Bab 12: Pahlawan Menyelamatkan Sang Gadis
“Kakak Ketiga, Xia You didorong orang itu sampai jatuh,” ucap Han Yi dengan cemas. “Kalau tidak ada yang peduli, dia pasti akan dirugikan.”
“Itu juga salahnya sendiri,” jawab Mu Lingkai tanpa ekspresi, menyalakan mobil dengan santai. “Kau benar-benar tidak mau pergi denganku?”
“Sudahlah, kau pergi dulu saja,” Han Yi melirik sekali lagi ke arah depan warung mi, lalu berkata dengan nada kesal, “Aku pakai mobilku sendiri.”
Mu Lingkai tak lagi peduli padanya, menginjak pedal gas dengan tenang. Mobil mewah itu meluncur ke jalan dan melesat pergi, tak lama kemudian lenyap ditelan gelapnya malam.
Xia You terduduk di tanah dalam keadaan kacau balau, hanya merasakan nyeri membakar di lutut dan telapak tangannya.
Saat ia menunduk, tampak kulit tangan kirinya terkelupas cukup parah dan darah mulai merembes keluar. Apalagi, beberapa hari terakhir ia terus-menerus menyeka meja dan mencuci piring, sehingga jari-jarinya yang terendam air dingin jadi memucat dan berkerut, mirip kepala lobak yang gemuk.
Rasa marah dan pilu bercampur memenuhi hatinya. Ia menggertakkan gigi, lalu bangkit berdiri dan melangkah tegas ke hadapan pemilik warung. Dengan jelas ia berkata, “Sekarang, kau bukan hanya harus membayar upahku, tapi juga ganti rugi biaya pengobatan!”
“Anak nakal! Kau cari mati, ya?!” Pemilik warung makin murka, wajahnya mengeras, urat di pelipisnya menonjol. Ia membentak keras pada kerumunan orang yang menonton, “Apa lihat-lihat?! Semua pergi sana!”
Orang-orang di sekitarnya tak berani berlama-lama, sambil berbisik pelan mereka segera membubarkan diri.
Xia You tetap menantang, menatap pemilik warung dengan keras kepala. “Bayar! Kalau tidak, aku laporkan kau ke Dinas Tenaga Kerja!”
“Sialan, dasar perempuan, jangan kira aku tak berani benar-benar memukulmu!” maki pemilik warung, lalu meraih Xia You dan mengangkat tangannya hendak memukul. “Hari ini kalau tidak mengajarkan kau pelajaran, sia-sia aku hidup lebih dari tiga puluh tahun!”
“Hentikan!” Suara berat dan tegas membuyarkan situasi. Sebuah tangan kuat mencengkeram lengan pemilik warung yang hendak berbuat kasar. Han Yi datang tepat waktu.
Pemilik warung yang tadinya hendak memberi pelajaran pada Xia You, tiba-tiba dihadang oleh seseorang yang tak dikenal. Tentu saja ia kesal, menoleh dengan wajah merah padam, menatap Han Yi dengan galak. “Anak mana kau ini? Jangan ikut campur!”
Dengan tenang Han Yi memperingatkan, “Kalau tak ingin masuk kantor polisi karena sengaja membuat onar, lepaskan gadis ini!”
Auranya yang penuh keadilan membuat pemilik warung gentar, ia pun melepaskan Xia You dengan enggan, sambil menggerutu, “Dia yang bikin onar di warungku.”
“Kau bohong!” Xia You membalas dengan emosi. “Dasar pedagang licik, tak tahu malu! Aku kerja keras tiga hari di tempatmu, kau tak mau bayar upah malah menuduhku bikin masalah?!”
“Sudah jelas, tiga hari pertama itu masa percobaan. Kau tak lulus, tentu tak dapat upah!” sanggah pemilik warung dengan keras kepala.
“Sialan masa percobaanmu itu!” Xia You makin marah, bertolak pinggang dan memaki, “Kau penipu kelas kakap yang memanfaatkan lowongan kerja untuk menipu tenaga gratis! Ingat, uang ini akan ku kejar sampai dapat, meski harus ribut sampai langit runtuh!”
Pemilik warung hendak membantah lagi, tapi Han Yi memotong dengan suara dingin, “Berapa upah tiga hari itu?”
“Tidak sepeser pun!” jawab pemilik warung dengan suara keras, lalu berbalik hendak masuk ke dalam.
