Bab 30: Surat Pemberitahuan Seleksi yang Membingungkan
Namun, pria dan wanita itu tidak beranjak pergi, mereka hanya tidak berani bersuara lagi, menatap Lin Ping'an dengan sorot mata yang penuh ketakutan.
Lin Ping'an mengabaikan mereka berdua. Ia bergegas menghampiri Da Qiang dan memeriksa napasnya.
Begitu merasakan hembusan napas hangat, ia sedikit bernapas lega.
Syukurlah, dia tidak mati.
...
Kantor polisi.
Zhou Yusen menatap Lin Ping'an yang duduk di hadapannya, lalu bertanya dengan kening berkerut, "Kenapa harus kau?"
Lin Ping'an menarik napas dalam-dalam. "Kapten Zhou, ini bukan sekadar perkelahian biasa, ini sudah direncanakan. Keempat orang itu adalah komplotan pria dan wanita tadi."
Zhou Yusen mengeluarkan sebungkus rokok dan menawarkannya kepada Lin Ping'an, namun ia menggeleng pelan.
Zhou Yusen mengambil sebatang rokok, menyulutnya dengan korek api, lalu berkata, "Nak Lin, berdasarkan keterangan kedua belah pihak dan kesaksian pejalan kaki di lokasi, kasus ini pada dasarnya disimpulkan sebagai perkelahian. Jika terus diusut, kau dan temanmu akan terseret. Ini bisa memengaruhi keikutsertaan kalian dalam ujian masuk perguruan tinggi."
Lin Ping'an berdiri dengan marah. "Keempat orang itu jelas-jelas adalah preman bayaran. Tangkap mereka dan interogasi, semuanya akan terungkap."
Zhou Yusen mengembuskan asap rokok, lalu berkata dengan nada pasrah, "Terus terang saja, keterangan dua orang yang kami periksa tadi menyatakan bahwa mereka tidak mengenal keempat orang itu. Mereka berdalih keempat orang itu hanyalah warga yang berniat menolong. Di lokasi juga tidak ada kamera pengawas. Berdasarkan analisis video dari ponsel pejalan kaki, kalian memulai perkelahian lebih dulu, baru kemudian mereka membalas. Jika kasus ini diproses sebagai tindakan kriminal, justru akan sangat merugikan kalian."
"Nak Lin, saran saya, berdamailah. Jika tidak, masa depan kalian, terutama ujian masuk perguruan tinggi, benar-benar akan terganggu," timpal petugas Yao.
"Tapi, apakah Da Qiang harus menanggung luka ini begitu saja?" tanya Lin Ping'an dengan tidak terima.
Zhou Yusen kembali menghisap rokoknya dalam-dalam, lalu berkata perlahan, "Pihak lawan juga mengalami patah tulang. Meskipun lukanya tidak separah Liu Daqiang, itu sudah cukup untuk membuatmu mendekam di penjara selama beberapa bulan."
Lin Ping'an merasa tak berdaya.
Meski ia tahu semua ini adalah ulah Lin Zhaodi, ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan.
Lin Zhaodi jelas telah merencanakan segalanya dengan sangat matang.
Jika ia bersikeras memenjarakan mereka, ia sendiri akan ikut terseret.
Yang terpenting, Liu Yunxiao juga akan terkena imbasnya.
Jika ia tidak bisa mengikuti ujian masuk perguruan tinggi, Lin Ping'an tidak akan pernah bisa membalas dendam seumur hidupnya.
Ujian masuk perguruan tinggi adalah titik balik kehidupan seseorang.
Dengan berhasil menempuh pendidikan tinggi, ia bisa masuk ke lapisan masyarakat kelas atas dan memiliki kemampuan untuk membalas dendam.
Tanpa itu, jalannya untuk bangkit akan tertutup rapat.
Berdamai adalah satu-satunya pilihan.
"Jika Da Qiang mengalami efek samping dari lukanya, saya tidak akan tinggal diam," kata Lin Ping'an dengan gigi terkatup.
Petugas Yao segera menyahut, "Untuk itu, kau bisa mengajukan kompensasi. Saran saya tetap sama, sebaiknya berdamai agar catatan kepolisianmu dan temanmu tetap bersih. Setelah ujian nanti, kalian bisa mendaftar ke universitas yang kalian inginkan tanpa terbebani masa depan yang rusak."
"Jika kau bersikeras tidak berdamai, kami terpaksa mencatat ini dalam rekam jejak kalian. Itu akan sangat merugikan masa depan kalian," tambah Zhou Yusen.
Lin Ping'an menarik napas panjang. "Baiklah, saya setuju berdamai."
Meskipun hatinya terasa sesak, Lin Ping'an sadar bahwa ia tidak punya pilihan lain.
Inilah kenyataan.
Untuk membalas dendam, kemampuannya saat ini masih jauh dari cukup.
Saat keluar dari kantor polisi, Liu Yunxiao tampak penuh penyesalan. "Lin, maafkan aku, gara-gara aku temanmu terluka parah."
Lin Ping'an menepuk bahunya. "Ini bukan salahmu. Mereka memang mengincar aku."
