Bab 2 Sebuah Pintu
Orang-orang yang mengenalnya tahu, si gendut ini sudah memberi muka pada Kakek Yang. Kalau orang lain, sudah pasti akan langsung mencaci maki dengan kasar.
“Tuan, maaf menunggu lama, tadi di jalan sempat tertunda.”
“Ayo, cap jari dan ambil perlengkapan.” Si Gendut Zhang tak lagi mempermasalahkan. Cap jari di sini sama seperti absensi, prosedur yang ditetapkan pemerintah. Qin Fan dan Kakek Yang mengikuti prosedur, menempelkan jari dan masing-masing menerima satu baju zirah rotan hitam.
Lalu mereka menerima perlengkapan ronda malam: satu set genderang, sebuah lentera, dan sebuah jam pasir.
“Kalian semua sudah tahu aturannya, kan?” Zhang Youde melirik semua yang hadir dan bertanya.
“Tahu,” jawab mereka serempak.
Zhang Youde berdiri dari kursi, melonggarkan ikat pinggangnya sambil berkata, “Baik, sepuluh orang berjaga di sini, aku mau istirahat dulu. Kalau ada apa-apa, kabari saja.”
“Siap!” jawab mereka bersama.
Melihat si gendut itu beranjak pergi dengan santai, suasana di dalam balai utama seketika menjadi lebih tenang.
Menurut aturan, petugas ronda malam harus dibagi menjadi kelompok-kelompok berisi lima orang, ditempatkan di empat penjuru kota: timur, selatan, barat, dan utara, untuk mengawasi keadaan. Sepuluh orang lainnya siaga di kantor pemerintah.
Penjaga ronda harus memutari kota setiap pergantian ronda. Tujuannya, selain memberi tahu para penjaga berapa lama lagi waktu ronda berakhir, juga untuk memastikan tidak terjadi sesuatu yang mencurigakan.
Dulu pernah ada desa yang diserang siluman secara tiba-tiba. Satu regu berisi lima orang habis dibantai tanpa suara, bahkan tak sempat melawan. Yang menemukan kejadian mengerikan itu adalah petugas ronda. Ia segera kembali dan memberitahu yang lain.
Sejak saat itu, aturan ini dipertahankan.
Setelah Zhang Youde pergi, semua orang bergerak sesuai pembagian tugas yang telah ditetapkan.
Yang Luoshan dan Qin Fan tetap di tempat, memperhatikan jam pasir, menunggu giliran ronda pertama.
Tiga puluh tahun lalu, jadwal ronda malam ditetapkan pada waktu anjing, tetapi sejak munculnya Matahari Berdarah dan kegaduhan para siluman, orang-orang tidur lebih larut, sehingga jadwal ronda dipindahkan ke waktu celeng.
Para penjaga yang tinggal di kantor mulai asyik mengobrol. Karena berasal dari daerah yang sama, obrolan pun tak ada habisnya.
Sebagian besar hanya membicarakan kehidupan sehari-hari, sampai seorang kakek bermarga Sun melirik keluar dan berkata, “Dengar-dengar kemarin Desa Yueming di sebelah sana diserang siluman. Mungkin beberapa hari lagi baru terdengar kabarnya.”
“Jangan bercanda, Kakek Sun. Dari mana kau dengar itu?” tanya seseorang sambil tertawa.
Kakek Sun memang sejak muda suka menggoda, apalagi ketika tua, makin gemar membual. Kata-katanya hanya bisa dipercaya setengah saja.
Namun kali ini Kakek Sun tampak serius. “Ini sungguhan! Beberapa hari belakangan memang ada siluman di sekitar sini. Tidak aman. Menurutku, kalian semua harus waspada, jangan sampai benar-benar ada siluman masuk ke kota.”
“Untung saja Tuan Zhang sudah tidur. Kalau dengar omonganmu, bisa-bisa gigimu tanggal semua!” Semua orang di sini mengutamakan keberuntungan. Baru saja mulai ronda, sudah bicara soal kemungkinan diserang siluman, jelas dianggap sial.
“Cih, terserah mau percaya atau tidak.” Kakek Sun mengibaskan lengan bajunya, duduk di pojok dengan kesal.
Qin Fan tidak sempat memedulikan obrolan itu. Di zaman kacau seperti ini, hanya kekuatanlah yang terpenting.
Ia berkata pada gurunya, Yang Luoshan, agar nanti dipanggil saat waktunya tiba, lalu bergegas ke halaman untuk kembali berlatih Pukulan Bintang Jatuh.
Satu pukulan, lalu satu pukulan lagi, menghadapi angin malam yang kencang.
Huu~
Dengan dengusan berat, ia melayangkan satu pukulan.
Dalam benaknya muncul sebuah layar cahaya.
[Pukulan Bintang Jatuh x6547]
Ia memukul lagi.
[Pukulan Bintang Jatuh x6548]
[Qin Fan]
[Darah dan Tenaga: 6]
[Kemampuan Khusus: Tidak ada]
[Jurus: Pukulan Bintang Jatuh x6548]
Tiga hari lalu, saat terbangun, tiba-tiba saja layar cahaya ini muncul di kepalanya.