“Aku seorang pengacara.” Han Yi mengeluarkan kartu identitasnya, menunjukkan dengan tegas dan suara lantang, “Jika hari ini kau tidak membayar upah yang seharusnya pada nona ini, aku jamin, besok panggilan pengadilan akan sampai padamu.”
Baru saat itu pemilik warung sadar bahwa malam ini ia bertemu orang yang tidak mudah dihadapi. Ia menatap wajah Han Yi yang penuh wibawa, akhirnya menyerah, dengan kesal mengeluarkan sejumlah uang receh dari saku, menghitung sembilan puluh dan menyerahkannya pada Xia You dengan enggan. “Ambil! Sehari tiga puluh, tiga hari sembilan puluh. Urusan kita selesai, cepat pergi, jangan bikin masalah lagi di sini!”
Han Yi sendiri tak menyangka Xia You begitu bersikeras hanya demi sembilan puluh yuan, jumlah yang bahkan tak cukup untuk sekali minum teh atau pijat kaki bagi mereka. Dalam hati ia merasa geli, tapi wajahnya tetap dingin dan serius. Ia kembali menahan pemilik warung. “Tunggu.”
“Apa lagi maumu?” Pemilik warung marah dan kesal, menegakkan lehernya. “Uangnya sudah kuberikan! Urusan kita sudah selesai!”
“Tadi kau mendorong nona ini hingga terjatuh, menyebabkan luka di kaki dan tangannya. Jadi, sudah selayaknya kau bayar biaya pengobatan.” Han Yi menarik tangan kiri Xia You yang terluka, dengan sengaja memeriksa dengan teliti, lalu berkata tenang, “Lukanya jelas, aku tak mau ribut. Berikan saja lima ratus.”
“Lima ratus?!” Pemilik warung terkejut, wajahnya semakin pucat. “Itu pemerasan! Dia cuma lecet sedikit di tangan dan kaki, kenapa harus bayar sebanyak itu?”
“Hanya lecet sedikit?” Han Yi tertawa dingin, lalu memperingatkan, “Pemilik, sebaiknya kau pikirkan baik-baik. Kalau aku bawa dia ke rumah sakit untuk cek, besok biaya yang harus kau ganti pasti lebih dari lima ratus.”
Melihat pria gagah di depannya seperti malaikat penolong keadilan, pemilik warung bergumul dalam hati. Akhirnya, dengan enggan ia mengeluarkan lima lembar uang seratus dan menyerahkannya pada Xia You, lalu masuk ke dalam warung dengan hati yang pedih.
Melihat daun pintu warung mi tertutup dengan keras, perasaan Xia You campur aduk. Ia berkata tulus pada Han Yi, “Pak, terima kasih.”
Ia sama sekali tak ingat bahwa pria yang menolongnya malam itu sebenarnya sudah pernah ia temui beberapa hari lalu di Firma Hukum Han Yi.
Waktu itu, ia terlalu sibuk memarahi Mu Lingkai, hingga tak sempat memperhatikan Han Yi yang hanya menonton di samping.
Beberapa hari terakhir, Han Yi sudah memastikan pada Mu Feng bahwa kejadian di Klub Meise antara Xia You dan Mu Lingkai hanyalah kesalahpahaman belaka.
Saat itu, gadis yang dikenalkan Mu Feng pada Mu Lingkai belum datang, kebetulan Xia You yang datang lebih dulu. Keduanya saling salah paham tentang identitas masing-masing, sehingga akhirnya terjadi kekacauan.
Han Yi juga tahu bahwa Xia You bukanlah gadis yang disukai Mu Feng, melainkan hanya teman dari gadis incarannya.
Namun bagaimanapun juga, sikap Xia You yang beberapa hari lalu dengan berani memarahi Mu Lingkai di kantor, meninggalkan kesan mendalam padanya.
Malam ini, secara kebetulan ia bertemu lagi, melihat gadis itu ribut tanpa peduli citra, bahkan nyaris dipukul.
Sungguh, gadis ini benar-benar polos dan kurang perhitungan. Kalau saja ia tak datang tepat waktu, mungkin malam ini Xia You akan mendapat celaka besar...
Mungkin karena sudah terlalu sering berinteraksi dengan para sosialita dan wanita karier, entah kenapa Han Yi merasa, gadis yang jelas bukan dari lingkaran mereka ini, justru terasa menarik.