Sepasang pria dan wanita berlari menghampiri mereka dan menarik Liu Yunxiao. "Xiao Xiao, kau tidak apa-apa? Ayah dan Ibu sangat ketakutan."
Ayah Liu Yunxiao melirik Lin Ping'an dengan sinis, lalu langsung menarik Liu Yunxiao pergi. "Jangan terlalu dekat dengan Lin Ping'an lagi. Anak itu membawa pengaruh buruk."
Ibu Liu Yunxiao juga berbisik, "Ibu dengar orang-orang itu memang mengejar Lin Ping'an. Kau hanya menjadi korban salah sasaran. Kita tidak mampu berurusan dengan mereka, jadi lebih baik menghindar."
"Bu, Yah, jangan bicara sembarangan. Ini salahku, aku yang memulai perkelahian tadi. Aku yang menyeret Lin Ping'an ke dalam masalah," bantah Liu Yunxiao sambil berusaha melepaskan diri.
"Jangan mengada-ada. Orang-orang di sana melihat jelas bahwa mereka mengincar Lin Ping'an. Dia telah menyinggung orang kuat, kau harus menjauh. Kau seorang gadis, jangan berurusan dengan orang jahat seperti itu. Dia itu sudah tidak punya siapa-siapa, hidupnya bebas, dan dia laki-laki, jadi tidak akan rugi," ujar mereka sambil terus menarik Liu Yunxiao pergi.
Melihat Liu Yunxiao dibawa pergi orang tuanya, Lin Ping'an hanya bisa menggeleng.
Ia sadar orang tua Liu Yunxiao benar. Berada terlalu dekat dengannya bukanlah hal yang baik bagi gadis itu.
Menjaga jarak adalah pilihan paling aman untuknya.
Lin Ping'an merasa hidupnya sangat membingungkan.
Ia ingin membalas dendam, namun musuhnya terlalu kuat, sementara ia hanya bisa pasrah menerima serangan.
Untuk melindungi diri sendiri saja sudah begitu sulit, apalagi membalas dendam?
Ke mana arah masa depannya?
Perjalanan menuju ujian masuk perguruan tinggi masih sangat panjang.
Mengingat betapa kejamnya Lin Zhaodi, apakah ia bisa mencapai ruang ujian saja masih menjadi tanda tanya besar.
Ia berhenti melangkah saat baru saja keluar dari kantor polisi.
Di seberang jalan, terparkir sebuah mobil jip berwarna hijau militer.
Di dekat kap mobil, seorang pria berbadan kekar sedang merokok.
Lin Ping'an memicingkan mata kirinya dan melihat pistol yang terselip di balik ketiak pria itu.
Ini adalah ketiga kalinya ia melihat pistol menggunakan penglihatan khusus miliknya.
Ia punya firasat bahwa pria itu datang untuk menemuinya.
Ia menenangkan diri dan berjalan menghampiri pria tersebut.
"Lin Ping'an?" tanya pria itu lebih dulu.
"Ya, saya."
Pria itu mengeluarkan sepucuk surat dan menyerahkannya. "Jika tertarik, kau bisa mengikuti seleksi kami."
Lin Ping'an menerima surat itu dengan bingung. Seleksi apa ini?
Isi surat itu sangat singkat, hanya satu baris kalimat: Lin Ping'an, kau telah memperoleh kualifikasi untuk mengikuti seleksi Pemburu Bayang, harap bersiap dalam sepuluh hari ke depan.
Tidak ada tanda tangan, tidak ada pembuka, dan tidak ada penjelasan rinci.
Hanya kalimat yang tidak jelas itu saja.
Namun, secercah harapan yang kuat muncul di hati Lin Ping'an.
Kabut kelabu di pikirannya seketika sirna.
Ia sangat yakin, ini semua pasti ada hubungannya dengan pria tua beberapa hari lalu.
Ini adalah harapan bagi masa depannya.
Ini juga harapan untuk membalas dendam.
"Jika kau bersedia, silakan tanda tangan di sini." Pria itu mengeluarkan pena. "Tentu saja, kau boleh mempertimbangkannya terlebih dahulu. Kau punya... hmm... lima menit untuk berpikir."
"Tidak perlu, saya tanda tangan sekarang," sahut Lin Ping'an, lalu segera menuliskan namanya dengan cepat.
"Bagus. Bersiaplah, tiga hari lagi seseorang akan menjemputmu." Pria itu mengambil kembali suratnya, lalu masuk ke dalam jip.
"Tapi, bagaimana jika ada orang yang mencelakai saya dalam tiga hari ini?" tanya Lin Ping'an.
Pria itu menatap Lin Ping'an dengan penuh minat. "Mulai detik ini, kau adalah kandidat Pemburu Bayang. Tidak akan ada satu orang pun yang berani menyentuhmu."
Kalimat itu diucapkan dengan sangat tegas, membuat Lin Ping'an semakin yakin dengan keputusannya.
Meskipun ia tidak tahu siapa di balik organisasi ini, latar belakang mereka pasti sangat besar.
Lin Zhaodi dan kekuatan di belakangnya tidak akan sanggup menandingi mereka.