Awalnya ia tidak tahu fungsinya. Ia hanya menyadari, setiap kali ia menggunakan satu jurus, akan muncul keterangan kekuatan jurus x1.
Sampai akhirnya, ketika jumlah Pukulan Bintang Jatuh mencapai sepuluh kali, ia menghantam sebuah pohon tua di belakang rumah hingga remuk berkeping-keping.
Saat itulah ia mengerti, selama jurus yang digunakan tidak mengenai sasaran, kekuatannya akan terus terakumulasi, sampai akhirnya benar-benar mengenai target.
Setelah memahami hal itu, Qin Fan menjadi gila berlatih.
Alasan ia terus-menerus menggunakan jurus Pukulan Bintang Jatuh adalah karena ia paling menguasai jurus itu, sehingga bisa memastikan setiap kali kekuatannya terakumulasi, dan saat melawan musuh, ia bisa mengeluarkan seluruh kekuatan jurus itu dengan sempurna.
Setelah sepuluh kali akumulasi, jurus ini sudah sanggup menghancurkan pohon besar sekaligus.
Sekarang, sudah lebih dari enam ribu kali, bagaimana jadinya? Qin Fan bahkan tidak berani mencoba. Ia yakin, apapun yang ia lihat di sekitarnya tak satu pun dapat menahan pukulannya.
Di bawah langit yang memerah, para penjaga ronda di Balai Linfeng masih asyik berbincang soal keluarga.
Qin Fan terus memukul tanpa henti.
Yang Luoshan menatap jam pasir yang sudah habis dan berkata, “Saatnya berangkat.”
Mengambil genderang, membawa pedang panjang, Yang Luoshan memanggil sekali. Qin Fan pun segera mengambil lentera, lalu mereka berdua berjalan beriringan keluar dari pintu gerbang Balai Linfeng, mulai mengelilingi kota kecil itu.
Saat ini langit sudah benar-benar gelap. Hanya selapis tipis warna merah samar, bak kerudung tipis, menyelimuti dunia.
Di bawah cahaya lentera yang temaram, Qin Fan dan Yang Luoshan berjalan beriringan.
“Dong—dong!”
“Musim kering, hati-hati dengan api!”
Setiap berjalan sekitar seratus langkah, Yang Luoshan akan berteriak keras.
Setelah berkeliling, mereka melihat regu penjaga di utara kota sedang duduk santai di rumah darurat, mengobrol ringan. Setelah menyapa, mereka pun melanjutkan perjalanan.
Sampai di timur kota, para penjaga di sana juga tampak baik-baik saja. Melihat Yang Luoshan, mereka tersenyum, “Wah, Kakek Yang, kuat sekali jalan cepat begini!”
“Biasa saja, aku kan ingin cepat-cepat bertemu kalian.”
Setelah berbasa-basi sebentar, Yang Luoshan dan Qin Fan kembali melangkah. Di jalanan yang lengang, hanya suara langkah kaki mereka yang menggema... tak, tak, tak, tak, tak...
“Musim kering, hati-hati dengan api!” Suara teriakan Yang Luoshan semakin lantang. Jarak ke pos berikutnya sudah tidak jauh lagi, mereka pun mempercepat langkah.
Namun di saat itu, Qin Fan tiba-tiba memanggil Yang Luoshan.
“Guru, kenapa pintu rumah ini terbuka?”
Bersamaan dengan suara itu, langkah kaki mereka terhenti. Di ujung gang sempit di sisi kanan, dua daun pintu kayu terbuka lebar.
Angin dingin bertiup, membuat daun pintu bergoyang dan berderit.
Sejak siluman berkeliaran, setiap malam semua orang akan menutup rapat pintu dan jendela. Ini sudah jadi aturan hidup di Dinasti Dayu.
Sekarang bukan hanya sudah larut malam, bahkan Matahari Berdarah masih menggantung di langit. Dalam keadaan seperti ini, pintu rumah yang terbuka lebar jelas sangat mencurigakan.
“Ini rumah siapa?” Qin Fan dan Yang Luoshan tak berani bertindak gegabah.
Yang Luoshan menggeleng, “Tidak tahu.”
Kota Linfeng lumayan besar, ada empat jalan utama, tujuh ratus keluarga, lebih dari seribu rumah, sungguh tak mungkin ia hafal siapa pemilik rumah di ujung gang itu.
Namun urusan seperti ini tak bisa asal-asalan. Kalau sampai lengah dan benar-benar ada siluman masuk, taruhannya adalah nyawa.
“Panggil orang lain ke sini,” bisik Yang Luoshan.
Mereka berdua mundur, kembali ke timur kota.
Para penjaga yang sedang ronda di sana masih tertawa-tawa. Melihat Yang Luoshan dan Qin Fan kembali, mereka semua terkejut.
“Ada apa ini, Kakek Yang? Kau tersesat di kota sendiri? Baru saja pergi belum lima belas menit, kok sudah balik lagi?”