mei tidak pernah mendengar nama itu? Bahkan artis sekelas Li Min saja sulit mendapatkan kesempatan bekerja sama dengannya.
“Aku sedang mencari pemeran untuk drama baru. Ceritanya tentang pengalaman kerja lulusan universitas yang magang di hotel. Kita bertiga sama-sama belajar manajemen perhotelan, tapi tak satu pun dari kita pernah mengalami masa magang itu.” Suara Gu Yan mulai bergetar, hidungnya terasa asam. “Setidaknya, di drama ini, anggap saja kita menebus penyesalan itu.”
“Sebenarnya, Li Min...”
“Ajak dia pulang juga. Pemeran utama pria dan wanita hanya pantas untuk kalian berdua. Ini janji.”
“Tidak...” Cai Mei buru-buru menolak, “Biarkan saja dia yang jadi pemeran utama, aku tidak ikut. Sudah cukup banyak kabar miring, aku tak bisa lagi muncul bersamanya di layar, apalagi egois menghancurkan masa depannya.”
Sikap tegas Cai Mei membuat Gu Yan tak bisa berbuat apa-apa. Benar-benar sahabat, sama-sama bodoh. Segala hal selalu dipikirkan demi orang yang dicintai, tapi akhirnya yang paling terluka adalah diri sendiri.